
Ketika saya mengisi kuliah pada salah satu Perguruan
Tinggi, hampir setiap masuk pertemuan baik online maupun ofline selalu saja ada
pertanyaan. Jika dibuat rata-rata antara 3-4 pertanyaan. Itupun memang sengaja
saya batasi agar saya mempunyai waktu untuk menjelaskan kepada penanya lebih
mendalam.
Ada seorang mahasiswi bertanya. ia memulai
pertanyaan dengan kalimat begini: “Boleh tanya pak, tapi di luar pembahasan
materi hari ini?”.
Saya tersenyum dan mempersilahkan nya untuk
bertanya. Bahkan kadang saya juga mempersilahkan untuk bertanya apa saja, berkaitan
dengan keluarga, hubungan dia dengan teman-temanya, kekasihnya atau apa saja. Sepanjang
mempunyai kemampuan untuk menjelaskan, saya akan terus terang memberikan
pandangan-pandangan dengan sudut pandang keagamaan, psikologis dan sosial.
Kadang perlu memberi penjelasan dengan pendekatan
agama, agar memperoleh jawaban yang telah dijabarkan oleh para ilmuwan Islam
dan guru-guru kita. kadang dengan pendekatan psikologis, ini penting karena
dasar perbuatan manusia itu seperti kata maqalah yang sering kita dengar
:”Tidak ada asap kalau tidak ada api”. Artinya setiap persoalan sebenarnnya
tidak lepas dari persoalan yang melatarbelakangi suasana psikologis orang yang
bersangkutan. Kadang dengan pendekatan sosial, karena kita mengetahui bahwa
setiap masyarakat mempunyai aturan nilai-nilai kehidupan yang dianggap sebagai
sesuatu yang benar, sakral dan harus mentaatinya. Jika tidak bisa terkena hukum
sosial.
“Pak, ada sebuah keluarga yang sudah
bercerai. Keluarga tersebut sudah mempunyai anak, ada yang sudah dewasa dan
masih sekolah di Tingkat sltp. Namun kedua nya, baik mantan suami dan mantan
istri nya sering menceritakan kejelekan nya kepada orang lain. Sehingga
anak-anaknya tertekan oleh perilaku kedua orang tuanya, bagaimana setrategi
menyelesaikan persoalan seperti ini?” tanya mahasiswa tersebut.
Saya kurang mengetahui apakah pertanyaan
tersebut merupakan problem yang terjadi pada keluarganya, saudaranya atau tetangganya.
Tapi, dari pertanyaan tersebut, saya menilai persoalan yang ditanyakan merupakan
persoalan yang penting bagi dirinya. Bagaimana tidak penting, ia memberanikan
diri mempertanyakan persoalan tersebut-terkesan sangat privasi- yang sama
sekali tidak ada hubungannya dengan materi kuliah. Karena nya, saya memberikan
ruang untuk memberikan beberapa pandangan tentang persoalan tersebut-dalam
tulisan ini hanya satu pandangan saja, yang lain tidak saya tulis supaya tidak
terlalu panjang tulisan ini.
Saya memberikan pandangan kepada mahasiswi
tersebut tentang hakikat makna orang tua dan anak. Saya mencoba menjelaskan
secara pelan dan mudah diterima-menurutku. Apakah ia memahami atau tidak, wallahu
a’lam. Tapi jika dilihat dari responya, ia mengangguk-ngangguk. Apakah ngangguk
paham atau sebaliknya, lagi-lagi wallahu a’lam.
Pada dasarnya antara anak dan orang tua
merupakan dua komponen yang terpisah. Keduanya pada wilayah tertentu sebenarnya
tidak ada hubungan. Berdiri sendiri. Ketika orang tua berbuat sesuatu yang
jelek, memalukan atau sejenisnya sebenarnya mereka sedang menjelekan diri
sendiri dan tidak ada hubungannya dengan anak nya. Sebab setiap orang akan
mempertanggungjawabkan apa yang diucapkan dan dilakukannya dalam pandangan Allah
maupun dalam kehidupan sosial. Pun bagi seorang anak. Jika ia berbuat baik,
sebenarnya untuk dirinya sendiri. Begitu juga sebaliknya.
Kadang kita malu ketika melihat orang tua melakukan
suatu perbuatan yang tidak terpuji: suka ngompreng, mulut ember,
ngutil kalau belanja, narkoba, bikin masalah di kantor, selingkuh dan
lain-lain. Dalam kontek sosial pola hidup budaya timur, maka ada hukum sosial
yang kurang tepat. Orang tua kita yang salah, seolah-olah seluruh kampung ikut “mencemeeh”,
ngejek, menghina dan memincingkan satu mata -mengejek-saat melihat kita.
Kita sebagai anak jadi korban. Bisa jadi
oleh perilaku masyarakat yang demikian. Bisa jadi hanya oleh perasaan diri
sendiri yang seolah-olah seluruh masyarakat telah menganggap jelek seluruh
keluarga nya. Padahal terkadang kenyataannya tidak demikian.
Saya selalu memberikan penguatan kepada mahasiswa,
bahwa kita harus belajar berfikir secara proporsional. Jika orang tua melakukan
sesuatu, ia yang akan menanggung seluruh resikonya. Hal yang sama ketika kita
melakukan sesuatu sebenarnya resiko nya adalah kita sendiri.
Kadang kita sering terbawa hanyut dalam
perasaan. Saat orang tua melakukan sesuatu yang membuat malu keluarga, kita pun
terbawa dalam suasana rasa malu yang mendalam-padahal kita tidak melakukan. Seolah-olah
dunia sudah tidak bersahabat lagi dengan keluarga nya dan diri kita sendiri. Dunia
terasa sangat kejam. Ini sering terjadi dalam realita kehidupan. Sehingga
anak-anak nya tidak bisa berdiri tegar bersikap positif dan menolak seluruh
presepsi-presepsi negatif yang mampir dalam pikiran dan jiwanya.
Pada kondisi keluarga yang demikian,
anak-anak nya seharusnya belajar dengan menutup pintu-pintu negatif yang muncul
dalam pikiran dan hati. Keduanya yang sering memunculkan bayang-bayang negatif
perlu segera dibuang. Jika tidak bisa langsung membuangnya dengan cepat, maka
latih diri sendiri untuk senantiasa berfikir baik untuk diri sendiri dan orang
lain.
Berfikir baik kepada diri sendiri artinya
membangun kepribadian diri dengan hal-hal yang positif baik sifat, sikap dan
perbuatan serta hubungan dengan relasi-relasi baik dalam masyarakat maupun
dalam lingkungan kerja. Seorang anak harus mampu membangun personal branding
diri dengan kualitas. Jika anak sudah mampu menunjukan diri sebagai pribadi yang
berkualitas, berkepribadian yang baik dan mempunyai pengaruh kebaikan di
organisasi, pekerjaan dan masyarakat, maka secara pelan-pelan kekurangan orang
tua akan tertutup dengan kemuliaan anak nya. Itu suatu hal yang tidak mustahil
bukan?.
Dalam pembicaraan di masyarakat sering kita
mendengar kalimat begini: “Saya salut terhadap si fulan/fulanah. Ia baik,
sopan dan berprestasi. Padahal orang tuanya biasa-biasa saja. Orang tuanya
punya latarbelakang catatan kehidupan yang memalukan dan memilukan, tapi ia
bisa tampil menjadi anak yang hebat. Sungguh ia menjadi seorang anak yang sholeh/sholehah”.
Dari komentar tersebut di atas kita bisa
memahami bahwa sebenarnya kita bisa menjadi diri sendiri yang bahagia, gagah
dan tetap berdiri tegak meskipun kondisi keluarga yang sedang tidak baik baik
saja-dalam pengertian lebih luas. Kita bisa membangun jati diri yang anggun dan
agung dalam keluarga yang terpuruk sekalipun. Sebab modal terbesar membangun
jati diri seperti itu, pada diri sendiri bukan dari luar diri sendiri. Keluarga,
teman, motivator itu sebenarnya hanya penunjuk jalan. Semua tidak ada artinya
ketika kita tidak bisa menyelesaikan persoalan diri sendiri. Itu sebabnya,
belajar mengenal diri atas segala plus minusnya membantu hidup lebih matang,
dan membantu kesuksesan lebih bermakna. Seperti rumah yang kokoh membutuhkan
pondasi yang sangat kuat.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872