Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Merubah Gosip Orang Lain Menjadi Sumber Kekuatan Diri



Minggu , 16 November 2025



Telah dibaca :  317

Ketika saya mengisi kuliah pada salah satu Perguruan Tinggi, hampir setiap masuk pertemuan baik online maupun ofline selalu saja ada pertanyaan. Jika dibuat rata-rata antara 3-4 pertanyaan. Itupun memang sengaja saya batasi agar saya mempunyai waktu untuk menjelaskan kepada penanya lebih mendalam.  

Ada seorang mahasiswi bertanya. ia memulai pertanyaan dengan kalimat begini: “Boleh tanya pak, tapi di luar pembahasan materi hari ini?”.

Saya tersenyum dan mempersilahkan nya untuk bertanya. Bahkan kadang saya juga mempersilahkan untuk bertanya apa saja, berkaitan dengan keluarga, hubungan dia dengan teman-temanya, kekasihnya atau apa saja. Sepanjang mempunyai kemampuan untuk menjelaskan, saya akan terus terang memberikan pandangan-pandangan dengan sudut pandang keagamaan, psikologis dan sosial.

Kadang perlu memberi penjelasan dengan pendekatan agama, agar memperoleh jawaban yang telah dijabarkan oleh para ilmuwan Islam dan guru-guru kita. kadang dengan pendekatan psikologis, ini penting karena dasar perbuatan manusia itu seperti kata maqalah yang sering kita dengar :”Tidak ada asap kalau tidak ada api”. Artinya setiap persoalan sebenarnnya tidak lepas dari persoalan yang melatarbelakangi suasana psikologis orang yang bersangkutan. Kadang dengan pendekatan sosial, karena kita mengetahui bahwa setiap masyarakat mempunyai aturan nilai-nilai kehidupan yang dianggap sebagai sesuatu yang benar, sakral dan harus mentaatinya. Jika tidak bisa terkena hukum sosial.

“Pak, ada sebuah keluarga yang sudah bercerai. Keluarga tersebut sudah mempunyai anak, ada yang sudah dewasa dan masih sekolah di Tingkat sltp. Namun kedua nya, baik mantan suami dan mantan istri nya sering menceritakan kejelekan nya kepada orang lain. Sehingga anak-anaknya tertekan oleh perilaku kedua orang tuanya, bagaimana setrategi menyelesaikan persoalan seperti ini?” tanya mahasiswa tersebut.

Saya kurang mengetahui apakah pertanyaan tersebut merupakan problem yang terjadi pada keluarganya, saudaranya atau tetangganya. Tapi, dari pertanyaan tersebut, saya menilai persoalan yang ditanyakan merupakan persoalan yang penting bagi dirinya. Bagaimana tidak penting, ia memberanikan diri mempertanyakan persoalan tersebut-terkesan sangat privasi- yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan materi kuliah. Karena nya, saya memberikan ruang untuk memberikan beberapa pandangan tentang persoalan tersebut-dalam tulisan ini hanya satu pandangan saja, yang lain tidak saya tulis supaya tidak terlalu panjang tulisan ini.

Saya memberikan pandangan kepada mahasiswi tersebut tentang hakikat makna orang tua dan anak. Saya mencoba menjelaskan secara pelan dan mudah diterima-menurutku. Apakah ia memahami atau tidak, wallahu a’lam. Tapi jika dilihat dari responya, ia mengangguk-ngangguk. Apakah ngangguk paham atau sebaliknya, lagi-lagi wallahu a’lam.

Pada dasarnya antara anak dan orang tua merupakan dua komponen yang terpisah. Keduanya pada wilayah tertentu sebenarnya tidak ada hubungan. Berdiri sendiri. Ketika orang tua berbuat sesuatu yang jelek, memalukan atau sejenisnya sebenarnya mereka sedang menjelekan diri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan anak nya. Sebab setiap orang akan mempertanggungjawabkan apa yang diucapkan dan dilakukannya dalam pandangan Allah maupun dalam kehidupan sosial. Pun bagi seorang anak. Jika ia berbuat baik, sebenarnya untuk dirinya sendiri. Begitu juga sebaliknya.

Kadang kita malu ketika melihat orang tua melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji: suka ngompreng, mulut ember, ngutil kalau belanja, narkoba, bikin masalah di kantor, selingkuh dan lain-lain. Dalam kontek sosial pola hidup budaya timur, maka ada hukum sosial yang kurang tepat. Orang tua kita yang salah, seolah-olah seluruh kampung ikut “mencemeeh”, ngejek, menghina dan memincingkan satu mata -mengejek-saat melihat kita.

Kita sebagai anak jadi korban. Bisa jadi oleh perilaku masyarakat yang demikian. Bisa jadi hanya oleh perasaan diri sendiri yang seolah-olah seluruh masyarakat telah menganggap jelek seluruh keluarga nya. Padahal terkadang kenyataannya tidak demikian.

Saya selalu memberikan penguatan kepada mahasiswa, bahwa kita harus belajar berfikir secara proporsional. Jika orang tua melakukan sesuatu, ia yang akan menanggung seluruh resikonya. Hal yang sama ketika kita melakukan sesuatu sebenarnya resiko nya adalah kita sendiri.

Kadang kita sering terbawa hanyut dalam perasaan. Saat orang tua melakukan sesuatu yang membuat malu keluarga, kita pun terbawa dalam suasana rasa malu yang mendalam-padahal kita tidak melakukan. Seolah-olah dunia sudah tidak bersahabat lagi dengan keluarga nya dan diri kita sendiri. Dunia terasa sangat kejam. Ini sering terjadi dalam realita kehidupan. Sehingga anak-anak nya tidak bisa berdiri tegar bersikap positif dan menolak seluruh presepsi-presepsi negatif yang mampir dalam pikiran dan jiwanya.

Pada kondisi keluarga yang demikian, anak-anak nya seharusnya belajar dengan menutup pintu-pintu negatif yang muncul dalam pikiran dan hati. Keduanya yang sering memunculkan bayang-bayang negatif perlu segera dibuang. Jika tidak bisa langsung membuangnya dengan cepat, maka latih diri sendiri untuk senantiasa berfikir baik untuk diri sendiri dan orang lain.

Berfikir baik kepada diri sendiri artinya membangun kepribadian diri dengan hal-hal yang positif baik sifat, sikap dan perbuatan serta hubungan dengan relasi-relasi baik dalam masyarakat maupun dalam lingkungan kerja. Seorang anak harus mampu membangun personal branding diri dengan kualitas. Jika anak sudah mampu menunjukan diri sebagai pribadi yang berkualitas, berkepribadian yang baik dan mempunyai pengaruh kebaikan di organisasi, pekerjaan dan masyarakat, maka secara pelan-pelan kekurangan orang tua akan tertutup dengan kemuliaan anak nya. Itu suatu hal yang tidak mustahil bukan?.

Dalam pembicaraan di masyarakat sering kita mendengar kalimat begini: “Saya salut terhadap si fulan/fulanah. Ia baik, sopan dan berprestasi. Padahal orang tuanya biasa-biasa saja. Orang tuanya punya latarbelakang catatan kehidupan yang memalukan dan memilukan, tapi ia bisa tampil menjadi anak yang hebat. Sungguh ia menjadi seorang anak yang sholeh/sholehah”.

Dari komentar tersebut di atas kita bisa memahami bahwa sebenarnya kita bisa menjadi diri sendiri yang bahagia, gagah dan tetap berdiri tegak meskipun kondisi keluarga yang sedang tidak baik baik saja-dalam pengertian lebih luas. Kita bisa membangun jati diri yang anggun dan agung dalam keluarga yang terpuruk sekalipun. Sebab modal terbesar membangun jati diri seperti itu, pada diri sendiri bukan dari luar diri sendiri. Keluarga, teman, motivator itu sebenarnya hanya penunjuk jalan. Semua tidak ada artinya ketika kita tidak bisa menyelesaikan persoalan diri sendiri. Itu sebabnya, belajar mengenal diri atas segala plus minusnya membantu hidup lebih matang, dan membantu kesuksesan lebih bermakna. Seperti rumah yang kokoh membutuhkan pondasi yang sangat kuat.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872