Suatu hari di hari Jum’at, Sang Khatib memberikan materi khotbah. Seperti biasa materinya berkaitan anjuran meningkatkan ketakwaan kepada Allah, mengikuti sunnah Nabi dan meningkatkan amal sholeh. Namun sambungan materi khotbah menjadi menarik perthatian para jamaah. Isinya persoalan politik praktis. Sang Khatib menganjurkan kepada jamaah untuk memilih pemimpin yang iman dan islamnya jelas,. Sebenarnya materinya wajar. Namun dialogi komunikasi politik yang berkembang di daerah tersebut, ada dua calon kepala daerah, satu diprespsikan oleh tim politiknya sebagai orang yang agamis dan taat terhadap ajaran Islam. Satu pasangan lagi dipresepsikan oleh timnya sebagai tokoh nasionalis. sama-sama beragama Islam. Pasangan calon nasionalis diserang oleh rivalnya dengan isu agama; Islamnya tidak jelas, tidak pernah sholat dan membahayakan bagi akidah Islam di masa mendatang. tentu para jamaah tidak ngantuk, mereka merekam apa yang disampaikan oleh Khatib. Setelah selesai sholat
Jum’at, sekelompok orang pun mendatangi sang khatib. Apa yang terjadi? Hampir saja
adu fisik, hampir saja berkelahi. Krah baju sang khatib ditarik kuat-kuat oleh
salah satu jamaah, dan hampir saja dipukul. Namun teman dekatnya menasehati,
sehingga tidak terjadi memukul. Namun sumpah serapah pun tidak bisa dielakan. Sekelompok
jamaah pun mencaci maki khatib tersebut sebagai pendakwah yang tidak bisa
menempatkan diri di masjid.
Baik khatib ataupun sekelompok jamaah tadi
mempunyai identitas sama, yaitu sama-sama beragama Islam, dan sama-sama sholat
dalam satu masjid. Hanya saja, yang disampaikan memprovokasi calon lain dan
mengagungkan calon yang didukung. Namun karena yang diangkat persoalan
keimanan, status agama yang bersifat keyakinan jelas sangat menyakitkan sekali.
Siapapun orangnya. Orang yang tidak rajin ibadah pun ketika katakanlah sebagai
orang yang tidak jelas agamanya, akan melawan dan membela harga dirinya.
Kisah di atas saya kira bisa dijumpai di
mana saja. Jika anda membuka youtube, maka bertebaran konten-konten yang sangat
tidak pantas disebut sebagai seorang beragama yang bangga dengan identitas
agamanya. Gejala ini tentu bukan karena era demokrasi. Sudah jauh sebelum ada
nama Indonesia, perilaku seperti ini sudah ada. Pada masa Nabi orang bangga
dengan identitas suku dan agama serta kepercayaan masing-masing. Mereka juga bangga ketika mempunyai kelompok yang
laki-lakinya banyak dan kuat-kuat. Namun saat banyak perempuan, mereka pun
malu. Bahkan tidak segan-segan diantara anak perempuan nya dikubur hidup-hidup.
Nabi memberantas politik identitas parsial dan dirubah menjadi identitas universal. Bahwa suku
Arab yang beragam semua dalam pandangan agama sama. Berbeda hanya pada
taqwanya. Artinya agama bukan sebatas identitas pribadi, tapi juga lebih tepat
lagi agama menjadi cermin kualitas keimanan, intelektual, keahilan dan etos
kerja. Sebab Tuhan hanya akan merubah suatu masyarakat ketika mereka mampu dan
punya keinginan melakukan perubahan. Hal ini berarti bersifat operasional. Jika baik kualitas diri pada
intelektual, keahlian dan etos kerja serta keimanan maka akan terjadi perubahan secara dinamis dan positif, apakah atas nama pribadi, masyarakat ataupun berbangsa dan bernegara. Perbuahan ini, jika dalam kontek berbangsa dan bernegara adalah
perubahan operasional bersama, bukan parsial. Jadi identitas yang universal. Ketika
orang pemuda Amerika ditanya, dia akan mengatakan,’Amerika hebat’. Maka ketika
kita ditanya oleh orang amerika, seharusnya, ‘Indonesia hebat’. Ini yang
dimaksud identitas universal, mengutamakan kepentingan umum, bukan hanya
sebatas kelompok atas nama suku, etnis, budaya dan agama.
Orang beragama Islam bisa jadi akan
berdalih begini, Islam adalah rahmat semesta alam’, dimana pada masa nabi
seluruh umat beragama bisa hidup berdampingan. Orang pun balik bertanya,
bagaimana pada masa Umar bin Khatab dimana orang-orang non-muslim tidak boleh
lagi berdiam di kota Mekah dan Madinah. Padahal dulu diperbolehkan. di indonesia yang terkenal torelan sekalipun, kini sudah mulai muncul fanatisme indentitas yang kebablasan. Agama mayoritas boleh mendirikan tempat ibadah, agama minoritas sulit mendapatkan izin mendirikan tempat ibadah.
Orang Kristen pun akan mengatakan yang
sama,’lihat Amerika yang ideologi nya mengambil dari nilai-nilai Injil bisa
melindungi penganut agama dengan sangat bebas sampai sekarang.” Orang Islam pun
akan mengkritik berbagai kebijakan Amerika dan para pemimpinnya yang sangat provokatis
terhadap muslim, bahkan agama Islam dianggap sebagai musuh. padahal dia melihat dari dentuman-dentuman kecil dari kelompok radikalisme, namun sering dibuat general oleh Amerika.
Bangsa India pun akan mengatakan bahwa negara
nya adalah negara yang menganut ideologi dari intisari ajaran Hindu, dan
memberi kebebasan agama lain untuk hidup bersama. Tapi kenyataan politik,
sering terjadi gesekan-gesekan yang tidak bisa dihindari. Bahkan ketika saya
bertemu orang-orang muslim di Masjidil Haram, mereka menceritakan betapa
diskriminasinya mereka terhadap muslim India.
Para pemimpin berlatar agama Buda pun akan
mengatakan sebagai ajaran cinta kasih. Saking cinta kasihnya, makan pun tidak
mau dari hal-hal yang bernyawa. Namun fakta pun tidak bisa dihapus begitu saja.
Bagaimana cerita nya seorang Ashin Wirathu dari Myanmar; pemimpin spiritual yang
memprovokasi kebencian terhadap muslim. padahal dirinya mengklaim sebagai
seorang biksu yang cinta damai dan tidak menganjurkan kekerasan. Kenapa ini
terjadi?
Ketika berbicara agama sebagai wujud
identitas diri, lalu diwujudkan dalam ruang politik praktis, maka
gambaran-gambaran seperti di atas tadi akan terus berlangsung terjadi di tengah-tengah masyarakat. Politik sebagai strategi untuk
mendapatkan kekuasaan sering terjebak pada’kepentingan sempit’ yang mengabaikan
nilai-nilai moral dan kemanusiaan, apalagi kebenaran. Agama sering sebagai ‘jualan
politik’ untuk meraih kekuaan dan sering berlawanan dengan kenyataan saat
mereka berkuasa. Disini bahwa mengelola makna identitas dan politik identitas adalah sesuatu yang komplek sekali, dan semakin komplek ketika kran politik identitas dibiarkan tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat.
Ini yang pernah terjadi di Indonesia. Saat Masyumi
mengatakan diri sebagai partai politik yang mengidentifikasi sebagai partai Islam
yang jelas memperjuangkan syariat Islam, tapi faktanya tidak lah
demikian. Persoalan-persoalan internal dan konflik dengan para ormas agama yang
bergabung didalamnya menunjukan bahwa bicara identitas tidak seindah realitas. Ia
hanya sebagai strategi untuk meraih kekuasaan, bukan jati diri sebagai orang
yang pantas untuk mendapatkan kekuasaan. Akibatnya saat berkuasa, nilai-nilai
moral pun sangat jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.
Akhirnya Masyumi pun pecah, menjadi
berbagai partai politik atas dasar ormas Islam. Semakin banyak identitas, akhirnya
lahir juga bermacam-macam partai politik. Apa yang terjadi? Saat mereka bertemu
di Parlemen, maka efektifitas pemerintahan pun terganggu. Mereka mudah
mengalami kebuntuan politik sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Orde
Lama. dari sini jelas, bahwa di dalam politik identitas ada sub-sub identitas yang ingin menguasai dan mendominasi sub-sub lainya.
Orde Baru belajar dari sejarah. Politik identitas
yang beragam tersebut justru menjadi penghambat kinerja pemerintah. Lalu disederhanakan
menjadi tiga partai politik; PPP, Golkar dan PDI. Walaupun di satu sisi Soeharto
juga membangun identitas politiknya sehingga menguasasi seluruh elemen
masyarakat sampai tingkat bawah. Ada sisi efektifitasnya dalam mengelola negara,
walaupun sekali lagi ada sisi-sisi kebijakan yang sangat menyisakan masalah
yang berujung lahir Krisis Moneter.
Kini di era hasil dari reformasi identitas
kita sangat kompok. Ada identitas Islam yang di dalamnya beragam sub-identitas;
ada Islam moderat, Radikal, Kiri dan Kanan. Begitu juga di agama-agama kelompok
minoritas. Mereka mempunyai kasus yang sama. Jika sub-sub identitas saja
head-to-head dalam politik praktis akan menimbulkan masalah luarbiasa seperti
pada peristiwa Pilkada DKI tahun 2017. Bagaimana jadinya jika politik identitas
dari sub-sub aliran di berbagai agama dibiarkan menguasai panggung politik di
tengah-tengah masyarakat. Maka yang akan terjadi, sebagaimana contoh di
permulaan tulisan ini; sang khatib hampir saja kena 'plasah bogem' tangan seorang jamaah yang tidak terima calon nya dihina-hina di depan umum.
Saya kira saya lebih setuju, jika berbicara
indentitas dalam politik keindonesiaan kita lebih mengacu kepada indentitas
pada tataran kualitas dan program. Saya kira ini lebih bisa diterima oleh
seluruh lapisan masyarakat lintas agama, suku, etnis dan budaya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2983
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884