Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mimpi, Mimpin dan Hasrat Mimpin



Rabu , 11 Desember 2024



Telah dibaca :  622

Sebagai pembuka tulisan ini perkenankan saya menulis untaian kalimat indah dari William Arthur Ward sebagai berikut: “Keyakinan adalah mempercayai keberadaan lautan hanya dari melihat sebuah sungai kecil”.

Setiap orang pernah bermimpi, tapi belum tentu ia punya mimpi. Ada sebagian orang pernah bermimpi dalam tidur dan menjadi kenyataan. Ada juga pernah bermimpi. Kaget, lalu bangun. Ada rasa takut yang luarbiasa. tapi kenyataanya tidak ada apa-apa. Ada yang bermimpi, setelah bangun menangis. Karena ia tahu, celana basah karena ia mimpi kencing di kolam.

Mimpi itu bagian rahasia Allah. Ada pola mimpi model Nabi Ibrahim melihat sesuatu secara faktual. Ketika ia bermimpi bahwa Allah memerintah untuk membunuh anaknya Ismail, Nabi Ibrahim masih “crosceck”. Ojo-ojo itu dari syaithan. Meskipun hati kecilnya yakin itu wahyu dari Allah, tapi hati kecilnya juga berkata sebagai seorang ayah. “Bagaimana mungkin Tuhan memerintah sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh-Nya sendiri yaitu mengalirkan darah saudaranya, anak nya sendiri?” hatinya menolak. Tapi mimpi itu benar-benar nyata. Akhirnya setelah beberapa kali ia pun yakin, bahwa Allah memerintah untuk membunuh Ismail sebagai ta’abud yang mukhlisin kepada-nya.

Ada mimpi model Nabi Yusuf yaitu melalui simbol-simbol. Ini yang paling banyak terjadi di kalangan umat Islam. Karena simbol makna multi tafsir. Ketika Nabi Yusuf kecil bermimpi tentang  tentang Bulan, Matahari dan 11 Bintang bersujud kepadanya, ia bertanya kepada orang tuanya. Ayah nya menjawab singkat : “Jangan kau ceritakan mimpi mu kepada saudara-saudara mu”. Itu etika ketika kejadian belum terjadi, jangan diceritakan. Tapi kalau sudah, tidak apa-apa untuk membuktikan kebenaran arti sebuah mimpi. Itu juga yang dilakukan oleh Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya. Sebab menurut Syaikh Junaidi Al-Baghdadi, mimpi itu bagian dari ciri kenabian. Artinya ada beberapa ciri-ciri yang melekat pada para nabi yaitu mimpi. Hebatnya lagi, mimpi ini juga dianugerahkan kepada hamba-hamba yang dikehendaki oleh-Nya untuk menguak kebenaran. Sebab salah satu sumber kebenaran ilmiah spiritual yaitu melalui mimpi.

Saya sudah beberapa kali bermimpi, baik menyangkut pribadi atau kehidupan sosial-politik. Pernah saya bermimpi menangkap burung di Sangkar. Pagi harinya, saya pun mendapat kiriman duit dari orang tuanya. Beberapa waktu lalu, saya bermimpi mancing dan mendapatkan dua ikan; satu kecil satu jumbo. Sore harinya saya mendapatkan kiriman rezeki dua kali; pertama jumlah nya kecil dan kedua jumlah nya jumbo.

Mimpi sosial-politik. Pertama, saya mimpi Gus Dur sedih. Itu dulu. Sudah lama. Hari berikutnya saya baru tahu bahwa partai PKB direbut oleh Muhaimain Iskandar. Pada pilpres 2014, saya bermimpi mendapatkan sarung dari presiden Jokowi. Ia tersenyum kepada ku. Pilres membuktikan ia menang pada tahun 2014. Pada pilpres 2019 saya bermimpi melihat Jokowi sholat bersama ku dan Prabowo. Jokowi jadi Imam, Prabowo jadi ma’mum. Pilpres 2019 Jokowi menang, dan Prabowo benar-benar ma’mum menjadi menteri pertahanan. Pilpres 2024 tidak mimpi. Mungkin karena Prabowo sudah ma’mum, jadi pastinya Prabowo menjadi presiden.

Tentang pilkada, saya bermimpi melihat UAS, Buya Mawardi dan Pak Samsuar. UAS jalan sangat cepat dan bekas nya terlihat di lantai masjid. Buya Mawardi berdiri dan ngobrol dengan ku. Pak Samsuar kondisi kaki pincang dan wajah terlihat sedih. Hasilnya, calon yang diusung oleh UAS memperoleh suara melesat tinggi mengalahkan jauh dari suara Samsuar-Mawardi. Pilkada Meranti saya melihat tiga calon dalam mimpi: Asmar, Masrul Kasmi, dan MT dalam waktu yang berbeda-beda. Asmar terlihat tersenyum kepada ku dan terlihat tenang. Masrul Kasmi sibuk berkampanye. MT pun terlihat sangat sibuk. Hanya Basiran yang tidak masuk radar impian. Hasilnya, Asmar menjadi pemenangnya.

Ternyata mimpi senyum dalam pilkada bisa menjadi indikator menang. Itu sebabnya, ketika para konsultan abal-abal membuat survei, saya ragu. Saya lebih percaya pada lembaga survei yang kredibel. Sebab antara mimpku dan survei agak sedikit sesuai hasilnya (maaf, ini cuma mimpi. Anda tidak harus percaya. Anggap saja ini cerita Abu Nawas sedang menghibur sang raja yang lagi pusing karena dibentak oleh istri nya).

Walhasil anda boleh percaya sama mimpi, tapi jangan terlalu bersandar pada mimpi. Sebab orang yang terlalu banyak bermimpi sebenarnya orang yang terlalu banyak tidur dan lupa melihat realita kehidupan yang penuh persaingan.

Mimpi Sesuatu Penting, Memimpikan Sesuatu Jauh Lebih Penting

Proses mimpi Nabi Yusuf merupakan jalan pembuka untuk meraih masa depannya. Namun ada satu syarat tidak boleh diceritakan kepada saudara-saudaranya. Ingat !!!, Tidak diceritakan saja, Nabi Yusuf hampir saja meninggal dunia. Ia dibuang di Sumur di pinggir Hutan. Ia sebagai anak seorang nabi dan rasul benar-benar bekerja keras untuk mencapai suatu cita-cita tinggi. Saat dirinya sudah terbuang dari keluarga, saat itu tumbuh kekuatan jiwa mandiri untuk menunjukan kualitas dirinya sebenarnya. Ia terus belajar, berjuang dan membangun relasi politik. Sehingga pada masa nya tiba, ia adalah seorang pegawai yang mempunyai dedikasi, integritasi, loyalitas, dan profesionalitas yang sangat tinggi. Wajar, jenjang karir cepat meningkat dengan tajam. Nabi Yusuf menjadi bendahara kerajaan. Melalui stempel nya, bantuan bisa disalurkan dan bisa juga dihentikan. Salah satu yang mendapatkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yaitu keluarganya saat paceklik terjadi selama 7 tahun di Mesir.

Kesuksesan memang milik para pemimpi yang memimpikan sesuatu. Ia bukan sekadar memimpikan sesuatu, tetapi merancang secara kuat seluruh energi baik jasmaniah maupun ruhaniah, baik jiwa maupun raga untuk memperoleh apa yang dicita-citakan. Berikut ini saya menulis kekuatan memimpikan sesuatu seorang Gajah Mada sebagai berikut (Agustian, 2011):

Sira Gajah Mada Patih Amangkuhbumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, Tanjung Pura, Ring Haru, Ring Pahang, Dompo, Ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Beliau Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikian saya (baru akan) melepaskan puasa”.

Namun tidak boleh memimpikan sesuatu dan mewujudkan mimpi tersebut dengan cara-cara yang kurang terhormat. Ambisi besar minim berusaha. James Mantaque berkata: “Saya tidak pernah menjumpai orang menderita karena terlalu banyak bekerja. Lebih banyak orang yang menderita karena terlalu banyak ambisi tetapi tak cukup berusaha”.

Itu rahasia sukses Nabi Yusuf. Ia bekerja keras, belajar maksimal, dan bersandar kepada Allah secara totalitas. Hal yang sama juga dilakukan oleh patih Gajah Mada. Untuk mencapai cita-cita menyatukan nusantara, ia harus semedi, berpuasa dan mendekatkan diri kepada Syang Hyang Widi. Berusaha sekuat tenaga. Saat sukses pun tetap ingat kepada sang pencipta. Ia tetap gagah, dan punya sifat tawadhu. Nabi Yusuf tidak segan-segan menghormati saudara-saudaranya yang telah membuangnya. Baginya, itu adalah wasilah. Jika tidak melalui proses pembuangan dalam sumur, maka secara syariat kesuksesan tidak akan terwujud. Sebab memang Tuhan telah membuat blue print tentang rahasia sukses harus melalui rintangan dan ujian. Proses tersebut yang menjadikan diri sebagai pemimpin sejati, gagah, berfikir konstruktif, solutif, dan selalu mengutamakan kepentingan lebih luas.

Seorang pemimpi suatu cita-cita yang telah menjadi pemimpin dari apa yang telah dicita-citakan tidak lepas dari berbagai ujian. Salah satu ujian yang paling dekat dalam dirinya yaitu egoisme, gumede,sombong, merasa pintar, paling tahu, adigang-adigung. Mentang-mentang punya kuasa, maka mempermainkan siapa saja…ojo dumeh !,mentang-mentang punya uang maka menganggap remeh orang yang tidak punya… ojo dumeh!, mentang-mentang cantik, tampan, maka merasa diatas angin…ojo dumeh!, mentang-mentang kurus, maka menghina orang gemuk…ojo dumeh!, mentang-mentang kuat, maka menindas yang lemah…ojo dumeh ! (Krishna, 2012).

Anda mungkin akan menjadi calon pemimpin organisasi, kepala daerah atau apa saja. Saat ini yang perlu dipahami adalah bahwa anda akan memimpin orang begitu besar dan banyak. Anda bukan hanya milik diri sendiri dan keluarga, tapi milik masyarakat. Saat itu anda telah menjadi bapak dari keluarga besar yang bernama organisasi, paguyuban,  kabupaten, dan provinsi. Jika anda masih egoisme dan tidak mampu menghilangkan sifat nafsu amarah nya,maka anda sebatas foto wisuda yang hanya indah di pandang mata saat di pasang di ruang tamu, tapi orang lain tidak mempunyai kemanfaat sama sekali. Tamu hanya berdecak kagum: “anda hebat, luarbiasa”. Ironisnya, anda hanya hidup pada dunia nya sendiri dan tidak merasakan denyut nadi warga masyarakat yang paling bawah. Adanya anda seolah tidak ada adanya anda. Na’udzubillah mindalik.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872