Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Minum Kopi Tanpa Gula



Kamis , 28 Agustus 2025



Telah dibaca :  408

Mbah surip di usia 80 an tahun masih terlihat sehat. Meskipun usia sudah sama dengan kemerdekaan RI, ia masih terlihat semangat menjalani hidup. Kulit yang sudah terlihat keriput dan rambut sudah memutih semua, ia masih setia melihat berbagai berita dari android yang berada di tangannya.

Berita random. Sebentar muncul lagu nasional muncul. Ia pun berdiri dengan tangan mengepal sambil menyanyikan lirik lagu nasional: “maju tak gentar, membela yang benar, maju tak gentar, pasti kita menang..!”.

Mbah surip tidak tahu kalau video era sekarang ini dipotong-potong. Tidak utuh. Dia mengira lagu-lagu sama pada saat masa dulu. Bisa didengar secara utuh. Ketika ia sedang asyik mendengar lagu nasional, tiba-tiba muncul video random lainnya, video para anggota dewan joget-joget saat menyanyikan lagu Gemu Fa Mi Re.

Mbah Surip kurang paham artinya. Ma’lum, Ia seorang veteran perang  kemerdekaan yang selalu dijejali arti nasionalisme dan bela tanah air. Ia sedikit emosi dan memanggil cucunya yang sudah berumur 19 tahunan. “Siapa itu yang pakai peci itu !, joget-joget pakai peci !”, gerutu Mbah Surip yang mengira peci hanya untuk sholat. Cucu nya senyum-senyum mengenal anggota dewan yang mantan pelawak. Ironis memang pelawak menjadi dewan malah menjadi tidak lucu. Berbeda anggota dewan bukan pelawak, malah kadang lucu nya melebihi pelawak.

Video selanjutnya berisi tausiah. Kebetulan penceramahnya AA Gym. Mbah Surip agak sedikit mereda. Apalagi saat ia mendengar lirik-lirik lagu andalan AA Gym :”Jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera Ilahi..”.

Namun tidak lama, emosi kembali naik. Ia melihat perkantoran pemda rusak berat, dilempar oleh masa. Mereka merusak fasilitas umum. Kenapa dirusak. Bukankah mereka Ingin memperbaiki, tapi malah merusak. Apa salah kantor, apa salah fasilitas umum. Harus semangat perubahan selalu saja diawali dengan semangat pengrusakan.

“Cucu, lihat ini…kakek memperjuangkan kemerdekaan dengan titik darah penghabisan, malah hasil nya seperti ini!!” kata mbah surip memperlihatkan video demonstrasi yang merusak fasilitas negara dan pemda ketika melihat ia melihat video lainnya.

“Salah pejabat dan para anggota dewan, para demonstran ingin bertemu baik-baik tapi ditolak, maka kantor menjadi sasaran kek” jawab cucu nya membela. Sebab cucu mbah surip satu ini sudah mulai dewasa dan sudah mulai ingin adanya kebebasan dan kemerdekaan versi nya.

“Apakah tidak ada jalan lain selain merusak. Apakah menyuarakan kebenaran dengan melakukan pengrusakan. Kalau sudah begini, Gedung perkantoran rusak parah, harus dibangun juga. Makan biaya banyak juga. Kenapa tidak melakukan dengan cara-cara yang lebih baik” kata mbah surip.

“Bagaimana demonstrasi yang lebih baik dari cara itu mbah” tanya cucu nya.

“Kamu khan sudah belajar, banyak buku sejarah yang mengajarkan. Contoh satu saja demonstrasi model Mahatma Gandi. Tidak merusak, dan mampu memberi pembelajaran arti sebuah kemanusiaan, kemerdekaan dan etika berpolitik” jawab mbah surip.

Cucu diam. Ia tidak ingin berdebat dengan kakeknya. Ia tahu, kakeknya termasuk keras kepala. Pokok nya apa yang diomongkan seolah-olah benar semua dan semua harus menuruti perintah-perintah nya. Mungkin pengaruh pendidikan tentara saat masih aktif di militer.

“Hah, apa? Beras oplosan?, masih ada beras oplosan? Ini tidak boleh terjadi. Bangsa ini sudah merdeka 80 tahun, masa masih ada beras oplosan. Siapa ini pelakunya. Harus bertindak cepat. Itu tidak sesuai dengan semangat perjuangan mbah mu ini !!” kata mbah surip geram.

Cucu nya senyam-senyum. Para demonstran kemaren juga telah bergerak tentang persoalan beras oplosan, bensin oplosan, pejabat oplosan, anggota dewan aplosan dan lain-lain. Tapi mau menjelaskan kepadanya jelas tidak paham. Tapi, apa yang dikatakan oleh kakeknya tentang perlunya rekontruksi makna demonstrasi yang lebih elegan dan bermartabat bisa menjadi bahan renungan. Bagaimana pun, apa yang dikatakan oleh kakek  benar. Tidak lah harus dilakukan dengan cara yang sangat anarkis jika tujuannya kebaikan. Bagaimanapun juga, semua adalah masih saudara satu bangsa Indonesia.

Pahit getir persoalan laksana kopi hitam. Tidak menyenangkan, tapi sebenarnya bermanfaat. Bahkan kadang Sebagian yang sudah tahu manfaatnya, ia lebih memilih minum kopi hitam tanpa gula. Darinya bisa belajar bahwa kehidupan ini memang perjuangan. Ketika melihat bahwa hidup sebagai perjuangan, maka semakin biasa dengan perjuangan semakin terasa biasa rasa pahitnya segelas wedang kopi. Pahit tapi menyehatkan tubuh dan memperlancar jalan pikiran.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875