
Mbah surip di usia 80 an tahun masih
terlihat sehat. Meskipun usia sudah sama dengan kemerdekaan RI, ia masih
terlihat semangat menjalani hidup. Kulit yang sudah terlihat keriput dan rambut
sudah memutih semua, ia masih setia melihat berbagai berita dari android yang
berada di tangannya.
Berita random. Sebentar muncul lagu nasional muncul. Ia pun berdiri dengan tangan mengepal sambil menyanyikan
lirik lagu nasional: “maju tak gentar, membela yang benar, maju tak gentar,
pasti kita menang..!”.
Mbah surip tidak tahu kalau video era
sekarang ini dipotong-potong. Tidak utuh. Dia mengira lagu-lagu sama pada saat
masa dulu. Bisa didengar secara utuh. Ketika ia sedang asyik mendengar lagu
nasional, tiba-tiba muncul video random lainnya, video para anggota dewan
joget-joget saat menyanyikan lagu Gemu Fa Mi Re.
Mbah Surip kurang paham artinya. Ma’lum, Ia seorang veteran
perang kemerdekaan yang selalu dijejali
arti nasionalisme dan bela tanah air. Ia sedikit emosi dan memanggil
cucunya yang sudah berumur 19 tahunan. “Siapa itu yang pakai peci itu !,
joget-joget pakai peci !”, gerutu Mbah Surip yang mengira peci hanya untuk
sholat. Cucu nya senyum-senyum mengenal anggota dewan yang mantan pelawak.
Ironis memang pelawak menjadi dewan malah menjadi tidak lucu. Berbeda anggota
dewan bukan pelawak, malah kadang lucu nya melebihi pelawak.
Video selanjutnya berisi tausiah. Kebetulan penceramahnya AA Gym.
Mbah Surip agak sedikit mereda. Apalagi saat ia mendengar lirik-lirik lagu
andalan AA Gym :”Jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati lentera
Ilahi..”.
Namun tidak lama, emosi kembali naik. Ia melihat perkantoran pemda
rusak berat, dilempar oleh masa. Mereka merusak fasilitas umum. Kenapa dirusak.
Bukankah mereka Ingin memperbaiki, tapi malah merusak. Apa salah kantor, apa
salah fasilitas umum. Harus semangat perubahan selalu saja diawali dengan
semangat pengrusakan.
“Cucu, lihat ini…kakek memperjuangkan kemerdekaan dengan titik
darah penghabisan, malah hasil nya seperti ini!!” kata mbah surip
memperlihatkan video demonstrasi yang merusak fasilitas negara dan pemda ketika melihat ia melihat video lainnya.
“Salah pejabat dan para anggota dewan, para demonstran ingin
bertemu baik-baik tapi ditolak, maka kantor menjadi sasaran kek” jawab cucu nya
membela. Sebab cucu mbah surip satu ini sudah mulai dewasa dan sudah mulai
ingin adanya kebebasan dan kemerdekaan versi nya.
“Apakah tidak ada jalan lain selain merusak. Apakah menyuarakan
kebenaran dengan melakukan pengrusakan. Kalau sudah begini, Gedung perkantoran
rusak parah, harus dibangun juga. Makan biaya banyak juga. Kenapa tidak
melakukan dengan cara-cara yang lebih baik” kata mbah surip.
“Bagaimana demonstrasi yang lebih baik dari cara itu mbah” tanya
cucu nya.
“Kamu khan sudah belajar, banyak buku sejarah yang mengajarkan.
Contoh satu saja demonstrasi model Mahatma Gandi. Tidak merusak, dan mampu memberi
pembelajaran arti sebuah kemanusiaan, kemerdekaan dan etika berpolitik” jawab
mbah surip.
Cucu diam. Ia tidak ingin berdebat dengan kakeknya. Ia tahu,
kakeknya termasuk keras kepala. Pokok nya apa yang diomongkan seolah-olah benar
semua dan semua harus menuruti perintah-perintah nya. Mungkin pengaruh
pendidikan tentara saat masih aktif di militer.
“Hah, apa? Beras oplosan?, masih ada beras oplosan? Ini tidak boleh
terjadi. Bangsa ini sudah merdeka 80 tahun, masa masih ada beras oplosan. Siapa
ini pelakunya. Harus bertindak cepat. Itu tidak sesuai dengan semangat
perjuangan mbah mu ini !!” kata mbah surip geram.
Cucu nya senyam-senyum. Para demonstran kemaren juga telah bergerak
tentang persoalan beras oplosan, bensin oplosan, pejabat oplosan, anggota dewan
aplosan dan lain-lain. Tapi mau menjelaskan kepadanya jelas tidak paham. Tapi,
apa yang dikatakan oleh kakeknya tentang perlunya rekontruksi makna demonstrasi
yang lebih elegan dan bermartabat bisa menjadi bahan renungan. Bagaimana pun,
apa yang dikatakan oleh kakek benar.
Tidak lah harus dilakukan dengan cara yang sangat anarkis jika tujuannya
kebaikan. Bagaimanapun juga, semua adalah masih saudara satu bangsa Indonesia.
Pahit getir persoalan laksana kopi hitam. Tidak menyenangkan, tapi
sebenarnya bermanfaat. Bahkan kadang Sebagian yang sudah tahu manfaatnya, ia
lebih memilih minum kopi hitam tanpa gula. Darinya bisa belajar bahwa kehidupan
ini memang perjuangan. Ketika melihat bahwa hidup sebagai perjuangan, maka
semakin biasa dengan perjuangan semakin terasa biasa rasa pahitnya segelas
wedang kopi. Pahit tapi menyehatkan tubuh dan memperlancar jalan pikiran.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4550
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875