Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Misteri Blangkon Hitam di Hotel Sultan



Jumat , 19 Juli 2024



Telah dibaca :  816

Cuaca di Jakarta hari ini sebenarnya cukup cerah. Namun entah kenapa hidung ku selalu “meler”, pilek dan bersin-bersin serta kepala terasa berat. Jika kondisi seperti ini selera makan langsung turun. Ingin rasanya makan “pisang rebus” atau “kacang tanah rebus”, namun hotel tidak menyediakannya. Saya memilih makan sayur tanpa nasi dan buah-buahan di temani kopi pahit.

Saya menelpon kawan saya yang sudah lulus doktor di IIQ, sahabat Ramadhan. Ternyata satu keluarganya juga tumbang; pilek dan demam. Saya menelpon supir Grab, baru berjalan beberapa menit, ia ditelpon istrinya. Isinya anaknya masuk rumah sakit, kasus sama; pilek dan demam. Ternyata Jakarta memang hari ini lagi musim demam, bukan “demam panggung” sebagaimana para artis dadakan atau komedian yang baru melihat Tugu Monas, tapi memang benar-benar demam. Siapapun kalau sudah demam, kenikmatan dunia memang terasa menjadi hambar.

Meskipun kondisi kurang sehat, namun penulis artikel ini cukup terhibur mendapat sahabat dari perguruan tinggi umum, PTKIN dan swasta datang dari Sabang sampai Merauke. Peserta sekitar 200-an perguruan tinggi. Saya sering menggunakan jaket untuk mengusir dinginnya AC, kadang dilepas agar tidak terlihat kampungan. Pada sesi berikutnya beberapa peserta juga  memakai Jaket. Setelah  saya dekati, ia berbisik kepadaku, “ruangan sangat sejuk pak”. Saya senyum dan hatiku berkata, “sama dong dengan saya”.

Malam itu kami mendengar narasumber dari berbagai perguruan tinggi seperti UGM, UI, Undip, Unair, Udayana, Satyia Wacana dan lain-lain. Perguruan tinggi umum memang diberikan porsi besar membahas tentang moderasi beragama. Sebab selama ini, moderasi beragama sering diidentikan dengan kementrian agama. Jadi kami benar-benar mendapatkan pengalaman baru tentang kondisi moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi umum baik negeri maupun swasta.

Ada seorang sahabat saya yang mengelola perguruan tinggi Al-Khairat di Indonesia bagian timur di sela-sela seminar, ia mengatakan kepadaku,” Saya baru tahu dan baru mendengar tentang moderasi beragama, padahal ini sangat penting. Apakah rektor saya tidak mengetahui acara seperti ini, kenapa saya baru mengikuti acara seperti ini, dia suda meneb”.

Bagi saya pembahasan moderasi beragama sudah familiar di PTKIN, namun bagi kampus tetangga PTKIN menjadi sesuatu yang sangat istimewa. Secara umum, mereka sangat menginginkan adanya kehidupan moderasi benar-benar hidup di kampus-kampus negeri sehingga perguruan tinggi benar-benar melahirkan manusia inklusif dan bisa hidup berdampingan dalam membangun masa depan Indonesia semakin lebih baik. Harapan yang besar mereka karena melihat suatu fakta berbagai kasus yang sering terjadi di perguruan tingginya berkaitan gerakan intoleransi yang sangat meresahkan berbagai pihak baik internal maupun eksternal kampus.

Para pemateri dari berbagai perguruan tinggi umum telah mempunyai bahan baku untuk menghidupkan moderasi beragama di kampus-kampus mereka. Bahkan mereka telah meletakan dasar-dasar pemikiran lebih jauh yaitu mengharapkan kehidupan inklusif menjadi salah satu indikator akreditasi perguruan tinggi. Sebab menurut mereka,apa artinya jika perguruan tinggi mempunyai akreditasi unggul tapi outputnya justru ingin menghancurkan peradaban di kemudian hari.

Diantara pembicara yang menarik perhatianku yaitu Prof.Dr. Mudjahirin Thohir dari Undip. Penampilannya tidak menyakinkan. Ia berbadan tinggi, kurus, rambut berwarna putih dan ditutupi blangkon berwarna hitam. Kesan pertama benar-benar seperti bukan seorang pendidik, ia lebih cocok seorang budayawan atau sesepuh. Jika ia di Yogyakarta, penampilannya persis penjaga pintu gerbang Keraton. Namun sorot matanya tajam dan penampilannya tenang menandakan kedalaman ilmunya. Sahabat saya, Mas Hammam, P.hD dari IAIN Salatiga saat mengomentari Prof Mudjahirin berbisik kepada ku, “dia sudah selesai dengan dirinya sendiri”.

Menurutnya persoalan yang mendasar dan sering terjadi konflik baik atas nama agama maupun budaya karena sebagian manusia masih berfikir absolutely absolut belum pada tataran relatively absolute. Orang yang masih berfikir absolutely absolut adalah melihat ajaran agamanya adalah ajaran absolut dan pengikutnya mengikuti keabsolutannya dan memaksa orang lain untuk mengikuti keabsolutannya. Padahal setiap agama mengajarkan hal yang demikian. Ketika setiap agama membangun kerangka berfikir pola tersebut sangat mudah sekali terjadi konflik bahkan peperangan yang tidak pernah berhenti sepanjang waktu. Sedangkan relatively absolute menyakini ajaran agama yang ia anut mempunyai kebenaran mutlak, sebagaimana orang lain menyakini agama nya mempunyai kebenaran mutlak. Namun kebenaran tersebut untuk dirinya, bukan untuk penganut agama lain. Dari sini kemudian lahir saling menghargai dan mencari titik temu nilai universal sebagai pengikat kehidupan bersama.

Apa yang disampaikan oleh prof tersebut tentu saja sudah terdokumentasi dalam sejarah bahwa doktrin agama telah membentuk suatu sistem politik tertuup dan melahirkan sentiment keagamaan dari penganut agama lain berusaha untuk tampil menjadi pelaku politik dan pengendali kekuasaan dunia. Peristiwa perang salib pada masa lalu sebenarnya bagian dari pertarungan pemikiran absolutely absolute yang ekses negatifnya sampai sekarang terus berlanjut dan menimbulkan kecurigaan di antara para penganut agama yang berbeda.

Memang membangun pola pikir relatively absolut di tengah masyarakat yang beragam agama dan beragam pandangan terhadap agama masing-masing sangat beragam. Bukan hanya di eksternal agama masing-masing, juga di internal agama masing-masing. Agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu juga mempunyai dua pola pemikiran tersebut di atas. Bahkan dalam sejarah juga, mereka terjadi konflik internal yang sampai sekarang ini belum selesai.

Indonesia sebagai negara yang masyarakat majemuk dengan keberagaman agama, kepercayaan, budaya dan suku atau etnis memang sangat membutuhkan perekat kuat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sesuatu yang tidak mudah memang membangun formula kerukunan dalam keberagaman. Selalu saja muncul ketegangan, kecurigaan saat muncul momen-momen seperti pilkada, pileg, dan pilpres. Namun usaha membangun kebersamaan dalam keberagaman harus selalu dikampanyekan untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara. Dan tugas ini bukan hanya diserahkan kepada perguruan tinggi, tapi juga tugas semua warga negara Indonesia.

Bandara Soekarno-Hatta, 19 Juli 2024



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876