
Cuaca di Jakarta hari ini sebenarnya cukup
cerah. Namun entah kenapa hidung ku selalu “meler”, pilek dan bersin-bersin
serta kepala terasa berat. Jika kondisi seperti ini selera makan langsung
turun. Ingin rasanya makan “pisang rebus” atau “kacang tanah rebus”,
namun hotel tidak menyediakannya. Saya memilih makan sayur tanpa nasi dan
buah-buahan di temani kopi pahit.
Saya menelpon kawan saya yang sudah lulus
doktor di IIQ, sahabat Ramadhan. Ternyata satu keluarganya juga tumbang; pilek
dan demam. Saya menelpon supir Grab, baru berjalan beberapa menit, ia ditelpon
istrinya. Isinya anaknya masuk rumah sakit, kasus sama; pilek dan demam. Ternyata
Jakarta memang hari ini lagi musim demam, bukan “demam panggung” sebagaimana
para artis dadakan atau komedian yang baru melihat Tugu Monas, tapi memang
benar-benar demam. Siapapun kalau sudah demam, kenikmatan dunia memang terasa
menjadi hambar.
Meskipun kondisi kurang sehat, namun
penulis artikel ini cukup terhibur mendapat sahabat dari perguruan tinggi umum, PTKIN dan swasta datang dari Sabang sampai Merauke.
Peserta sekitar 200-an perguruan tinggi. Saya sering menggunakan jaket untuk
mengusir dinginnya AC, kadang dilepas agar tidak terlihat kampungan. Pada sesi
berikutnya beberapa peserta juga memakai Jaket. Setelah saya dekati, ia berbisik kepadaku, “ruangan
sangat sejuk pak”. Saya senyum dan hatiku berkata, “sama dong dengan
saya”.
Malam itu kami mendengar narasumber dari berbagai perguruan tinggi seperti UGM, UI, Undip, Unair, Udayana, Satyia Wacana dan lain-lain. Perguruan tinggi umum memang diberikan porsi besar
membahas tentang moderasi beragama. Sebab selama ini, moderasi beragama sering
diidentikan dengan kementrian agama. Jadi kami benar-benar mendapatkan
pengalaman baru tentang kondisi moderasi beragama di lingkungan perguruan
tinggi umum baik negeri maupun swasta.
Ada seorang sahabat saya yang mengelola
perguruan tinggi Al-Khairat di Indonesia bagian timur di sela-sela seminar, ia
mengatakan kepadaku,” Saya baru tahu dan baru mendengar tentang moderasi
beragama, padahal ini sangat penting. Apakah rektor saya tidak mengetahui acara
seperti ini, kenapa saya baru mengikuti acara seperti ini, dia suda meneb”.
Bagi saya pembahasan moderasi beragama sudah familiar di PTKIN, namun bagi kampus tetangga PTKIN menjadi
sesuatu yang sangat istimewa. Secara umum, mereka sangat menginginkan adanya
kehidupan moderasi benar-benar hidup di kampus-kampus negeri sehingga perguruan
tinggi benar-benar melahirkan manusia inklusif dan bisa hidup berdampingan
dalam membangun masa depan Indonesia semakin lebih baik. Harapan yang besar mereka
karena melihat suatu fakta berbagai kasus yang sering terjadi di perguruan
tingginya berkaitan gerakan intoleransi yang sangat meresahkan berbagai pihak
baik internal maupun eksternal kampus.
Para pemateri dari berbagai perguruan
tinggi umum telah mempunyai bahan baku untuk menghidupkan moderasi
beragama di kampus-kampus mereka. Bahkan mereka telah meletakan dasar-dasar
pemikiran lebih jauh yaitu mengharapkan kehidupan inklusif menjadi salah satu indikator
akreditasi perguruan tinggi. Sebab menurut mereka,apa artinya jika perguruan
tinggi mempunyai akreditasi unggul tapi outputnya justru ingin menghancurkan
peradaban di kemudian hari.
Diantara pembicara yang menarik perhatianku
yaitu Prof.Dr. Mudjahirin Thohir dari Undip. Penampilannya tidak menyakinkan. Ia
berbadan tinggi, kurus, rambut berwarna putih dan ditutupi blangkon
berwarna hitam. Kesan pertama benar-benar seperti bukan seorang pendidik, ia lebih cocok seorang budayawan atau sesepuh. Jika ia di Yogyakarta, penampilannya persis penjaga pintu gerbang Keraton. Namun
sorot matanya tajam dan penampilannya tenang menandakan kedalaman ilmunya. Sahabat saya, Mas
Hammam, P.hD dari IAIN Salatiga saat mengomentari Prof Mudjahirin berbisik
kepada ku, “dia sudah selesai dengan dirinya sendiri”.
Menurutnya persoalan yang mendasar dan sering terjadi konflik baik atas nama agama maupun budaya karena sebagian manusia masih berfikir absolutely absolut belum pada tataran relatively absolute. Orang yang masih berfikir absolutely absolut adalah melihat ajaran agamanya adalah ajaran absolut dan pengikutnya mengikuti keabsolutannya dan memaksa orang lain untuk mengikuti keabsolutannya. Padahal setiap agama mengajarkan hal yang demikian. Ketika setiap agama membangun kerangka berfikir pola tersebut sangat mudah sekali terjadi konflik bahkan peperangan yang tidak pernah berhenti sepanjang waktu. Sedangkan relatively absolute menyakini ajaran agama yang ia anut mempunyai kebenaran mutlak, sebagaimana orang lain menyakini agama nya mempunyai kebenaran mutlak. Namun kebenaran tersebut untuk dirinya, bukan untuk penganut agama lain. Dari sini kemudian lahir saling menghargai dan mencari titik temu nilai universal sebagai pengikat kehidupan bersama.
Apa yang disampaikan oleh prof tersebut tentu
saja sudah terdokumentasi dalam sejarah bahwa doktrin agama telah membentuk
suatu sistem politik tertuup dan melahirkan sentiment keagamaan dari penganut
agama lain berusaha untuk tampil menjadi pelaku politik dan pengendali
kekuasaan dunia. Peristiwa perang salib pada masa lalu sebenarnya bagian dari
pertarungan pemikiran absolutely absolute yang ekses negatifnya sampai
sekarang terus berlanjut dan menimbulkan kecurigaan di antara para penganut
agama yang berbeda.
Memang membangun pola pikir relatively
absolut di tengah masyarakat yang beragam agama dan beragam pandangan terhadap
agama masing-masing sangat beragam. Bukan hanya di eksternal agama
masing-masing, juga di internal agama masing-masing. Agama-agama besar seperti Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu juga mempunyai dua pola pemikiran
tersebut di atas. Bahkan dalam sejarah juga, mereka terjadi konflik internal
yang sampai sekarang ini belum selesai.
Indonesia sebagai negara yang masyarakat majemuk
dengan keberagaman agama, kepercayaan, budaya dan suku atau etnis memang sangat
membutuhkan perekat kuat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Sesuatu yang tidak mudah memang membangun formula kerukunan dalam
keberagaman. Selalu saja muncul ketegangan, kecurigaan saat muncul momen-momen
seperti pilkada, pileg, dan pilpres. Namun usaha membangun kebersamaan dalam
keberagaman harus selalu dikampanyekan untuk menjaga keutuhan berbangsa dan
bernegara. Dan tugas ini bukan hanya diserahkan kepada perguruan tinggi, tapi
juga tugas semua warga negara Indonesia.
Bandara Soekarno-Hatta, 19 Juli 2024
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876