
Beberapa hari lalu saya membaca postingan Denny
JA dengan judul cukup mengagetkan, “Elon Musk akhirnya meninggalkan Donald Trump”.
Tulisan saudara Denny JA berbentuk cerita. Alur ceritanya sangat bagus. Ia
mampu membangun gambaran psikologis Elon Musk yang mempunyai ambisi besar
membangun digitalisasi seluruh aspek kehidupan yang meledak-ledak. Namun kini
harus menerima kenyataan. Kebijakan Trump yang tidak berpihak kepadanya, dan
demonstrasi ibu-ibu yang mengangkat poster berisi tulisan “Anak ku
membutuhkan makan”, membuat ia mundur dari kabinet Donald Trump dan
mengubur cita-cita besarnya di pemerintahan Trump.
Elon Musk sangat visioner. Dunia baginya
hanya sebatas teknologi, digitalisasi dan mesin-mesin berjalan menggantikan
manusia. itulah modernisasi. Ia mungkin lupa bahwa dirinya adalah seorang
manusia yang hidup membutuhkan manusia lain. ia mungkin lupa bahwa di planet
bumi ini ada milyaran manusia yang otaknya tidak sama dengan nya dan nasib kehidupan
finansialnya tidak sama dengan nya. Ada ribuan juta manusia yang tidak
membutuhkan internet dan teknologi. Mereka membutuhkan makanan dan lapangan
pekerjaan. Bagaimana jadinya, jika lapangan pekerjaan diganti dengan robot
buatan dan sejenisnya. Berarti peradaban manusia akan mengalami kehancuran
secara masif. Manusia secara pelan-pelan akan mati. Cara untuk mempertahankan
hidup maka sifat homo homoni socius [manusia makhluk sosial bagi manusia
lain] akan berubah menjadi homo homini lupus [ manusia menjadi serigala
bagi manusia lain].
Apa yang kita lihat sekarang itu sudah
terbukti. Angka pengangguran di Amerika Serikat meningkat 4,2%, China sebesar
5,3%, dan Indonesia sebesar 4,76%. Salah satu penyebabnya lahan-lahan pekerjaan
manusia sudah diganti dengan teknologi. Para pekerja bukan lagi orang-orang
miskin dan para pencari kerja, tetapi orang-orang kaya yang mempunyai modal
besar yang mampu membeli robot-robot. Teknologi wujud dari kejahatan
kapitalisme dalam peradaban manusia.
“Saint membuat ku pintar, tapi tidak
membuatku bijak” kata saintis dari Oxford Danah Zohar.
Manusia di era teknologi seharusnya bahagia
ternyata semakin bertambah stress. Kasus di China harus mengeluarkan trilunan
untuk menyembuhkan remaja dan anak-anak muda menghadapi persaingan tersebut. Para
pelajar dan mahasiswa harus mendapatkan pendampingan psikolog dalam menghadapi
gelombang perubahan teknologi yang sangat dahsyat.
Fakta-fakta tersebut menunjukan bahwa
kemajuan teknologi yang dibangga-banggakan oleh sebagian orang yang menempatkan sebagai kaum modern dan kelompok atheis
ternyata mengalami kepincangan peradaban yang sangat serius. Hal ini berangkat
dari cara berfikir mereka bahwa dengan kecerdasan manusia semua persoalan akan
selesai. padahal tidak demikian. Justru ketika akal dibiarkan berjalan sendiri,
kerusakan akan muncul dari produk akal pikiran tersebut.
Modernisasi hanya dilihat dari kecanggihan
robot-robot atau ada yang baru disebut dengan AI (Artificial Intelliigence). Padahal,
produk tersebut sebatas kecerdasan akal semata. Ia tidak mampu mengganti
kecanggihan ciptaan Tuhan yang bernama manusia. Pada diri manusia ada
kecerdasan super kumplit: intelektual, emosional, sosial dan spiritual. Maka dampak
para penyembah teknologi mengalami kerusakan mental dan psikologi masyarakat
dunia.
Berdasarkan realita sekarang ini, makna modernisasi
yang hanya dipersempit pada tataran mekanik semata,maka modernisasi hanya
menciptakan berhala-berhala ketergantungan dan perilaku-perilaku pesimistis
akibat ekses-ekses yang ditimbulkan. Hingga pada akhirnya, teknologi akan
terkubur bersamaan kehancuran manusia itu sendiri.
Saat ini kita membutuhkan makna modernisasi
sebagai penyelamat peradaban manusia, bukan sebatas perlombaan kecanggihan
teknologi sebagaimana yang dipertontonkan oleh AS, China dan negara-negara
maju. Apa artinya teknologi yang hebat, senjata perang yang canggih hanya
sebatas untuk jual beli ke berbagai negara, lalu diciptakan perang agar negara-negara
berkembang dan miskin ramai-ramai beli senjata. Lagi-lagi teknologi menjadi
wujud imperialisme gaya baru. Lagi-lagi, negara-negara lainnya yang menjadi
korban.
Islam memperkenalkan modernisasi sangat
simpel yaitu melalui kalimat “laa ilaha illa allah”, tidak ada Tuhan
selain Allah. Kalimat sakral tersebut secara filosofis mengajarkan makna
modernisasi. Penekanannya bukan pada
kemajuan teknologi, tapi pada penekanan moralitas manusia. Modernisasi yang
diajarkan Islam adalah modernisasi peradaban. Saat umat Islam mengucapkan
kalimat tauhid, saat itu manusia dalam pandangan Islam semua sama status dalam
kemanusiaan yaitu wajib dihormati. Tidak ada kasta tertinggi, tidak ada kasta
terendah. Tidak boleh kelompok satu menindas kelompok lain atas nama apapun.
semua harus dihormati sebagai wujud kemulyaan manusia.
Modernisasi dalam Islam juga menekankan
pentingnya perawatan terhadap alam semesta sebagai ciptaan-Nya. Alam semesta
yang ada dihadapan kita saat sekarang ini dalam konsep Islam merupakan makhluk Tuhan
yang sedang bertasbih kepada-Nya. Itu sebabnya, melakukan rekayasa ilmu
pengetahuan dan teknologi harus mempertimbangan kelangsungan peradaban manusia
dan kelestarian lingkungan alam semesta. Tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan
tersebut, maka semua teknologi dan modernisasi yang dibangga-bangakan hanya
sebatas kepalsuan dan tipuan setan semata. Ia hanya menyuguhkan kenikmatan
sesaat menuju kehancuran selama nya baik manusia dan segala alam semesta.
Jangan-jangan itu janji Iblis yang dihembuskan
kepada manusia untuk selalu membuat kerusakan agar manusia terlena dan lupa
kepada Tuhan. Endingnya agar sama-sama menjadi pengikutnya di Neraka Jahanam.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Dira
Kesimpulannya, modernisasi yang hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi tanpa memperhatikan sisi kemanusiaan justru membawa ancaman besar bagi peradaban. Elon Musk yang awalnya begitu berambisi membangun masa depan digital, akhirnya harus berhadapan dengan realita: manusia tidak hanya butuh teknologi, tapi juga makan, kerja, dan hidup yang layak. Ketika robot menggantikan manusia, maka perlahan manusia akan terpinggirkan, bahkan bisa saling memangsa satu sama lain. Teknologi yang katanya memudahkan hidup, justru membuat banyak orang makin stres, kehilangan pekerjaan, bahkan jati diri. Maka, kalau modernisasi hanya dilihat dari mesin dan AI, kita hanya sedang menciptakan berhala baru yang menjauhkan kita dari nilai-nilai sosial dan spiritual. Saat ini dunia bukan butuh teknologi tercanggih, tapi butuh modernisasi yang menyelamatkan manusia, bukan yang menghancurkannya.
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874