Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Modernisasi, Teknologi dan Berhala



Jumat , 30 Mei 2025



Telah dibaca :  619

Beberapa hari lalu saya membaca postingan Denny JA dengan judul cukup mengagetkan, “Elon Musk akhirnya meninggalkan Donald Trump”. Tulisan saudara Denny JA berbentuk cerita. Alur ceritanya sangat bagus. Ia mampu membangun gambaran psikologis Elon Musk yang mempunyai ambisi besar membangun digitalisasi seluruh aspek kehidupan yang meledak-ledak. Namun kini harus menerima kenyataan. Kebijakan Trump yang tidak berpihak kepadanya, dan demonstrasi ibu-ibu yang mengangkat poster berisi tulisan “Anak ku membutuhkan makan”, membuat ia mundur dari kabinet Donald Trump dan mengubur cita-cita besarnya di pemerintahan Trump.

Elon Musk sangat visioner. Dunia baginya hanya sebatas teknologi, digitalisasi dan mesin-mesin berjalan menggantikan manusia. itulah modernisasi. Ia mungkin lupa bahwa dirinya adalah seorang manusia yang hidup membutuhkan manusia lain. ia mungkin lupa bahwa di planet bumi ini ada milyaran manusia yang otaknya tidak sama dengan nya dan nasib kehidupan finansialnya tidak sama dengan nya. Ada ribuan juta manusia yang tidak membutuhkan internet dan teknologi. Mereka membutuhkan makanan dan lapangan pekerjaan. Bagaimana jadinya, jika lapangan pekerjaan diganti dengan robot buatan dan sejenisnya. Berarti peradaban manusia akan mengalami kehancuran secara masif. Manusia secara pelan-pelan akan mati. Cara untuk mempertahankan hidup maka sifat homo homoni socius [manusia makhluk sosial bagi manusia lain] akan berubah menjadi homo homini lupus [ manusia menjadi serigala bagi manusia lain].

Apa yang kita lihat sekarang itu sudah terbukti. Angka pengangguran di Amerika Serikat meningkat 4,2%, China sebesar 5,3%, dan Indonesia sebesar 4,76%. Salah satu penyebabnya lahan-lahan pekerjaan manusia sudah diganti dengan teknologi. Para pekerja bukan lagi orang-orang miskin dan para pencari kerja, tetapi orang-orang kaya yang mempunyai modal besar yang mampu membeli robot-robot. Teknologi wujud dari kejahatan kapitalisme dalam peradaban manusia.

“Saint membuat ku pintar, tapi tidak membuatku bijak” kata saintis dari Oxford Danah Zohar.

Manusia di era teknologi seharusnya bahagia ternyata semakin bertambah stress. Kasus di China harus mengeluarkan trilunan untuk menyembuhkan remaja dan anak-anak muda menghadapi persaingan tersebut. Para pelajar dan mahasiswa harus mendapatkan pendampingan psikolog dalam menghadapi gelombang perubahan teknologi yang sangat dahsyat.

Fakta-fakta tersebut menunjukan bahwa kemajuan teknologi yang dibangga-banggakan oleh sebagian orang yang menempatkan  sebagai kaum modern dan kelompok atheis ternyata mengalami kepincangan peradaban yang sangat serius. Hal ini berangkat dari cara berfikir mereka bahwa dengan kecerdasan manusia semua persoalan akan selesai. padahal tidak demikian. Justru ketika akal dibiarkan berjalan sendiri, kerusakan akan muncul dari produk akal pikiran tersebut.

Modernisasi hanya dilihat dari kecanggihan robot-robot atau ada yang baru disebut dengan AI (Artificial Intelliigence). Padahal, produk tersebut sebatas kecerdasan akal semata. Ia tidak mampu mengganti kecanggihan ciptaan Tuhan yang bernama manusia. Pada diri manusia ada kecerdasan super kumplit: intelektual, emosional, sosial dan spiritual. Maka dampak para penyembah teknologi mengalami kerusakan mental dan psikologi masyarakat dunia.

Berdasarkan realita sekarang ini, makna modernisasi yang hanya dipersempit pada tataran mekanik semata,maka modernisasi hanya menciptakan berhala-berhala ketergantungan dan perilaku-perilaku pesimistis akibat ekses-ekses yang ditimbulkan. Hingga pada akhirnya, teknologi akan terkubur bersamaan kehancuran manusia itu sendiri.

Saat ini kita membutuhkan makna modernisasi sebagai penyelamat peradaban manusia, bukan sebatas perlombaan kecanggihan teknologi sebagaimana yang dipertontonkan oleh AS, China dan negara-negara maju. Apa artinya teknologi yang hebat, senjata perang yang canggih hanya sebatas untuk jual beli ke berbagai negara, lalu diciptakan perang agar negara-negara berkembang dan miskin ramai-ramai beli senjata. Lagi-lagi teknologi menjadi wujud imperialisme gaya baru. Lagi-lagi, negara-negara lainnya yang menjadi korban.

Islam memperkenalkan modernisasi sangat simpel yaitu melalui kalimat “laa ilaha illa allah”, tidak ada Tuhan selain Allah. Kalimat sakral tersebut secara filosofis mengajarkan makna modernisasi. Penekanannya  bukan pada kemajuan teknologi, tapi pada penekanan moralitas manusia. Modernisasi yang diajarkan Islam adalah modernisasi peradaban. Saat umat Islam mengucapkan kalimat tauhid, saat itu manusia dalam pandangan Islam semua sama status dalam kemanusiaan yaitu wajib dihormati. Tidak ada kasta tertinggi, tidak ada kasta terendah. Tidak boleh kelompok satu menindas kelompok lain atas nama apapun. semua harus dihormati sebagai wujud kemulyaan manusia.

Modernisasi dalam Islam juga menekankan pentingnya perawatan terhadap alam semesta sebagai ciptaan-Nya. Alam semesta yang ada dihadapan kita saat sekarang ini dalam konsep Islam merupakan makhluk Tuhan yang sedang bertasbih kepada-Nya. Itu sebabnya, melakukan rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi harus mempertimbangan kelangsungan peradaban manusia dan kelestarian lingkungan alam semesta. Tanpa adanya pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka semua teknologi dan modernisasi yang dibangga-bangakan hanya sebatas kepalsuan dan tipuan setan semata. Ia hanya menyuguhkan kenikmatan sesaat menuju kehancuran selama nya baik manusia dan segala alam semesta.

Jangan-jangan itu janji Iblis yang dihembuskan kepada manusia untuk selalu membuat kerusakan agar manusia terlena dan lupa kepada Tuhan. Endingnya agar sama-sama menjadi pengikutnya di Neraka Jahanam.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Dira

Kesimpulannya, modernisasi yang hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi tanpa memperhatikan sisi kemanusiaan justru membawa ancaman besar bagi peradaban. Elon Musk yang awalnya begitu berambisi membangun masa depan digital, akhirnya harus berhadapan dengan realita: manusia tidak hanya butuh teknologi, tapi juga makan, kerja, dan hidup yang layak. Ketika robot menggantikan manusia, maka perlahan manusia akan terpinggirkan, bahkan bisa saling memangsa satu sama lain. Teknologi yang katanya memudahkan hidup, justru membuat banyak orang makin stres, kehilangan pekerjaan, bahkan jati diri. Maka, kalau modernisasi hanya dilihat dari mesin dan AI, kita hanya sedang menciptakan berhala baru yang menjauhkan kita dari nilai-nilai sosial dan spiritual. Saat ini dunia bukan butuh teknologi tercanggih, tapi butuh modernisasi yang menyelamatkan manusia, bukan yang menghancurkannya.

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874