Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Muharam: Aspal dan Ahsan



Sabtu , 22 Juli 2023



Telah dibaca :  437

Tulisan ini agak sedikit lambat mengulas tentang bulan Muharam. Menunggu Kapal Laut Dumai Line masih cukup lama, sekitar 1 jam, saya menggunakan waktu “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” untuk menulis bulan muharam yang penuh warna, bisa jadi sebanyak warna tingkah laku manusia.

Bulan ini adalah bulan tahun hijriah atau tahun baru Islam. Para ulama, tokoh agama, ustadz dan bahkan para aktivis telah membahas bulan ini sebagai bulan keagungan dan kemulyaan dengan memperbanyak amal sholeh, puasa dan menyantuni anak yatim. Ada juga diartikan bulan ini sebagai bulan yang modernis, yaitu memperbaiki ucapan, perbuatan dan cara berfikir jahiliyah menuju cara berbicara, berbuat dan membangun gagasan yang modern atau bertamadun. Ada juga yang lurus-lurus model sebagian para ustadz yang sering menjadi khatib atau ceramah-ceramah di majelis ta’lim mengartikan dengan peningkatakan ibadah, sholat tahajud, dan beramal sholeh dengan membantu orang-orang yang membutuhkan. Sebagian lagi ada yang bersifat revolusioner dengan menggunakan tagline provokatif dan bersifat politis, “Mari hijrah dari demokrasi toghut menuju daulah islamiyah”. Lucunya lagi, kadang mereka mengajak untuk kembali ke sistem khilafah dengan menambah kalimat begini, “Jangan lupa, siapkan infak terbaiknya!!!”.

Sebagian masyarakat Jawa memperingati bulan muharam dengan membuat bubur beras merah dan putih. Ada yang mengartikan ini sebagai simbol kematian hasan-dan Husain cucu Rasulullah s.a.w. Ada juga yang mengartikan ini simbol dari perjuangan kemerdekaan; merah artinya berani, putih artinya suci. Keberanian melawan penjajah karena menegakan perjuangan yang suci. Dalam Islam sering dikatikan dengan “qital ‘ala al-kufar” atau pengertian secara umum jihad fisabilillah.

Penulis tentu saja tidak akan mengulas tentang hikmah dari bulan muharam dengan rentetan dalil. Buku-buku, jurnal, artikel dan tulisan-tulisan bebas di website mudah sekali ditemukan dan bisa menjadi referensi yang cukup baik. Tulisan ini hanya sedikit menyoroti realita perilaku manusia di sekitar kita (termasuk penulis sendiri). Perjalanan sejarah manusia selalu diwarnai perilaku yang hasanah dan syayiah, baik dan tidak baik. Jika Nabi Adam sebagai rujukan manusia pertama, maka potensi-potensi perilaku manusia pada kedua jenis yang kontradiktif tersebut sudah tercatat dalam cerita secara turun-temurun. Pada saat masih kecil dan hingga kini pernah mendengar dan membaca kisah perseteruan antara Qabil dan Habil. Lalu generasi selanjutnya kita juga pernah mendengar tentang Kan’an yang tidak mau mengikuti ajakan orang tuanya untuk masuk ke dalam Perahu. Generasi nabi selanjutnya, ada juga sejarah istri nabi luth yang tidak patuh terhadap suaminya. Ada peristiwa selanjutnya, kisah nabi yusuf dengan saudara-saudara dalam peristiwa pembuangan Nabi Yusuf di sebuah sumur di pinggir Hutan.

Ada lagi cerita yang cukup menarik yaitu peristiwa peperangan Jalut dan Thalut. Alkisah, ketika bangsa bani Israel sudah kehilangan kendali politik dan terjadi perpecahan menjadi berbagai faksi, salah satu tokoh nya datang menemui nabi Samuel. Tujuan utamanya yaitu meminta “fatwa” kira-kira siapa yang pantas menjadi pemimpin negara Isreal kuno. Ketika nabi Samuel memberikan fatwa agar menjadikan Thalut sebagai pemimpin Bani Israel, para pembesar kaum Yahudi marah. Thalut hanya seorang pemuda miskin dari kampung, sedang mereka adalah para bangsawan. Mereka berdebat. Akhir perdebatan, Nabi Samuel  mengajak kepada para pembesar Bani Israil untuk pergi ke rumah Thalut. Ketika melihat rumahnya yang sangat sederhana, para pembesar semakin marah dan mencaci maki nabi Samuel. Ketika mereka hendak meninggalkan tempat tersebut, nabi Samuel menyakinkan mereka bahwa Thalut mempunyai “Tabut” yang berisi ajaran-ajaran suci Bani Israel. Konon, Kotat ini telah lama hilang. Menurut keyakinan waktu itu, orang yang mempunyai kota tersebut diyakini sebagai tokoh yang mampu menyatukan Mereka penasaran, akhirnya menyanggupi dan datang ke rumahnya. Ketika melihat kotak Tabut, mereka sadar bahwa Thalut adalah pilihan Tuhan untuk memimpin bani Israel melawan Jalut. singkat cerita, Thalut pun mendapatkan kemenangan.

Thalut adalah orang yang sholeh. Namun kemudian hari mengalami persoalan politik. Kemenangan yang diraih saat melawan Jalut tidak serta merta kehebatan nya, tapi berkat bantuan pemuda yang sangat jenius yaitu Dawud. Ketika masih remaja, Dawud sudah mampu menciptakan senjata modern pada zamannya yaitu jemparing. Senjata ini yang mampu mengalahkan musuh dari jarak beberapa meter, dan mempunyai kelebihan dari pedang dan tombak. Citra Dawud semakin baik di masyarakat. Walaupun konon, Dawud adalah mantu dari Thalut. Tapi persoalan politik tidak mengenal saudara dan teman. Politik adalah sebuah kepentingan. Keduanya terlibat konflik. Singkat cerita, kekuasaan Thalut berpindah kepada Dawud. Kisah Dawud menjadi  Raja dan diabadikan dalam Al-Qur’an.

Kisah para nabi sampai kepada nabi Muhammad sebenarnya pertarungan dua nafsu mutmainah dan syayiah atau amarah yang mewarnai pikiran, ucapan dan perilaku manusia. Ketika nabi Muhammad melakukan hijrah,  penulis bisa melihat bahwa unsur politik bisa menjadi salah satu alasan. Perkembangan menebarkan risalah Tuhan terganggu dan mempunyai potensi mati. Maka nabi melakukan langkah politik, yaitu hijrah ke Yasrib. Lalu Umar bin Khatab membuat definisi hijrah sebagai “faroqot bain al-haq wa al-bathil”, pemisah antara hak dan batil.

Definisi ini bisa dipahami, tapi sulit diwujudkan dalam realita kehidupan. Sangat sulit. Orang yang jarang sholat lalu hari berikutnya rajin sholat belum tentu wujud dari perkataan tersebut. sebab Tuhan sendiri telah mengancam dalam firman-Nya atas perilaku ahli sholat yang “syaahun”. Bahkan lebih ekstrem lagi, orang-orang yang sudah beragama dianggap sebagai pendusta agama manakala tidak memperhatikan kelompok fuqara masaakiin dan anak-anak yatim. Dari sini penulis melihat bahwa kelompok ahli ibadah tidak serta-merta bisa disebut hijrah. Juga orang ahli ibadah dan berbuat baik belum tentu juga disebut orang yang hijrah. Bisa jadi dia sholat dan amal sholeh karena ada unsur-unsur tertentu yang merusak kemurnian ibadah seperti karena mencari perhatian calon mertua, sungkan dengan atasan, atau mau mencalonkan diri menjadi eksekutif atau legislatif.

Itu realita kehidupan sosial-politik. Produk hijrah yang dikatakan oleh Umar bin Khatab melahirkan sistem kehidupan politik umat Islam di Jazirah Arab kala itu. Sebagian orang sering melihat ini sebagai sebuah kesempurnaan, lalu saat ini mereka mencita-citakan untuk mewujudkan dalam gerakan yang disebut gerakan khilafah islamiyah. Padahal sejarah tidak bisa dihapus begitu saja. Realita politik ada sis kelam saat itu yaitu matinya Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, ban Ali bin Abi Thalib, bahkan Husein dengan cara yang sangat mengenaskan. Dari sini kemudian munculnya perdebatan, antara lain:  persoalan teologi tentang dosa orang-orang yang membunuh sesama muslim. sebagian pendapat telah melakukan dosa besar sebagian lagi melihat bahwa persoalan tersebut bagian dari ijtihad bahwa antara yang benar dan salah tetap mendapatkan pahala.

Peristiwa kelam tersebut oleh para pecinta pemikiran politik klasik yang dianggap sebagai bagian dari “dien wa daulah” jelas tidak suka membahas peristiwa-peristiwa di atas. Mereka lebih suka melihat dari sis keberhasilan daripada perdebatan melihat realita sejarah politik Islam. Semua dilakukan dalam rangka untuk menyakinkan bahwa sejarah politik Islam itu sangat mulus, indah dan tidak ada cacat. Dari sini juga muncul para propaganda politik melalui berbagai media untuk menyakinkan bahwa sistem politik Islam adalah pilihan tepat untuk menyelesaikan masalah problematika bangsa. Bahkan para aktivis secara terus-menerus melalui berbagai media selalu menganjurkan sistem khilafah sebagai solusi bangsa, bukan hanya negara Indonesia tapi juga dunia. padahal sistem adalah sebuah teori. Baik tidaknya bukan pada sistem, tapi komitmen menegakan nilai-nilai universal dalam kehidupan sehari-hari dalam kontek berbangsa dan bernegara.

Alhasil, bulan Muharam tahun ini benar-benar penuh pesan-pesan yang sangat baik, mulai pesan keagamaan untuk diri sendiri, keluarga dan kehidupan sosial-politik. Apalagi tahun politik sudah sangat terasa, maka pesan-pesan Muharam pun semakin kental nuansa politiknya. Orang-orang yang buta politik ketika masuk Partai Politik berubah menjadi bijak, serba tahu dan gagasanya sangat solutif. Semua berubah menjadi manusia “ahsanitaqwim”. Siapapun orangnya dan dari partai apapun dia berasal. Namun ironisnya sering dalam perjalanannya menjadi “asfalasafiliin”. Tentu tidak semua para politikus terjebak dalam perilaku demikian. Ada juga banyak para politikus dan pemimpin yang tetap komitmen tunduk dan taat kepada Tuhan serta serius mengukir prestasi untuk kepentingan bangsa dan negara. Ini yang sering disebut “aamanu wa ‘amilusholihati”.

Semoga bulan Muharam menjadi kesadaran totalitas untuk senantiasa tunduk terhadap perintah-perintah-Nya dan melahirkan prestasi-prestasi yang memberi manfaat bagi sesama. Pendek kata, bulan muharam bisa menjadi pijakan untuk melakukan perubahan “manusia aspal” menjadi “manusia ahsan”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879