
Tulisan ini agak sedikit lambat mengulas
tentang bulan Muharam. Menunggu Kapal Laut Dumai Line masih cukup lama, sekitar
1 jam, saya menggunakan waktu “dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” untuk
menulis bulan muharam yang penuh warna, bisa jadi sebanyak warna tingkah laku
manusia.
Bulan ini adalah bulan tahun hijriah atau
tahun baru Islam. Para ulama, tokoh agama, ustadz dan bahkan para aktivis telah
membahas bulan ini sebagai bulan keagungan dan kemulyaan dengan memperbanyak
amal sholeh, puasa dan menyantuni anak yatim. Ada juga diartikan bulan ini
sebagai bulan yang modernis, yaitu memperbaiki ucapan, perbuatan dan cara
berfikir jahiliyah menuju cara berbicara, berbuat dan membangun gagasan yang
modern atau bertamadun. Ada juga yang lurus-lurus model sebagian para ustadz
yang sering menjadi khatib atau ceramah-ceramah di majelis ta’lim mengartikan
dengan peningkatakan ibadah, sholat tahajud, dan beramal sholeh dengan membantu
orang-orang yang membutuhkan. Sebagian lagi ada yang bersifat revolusioner
dengan menggunakan tagline provokatif dan bersifat politis, “Mari hijrah dari
demokrasi toghut menuju daulah islamiyah”. Lucunya lagi, kadang mereka mengajak
untuk kembali ke sistem khilafah dengan menambah kalimat begini, “Jangan lupa,
siapkan infak terbaiknya!!!”.
Sebagian masyarakat Jawa memperingati bulan
muharam dengan membuat bubur beras merah dan putih. Ada yang mengartikan ini
sebagai simbol kematian hasan-dan Husain cucu Rasulullah s.a.w. Ada juga yang
mengartikan ini simbol dari perjuangan kemerdekaan; merah artinya berani, putih
artinya suci. Keberanian melawan penjajah karena menegakan perjuangan yang
suci. Dalam Islam sering dikatikan dengan “qital ‘ala al-kufar” atau pengertian
secara umum jihad fisabilillah.
Penulis tentu saja tidak akan mengulas
tentang hikmah dari bulan muharam dengan rentetan dalil. Buku-buku, jurnal,
artikel dan tulisan-tulisan bebas di website mudah sekali ditemukan dan bisa
menjadi referensi yang cukup baik. Tulisan ini hanya sedikit menyoroti realita
perilaku manusia di sekitar kita (termasuk penulis sendiri). Perjalanan sejarah
manusia selalu diwarnai perilaku yang hasanah dan syayiah, baik dan tidak baik.
Jika Nabi Adam sebagai rujukan manusia pertama, maka potensi-potensi perilaku
manusia pada kedua jenis yang kontradiktif tersebut sudah tercatat dalam cerita
secara turun-temurun. Pada saat masih kecil dan hingga kini pernah mendengar
dan membaca kisah perseteruan antara Qabil dan Habil. Lalu generasi selanjutnya
kita juga pernah mendengar tentang Kan’an yang tidak mau mengikuti ajakan orang
tuanya untuk masuk ke dalam Perahu. Generasi nabi selanjutnya, ada juga sejarah
istri nabi luth yang tidak patuh terhadap suaminya. Ada peristiwa selanjutnya,
kisah nabi yusuf dengan saudara-saudara dalam peristiwa pembuangan Nabi Yusuf di
sebuah sumur di pinggir Hutan.
Ada lagi cerita yang cukup menarik yaitu
peristiwa peperangan Jalut dan Thalut. Alkisah, ketika bangsa bani Israel sudah
kehilangan kendali politik dan terjadi perpecahan menjadi berbagai faksi, salah
satu tokoh nya datang menemui nabi Samuel. Tujuan utamanya yaitu meminta
“fatwa” kira-kira siapa yang pantas menjadi pemimpin negara Isreal kuno. Ketika
nabi Samuel memberikan fatwa agar menjadikan Thalut sebagai pemimpin Bani Israel,
para pembesar kaum Yahudi marah. Thalut hanya seorang pemuda miskin dari
kampung, sedang mereka adalah para bangsawan. Mereka berdebat. Akhir
perdebatan, Nabi Samuel mengajak kepada
para pembesar Bani Israil untuk pergi ke rumah Thalut. Ketika melihat rumahnya
yang sangat sederhana, para pembesar semakin marah dan mencaci maki nabi
Samuel. Ketika mereka hendak meninggalkan tempat tersebut, nabi Samuel
menyakinkan mereka bahwa Thalut mempunyai “Tabut” yang berisi ajaran-ajaran
suci Bani Israel. Konon, Kotat ini telah lama hilang. Menurut keyakinan waktu
itu, orang yang mempunyai kota tersebut diyakini sebagai tokoh yang mampu
menyatukan Mereka penasaran, akhirnya menyanggupi dan datang ke rumahnya.
Ketika melihat kotak Tabut, mereka sadar bahwa Thalut adalah pilihan Tuhan
untuk memimpin bani Israel melawan Jalut. singkat cerita, Thalut pun
mendapatkan kemenangan.
Thalut adalah orang yang sholeh. Namun
kemudian hari mengalami persoalan politik. Kemenangan yang diraih saat melawan
Jalut tidak serta merta kehebatan nya, tapi berkat bantuan pemuda yang sangat
jenius yaitu Dawud. Ketika masih remaja, Dawud sudah mampu menciptakan senjata
modern pada zamannya yaitu jemparing. Senjata ini yang mampu mengalahkan musuh
dari jarak beberapa meter, dan mempunyai kelebihan dari pedang dan tombak.
Citra Dawud semakin baik di masyarakat. Walaupun konon, Dawud adalah mantu dari
Thalut. Tapi persoalan politik tidak mengenal saudara dan teman. Politik adalah
sebuah kepentingan. Keduanya terlibat konflik. Singkat cerita, kekuasaan Thalut
berpindah kepada Dawud. Kisah Dawud menjadi Raja dan diabadikan dalam Al-Qur’an.
Kisah para nabi sampai kepada nabi Muhammad
sebenarnya pertarungan dua nafsu mutmainah dan syayiah atau amarah
yang mewarnai pikiran, ucapan dan perilaku manusia. Ketika nabi Muhammad melakukan
hijrah, penulis bisa melihat bahwa unsur
politik bisa menjadi salah satu alasan. Perkembangan menebarkan risalah Tuhan
terganggu dan mempunyai potensi mati. Maka nabi melakukan langkah politik,
yaitu hijrah ke Yasrib. Lalu Umar bin Khatab membuat definisi hijrah sebagai “faroqot
bain al-haq wa al-bathil”, pemisah antara hak dan batil.
Definisi ini bisa dipahami, tapi sulit
diwujudkan dalam realita kehidupan. Sangat sulit. Orang yang jarang sholat lalu
hari berikutnya rajin sholat belum tentu wujud dari perkataan tersebut. sebab Tuhan
sendiri telah mengancam dalam firman-Nya atas perilaku ahli sholat yang
“syaahun”. Bahkan lebih ekstrem lagi, orang-orang yang sudah beragama dianggap
sebagai pendusta agama manakala tidak memperhatikan kelompok fuqara masaakiin
dan anak-anak yatim. Dari sini penulis melihat bahwa kelompok ahli ibadah tidak
serta-merta bisa disebut hijrah. Juga orang ahli ibadah dan berbuat baik belum
tentu juga disebut orang yang hijrah. Bisa jadi dia sholat dan amal sholeh
karena ada unsur-unsur tertentu yang merusak kemurnian ibadah seperti karena
mencari perhatian calon mertua, sungkan dengan atasan, atau mau mencalonkan
diri menjadi eksekutif atau legislatif.
Itu realita kehidupan sosial-politik.
Produk hijrah yang dikatakan oleh Umar bin Khatab melahirkan sistem kehidupan
politik umat Islam di Jazirah Arab kala itu. Sebagian orang sering melihat ini
sebagai sebuah kesempurnaan, lalu saat ini mereka mencita-citakan untuk
mewujudkan dalam gerakan yang disebut gerakan khilafah islamiyah.
Padahal sejarah tidak bisa dihapus begitu saja. Realita politik ada sis kelam
saat itu yaitu matinya Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, ban Ali bin Abi
Thalib, bahkan Husein dengan cara yang sangat mengenaskan. Dari sini kemudian
munculnya perdebatan, antara lain: persoalan teologi tentang dosa orang-orang
yang membunuh sesama muslim. sebagian pendapat telah melakukan dosa besar
sebagian lagi melihat bahwa persoalan tersebut bagian dari ijtihad bahwa antara
yang benar dan salah tetap mendapatkan pahala.
Peristiwa kelam tersebut oleh para pecinta
pemikiran politik klasik yang dianggap sebagai bagian dari “dien wa daulah” jelas
tidak suka membahas peristiwa-peristiwa di atas. Mereka lebih suka melihat dari
sis keberhasilan daripada perdebatan melihat realita sejarah politik Islam. Semua
dilakukan dalam rangka untuk menyakinkan bahwa sejarah politik Islam itu sangat
mulus, indah dan tidak ada cacat. Dari sini juga muncul para propaganda politik
melalui berbagai media untuk menyakinkan bahwa sistem politik Islam adalah
pilihan tepat untuk menyelesaikan masalah problematika bangsa. Bahkan para aktivis
secara terus-menerus melalui berbagai media selalu menganjurkan sistem khilafah
sebagai solusi bangsa, bukan hanya negara Indonesia tapi juga dunia. padahal
sistem adalah sebuah teori. Baik tidaknya bukan pada sistem, tapi komitmen
menegakan nilai-nilai universal dalam kehidupan sehari-hari dalam kontek
berbangsa dan bernegara.
Alhasil, bulan Muharam tahun ini
benar-benar penuh pesan-pesan yang sangat baik, mulai pesan keagamaan untuk
diri sendiri, keluarga dan kehidupan sosial-politik. Apalagi tahun politik
sudah sangat terasa, maka pesan-pesan Muharam pun semakin kental nuansa
politiknya. Orang-orang yang buta politik ketika masuk Partai Politik berubah
menjadi bijak, serba tahu dan gagasanya sangat solutif. Semua berubah menjadi
manusia “ahsanitaqwim”. Siapapun orangnya dan dari partai apapun dia
berasal. Namun ironisnya sering dalam perjalanannya menjadi “asfalasafiliin”.
Tentu tidak semua para politikus terjebak dalam perilaku demikian. Ada juga
banyak para politikus dan pemimpin yang tetap komitmen tunduk dan taat kepada Tuhan
serta serius mengukir prestasi untuk kepentingan bangsa dan negara. Ini yang
sering disebut “aamanu wa ‘amilusholihati”.
Semoga bulan Muharam menjadi kesadaran
totalitas untuk senantiasa tunduk terhadap perintah-perintah-Nya dan melahirkan
prestasi-prestasi yang memberi manfaat bagi sesama. Pendek kata, bulan muharam
bisa menjadi pijakan untuk melakukan perubahan “manusia aspal” menjadi “manusia
ahsan”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879