Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

MUI,NU, dan Islah



Kamis , 25 Desember 2025



Telah dibaca :  283

Setelah mengikuti Musda MUI Riau, saya benar-benar kaget. Saya berfikir tidak berada di ruangan forum MUI, tapi di forum-forum mahasiswa yang penuh perdebatan dan intrik. Ada yang berbicara AD/ART, ada juga yang menjadi ahli tafsir liar tentang AD/ART. Hatiku bertanya: “Apakah ini forum pertemuan para ulama?”

Di ruangan forum tersebut, saya tidak berkomentar apapun. Saya memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga saja, tidak terjadi fitnah menimpaku dan -sebagian-para ulama yang berada di ruangan tersebut. Saya menyakini, di tempat itu ada para ulama yang bersih hatinya. Saya juga merasa-mungkin pikiran kotorku-ada yang seharusnya belum disebut ulama tapi minta disebut ulama tapi ingin mengurus ulama-bisa jadi seperti diriku yang belum pantas disebut seorang ulama. Duh Gusti Allah, ampuni dosa-dosa hamba-Mu ini.

Sebelum datang di tempat musda MUI mulia ini,malam hari saya bermimpi ada yang mengambil buku dariku. Saya kaget, betapa jelas mimpi tersebut. Itu di forum MUI. Saya tidak tahu maknanya. Itu hanya mimpi kosong seorang pendosa sebelum pemilihan calon Ketua MUI Provinsi.

Saya baru tahu jawabannya, saat menjelang proses penentuan fim formatur ada seseorang menemuiku agar saya menjadi bagian dari tim formatur. Hatiku berkata, “Ya Allah jika saya harus memilih salah satu guru ku diantara mereka, betapa saya telah menyakiti hati guru-guru ku yang tidak kupilih”. Itu perasaan ku, tentu bukan perasaan guru-guru ku.

Waktu pun tiba, rapat pembentukan calon tim formatur. Perdebatan terlalu keras. Hingga lupa nama ku tidak disebut. Akhirnya saya tidak masuk pada tim formatur. Saya pun bersyukur, Allah telah mengabulkan doa ku telah membebaskan beban ku dari persoalan tersebut. Saya tetap berdoa kebaikan untuk para ulama. Jangan sampai perdebatan yang terlihat keras terus menerus berlarut-larut. Dan akhirnya selesai juga acara Musda MUI. Terpilih pemimpin baru MUI Provinsi Riau: Dr.H. Saidul Amin,MA.

Peristiwa Musda MUI itu sebenarnya masih riak-riak kecil. Masih dalam batas kenormalan dalam pengertian tidak sampai pada tindakan anarkis. Meskipun dalam pikiran saya pribadi, forum ulama adalah laksana Bintang-bintang di langit yang selalu menerangi bumi, terlihat indah. Atau laksana pemandangan gunung-gunung yang menyejukan mata dan perasaan hati saat menatap dari jauh.

Saat semua dilihat secara dekat, kita baru sadar bahwa bintang atau gunung tidak seindah apa yang kita bayangkan. Semua itu harus kita terima sebagai realita makhluk bahwa yang paling sempurna hanya Allah, selainnya tidak ada yang sempurna.

Peristiwa yang lebih keras lagi, yaitu organisasi Nahdlatul Ulama-NU. Tidak ada angin-tidak ada mendung, tiba-tiba datang petir menggelegar. Duaaar !!!!. Beberapa waktu lalu kita disuguih perdebatan panas di internal pengurus NU baik pendukung Keputusan Raim Am maupun Ketua Umum Tanfidziyah.

Layaknya orang yang jatuh cinta atau sedang benci setengah mati, maka masing-masing pendukung membeberkan aib rivalnya. Masing-masing merasa lebih benar, lebih sah dan lebih pantas diikuti fatwanya.

Yang lebih heboh justru para pembenci NU. Mulai dari media online, media sosial dan kanal-kanal prodcast. Mereka sangat menikmati kegaduhan tersebut. mereka mentertawakan, mencemooh, mengejek,menghina dengan kata-kata sangat kotor. Mereka memperkeruh suasana sekuat mungkin agar NU benar-benar drop dan kalau bisa stroke. Kalau sudah begini tinggal matinya.

Mereka tidak menyadari bahwa seorang muslim adalah satu tubuh. Mengkritik boleh, menghina jangan. Bagaimanapun segala fasilitas kehidupan sosial dalam bentuk jabatan, pemimpin ormas dan sejenisnya merupakan wasilah untuk mengkritik segala kebijakan dan mengapresiasi segala keberhasilan. Sebab kegiatan tersebut merupakan hajat atau kebutuhan orang banyak yang membutuhkan bukti konkrit terhadap segala realisasi-realisasi yang dicita-citakan. Maka segala kritik harus berlandaskan pada aturan administrasi yang berlaku pada ormas tersebut. Aturan itu yang kemudian melahirkan status seseorang dengan sebutan pimpinan, ketua, sekretaris dan bendahara serta anggota. Tanpa ada aturan administrasi tersebut, tidak ada sebutan jabatan-jabatan seseorang. Tidak ada seorang pemimpin seorang kepala negara tanpa putusan adminitrasi, tidak ada seorang manajer tanpa putusan administrasi bahkan-dari yang paling kecil pun-tidak ada seorang pengurus masjid tanpa keputusan administrasi. Administrasi sebagai jalan efektif agar suatu sistem negara dan bangsa, ormas, lembaga bisa berjalan lebih efektif. Tanpa adanya administrasi, semua mempunyai peluang untuk mengklaim diri sebagai orang yang paling pantas untuk menjadi pemimpin.

Persoalan tafsir memang sering menimbulkan multi tafsir ketika masuk pada situasi multi kepentingan. Sebuah pemerintah atau organisasi bisa gaduh apabila kedua belah pihak mempunyai tafsir yang berbeda-beda. Maka dalam situasi seperti ini membutuhkan pola “duduk bareng” mencari titik temu melalui jalan yang disebut islah. Seberapa dahsyat diskusi, islah merupakan jalan terbaik untuk membuka kebuntuan yang sering terkunci.

Konflik internal ormas NU kelihatannya masing memegang teguh jargon,”Berawal geger-gegeran berakhir ger-ger-an”, suatu tradisi penyelesaian masalah ‘ala ulama NU. Ini suatu tradisi yang sebenarnya sudah mengakar di pesantren-pesantren saat membahas persoalan hukum fiqh dalam bentuk musyawah -sawir-atau bahtsul masail-membahas masalah kekinian.

Sebagai penutup saya telah menerima video dari teman-teman dan juga video yang telah viral di laman-laman media sosial. Ada pertemuan antara Rais Am dan Ketua PBNU di Pesantren Lirboyo. Saya juga mendapatkan resume hasil kesepakatan bahwa mereka sepakat untuk menyelesaikan tugas mereka dengan legitimate dan berakhir dengan baik. Jika ini benar, maka rapat atau duduk bareng dalam menyelesaikan masalah sesuatu yang masih sangat efektif. Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah. Sebab musyawarah merupakan bagian ajaran Islam yang sangat agung sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun hadist Nabi Muhammad SAW.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871