
Setelah mengikuti Musda MUI Riau, saya
benar-benar kaget. Saya berfikir tidak berada di ruangan forum MUI, tapi di
forum-forum mahasiswa yang penuh perdebatan dan intrik. Ada yang berbicara
AD/ART, ada juga yang menjadi ahli tafsir liar tentang AD/ART. Hatiku bertanya:
“Apakah ini forum pertemuan para ulama?”
Di ruangan forum tersebut, saya tidak
berkomentar apapun. Saya memperbanyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Semoga saja, tidak terjadi fitnah menimpaku dan -sebagian-para ulama yang
berada di ruangan tersebut. Saya menyakini, di tempat itu ada para ulama yang
bersih hatinya. Saya juga merasa-mungkin pikiran kotorku-ada yang seharusnya
belum disebut ulama tapi minta disebut ulama tapi ingin mengurus ulama-bisa
jadi seperti diriku yang belum pantas disebut seorang ulama. Duh Gusti Allah,
ampuni dosa-dosa hamba-Mu ini.
Sebelum datang di tempat musda MUI mulia
ini,malam hari saya bermimpi ada yang mengambil buku dariku. Saya kaget, betapa
jelas mimpi tersebut. Itu di forum MUI. Saya tidak tahu maknanya. Itu hanya
mimpi kosong seorang pendosa sebelum pemilihan calon Ketua MUI Provinsi.
Saya baru tahu jawabannya, saat menjelang
proses penentuan fim formatur ada seseorang menemuiku agar saya menjadi bagian
dari tim formatur. Hatiku berkata, “Ya Allah jika saya harus memilih salah satu
guru ku diantara mereka, betapa saya telah menyakiti hati guru-guru ku yang
tidak kupilih”. Itu perasaan ku, tentu bukan perasaan guru-guru ku.
Waktu pun tiba, rapat pembentukan calon tim
formatur. Perdebatan terlalu keras. Hingga lupa nama ku tidak disebut. Akhirnya
saya tidak masuk pada tim formatur. Saya pun bersyukur, Allah telah mengabulkan
doa ku telah membebaskan beban ku dari persoalan tersebut. Saya tetap berdoa
kebaikan untuk para ulama. Jangan sampai perdebatan yang terlihat keras terus
menerus berlarut-larut. Dan akhirnya selesai juga acara Musda MUI. Terpilih
pemimpin baru MUI Provinsi Riau: Dr.H. Saidul Amin,MA.
Peristiwa Musda MUI itu sebenarnya masih
riak-riak kecil. Masih dalam batas kenormalan dalam pengertian tidak sampai
pada tindakan anarkis. Meskipun dalam pikiran saya pribadi, forum ulama adalah
laksana Bintang-bintang di langit yang selalu menerangi bumi, terlihat indah. Atau
laksana pemandangan gunung-gunung yang menyejukan mata dan perasaan hati saat
menatap dari jauh.
Saat semua dilihat secara dekat, kita baru
sadar bahwa bintang atau gunung tidak seindah apa yang kita bayangkan. Semua
itu harus kita terima sebagai realita makhluk bahwa yang paling sempurna hanya Allah,
selainnya tidak ada yang sempurna.
Peristiwa yang lebih keras lagi, yaitu
organisasi Nahdlatul Ulama-NU. Tidak ada angin-tidak ada mendung, tiba-tiba
datang petir menggelegar. Duaaar !!!!. Beberapa waktu lalu kita disuguih
perdebatan panas di internal pengurus NU baik pendukung Keputusan Raim Am
maupun Ketua Umum Tanfidziyah.
Layaknya orang yang jatuh cinta atau sedang
benci setengah mati, maka masing-masing pendukung membeberkan aib rivalnya.
Masing-masing merasa lebih benar, lebih sah dan lebih pantas diikuti fatwanya.
Yang lebih heboh justru para pembenci NU. Mulai
dari media online, media sosial dan kanal-kanal prodcast. Mereka sangat
menikmati kegaduhan tersebut. mereka mentertawakan, mencemooh, mengejek,menghina
dengan kata-kata sangat kotor. Mereka memperkeruh suasana sekuat mungkin agar
NU benar-benar drop dan kalau bisa stroke. Kalau sudah begini
tinggal matinya.
Mereka tidak menyadari bahwa seorang muslim
adalah satu tubuh. Mengkritik boleh, menghina jangan. Bagaimanapun segala fasilitas
kehidupan sosial dalam bentuk jabatan, pemimpin ormas dan sejenisnya merupakan wasilah
untuk mengkritik segala kebijakan dan mengapresiasi segala keberhasilan. Sebab kegiatan
tersebut merupakan hajat atau kebutuhan orang banyak yang membutuhkan bukti
konkrit terhadap segala realisasi-realisasi yang dicita-citakan. Maka segala
kritik harus berlandaskan pada aturan administrasi yang berlaku pada ormas
tersebut. Aturan itu yang kemudian melahirkan status seseorang dengan sebutan
pimpinan, ketua, sekretaris dan bendahara serta anggota. Tanpa ada aturan
administrasi tersebut, tidak ada sebutan jabatan-jabatan seseorang. Tidak ada
seorang pemimpin seorang kepala negara tanpa putusan adminitrasi, tidak ada
seorang manajer tanpa putusan administrasi bahkan-dari yang paling kecil
pun-tidak ada seorang pengurus masjid tanpa keputusan administrasi. Administrasi
sebagai jalan efektif agar suatu sistem negara dan bangsa, ormas, lembaga bisa
berjalan lebih efektif. Tanpa adanya administrasi, semua mempunyai peluang
untuk mengklaim diri sebagai orang yang paling pantas untuk menjadi pemimpin.
Persoalan tafsir memang sering menimbulkan
multi tafsir ketika masuk pada situasi multi kepentingan. Sebuah pemerintah
atau organisasi bisa gaduh apabila kedua belah pihak mempunyai tafsir yang
berbeda-beda. Maka dalam situasi seperti ini membutuhkan pola “duduk bareng”
mencari titik temu melalui jalan yang disebut islah. Seberapa dahsyat
diskusi, islah merupakan jalan terbaik untuk membuka kebuntuan yang sering
terkunci.
Konflik internal ormas NU kelihatannya
masing memegang teguh jargon,”Berawal geger-gegeran berakhir ger-ger-an”,
suatu tradisi penyelesaian masalah ‘ala ulama NU. Ini suatu tradisi yang
sebenarnya sudah mengakar di pesantren-pesantren saat membahas persoalan hukum fiqh
dalam bentuk musyawah -sawir-atau bahtsul masail-membahas masalah
kekinian.
Sebagai penutup saya telah menerima video
dari teman-teman dan juga video yang telah viral di laman-laman media sosial. Ada
pertemuan antara Rais Am dan Ketua PBNU di Pesantren Lirboyo. Saya juga
mendapatkan resume hasil kesepakatan bahwa mereka sepakat untuk menyelesaikan
tugas mereka dengan legitimate dan berakhir dengan baik. Jika ini benar, maka
rapat atau duduk bareng dalam menyelesaikan masalah sesuatu yang masih sangat
efektif. Tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah. Sebab
musyawarah merupakan bagian ajaran Islam yang sangat agung sebagaimana yang
tertulis dalam Al-Qur’an maupun hadist Nabi Muhammad SAW.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871