Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mujahadah Akbar di Tengah Pemanasan Global



Kamis , 02 November 2023



Telah dibaca :  667

Iklim dunia sedang tidak baik-baik saja. Sekarang bukan lagi “pemanasan global”,tapi telah terjadi "pendidihan global. Laksana Ikan di air panas, terasa tidak nyaman dan tersiksa. Hidup di lingkungan sendiri sudah terasa sedih,susah dan gelisah. Perubahan iklim yang begitu cepat dan ekstrem telah mengagetkan jiwa dan badan. Akibat nya meningkat drastis health mental,banyak orang depresi,stress. Jika terus berlanjut melemahkan daya tahan tubuh,maka muncul penyakit badan beragam jenis. Satu penyakit sembuh,datang penyakit baru dengan pola baru dan nama baru.

Nun Jauh disana, persoalan perang Ukraina-Rusia sangat menyita energi. Para pemimpin dunia saling bertemu, diskusi, rapat sampai membuahkan perdebatan terbuka. Hasil nya nihil. Ujung-ujung nya jualan senjata dan unjuk kekuatan. Korban nya rakyat kecil. Kebutuhan pokok naik,beras naik, kebutuhan hidup mencekik, dan berimbas para suami panik saat istri melirik dengan tajam.

Efek perang di atas belum kering dalam ingatan kita. Tiba-tiba bencana Alam melanda Afganistan sangat dahsyat. Belum selesai, kini Palestina-Israel menambah deretan persoalan kemanusiaan dan kekuasaan hanya sebatas pidato,retorika dan kerakusan orang-orang yang disebut kaum intelektual,Agamawan dan para wakil wakil Tuhan. Entah apa dibenak para wakil Tuhan di bumi, apakah mereka masih punya empati, rasa sedih, dan hati tersayat ketika melihat tangisan anak kecil karena orang tua nya mati dan rumah nya hancur akibat bom perang. Entah bahasa apa dan kalimat yang tepat untuk menjelaskan para pemimpin superpower tentang arti tangisan anak kecil dan kemanusiaan global. Sungguh, semua kisah nyata ini seolah-olah hanya dongeng pengantar tidur para pemimpin dunia. Seminar dan forum kemanusiaan internasional hanya sebatas adu argumen dan tidak jelas ujung penyelesaiannya.

Sungguh dunia yang terang di siang hari terasa sesak oleh asap-asap kebencian yang telah menjadi pandemi di belahan dunia. Semua menawarkan obat,tapi mereka tidak sadar bahwa mereka yang seharusnya membutuhkan obat obat tersebut. Rakyat kecil,tidak begitu penting obat. Mereka cukup badan sehat bisa makan minum ala kadar nya.

Entah apa karena kebetulan, atau efek dari politik global, politik di dalam negeri pun sudah terasa pada level “pemanasan nasional”. Bahkan sebagian sudah mulai terlihat ada tanda-tanda “pendidihan nasional”. Saat membuka FB, IG, Twitter, dan Media Online, rasanya sudah tidak ada lagi jalan longgar untuk membicarakan tentang makna kasih-kasang, guyup-rukun, dan kedamaian. Musim politik kadang menjadi serba salah. Kadang “bersin” karena flu di depan Baliho bisa menjadi berita negatif “dikira” sedang meludai gambar tersebut. Tertawa, bicara, berpendapat, seminar ilmiah bisa berubah menjadi suasana yang membahagiakan, dan bisa juga menjadi bencana bagi sebagian orang. Semua bisa terjadi terkadang di luar nalar. Ini karena manusia menjadi terlalu hebat di luar batas kewajaran. Manusia telah berubah menjadi pemain sinetron, sutradara dan mengedit semua dengan semaunya.

Kini seolah-olah senyum dan tertawa telah kehilangan ruh. Ayat suci dan dalil-dalil di podium, mimbar dan majelis ta’lim tidak lagi terasa sakral. Semua multi tafsir. Semua punya arti bersayap, majaz dan sesuai dengan kehendak siapa yang berada di belakangnya. Satu ayat bisa mempunyai arti berbeda-beda ketika di sisi nya berbeda partai politik, berbeda jagoan yang sedang ditawarkan dalam politik. Dalil Al-Qur'an telah berubah menjadi dalil politik.

Apakah anda dan kita dalam situasi seperti ini kehilangan ruh atas kesakralan pesan-pesan Tuhan yang sakral dan pesan-pesan Nabi yang agung? Kita bisa saja komplain dengan situasi politik saat sekarang ini. benci, marah, dan frustasi menghadapi persoalan diluar ekspetasi diri. Apalagi anda masuk pada bagian-bagian tersebut. Efek nya sangat terasa.

Kita harus belajar melihat secara obyektif tentang makna kehidupan, siapa kita dan apa hakikat tujuan kita. persoalan-persoalan tersebut sering terlupakan oleh situasi yang mengharu-biru dalam perjalan kehidupan. Sering lupa diri dan lupa terhadap hakikat diri. Sehingga sering muncul saudara kita atau bahkan kita sendiri harus melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas dilakukan.

Kita harus mulai menyederhanakan situasi yang tidak kondusif saat ini (bagi sebagian orang atau juga para pembaca artikel ini) untuk tidak larut dalam pusaran angin puting beliung kehidupan. Ada persoalan yang sangat besar untuk memperbaiki saat melihat kondisi tersebut, yaitu mujahadah akbar.

Mujahadah akbar adalah jalan untuk mengenal diri. Jangan-jangan egoisme diri merasa paling benar adalah faktor carut-marut persoalan yang terjadi saat ini. Persoalan egoisme bukan karena kurang ilmu, bukan juga karena tidak tahu ilmu. egoisme dan merasa paling benar sebenarnya karena kita merasa lebih hebat dan lebih berjasa dari orang lain. Suami merasa lebih hebat dari istrinya, istri merasa lebih hebat dari suaminya. Pejabat lebih hebat dari rakyat, rakyat lebih hebat dari pejabat. Eksekutif merasa lebih hebat dari legislatif, legislatif lebih merasa hebat dari eksekutif. Pimpinan lebih merasa hebat dari Partai Politik, Partai Politik merasa lebih hebat dari pimpinan. Semua hebat. Dan ternyata kumpulan orang-orang hebat kadang malah kehilangan kehebatannya.

Maka mujahadah adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah tentang siapa diri kita dan akan kemana kehidupan kita. Dunia tidak kekal. Dan semua apa yang kita punya adalah sebuah catatan yang tidak bisa dihapus di hadapan-Nya.

Ahli sufi telah mengatakan, satu dari sekian sifat jiwa yang merugikan dan paling sulit adalah ketergantungan pada pujian manusia. Orang yang bermental seperti ini berarti menyangga beban langit dan bumi dengan satu alisnya. Satu pertanda yang mengisyaratkan mental seperti ini adalah bahwa apabila pujian orang tidak diberikan kepadanya, niscaya ia menjadi pasif dan pengecut.

Abu Muhammad Al-Murta’isy berkata, aku berngakat haji berkali-kali seorang diri. Pada suatu ketika aku menyadari bahwa segenap upayaku terkotori oleh kegemberiaanku dalam melakukannya. Hal ini kusadari saat ibu memintaku menarikkan seguci air untuknya, jiwaku merasakan hal ini sebagai beban berat.saat itulah aku mengetahui bahwa apa yang kusangka merupakan kepatuhan kepada Allah SWT, dalam hajiku selama ini tidak lain hanyalah kesenanganku semata, yang datang dari kelemahan dalam jiwa, karena apabila nafsuku sirna, niscaya tidak akan mendapati tugas kewajibanku sebagai sesuatu yang memberatkan dalam hukum syariat.

Kisah kecil ini adalah nasehat untuk kita, betapa hari-hari kita telah menyumbangkan pemanasan global pada diri kita berupa rasa benci, angkara murka, marah, emosi dan mengutuk orang lain atau bahkan saudara kita sendiri karena dianggap menghalangi kepentingan-kepentingan diri sendiri. Padahal kita sudah mengetahui bahwa semua akan dipertanggungjawabkan amalan kita masing-masing, tapi nyatanya kita masih sibuk melihat orang lain dan melupakan kekurangan diri sendiri.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876