
Iklim dunia sedang tidak baik-baik saja. Sekarang
bukan lagi “pemanasan global”,tapi telah terjadi "pendidihan global.
Laksana Ikan di air panas, terasa tidak nyaman dan tersiksa. Hidup di
lingkungan sendiri sudah terasa sedih,susah dan gelisah. Perubahan iklim yang
begitu cepat dan ekstrem telah mengagetkan jiwa dan badan. Akibat nya meningkat
drastis health mental,banyak orang depresi,stress. Jika terus berlanjut
melemahkan daya tahan tubuh,maka muncul penyakit badan beragam jenis. Satu
penyakit sembuh,datang penyakit baru dengan pola baru dan nama baru.
Nun Jauh disana, persoalan perang Ukraina-Rusia sangat menyita energi. Para pemimpin dunia saling bertemu, diskusi, rapat
sampai membuahkan perdebatan terbuka. Hasil nya nihil. Ujung-ujung nya jualan
senjata dan unjuk kekuatan. Korban nya rakyat kecil. Kebutuhan pokok naik,beras
naik, kebutuhan hidup mencekik, dan berimbas para suami panik saat istri melirik dengan
tajam.
Efek perang di atas belum kering dalam ingatan
kita. Tiba-tiba bencana Alam melanda Afganistan sangat dahsyat. Belum selesai,
kini Palestina-Israel menambah deretan persoalan kemanusiaan dan kekuasaan
hanya sebatas pidato,retorika dan kerakusan orang-orang yang disebut kaum
intelektual,Agamawan dan para wakil wakil Tuhan. Entah apa dibenak para wakil
Tuhan di bumi, apakah mereka masih punya empati, rasa sedih, dan hati tersayat
ketika melihat tangisan anak kecil karena orang tua nya mati dan rumah nya
hancur akibat bom perang. Entah bahasa apa dan kalimat yang tepat untuk
menjelaskan para pemimpin superpower tentang arti tangisan anak kecil dan
kemanusiaan global. Sungguh, semua kisah nyata ini seolah-olah hanya dongeng
pengantar tidur para pemimpin dunia. Seminar dan forum kemanusiaan
internasional hanya sebatas adu argumen dan tidak jelas ujung penyelesaiannya.
Sungguh dunia yang terang di siang hari
terasa sesak oleh asap-asap kebencian yang telah menjadi pandemi di belahan
dunia. Semua menawarkan obat,tapi mereka tidak sadar bahwa mereka yang
seharusnya membutuhkan obat obat tersebut. Rakyat kecil,tidak begitu penting
obat. Mereka cukup badan sehat bisa makan minum ala kadar nya.
Entah apa karena kebetulan, atau efek dari
politik global, politik di dalam negeri pun sudah terasa pada level “pemanasan
nasional”. Bahkan sebagian sudah mulai terlihat ada tanda-tanda “pendidihan
nasional”. Saat membuka FB, IG, Twitter, dan Media Online, rasanya sudah tidak
ada lagi jalan longgar untuk membicarakan tentang makna kasih-kasang,
guyup-rukun, dan kedamaian. Musim politik kadang menjadi serba salah. Kadang “bersin”
karena flu di depan Baliho bisa menjadi berita negatif “dikira” sedang meludai
gambar tersebut. Tertawa, bicara, berpendapat, seminar ilmiah bisa berubah
menjadi suasana yang membahagiakan, dan bisa juga menjadi bencana bagi
sebagian orang. Semua bisa terjadi terkadang di luar nalar. Ini karena manusia
menjadi terlalu hebat di luar batas kewajaran. Manusia telah berubah menjadi
pemain sinetron, sutradara dan mengedit semua dengan semaunya.
Kini seolah-olah senyum dan tertawa telah
kehilangan ruh. Ayat suci dan dalil-dalil di podium, mimbar dan majelis ta’lim
tidak lagi terasa sakral. Semua multi tafsir. Semua punya arti bersayap, majaz
dan sesuai dengan kehendak siapa yang berada di belakangnya. Satu ayat bisa
mempunyai arti berbeda-beda ketika di sisi nya berbeda partai politik, berbeda
jagoan yang sedang ditawarkan dalam politik. Dalil Al-Qur'an telah berubah menjadi dalil politik.
Apakah anda dan kita dalam situasi seperti
ini kehilangan ruh atas kesakralan pesan-pesan Tuhan yang sakral dan
pesan-pesan Nabi yang agung? Kita bisa saja komplain dengan situasi politik
saat sekarang ini. benci, marah, dan frustasi menghadapi persoalan diluar
ekspetasi diri. Apalagi anda masuk pada bagian-bagian tersebut. Efek nya sangat
terasa.
Kita harus belajar melihat secara obyektif
tentang makna kehidupan, siapa kita dan apa hakikat tujuan kita.
persoalan-persoalan tersebut sering terlupakan oleh situasi yang mengharu-biru
dalam perjalan kehidupan. Sering lupa diri dan lupa terhadap hakikat diri. Sehingga
sering muncul saudara kita atau bahkan kita sendiri harus melakukan suatu
perbuatan yang tidak pantas dilakukan.
Kita harus mulai menyederhanakan situasi
yang tidak kondusif saat ini (bagi sebagian orang atau juga para pembaca
artikel ini) untuk tidak larut dalam pusaran angin puting beliung
kehidupan. Ada persoalan yang sangat besar untuk memperbaiki saat melihat
kondisi tersebut, yaitu mujahadah akbar.
Mujahadah akbar adalah jalan untuk mengenal diri. Jangan-jangan
egoisme diri merasa paling benar adalah faktor carut-marut persoalan yang
terjadi saat ini. Persoalan egoisme bukan karena kurang ilmu, bukan juga karena
tidak tahu ilmu. egoisme dan merasa paling benar sebenarnya karena kita merasa
lebih hebat dan lebih berjasa dari orang lain. Suami merasa lebih hebat dari
istrinya, istri merasa lebih hebat dari suaminya. Pejabat lebih hebat dari
rakyat, rakyat lebih hebat dari pejabat. Eksekutif merasa lebih hebat dari legislatif,
legislatif lebih merasa hebat dari eksekutif. Pimpinan lebih merasa hebat dari
Partai Politik, Partai Politik merasa lebih hebat dari pimpinan. Semua hebat. Dan
ternyata kumpulan orang-orang hebat kadang malah kehilangan kehebatannya.
Maka mujahadah adalah jalan untuk
mendekatkan diri kepada Allah tentang siapa diri kita dan akan kemana kehidupan
kita. Dunia tidak kekal. Dan semua apa yang kita punya adalah sebuah catatan
yang tidak bisa dihapus di hadapan-Nya.
Ahli sufi telah mengatakan, satu dari
sekian sifat jiwa yang merugikan dan paling sulit adalah ketergantungan pada
pujian manusia. Orang yang bermental seperti ini berarti menyangga beban langit
dan bumi dengan satu alisnya. Satu pertanda yang mengisyaratkan mental seperti
ini adalah bahwa apabila pujian orang tidak diberikan kepadanya, niscaya ia
menjadi pasif dan pengecut.
Abu Muhammad Al-Murta’isy berkata, aku
berngakat haji berkali-kali seorang diri. Pada suatu ketika aku menyadari bahwa
segenap upayaku terkotori oleh kegemberiaanku dalam melakukannya. Hal ini
kusadari saat ibu memintaku menarikkan seguci air untuknya, jiwaku merasakan
hal ini sebagai beban berat.saat itulah aku mengetahui bahwa apa yang kusangka
merupakan kepatuhan kepada Allah SWT, dalam hajiku selama ini tidak lain
hanyalah kesenanganku semata, yang datang dari kelemahan dalam jiwa, karena
apabila nafsuku sirna, niscaya tidak akan mendapati tugas kewajibanku sebagai
sesuatu yang memberatkan dalam hukum syariat.
Kisah kecil ini adalah nasehat untuk kita,
betapa hari-hari kita telah menyumbangkan pemanasan global pada diri kita
berupa rasa benci, angkara murka, marah, emosi dan mengutuk orang lain atau
bahkan saudara kita sendiri karena dianggap menghalangi kepentingan-kepentingan
diri sendiri. Padahal kita sudah mengetahui bahwa semua akan
dipertanggungjawabkan amalan kita masing-masing, tapi nyatanya kita masih sibuk
melihat orang lain dan melupakan kekurangan diri sendiri.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2970
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876