Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mushola Nuansa Budaya Melayu?



Minggu , 26 Februari 2023



Telah dibaca :  666

Hari masih pagi. Kiai muda, Muhammad Shodiq sudah datang ke Rumah. Sebenarnya masih ngantuk. Tadi malam kegiatan bersama kiiai-kiai muda NU; istighosah dan pengajian haflah imtihan Pesantren Hidayatul Mutaqin. Pulang acara sudah malam. Jam 13.30 sampai di Rumah. Jadi tidur nya seperti tidur ayam. Baru saja “liyep-liyep’, suara adzan subuh pun berkumandang di Mushola dan Masjid. Selesai Sholat subuh dan rencana ingin tidur lagi. Tapi tidak bisa. Ngantuk, tapi tidak bisa tidur. Apalagi, ada undangan peletakan batu pertama pembangunan Mushola An-Nur Asuhan Ustadz Haji Supri Daus, S.Sy. Seorang Ustadz Alumni Pesantren An-Nawawi Berjan Jawa Tengah. Pengasuhnya Simbah Kyai Khalwani, ulama sepuh Kabupaten Purworejo, bahkan juga di Jawa Tengah. Semoga Allah senantiasa memberkahi hidupnya dan memperpanjang umur nya. amin.

Sambil menunggu jemputan Kiai Muda, Mohammad Shodiq, S.Pd.I, saya pun mandi sebentar. Sekitar jam 7.00 wib jemputan sudah datang. Segera kami meluncur dulu ke rumah kiai muda yang Alumni Pesantren Tebuireng Jombang. Sesampai di rumah nya, sudah ada bau sambal Ikan Asin. Pikir saya, mungkin untuk sarapan saya. Ma’lum waktu berangkat dari rumah, istri belum sempat masak. Seperti biasa, istri olah raga jalan pagi bersama teman-temannya. Setelah jalan pagi biasanya belanja dan baru masak.


Saya ngobrol dengan kiai muda seputar strategi menghidupkan amaliyah warisan para Waliyullah. Baru beberapa menit, dua kiai datang lagi; Kiai Muhammad Dalhar, Rois Syuriah PCNU, dan Kiai Muda Agusafri, S.Pd.I Ketua LPTQ Kabupaten. Cuma karena jarang dipanggil kiai, maka ketika menyebut kiai untuknya masih terlihat kaku. Maka saya sering memanggilnya, “Mas Agus”.

Setelah kumpul, ternyata benar. Tuan Rumah telah menyiapkan sarapan pagi; Lempeng Sagu dan sambal Bilis. Ini kesukaanku. Biasanya saya dan istri sarapan di Kedai Kopi Sempiyan. Menurut orang-orang tua, Lempeng Sagu sangat baik untuk mengobati sakit perut, terutama penyakit maag. Saya percaya nasehat orang-orang tua Melayu. Dulu saya sering makan sagu yang kering. Dan untuk pagi ini, Lempeng Sagu benar-benar telah menjadi obat, bukan sakit maag, tapi karena perut terasa lapar[mudah-mudahan terhindar dari penyakit maag]. Tapi kadang kalau sudah lama tidak ketemu istri, sering juga kambuh. Bukan maag,  tapi ‘maaah...”. agak panjang huruf “A” nya dan artinya pun berbeda.


Setelah sarapan kami datang ke tempat lokasi. Masih ada tamu undangan belum datang, yaitu dari kementrian agama. Menurut informasi dari ustadz supri, kepala kemenang dalam perjalanan. Kami pun menunggu. Sekitar 10 menit, dia pun datang. Oh ya, Kepala Kemenag Kepulauan Meranti saat ini bapak Drs. H. Sulman. Entah masa akan datang, mungkin akan hijrah ke Kanwil. Cuma susahnya pak Sulman kulitnya hitam[jika dibandingkan dengan saya]. Itu sebabnya, dia sering datang ke tempat acara jarang disebut nama nya. Padahal kepala kemenag Kabupaten, bukan staff KUA atau KUA. Saya memberi saran kepada nya agar ikut trend anak-anak muda atau orang-orang masa kini, untuk mengikuti program pemutihan kulit. Entah itu BYT Collah , Byoote, Colus Men Collagen Salmon atau Skincare apalah namanya. Agar telihat putih dan glowing. Sehingga mudah orang melihatnya.

Acara pun dimulai. Tuan Rumah yang punya hajat, ustadz Supri Daus, S.Sy adalah orang Melayu yang bahasa Jawa sangat halus melebih halus bahasa Jawa saya yang asli jawa. Saya kalah. Namun punya semangat yang sangat hebat; ingin membuat Mushola khas Budaya Melayu. Saya mendengarnya senang. Ada dua alasan menyebabkan saya senang terhadap cita-cita tersebut; pertama, ustadz muda ini ingin menjaga Khasanah Budaya Melayu dalam wujud bangunan ingin tetap menjadi identitas bangunan tersebut. Anak mudah yang punya pemikiran seperti ini mungkin saat sekarang ini sudah mulai luntur. Arus modernisasi telah membentuk pola pikir seperti makanan siap saji, dan malas melakukan kegiatan sebagaimana yang telah diwariskan oleh orang-orang tua kita dulu. Padahal jika dikaji secara mendalam, nilai-nilai filosofis mengandung ajaran yang agung berasal dari kepribadian masyarakat Melayu dan ajaran-ajaran Islam. Kedua, langkah yang dilakukan oleh ustadz Supri mengandung pembelajaran yang sangat penting yaitu bangunan Masjid atau Mushola bukan sesuatu yang sakral sehingga tidak harus mengikuti pakem-pakem seperti di negara-negara Islam, umpamanya harus bentuk nya seperti Masjid Nabawi, Masjid Haram atau masjid-masjid yang harus ada Kubahnya. Bangunan itu bukan sesuatu yang sakral, tapi profan. Kesakralan bangunan sebenarnnya pada Sang Pemilik bangunan yaitu Allah s.w.t.


Jika kita berbicara bangunan, maka bangunan bangsa Arab asli seperti Kubus. Rumah dari Batu dan tidak beratap. Karena jarang hujan. Lihat saja gambaran tempat ibadah di Arab dicerminkan pada Ka’bah, bentuk kubus. Itu bangunan model orang Arab. Sedangkan Kubah itu ciri khas tempat ibadah orang-orang Majuzi, Penyembah Api. Jika anda melihat sesembahan orang-orang Persia Kuno, wujudnya seperti kubah itu. Ketika Islam menjadi agama mereka, percampuran budaya pada pembangunan terjadi. Maka jangan heran, pembangunan Arab Masjid Haram dan Masjid Madinah adalah gabungan dari asli budaya Arab dan Turki. Budaya Islam Turki terpengaruh oleh Andalusia saat Islam berkuasa, tapi tidak meninggalkan budaya bangunan sebelumnya yaitu bangunan budaya orang Nasrani yang ujungnya lancip. Selain itu, Turki adalah satu-satunya Negara Islam yang paling dekat dengan Negara-negara Eropa. Sedangkan di Negara sekitar itu, ada gabungan dari budaya-budaya Persia yaitu berupa Kubah. Itu tidak masalah. Sebab beda bentuk, tapi fungsi nya sama; menyembah kepada Allah s.w.t, Sholat lima waktu, sholat Jum’at, sholat sunnah dan kegiatan keagamaan lainya.

Jika ustadz Supri telah mengawali pembangunan Mushola berdasarkan akar budaya melayu, maka budaya lain bisa berkreasi seperti dengan tradisi bangunan mereka. Berbeda identitas, tapi tetap diikat oleh identitas universal atau kolektif, yaitu Islam. Jadi identitas kita yang beragam harus diperkuat dan disatukan oleh identitas agama. Sedangkan dalam tataran nation state, kita berbeda suku sebagai identitas kita, tapi kita harus diikat oleh identitas kolektif, yaitu Negara Kesaturan Republik Indonesia yang berideologi Pancasila.


Acara peletakan batu pertama pembangunan Mushola Nuansa Budaya Melayu cukup simpel; sambutan dari panitia, sambutan singkat dari kemenag, saya dan bacaan tahlil plus doa. Setelah itu pergi ke tempat lokasi, peletakan batu pertama. Saya Tanya sama Tukang ukuran Mushola. Katanya 10 meter persegi. Cukup besar biayanya. Atas usaha Kiai Shodiq, Pemda membantu 20 juta. Informasi masyarakat pun akan gotong royong. semoga saja banyak yang membantu, Banyak yang gotong royong, mushola ini cepat selesai. Amin.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884