
Hari masih pagi. Kiai muda, Muhammad Shodiq
sudah datang ke Rumah. Sebenarnya masih ngantuk. Tadi malam kegiatan bersama
kiiai-kiai muda NU; istighosah dan pengajian haflah imtihan Pesantren
Hidayatul Mutaqin. Pulang acara sudah malam. Jam 13.30 sampai di Rumah. Jadi tidur
nya seperti tidur ayam. Baru saja “liyep-liyep’, suara adzan subuh pun
berkumandang di Mushola dan Masjid. Selesai Sholat subuh dan rencana ingin
tidur lagi. Tapi tidak bisa. Ngantuk, tapi tidak bisa tidur. Apalagi, ada
undangan peletakan batu pertama pembangunan Mushola An-Nur Asuhan Ustadz Haji
Supri Daus, S.Sy. Seorang Ustadz Alumni Pesantren An-Nawawi Berjan Jawa Tengah.
Pengasuhnya Simbah Kyai Khalwani, ulama sepuh Kabupaten Purworejo, bahkan juga
di Jawa Tengah. Semoga Allah senantiasa memberkahi hidupnya dan memperpanjang
umur nya. amin.
Sambil menunggu jemputan Kiai Muda, Mohammad Shodiq, S.Pd.I, saya pun mandi sebentar. Sekitar jam 7.00 wib jemputan sudah datang. Segera kami meluncur dulu ke rumah kiai muda yang Alumni Pesantren Tebuireng Jombang. Sesampai di rumah nya, sudah ada bau sambal Ikan Asin. Pikir saya, mungkin untuk sarapan saya. Ma’lum waktu berangkat dari rumah, istri belum sempat masak. Seperti biasa, istri olah raga jalan pagi bersama teman-temannya. Setelah jalan pagi biasanya belanja dan baru masak.

Saya ngobrol dengan kiai muda seputar
strategi menghidupkan amaliyah warisan para Waliyullah. Baru beberapa menit,
dua kiai datang lagi; Kiai Muhammad Dalhar, Rois Syuriah PCNU, dan Kiai Muda
Agusafri, S.Pd.I Ketua LPTQ Kabupaten. Cuma karena jarang dipanggil kiai, maka
ketika menyebut kiai untuknya masih terlihat kaku. Maka saya sering
memanggilnya, “Mas Agus”.
Setelah kumpul, ternyata benar. Tuan Rumah telah menyiapkan sarapan pagi; Lempeng Sagu dan sambal Bilis. Ini kesukaanku. Biasanya saya dan istri sarapan di Kedai Kopi Sempiyan. Menurut orang-orang tua, Lempeng Sagu sangat baik untuk mengobati sakit perut, terutama penyakit maag. Saya percaya nasehat orang-orang tua Melayu. Dulu saya sering makan sagu yang kering. Dan untuk pagi ini, Lempeng Sagu benar-benar telah menjadi obat, bukan sakit maag, tapi karena perut terasa lapar[mudah-mudahan terhindar dari penyakit maag]. Tapi kadang kalau sudah lama tidak ketemu istri, sering juga kambuh. Bukan maag, tapi ‘maaah...”. agak panjang huruf “A” nya dan artinya pun berbeda.

Setelah sarapan kami datang ke tempat
lokasi. Masih ada tamu undangan belum datang, yaitu dari kementrian agama. Menurut
informasi dari ustadz supri, kepala kemenang dalam perjalanan. Kami pun
menunggu. Sekitar 10 menit, dia pun datang. Oh ya, Kepala Kemenag Kepulauan
Meranti saat ini bapak Drs. H. Sulman. Entah masa akan datang, mungkin akan
hijrah ke Kanwil. Cuma susahnya pak Sulman kulitnya hitam[jika dibandingkan
dengan saya]. Itu sebabnya, dia sering datang ke tempat acara jarang disebut
nama nya. Padahal kepala kemenag Kabupaten, bukan staff KUA atau KUA. Saya memberi
saran kepada nya agar ikut trend anak-anak muda atau orang-orang masa kini,
untuk mengikuti program pemutihan kulit. Entah itu BYT Collah , Byoote,
Colus Men Collagen Salmon atau Skincare apalah namanya. Agar telihat
putih dan glowing. Sehingga mudah orang melihatnya.
Acara pun dimulai. Tuan Rumah yang punya hajat, ustadz Supri Daus, S.Sy adalah orang Melayu yang bahasa Jawa sangat halus melebih halus bahasa Jawa saya yang asli jawa. Saya kalah. Namun punya semangat yang sangat hebat; ingin membuat Mushola khas Budaya Melayu. Saya mendengarnya senang. Ada dua alasan menyebabkan saya senang terhadap cita-cita tersebut; pertama, ustadz muda ini ingin menjaga Khasanah Budaya Melayu dalam wujud bangunan ingin tetap menjadi identitas bangunan tersebut. Anak mudah yang punya pemikiran seperti ini mungkin saat sekarang ini sudah mulai luntur. Arus modernisasi telah membentuk pola pikir seperti makanan siap saji, dan malas melakukan kegiatan sebagaimana yang telah diwariskan oleh orang-orang tua kita dulu. Padahal jika dikaji secara mendalam, nilai-nilai filosofis mengandung ajaran yang agung berasal dari kepribadian masyarakat Melayu dan ajaran-ajaran Islam. Kedua, langkah yang dilakukan oleh ustadz Supri mengandung pembelajaran yang sangat penting yaitu bangunan Masjid atau Mushola bukan sesuatu yang sakral sehingga tidak harus mengikuti pakem-pakem seperti di negara-negara Islam, umpamanya harus bentuk nya seperti Masjid Nabawi, Masjid Haram atau masjid-masjid yang harus ada Kubahnya. Bangunan itu bukan sesuatu yang sakral, tapi profan. Kesakralan bangunan sebenarnnya pada Sang Pemilik bangunan yaitu Allah s.w.t.

Jika kita berbicara bangunan, maka bangunan
bangsa Arab asli seperti Kubus. Rumah dari Batu dan tidak beratap. Karena jarang
hujan. Lihat saja gambaran tempat ibadah di Arab dicerminkan pada Ka’bah,
bentuk kubus. Itu bangunan model orang Arab. Sedangkan Kubah itu ciri khas
tempat ibadah orang-orang Majuzi, Penyembah Api. Jika anda melihat sesembahan
orang-orang Persia Kuno, wujudnya seperti kubah itu. Ketika Islam menjadi agama
mereka, percampuran budaya pada pembangunan terjadi. Maka jangan heran, pembangunan
Arab Masjid Haram dan Masjid Madinah adalah gabungan dari asli budaya Arab dan
Turki. Budaya Islam Turki terpengaruh oleh Andalusia saat Islam berkuasa, tapi
tidak meninggalkan budaya bangunan sebelumnya yaitu bangunan budaya orang Nasrani
yang ujungnya lancip. Selain itu, Turki adalah satu-satunya Negara Islam yang
paling dekat dengan Negara-negara Eropa. Sedangkan di Negara sekitar itu, ada
gabungan dari budaya-budaya Persia yaitu berupa Kubah. Itu tidak masalah. Sebab
beda bentuk, tapi fungsi nya sama; menyembah kepada Allah s.w.t, Sholat lima
waktu, sholat Jum’at, sholat sunnah dan kegiatan keagamaan lainya.
Jika ustadz Supri telah mengawali pembangunan Mushola berdasarkan akar budaya melayu, maka budaya lain bisa berkreasi seperti dengan tradisi bangunan mereka. Berbeda identitas, tapi tetap diikat oleh identitas universal atau kolektif, yaitu Islam. Jadi identitas kita yang beragam harus diperkuat dan disatukan oleh identitas agama. Sedangkan dalam tataran nation state, kita berbeda suku sebagai identitas kita, tapi kita harus diikat oleh identitas kolektif, yaitu Negara Kesaturan Republik Indonesia yang berideologi Pancasila.

Acara peletakan batu pertama pembangunan
Mushola Nuansa Budaya Melayu cukup simpel; sambutan dari panitia, sambutan
singkat dari kemenag, saya dan bacaan tahlil plus doa. Setelah itu pergi ke
tempat lokasi, peletakan batu pertama. Saya Tanya sama Tukang ukuran Mushola. Katanya
10 meter persegi. Cukup besar biayanya. Atas usaha Kiai Shodiq, Pemda membantu
20 juta. Informasi masyarakat pun akan gotong royong. semoga saja banyak yang
membantu, Banyak yang gotong royong, mushola ini cepat selesai. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2983
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884