
Pulang dari Indragiri Hulu, sore hari nya menyempatkan ikut peletakan batu pertama pendirian Mushola Nurusalam. Sebelumnya, sudah ada satu pondasi yang sudah dicor oleh panitia. Namun karena hari ini mengundang para pejabat dan tokoh agama, maka dibuat acara peletakan batu pertama. Selain berharap doa, juga berharap keberkahan dari para tokoh yang datang untuk ikut menyumbang sebagian rizkinya untuk pembangunan Mushola Nurusalam.

Acara ini sebenarnya sederhana. Panitia hanya
mengundang teman-teman dekat saja. Tapi karena teman-teman dekat adalah orang-orang
penting maka yang datang pun orang-orang penting antara lain; Bupati Kepulauan
Meranti, H. Muhammad Adil,SH, MM, Staff Ahli Bidang Pemerintahan, Drs. Muhammad
Mahdi, Dinas Kesehatan, Muhammad Fahri, S.KM Kapolres AKBP Andi Yul, Danramil,
Camat Tebingtinggi, Ustadz Masnawi, M.Ag, Kepala Desa Alahair, Kepala Desa Sesap, Kapten Isnanu, Para Ulama, Ketua MUI Dr. Imam
Ghozali, Syuriah PCNU Kiai Muhammad Dalhar, Ketua ISNU, Muhammad Yasir, M.Si,
Rektor ITS Muhammad Arif, M.Kom, dan beberapa tokoh yang masih banyak lagi
serta masyarakat di sekitarnya.
Acaranya simpel; sambutan dari Kiai Mardio Hasan sebagai Pengurus Yayasan Alwiyatussalam dan sekaligus Ketua BAZNAS Kepulauan Meranti dan ditutup doa pelatakan batu pertama oleh Kiai Muhammad Dalhar. Selesai doa, dilanjutkan peletakan batu pertama dimulai oleh Bupati Kepulauan Meranti, H. Muhammad Adil, SH, MM. selesai prosessi peletakan batu pertama, dilanjutkan makan-makan.

Nama nurusalam sebagai simbol dari cahaya kedamaian adalah wujud dari nama yayasan itu sendiri yaitu alwiyatusalam yang mempunyai bendera-bendera kedamaian. Ada filosofis yang diharapkan dari pendirian mushola ini yaitu para jamaah yang masuk ke mushola ini mampu memancarkan kedamaian dan pulang membawa panji-panji kedamaian. Penamaan ini tidak lepas dari fenomena saat sekarang ini bahwa ada beberapa mushola dan masjid serta tempat ibadah lainya yang sering cahaya kedamaian redup disebabkan karena ada pertarungan politik praktis para jamaah nya. Para jamaah yang masuk di tempat ibadah adalah masyarakat yang heterogen. Mereka mempunyai saudara yang beragam baju partai dan baju dukungan. Saat mereka duduk dalam satu majelis, mereka membutuhkan sinar-sinar keimanan yang melahirkan rasa damai di hati. Mereka ingin di tempat ibadah bisa memberi konstribusi positif berupa kedamaian dan ketenangan jiwa akibat suasana hiruk-pikuk di luar sana. Dengan kata lain, tempat ibadah bisa menjadi terapi positif untuk mengembalikan lagi jiwa yang terkontampinasi oleh kebencian, permusuhan dan hal-hal yang kotor saat bergesekan di dunia sana.

Namun ternyata harapan tersebut sering
tidak ketemu di tempat ibadah. Bahkan kadang mereka kaget, tempat ibadah yang
diharapkan sebagai terapi spiritual kini telah berubah sebagai arena kampanye
dari salah satu oknum yang masih baligh dalam memahami agama. Orang-orang yang
terlalu semangat politik, mencari pembenaran bahwa pada zaman nabi, tempat
ibadah adalah tempat untuk konsolidasi politik. Melarang nya berarti melawan
sunnah nabi.
Orang-orang yang kranjingan politik tersebut mungkin lupa, bahwa pada masa nabi manusia hanya ada dua jenis; Islam dan Kafir. Orang Islam adalah orang-orang yang sudah mengucapkan kalimat syahadat. Orang kafir orang yang menolaknya. Tempat ibadahnya nya pun berbeda-beda. Sehingga baik muslim maupun non-muslim mempunyai tempat sendiri-sendiri untuk konsolidasi politik. Umat islam tentu tempat yang paling mudah adalah tempat ibadah.

Kini umat Islam bermacam-macam coraknya.
Mereka sama-sama mencalonkan diri sebagai calon pemimpin. Mereka sama-sama
bersyahadat, tapi berbeda baju politik. Mereka yang bermacam-macam juga
mempunyai semangat yang sama untuk mewujudkan ajaran Islam dengan strateginya.
Kini antara agama dan politik dalam
prakteknya sering bertolak-belakang. Agama mengajarkan kedamaian, dan politik
melakukan segala cara dengan dalih untuk kedamaian. Agama bersifat spiritual,
politik bersifat operasional. Agama mendahulukan kebersihan hati, politik
mendahulukan keinginan yang sering bertentangan dengan hati nurani. Dari sini
agama dan politik sering tidak bertemu dalam sikap dan perilakunya. Bahkan
dalam prakteknya, agama sering tergerus oleh kepentingan-kepentingan politik.
Agama nya sebatas baju semata untuk memenuhi syahwat politiknya. Akibatnya
ucapan dan perilakunya sering bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.
Jika kondisi seperti ini bertemu di tempat ibadah dalam beragam kepentingan,
maka potensi konflik pun mudah terjadi. Akibatnya, cahaya-cahaya kedamaian
berubah menjadi api permusuhan di tempat ibadah.
Semoga cita-cita pengurus Yayasan Alwiyatussalam benar-benar mampu
menginspirasi para pemimpin, tokoh agama dan masyarakat untuk menerapkan
perilaku damai ditempat ibadah dan menebarkan panji-panji kedamaian di
masyarakat. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884