Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mushola Nurusalam; Membuka Cahaya kedamaian



Sabtu , 18 Maret 2023



Telah dibaca :  329

Pulang dari Indragiri Hulu, sore hari nya menyempatkan ikut peletakan batu pertama pendirian Mushola Nurusalam. Sebelumnya, sudah ada satu pondasi yang sudah dicor oleh panitia. Namun karena hari ini mengundang para pejabat dan tokoh agama, maka dibuat acara peletakan batu pertama. Selain berharap doa, juga berharap keberkahan dari para tokoh yang datang untuk ikut menyumbang sebagian rizkinya untuk pembangunan Mushola Nurusalam.


Acara ini sebenarnya sederhana. Panitia hanya mengundang teman-teman dekat saja. Tapi karena teman-teman dekat adalah orang-orang penting maka yang datang pun orang-orang penting antara lain; Bupati Kepulauan Meranti, H. Muhammad Adil,SH, MM, Staff Ahli Bidang Pemerintahan, Drs. Muhammad Mahdi, Dinas Kesehatan, Muhammad Fahri, S.KM Kapolres AKBP Andi Yul, Danramil, Camat Tebingtinggi, Ustadz Masnawi, M.Ag, Kepala Desa Alahair, Kepala Desa Sesap,  Kapten Isnanu, Para Ulama, Ketua MUI Dr. Imam Ghozali, Syuriah PCNU Kiai Muhammad Dalhar, Ketua ISNU, Muhammad Yasir, M.Si, Rektor ITS Muhammad Arif, M.Kom, dan beberapa tokoh yang masih banyak lagi serta masyarakat di sekitarnya.

Acaranya simpel; sambutan dari Kiai Mardio Hasan sebagai Pengurus Yayasan Alwiyatussalam dan sekaligus Ketua BAZNAS Kepulauan Meranti dan ditutup doa pelatakan batu pertama oleh Kiai Muhammad Dalhar. Selesai doa, dilanjutkan peletakan batu pertama dimulai oleh Bupati Kepulauan Meranti, H. Muhammad Adil, SH, MM. selesai prosessi peletakan batu pertama, dilanjutkan makan-makan.


Nama nurusalam sebagai simbol dari cahaya kedamaian adalah wujud dari nama yayasan itu sendiri yaitu alwiyatusalam yang mempunyai bendera-bendera kedamaian. Ada filosofis yang diharapkan dari pendirian mushola ini yaitu para jamaah yang masuk ke mushola ini mampu memancarkan kedamaian dan pulang membawa panji-panji kedamaian. Penamaan ini tidak lepas dari fenomena saat sekarang ini bahwa ada beberapa mushola dan masjid serta tempat ibadah lainya yang sering cahaya kedamaian redup disebabkan karena ada pertarungan politik praktis para jamaah nya. Para jamaah yang masuk di tempat ibadah adalah masyarakat yang heterogen. Mereka mempunyai saudara yang beragam baju partai dan baju dukungan. Saat mereka duduk dalam satu majelis, mereka membutuhkan sinar-sinar keimanan yang melahirkan rasa damai di hati. Mereka ingin di tempat ibadah bisa memberi konstribusi positif berupa kedamaian dan ketenangan jiwa akibat suasana hiruk-pikuk di luar sana. Dengan kata lain, tempat ibadah bisa menjadi terapi positif untuk mengembalikan lagi jiwa yang terkontampinasi oleh kebencian, permusuhan dan hal-hal yang kotor saat bergesekan di dunia sana.


Namun ternyata harapan tersebut sering tidak ketemu di tempat ibadah. Bahkan kadang mereka kaget, tempat ibadah yang diharapkan sebagai terapi spiritual kini telah berubah sebagai arena kampanye dari salah satu oknum yang masih baligh dalam memahami agama. Orang-orang yang terlalu semangat politik, mencari pembenaran bahwa pada zaman nabi, tempat ibadah adalah tempat untuk konsolidasi politik. Melarang nya berarti melawan sunnah nabi.

Orang-orang yang kranjingan politik tersebut mungkin lupa, bahwa pada masa nabi manusia hanya ada dua jenis; Islam dan Kafir. Orang Islam adalah orang-orang yang sudah mengucapkan kalimat syahadat. Orang kafir orang yang menolaknya. Tempat ibadahnya nya pun berbeda-beda. Sehingga baik muslim maupun non-muslim mempunyai tempat sendiri-sendiri untuk konsolidasi politik. Umat islam tentu tempat yang paling mudah adalah tempat ibadah.


Kini umat Islam bermacam-macam coraknya. Mereka sama-sama mencalonkan diri sebagai calon pemimpin. Mereka sama-sama bersyahadat, tapi berbeda baju politik. Mereka yang bermacam-macam juga mempunyai semangat yang sama untuk mewujudkan ajaran Islam dengan strateginya.

Kini antara agama dan politik dalam prakteknya sering bertolak-belakang. Agama mengajarkan kedamaian, dan politik melakukan segala cara dengan dalih untuk kedamaian. Agama bersifat spiritual, politik bersifat operasional. Agama mendahulukan kebersihan hati, politik mendahulukan keinginan yang sering bertentangan dengan hati nurani. Dari sini agama dan politik sering tidak bertemu dalam sikap dan perilakunya. Bahkan dalam prakteknya, agama sering tergerus oleh kepentingan-kepentingan politik. Agama nya sebatas baju semata untuk memenuhi syahwat politiknya. Akibatnya ucapan dan perilakunya sering bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Jika kondisi seperti ini bertemu di tempat ibadah dalam beragam kepentingan, maka potensi konflik pun mudah terjadi. Akibatnya, cahaya-cahaya kedamaian berubah menjadi api permusuhan di tempat ibadah.

Semoga cita-cita pengurus Yayasan Alwiyatussalam benar-benar mampu menginspirasi para pemimpin, tokoh agama dan masyarakat untuk menerapkan perilaku damai ditempat ibadah dan menebarkan panji-panji kedamaian di masyarakat. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884