Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Muslim horeg antara AS dan Palestina



Selasa , 22 Juli 2025



Telah dibaca :  313

Apakah hari ini ada seorang muslim tidak masuk pada kelompok identitas. Saya kira tidak ada. Jika ditanya apa agamu? Islam-bagi pemeluk agama Islam. Tapi buntut setelah Islam macam-macam. Ada Islam Tradisionalis,Modernis,Salafi,Salafi Wahabi, Moderat, Liberal, Sosialis, Sosialis Radikal, Syiah, Syiah 12, dan Syiah lain lain.

Kata Nabi, Islam pecah menjadi 73 faksi. Namun semua faksi tetap mengaku sebagai umat Islam yang paling kaffah. Semua mengaku ahlusunnah wal jamaah. Mereka saling tuding, saling serang dan saling ejek. Di negara mayoritas masyarakat muslim seperti Indonesia, saling ejek dan saling caci maki itu sudah jadi bumbu penyedap setiap hari. Semua jadi horeg. Seperti Sound Sistem Horeg. Ribut.  Lucunya, ribut pun ngajak-ngajak.

Pada aspek tersebut sebagian umat Islam sering lebih menempatkan sebagai rahmatal lil ‘alamin, namun sesama muslim sering berperilaku sebagai horeg lil muslimin. Lucunya yang dipersoalkan kadang bersifat furu’. Sifat nya lucu-lucu. Dulu TV bid’ah, mikropon bid’ah karena tidak ada pada masa Nabi. Kini tidak sudah tidak bid’ah lagi alasannya persoalan duniawi. Kerja di dinas pajak haram, tapi gaji hasil daripajak tidak haram. Sound horeg haram, sebelah sana tidak haram. Jadi horeg-horeg yang remeh-temeh justru menjadi penyebab kerenggangan ukhuwah islamiyah yang sangat nyata. Perbedaan justru dibuat sebagai wujud kesholehan, identitas dan branding sebagai kelompok muslim yang paling kaffah.

Muslim horeg juga selalu membicarakan umatan wahidah. Sesama muslim jangan bercerai berai. Sayangnya makna umatan wahidah rancu. Satu kelompok bicara umatan wahidah untuk saling sayang, saling kasih sesama muslim. tapi mulutnya memprovokasi muslim yang lain. umatan wahidah sebatas slogan untuk promosi golongannya, partainya ideologinya dan sejenisnya.

Padahal perbedaan itu pasti. Berbicara persatuan seharusnya menerima perbedaan dengan tetap mengambil kesamaan sebagai titik temu. Berbeda-beda tetap satu. Kenyataannya dalam realita kehidupan, selalu saja ada perilaku masyarakat yang “ngeyel” dan terkesan suka “mborong” kebenaran sehingga tidak tersisa lagi kebenaran kelompok lain.

Namun pada kasus-kasus tertentu,umat Islam bisa sedikit punya kesamaan pandangan pada kasus-kasus atau peristiwa-peristiwa yang berada di luar negeri atau bersifat internasional.

Contoh kasus Palestina. hari ini ribuan masyarakat muslim Maroko demontrasi di ibu kota Rabat (20/7/2025). Mereka memprotes situasi memburuk masyarakat Palestina. Tentara Israel menembak mati 93 warga Palestina (international.sindonews.com,21/7/2025). Kejahatan genosida terjadi lagi di tanah para nabi.

Peristiwa politik hari ini di AS, umat Islam di dunia sorak-sorai bangga atas pencalonan Walikota Muslim New York -Zohram Mamdani. Jika merujuk tulisan Catatan Dahlan Iskan, Zohram merupakan imigran dari Uganda yang keluarganya keturunan dari Persia dan beragama Islam Syi’ah(Selasa 22-07-2025).

Sebagian warga muslim yang “kutu medsos” dan kranjingan persoalan politik, bisa dipastikan sangat mengidolakan Zohram, sebagai seorang muslim yang mampu melawan kekuatan politik Donald Trump melalui pencalonannya sebagai wali kota New York.

Pada kasus-kasus tertentu umat Islam sering terbawa perasaan dalam melihat persoalan politik luar negeri. Mereka mudah terharu, sedih, dan ukhuwah muncul tatkala ada persoalan yang menimpa sesorang atau sekelompok orang yang pada dirinya ada kata “muslim”. Mereka kadang tidak lagi memandang identitas. Mereka melihat persoalan tersebut bagian dari persoalan dirinya.

Saya kira perasaan umat Islam tersebut di atas yang kemudian menimbulkan horeg kesetiakawanan pada level yang lebih luas -katakanlah level internasional, perlu juga direalisasikan dalam tataran horeg dalam pengertian positif di tingkat lebih sempit. Masa sih, Zohram yang calon walikota -agama Islam Syi’ah -umat Islam merespon positif, tapi pada Negara Islam Iran mempunyai kesan negatif.

Sebagai penutup, peristiwa minggu-minggu sekarang ini di Palestina semakin nyata bahwa umat Islam tidak perlu lagi horeg-horeg maslah furu’iah yang berlebih-lebihan. Pembantaian masyarakat Palestina membutuhan persatuan dalam berbedaan identitas dengan mempunyai kesemangatan sama sebagai seorang muslim yang bertauhid kepada Allah dan mengakui Muhammad sebagai Nabi dan Rasululah.

 

 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876