
Apakah hari ini ada seorang muslim tidak
masuk pada kelompok identitas. Saya kira tidak ada. Jika ditanya apa agamu?
Islam-bagi pemeluk agama Islam. Tapi buntut setelah Islam macam-macam. Ada
Islam Tradisionalis,Modernis,Salafi,Salafi Wahabi, Moderat, Liberal, Sosialis,
Sosialis Radikal, Syiah, Syiah 12, dan Syiah lain lain.
Kata Nabi, Islam pecah menjadi 73 faksi.
Namun semua faksi tetap mengaku sebagai umat Islam yang paling kaffah. Semua
mengaku ahlusunnah wal jamaah. Mereka saling tuding, saling serang dan
saling ejek. Di negara mayoritas masyarakat muslim seperti Indonesia, saling
ejek dan saling caci maki itu sudah jadi bumbu penyedap setiap hari. Semua jadi
horeg. Seperti Sound Sistem Horeg. Ribut. Lucunya, ribut pun ngajak-ngajak.
Pada aspek tersebut sebagian umat Islam
sering lebih menempatkan sebagai rahmatal lil ‘alamin, namun sesama
muslim sering berperilaku sebagai horeg lil muslimin. Lucunya yang
dipersoalkan kadang bersifat furu’. Sifat nya lucu-lucu. Dulu TV bid’ah, mikropon
bid’ah karena tidak ada pada masa Nabi. Kini tidak sudah tidak bid’ah
lagi alasannya persoalan duniawi. Kerja di dinas pajak haram, tapi gaji hasil
daripajak tidak haram. Sound horeg haram, sebelah sana tidak haram. Jadi
horeg-horeg yang remeh-temeh justru menjadi penyebab kerenggangan ukhuwah islamiyah
yang sangat nyata. Perbedaan justru dibuat sebagai wujud kesholehan,
identitas dan branding sebagai kelompok muslim yang paling kaffah.
Muslim horeg juga selalu membicarakan umatan
wahidah. Sesama muslim jangan bercerai berai. Sayangnya makna umatan
wahidah rancu. Satu kelompok bicara umatan wahidah untuk saling sayang, saling
kasih sesama muslim. tapi mulutnya memprovokasi muslim yang lain. umatan
wahidah sebatas slogan untuk promosi golongannya, partainya ideologinya dan
sejenisnya.
Padahal perbedaan itu pasti. Berbicara
persatuan seharusnya menerima perbedaan dengan tetap mengambil kesamaan sebagai
titik temu. Berbeda-beda tetap satu. Kenyataannya dalam realita kehidupan,
selalu saja ada perilaku masyarakat yang “ngeyel” dan terkesan suka “mborong”
kebenaran sehingga tidak tersisa lagi kebenaran kelompok lain.
Namun pada kasus-kasus tertentu,umat Islam
bisa sedikit punya kesamaan pandangan pada kasus-kasus atau peristiwa-peristiwa
yang berada di luar negeri atau bersifat internasional.
Contoh kasus Palestina. hari ini ribuan
masyarakat muslim Maroko demontrasi di ibu kota Rabat (20/7/2025). Mereka memprotes
situasi memburuk masyarakat Palestina. Tentara Israel menembak mati 93 warga Palestina
(international.sindonews.com,21/7/2025). Kejahatan genosida terjadi lagi di
tanah para nabi.
Peristiwa politik hari ini di AS, umat Islam
di dunia sorak-sorai bangga atas pencalonan Walikota Muslim New York -Zohram
Mamdani. Jika merujuk tulisan Catatan Dahlan Iskan, Zohram merupakan imigran
dari Uganda yang keluarganya keturunan dari Persia dan beragama Islam Syi’ah(Selasa 22-07-2025).
Sebagian warga muslim yang “kutu medsos”
dan kranjingan persoalan politik, bisa dipastikan sangat mengidolakan Zohram,
sebagai seorang muslim yang mampu melawan kekuatan politik Donald Trump melalui
pencalonannya sebagai wali kota New York.
Pada kasus-kasus tertentu umat Islam sering
terbawa perasaan dalam melihat persoalan politik luar negeri. Mereka mudah
terharu, sedih, dan ukhuwah muncul tatkala ada persoalan yang menimpa
sesorang atau sekelompok orang yang pada dirinya ada kata “muslim”. Mereka kadang
tidak lagi memandang identitas. Mereka melihat persoalan tersebut bagian dari
persoalan dirinya.
Saya kira perasaan umat Islam tersebut di
atas yang kemudian menimbulkan horeg kesetiakawanan pada level yang
lebih luas -katakanlah level internasional, perlu juga direalisasikan dalam
tataran horeg dalam pengertian positif di tingkat lebih sempit. Masa sih,
Zohram yang calon walikota -agama Islam Syi’ah -umat Islam merespon positif,
tapi pada Negara Islam Iran mempunyai kesan negatif.
Sebagai penutup, peristiwa minggu-minggu sekarang
ini di Palestina semakin nyata bahwa umat Islam tidak perlu lagi horeg-horeg
maslah furu’iah yang berlebih-lebihan. Pembantaian masyarakat Palestina
membutuhan persatuan dalam berbedaan identitas dengan mempunyai kesemangatan
sama sebagai seorang muslim yang bertauhid kepada Allah dan mengakui Muhammad sebagai
Nabi dan Rasululah.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876