Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Musuh Terbesar dalam Berpolitik



Minggu , 17 November 2024



Telah dibaca :  673

Perang Uhud merupakan peristiwa politik yang sangat mengerikan. Pasukan Nabi “babak belur” oleh strategi lawan politik. Bahkan dalam perang ini, nabi mengalami luka berat. Pasukan musuh terus mengejar persembunyian nabi. Jika bukan karena pertolongan Allah, Nabi Muhammad bisa jadi telah suhada. Fitnah terjadi dimana-mana. Nabi saja meninggal dunia saat ajaran Islam sudah sempurna banyak para tokoh mengaku sebagai nabi pasca kematiannya. Tokoh yang terkenal yaitu Musailamah.

Perang uhud memang harus terjadi sebagai bagian “membuka tirai”  rukun iman percaya terhadap qodho dan qadhar. Perang ini sebagai pembuktian analisis politik nabi pada masa lalu, saat pulang dari perang badar. Para sahabat merasa sangat bangga atas keberhasilan perang badar. Ada kebanggaan yang berlebihan. Bagaimanapun juga pasukan berjumlah 300-an bisa mengalahkan pasukan yang berjumlah 1000-an. Anggap sama seperti anda, saat anda mampu melawan dan melumpuhkan 5 musuh berbadan kekar pasti akan viral. Anda akan terkenal sebagai seorang “pendekar”, “samson”, “manusia ber-otot “kawat” dan bertulang “besi” dan sejenisnya. Jika anda membuka lapak di tik tok, youtube atau medsos lainnya, maka follower anda bisa jadi ratusan ribu atau malah jutaan mengalahkan follower manusia sulap Deddy Corbuzier. Anda akan dikenal sebagai  maha guru pendekar melebihi Pendekar Kapak 212.

Perang Uhud memang sudah bagian dari terbukanya tabir rahasia Tuhan melalui baginda Rasulullah saw. Ketika para sahabat senantiasa mengenang kemenangan atas kedahsyatan peristiwa politik tersebut, nabi mengatakan dalam sebuah hadist: “Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah. Pertempuran apa ya Rasulullah ? Ia menjawab: perang melawan hawa nafsu”.

Nabi menilai kemenangan politik pada Perang Badar sebagai jihad kecil. Ia adalah bagian dari kegiatan sosial politik sebagaimana kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Jihad kecil bukan berarti memperkecil persoalan politik.  Ia tetap besar dan perlu diwaspadai. Tapi dalam persepsi ajaran Islam, ada suatu persoalan yang lebih besar dan menjadi penentu keberhasilan perjuangan politik yaitu ketika perjuangan benar-benar memposisikan niat mencari ridha Allah swt tanpa anasir-anasir debu-debu dunia dalam dirinya. Ketika ia kosong dan tidak tertanam dalam hati, maka dalam kondisi apapun umat Islam akan selalu menang meskipun hancur lebur berkeping-keping menyatu dengan tanah.

Anda boleh saja merasa sedih atas hancur nya Palestina. Hati anda berontak terhadap para penguasa dan negara-negara Islam. Tapi anda harus ingat bahwa kematian rakyat Palestina adalah sebuah kemenangan dan kemerdekaan arti sebenarnya. Ia telah merdeka dari cengkeraman nafsu dunia dan berhasil menghadap Allah dengan darah jihad.

Saat ada seorang murid bertanya kepada Sang guru mulia Syeikh Junaidi Al-Baghdadi saat menyikapi ribuan muslim meninggal dunia dibantai oleh kaum kafirin. Sang santri bertanya: “kenapa umat Islam kalah perang melawan musuh Allah, apakah Allah tidak mau menolong umat Islam agar menang dalam peperangan?”.

Syeikh menjawab: “Wahai anak ku, jangan melihat kemenangan dalam sebatas kepada hancur nya musuh Allah. Kematian saja sebenarnya bagian dari pertolongan Allah terbaik. Dia yang lebih mengetahui segalanya. Allah men-taqdir kan kematian umat Islam agar mereka tetap terjaga dengan membawa iman. Jika seandainya mereka masih hidup, belum tentu hati mereka beriman. Bahkan bisa jadi malah kafir dan menjadi musuh Allah”.

Sekarang ini kita bersama-sama menyaksikan proses tahapan demokrasi di penghujung bulan. Laksana bulan Ramadhan, semakin mendekati sepuluh hari terakhir, semakin mendekatkan diri agar mendapatkan apa yang disebut lailatul qadr. Tentu saja sangat susah untuk memperoleh status “khairun min alfi sahr”. Sebab kita akan diuji tidak hanya kegesitan ibadah wajib dan sunnah serta amal sholeh, tapi juga diuji kesiapan kita mempunyai pikiran, hati dan sikap laksana “air laut” yang maha luas. Saat seluruh manusia membuang kotoran dan limbah-limbah industri, status air dalam pandangan Allah tetap suci.

Anda sebagai pasangan calon kepala daerah, tim-sukses dan pendukungnya sedang menuju peperangan sejati yaitu peperangan pada diri sendiri, bukan orang lain. Mari kita sama-sama intropeksi diri, apakah kita pantas menjadi calon pemimpin, tim-sukses dan pendukung yang disebut oleh nabi bagian dari golongan yang mampu menaruh jihadul akbar di hati masing-masing. Kita hakikatnya tidak sedang kontestasi dengan lawan politiknya. Kita hakikatnya sedang berkonstestasi dengan diri sendiri untuk menjadi manusia yang unggul di hadapan Allah swt.

Kita tidak bisa mengatakan calon ini baik, calon itu buruk. Itu hanya sebatas subyektivitas para pendukungnya yang tampil seperti buih di lautan. Anda bisa mengatakan apa saja, kesholehan, kebaikan kepada jago anda, sebaimana lawan anda pun bisa mengatakan demikian. Laksanakan saja dengan batasan kepantasan norma, itu prosedur formalitas demokrasi. Tapi anda dan kita semua sedang belajar mengenal diri hakikat kehidupan yang sebenarnya. Semakin mengenal diri, maka semakin sederhana melihat kehidupan ini termasuk dalam pesta demokrasi. Sebab sering selalu saya katakan dalam beberapa tulisan yang lalu bahwa hakikat kemenangan sejati adalah orang-orang yang mampu menetralisir nafsu dunia dan nafsu berkuasa benar-benar berniat ibadah dan mencari ridha Allah. Maka saat maqam anda sudah sampai disini, menang dan kalah dalam syariat sebenarnya tetap menang dalam hakikat. Sebab semua kontestasi politik telah mampu memerangi hawa nafsu pada diri sendiri. Itulah kemenangan sejati, saat anda berhasil melumpuhkan musuh politik bebuyutan, yaitu nafsu amarah yang ada pada diri sendiri.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875