
Perang Uhud merupakan peristiwa politik
yang sangat mengerikan. Pasukan Nabi “babak belur” oleh strategi lawan
politik. Bahkan dalam perang ini, nabi mengalami luka berat. Pasukan musuh
terus mengejar persembunyian nabi. Jika bukan karena pertolongan Allah, Nabi
Muhammad bisa jadi telah suhada. Fitnah terjadi dimana-mana. Nabi saja
meninggal dunia saat ajaran Islam sudah sempurna banyak para tokoh mengaku
sebagai nabi pasca kematiannya. Tokoh yang terkenal yaitu Musailamah.
Perang uhud memang harus terjadi sebagai
bagian “membuka tirai” rukun iman
percaya terhadap qodho dan qadhar. Perang ini sebagai pembuktian analisis
politik nabi pada masa lalu, saat pulang dari perang badar. Para sahabat merasa
sangat bangga atas keberhasilan perang badar. Ada kebanggaan yang berlebihan.
Bagaimanapun juga pasukan berjumlah 300-an bisa mengalahkan pasukan yang
berjumlah 1000-an. Anggap sama seperti anda, saat anda mampu melawan dan
melumpuhkan 5 musuh berbadan kekar pasti akan viral. Anda akan terkenal sebagai
seorang “pendekar”, “samson”, “manusia ber-otot “kawat” dan bertulang “besi”
dan sejenisnya. Jika anda membuka lapak di tik tok, youtube atau medsos
lainnya, maka follower anda bisa jadi ratusan ribu atau malah jutaan
mengalahkan follower manusia sulap Deddy Corbuzier. Anda akan dikenal
sebagai maha guru pendekar melebihi
Pendekar Kapak 212.
Perang Uhud memang sudah bagian dari
terbukanya tabir rahasia Tuhan melalui baginda Rasulullah saw. Ketika para
sahabat senantiasa mengenang kemenangan atas kedahsyatan peristiwa politik
tersebut, nabi mengatakan dalam sebuah hadist: “Kalian semua pulang dari sebuah
pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lalu para sahabat bertanya kepada
Rasulullah. Pertempuran apa ya Rasulullah ? Ia menjawab: perang melawan hawa
nafsu”.
Nabi menilai kemenangan politik pada Perang
Badar sebagai jihad kecil. Ia adalah bagian dari kegiatan sosial politik
sebagaimana kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Jihad kecil bukan berarti
memperkecil persoalan politik. Ia tetap
besar dan perlu diwaspadai. Tapi dalam persepsi ajaran Islam, ada suatu
persoalan yang lebih besar dan menjadi penentu keberhasilan perjuangan politik
yaitu ketika perjuangan benar-benar memposisikan niat mencari ridha Allah swt
tanpa anasir-anasir debu-debu dunia dalam dirinya. Ketika ia kosong dan tidak
tertanam dalam hati, maka dalam kondisi apapun umat Islam akan selalu menang
meskipun hancur lebur berkeping-keping menyatu dengan tanah.
Anda boleh saja merasa sedih atas hancur
nya Palestina. Hati anda berontak terhadap para penguasa dan negara-negara
Islam. Tapi anda harus ingat bahwa kematian rakyat Palestina adalah sebuah
kemenangan dan kemerdekaan arti sebenarnya. Ia telah merdeka dari cengkeraman
nafsu dunia dan berhasil menghadap Allah dengan darah jihad.
Saat ada seorang murid bertanya kepada Sang
guru mulia Syeikh Junaidi Al-Baghdadi saat menyikapi ribuan muslim meninggal
dunia dibantai oleh kaum kafirin. Sang santri bertanya: “kenapa umat Islam
kalah perang melawan musuh Allah, apakah Allah tidak mau menolong umat Islam
agar menang dalam peperangan?”.
Syeikh menjawab: “Wahai anak ku, jangan
melihat kemenangan dalam sebatas kepada hancur nya musuh Allah. Kematian saja
sebenarnya bagian dari pertolongan Allah terbaik. Dia yang lebih mengetahui
segalanya. Allah men-taqdir kan kematian umat Islam agar mereka tetap terjaga
dengan membawa iman. Jika seandainya mereka masih hidup, belum tentu hati
mereka beriman. Bahkan bisa jadi malah kafir dan menjadi musuh Allah”.
Sekarang ini kita bersama-sama menyaksikan
proses tahapan demokrasi di penghujung bulan. Laksana bulan Ramadhan, semakin
mendekati sepuluh hari terakhir, semakin mendekatkan diri agar mendapatkan apa
yang disebut lailatul qadr. Tentu saja sangat susah untuk memperoleh
status “khairun min alfi sahr”. Sebab kita akan diuji tidak hanya
kegesitan ibadah wajib dan sunnah serta amal sholeh, tapi juga diuji kesiapan
kita mempunyai pikiran, hati dan sikap laksana “air laut” yang maha luas. Saat
seluruh manusia membuang kotoran dan limbah-limbah industri, status air dalam
pandangan Allah tetap suci.
Anda sebagai pasangan calon kepala daerah,
tim-sukses dan pendukungnya sedang menuju peperangan sejati yaitu peperangan
pada diri sendiri, bukan orang lain. Mari kita sama-sama intropeksi diri,
apakah kita pantas menjadi calon pemimpin, tim-sukses dan pendukung yang
disebut oleh nabi bagian dari golongan yang mampu menaruh jihadul akbar di hati
masing-masing. Kita hakikatnya tidak sedang kontestasi dengan lawan politiknya.
Kita hakikatnya sedang berkonstestasi dengan diri sendiri untuk menjadi manusia
yang unggul di hadapan Allah swt.
Kita tidak bisa mengatakan calon ini baik,
calon itu buruk. Itu hanya sebatas subyektivitas para pendukungnya yang tampil
seperti buih di lautan. Anda bisa mengatakan apa saja, kesholehan, kebaikan
kepada jago anda, sebaimana lawan anda pun bisa mengatakan demikian. Laksanakan
saja dengan batasan kepantasan norma, itu prosedur formalitas demokrasi. Tapi
anda dan kita semua sedang belajar mengenal diri hakikat kehidupan yang
sebenarnya. Semakin mengenal diri, maka semakin sederhana melihat kehidupan ini
termasuk dalam pesta demokrasi. Sebab sering selalu saya katakan dalam beberapa
tulisan yang lalu bahwa hakikat kemenangan sejati adalah orang-orang yang mampu
menetralisir nafsu dunia dan nafsu berkuasa benar-benar berniat ibadah dan
mencari ridha Allah. Maka saat maqam anda sudah sampai disini, menang
dan kalah dalam syariat sebenarnya tetap menang dalam hakikat. Sebab semua
kontestasi politik telah mampu memerangi hawa nafsu pada diri sendiri. Itulah kemenangan
sejati, saat anda berhasil melumpuhkan musuh politik bebuyutan, yaitu nafsu amarah
yang ada pada diri sendiri.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875