Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Mutiara yang sering dilupakan oleh Manusia



Jumat , 10 Mei 2024



Telah dibaca :  734


الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءًۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝٢

(Dialah) yang menjadikan bagimu bumi (sebagai) hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Kadang pada saat tertentu kita mungkin merasakan ada yang kurang pada diri sendiri dan merasa orang lain lebih sempurna. Kadang pada moment tertentu, seolah-olah kita bagian dari orang-orang yang tersingkirkan dan dianggap sebagai bagian yang kurang penting atau malah dianggap remeh oleh tim. Salah satu indikator yang menjadi dasar pemikiran kita yaitu penghargaan mereka terhadap pekerjaan kita yang berbeda-beda. Padahal kita telah melakukan dengan cara yang sama. Bahkan bisa jadi jauh lebih hebat ketimbang mereka yang telah mendapatkan reward yang besar tersebut. hati kita pun bertanya-tanya, “Kenapa bisa begitu. Dimana letak keadilan?”.

Pada momen tertentu suasana tersebut di atas mempunyai potensi menurunkan energi kinetik sehingga gerak kita melambat dan tumbuh kebosanan untuk melahirkan hal-hal positif dan bermanfaat bagi orang lain. Lebih fatal lagi, jangan untuk orang lain, untuk diri sendiri pun sudah mulai tidak terpikirkan. Lalu pada diri kita muncul menjadi manusia “masa bodoh” terhadap pekerjaan kita dan hal-hal yang berkaitan dengan institusi atau organisasi-organisasi yang kita sandang dalam kehidupan sehari-hari. Diri kita ada tapi seperti tidak ada. Diri kita menjadi bagian dari anggota tersebut, tapi hanya sebatas anggota dan bukan bagian dari orang-orang yang memberi konstribusi positif terhadap kelompok tersebut. Padahal, pada masa lalu kita bisa jadi bagian para pelopor perubahan yang mempunyai semangat tinggi untuk bisa membawa insitusi, organisasi atau perusahaan menjadi uswatun hasanah bagi kelompok lain.

Seorang filsuf mengatakan, “Salah satu alasannya kau tidak bisa merasakan kebahagiaan sejati sebenarnya kau sendiri yang memilih untuk tidak bahagia. Ketidakbahagiaanmu bukan karena kau diciptakan oleh tuhan menjadi manusia sial, hanya saja kau telah memilih kata “tidak bahagia” sebagai sesuatu yang terbaik dalam hidup mu”.

Bisa jadi demikian? kita terlalu sering mengeluh dan menilai diri sendiri tidak pantas untuk mendapatkan suatu kebahagiaan. Kita kadang terlalu sering memposisikan diri sebagai orang yang tidak bisa apa-apa; tidak bisa menulis, tidak bisa membuat artikel, tidak bisa membuat buku ajar, tidak pantas mendapatkan jodoh, tidak pantas mendapatkan seorang kekasih yang menjadi idaman dan seterusnya. Bayangan negatif terus dikembangkan sehingga kita nyaman dalam ketidaknyaman. Bayangan tersebut akan muncul pada moment-moment tertentu, dan kita pun tersiksa secara terus-menerus sepanjang masa. Ironisnya kita menikmati ketegangan, kecemasan yang telah dibuat oleh diri sendiri secara terorganisir, tapi kita tidak merasakan hal yang demikian.

Apakah ini yang disebut kondisi “nyaman” di “zona tidak nyaman?”. Kita kadang tahu bahwa kondisi diri seperti dalam pintu gerbang yang besar dan hanya melihatnya sebagai penghalang yang tidak mungkin bisa dirobohkan. Kita hanya bisa mengitarinya, memandangnya dengan penuh putus asa. Pikiran kita hanya berisi kecemasan dan pikiran kegagalan sepanjang waktu. Padahal jika sedikit membiasakan diri untuk tenang, kita akan melihat begitu banyak ide-ide untuk melakukan perubahan-perubahan dari yang kecil, sedang sampai pada perubahan yang besar.

Kita bisa belajar dari orang-orang dibatasi hak kebebasan dan menghabiskan waktu nya di penjara. Tapi mereka bisa memanfaatkan kebebasan ide dan berfikir menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan peradaban manusia. Soekarno menulis teks proklamasi dan tulisan buku “Indonesia Menggugat” saat di Penjara, Nelson Mandela menulis catatan harian yang menginspirasi perjuangan rakyat afrika untuk menghapus politik apartheid. Ho Chi Minh menulis catatan harian yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul “Prison Diary”. Hamka telah melahirkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar di Penjara. Masih banyak lagi orang-orang yang terbatas gerak hidupnya, tapi mampu mengubah dunia melalui tulisan-tulisannya. Jasad mereka dalam ruangan yang sempit, tapi pikiran mereka melalangbuana dan masuk ke sanubari setiap manusia.

Willam James mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih sengsara dari orang yang mempunyai kesulitan mengambil keputusan”. Ada kalimat lain yang cukup bagus, “Mereka yang berhasil selalu bertindak sesuai dengan inisiatif diri mereka sendiri, tetapi mereka tahu persis tentang apa yang hendak mereka lakukan sebelum bertindak”.

Orang lain boleh mentertawakan anda, tapi anda harus menyakini bahwa Allah telah menganugerahkan mutiara yang sangat berharga yang ada pada diri anda, yaitu keyakinan akan pertolongan Allah pasti datang setiap saat. Pikiran ini perlu dilatih setiap saat sehingga anda menjadi orang yang tangguh dan keyakinanmu melimpah untuk menjemput kesukesan yang anda impikan.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876