
الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ
الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَاۤءَ بِنَاۤءًۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً
فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ
اَنْدَادًا وَّاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ٢
(Dialah) yang
menjadikan bagimu bumi (sebagai) hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah
yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan)
itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu
mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.
Kadang pada saat tertentu kita
mungkin merasakan ada yang kurang pada diri sendiri dan merasa orang lain lebih
sempurna. Kadang pada moment tertentu, seolah-olah kita bagian dari orang-orang
yang tersingkirkan dan dianggap sebagai bagian yang kurang penting atau malah dianggap
remeh oleh tim. Salah satu indikator yang menjadi dasar pemikiran kita yaitu
penghargaan mereka terhadap pekerjaan kita yang berbeda-beda. Padahal kita
telah melakukan dengan cara yang sama. Bahkan bisa jadi jauh lebih hebat
ketimbang mereka yang telah mendapatkan reward yang besar tersebut. hati kita
pun bertanya-tanya, “Kenapa bisa begitu. Dimana letak keadilan?”.
Pada momen tertentu suasana tersebut
di atas mempunyai potensi menurunkan energi kinetik sehingga gerak kita
melambat dan tumbuh kebosanan untuk melahirkan hal-hal positif dan bermanfaat
bagi orang lain. Lebih fatal lagi, jangan untuk orang lain, untuk diri sendiri
pun sudah mulai tidak terpikirkan. Lalu pada diri kita muncul menjadi manusia
“masa bodoh” terhadap pekerjaan kita dan hal-hal yang berkaitan dengan
institusi atau organisasi-organisasi yang kita sandang dalam kehidupan
sehari-hari. Diri kita ada tapi seperti tidak ada. Diri kita menjadi bagian
dari anggota tersebut, tapi hanya sebatas anggota dan bukan bagian dari
orang-orang yang memberi konstribusi positif terhadap kelompok tersebut. Padahal,
pada masa lalu kita bisa jadi bagian para pelopor perubahan yang mempunyai
semangat tinggi untuk bisa membawa insitusi, organisasi atau perusahaan menjadi
uswatun hasanah bagi kelompok lain.
Seorang filsuf mengatakan, “Salah
satu alasannya kau tidak bisa merasakan kebahagiaan sejati sebenarnya kau
sendiri yang memilih untuk tidak bahagia. Ketidakbahagiaanmu bukan karena kau
diciptakan oleh tuhan menjadi manusia sial, hanya saja kau telah memilih kata
“tidak bahagia” sebagai sesuatu yang terbaik dalam hidup mu”.
Bisa jadi demikian? kita terlalu
sering mengeluh dan menilai diri sendiri tidak pantas untuk mendapatkan suatu
kebahagiaan. Kita kadang terlalu sering memposisikan diri sebagai orang yang
tidak bisa apa-apa; tidak bisa menulis, tidak bisa membuat artikel, tidak bisa
membuat buku ajar, tidak pantas mendapatkan jodoh, tidak pantas mendapatkan
seorang kekasih yang menjadi idaman dan seterusnya. Bayangan negatif terus
dikembangkan sehingga kita nyaman dalam ketidaknyaman. Bayangan tersebut akan
muncul pada moment-moment tertentu, dan kita pun tersiksa secara terus-menerus
sepanjang masa. Ironisnya kita menikmati ketegangan, kecemasan yang telah
dibuat oleh diri sendiri secara terorganisir, tapi kita tidak merasakan hal
yang demikian.
Apakah ini yang disebut kondisi “nyaman”
di “zona tidak nyaman?”. Kita kadang tahu bahwa kondisi diri seperti dalam
pintu gerbang yang besar dan hanya melihatnya sebagai penghalang yang tidak
mungkin bisa dirobohkan. Kita hanya bisa mengitarinya, memandangnya dengan
penuh putus asa. Pikiran kita hanya berisi kecemasan dan pikiran kegagalan
sepanjang waktu. Padahal jika sedikit membiasakan diri untuk tenang, kita akan
melihat begitu banyak ide-ide untuk melakukan perubahan-perubahan dari yang
kecil, sedang sampai pada perubahan yang besar.
Kita bisa belajar dari orang-orang
dibatasi hak kebebasan dan menghabiskan waktu nya di penjara. Tapi mereka bisa
memanfaatkan kebebasan ide dan berfikir menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi
masyarakat dan peradaban manusia. Soekarno menulis teks proklamasi dan tulisan
buku “Indonesia Menggugat” saat di Penjara, Nelson Mandela menulis catatan
harian yang menginspirasi perjuangan rakyat afrika untuk menghapus politik apartheid.
Ho Chi Minh menulis catatan harian yang kemudian diterbitkan menjadi buku
dengan judul “Prison Diary”. Hamka telah melahirkan karya monumentalnya, Tafsir
Al-Azhar di Penjara. Masih banyak lagi orang-orang yang terbatas gerak
hidupnya, tapi mampu mengubah dunia melalui tulisan-tulisannya. Jasad mereka
dalam ruangan yang sempit, tapi pikiran mereka melalangbuana dan masuk
ke sanubari setiap manusia.
Willam James mengatakan, “Tidak ada
seorang pun yang lebih sengsara dari orang yang mempunyai kesulitan mengambil
keputusan”. Ada kalimat lain yang cukup bagus, “Mereka yang berhasil selalu
bertindak sesuai dengan inisiatif diri mereka sendiri, tetapi mereka tahu
persis tentang apa yang hendak mereka lakukan sebelum bertindak”.
Orang lain boleh mentertawakan anda,
tapi anda harus menyakini bahwa Allah telah menganugerahkan mutiara yang sangat
berharga yang ada pada diri anda, yaitu keyakinan akan pertolongan Allah pasti
datang setiap saat. Pikiran ini perlu dilatih setiap saat sehingga anda menjadi
orang yang tangguh dan keyakinanmu melimpah untuk menjemput kesukesan yang anda
impikan.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876