Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Naik Travel Mengikuti Rakerda MUI



Selasa , 12 Desember 2023



Telah dibaca :  456

Transportasi daerah kepulauan memang sangat terbatas dibandingkan daerah daratan. Jika di daratan, kapan pun bisa berangkat dengan beragam kendaraan. Tapi, jika di daerah kepulauan yang dibatasi oleh selat dan laut, jika sudah terlambat jadwal pemberangkatan Kapal Laut atau Ferry, berarti terlambat perjalanan. Hari berikutnya baru bisa berangkat bepergian. Jika toh harus berangkat hari itu juga, maka harus “nyarter” Speadboot. Selatpanjang-Buton bisa sekitar 2 jutaan biaya sewanya. Padahal perjalanan laut Selatpanjang-Buton sekitar dua jam. Tentu, hanya para pejabat atau orang-orang level papan atas dan orang-orang yang sedang sakit parah (harus dirujuk ke Rumah Sakit Provinsi) yang bisa menyewa Speadboot.

Ini yang saya alami ketika menghadiri Rakerda MUI II Provinsi Riau. Pikiran saya, kapal berangkat jam 09.00. Ternyata jam tersebut sudah lepas tali. Saya tanya teman, Katanya masih ada lagi kapal Dumai Line jam 11.30 dan Kapal Nagaline jam 13.00. Saya memilih jam 11.30 naik Dumai Line. Entah karena rusak, atau gimana, Kapal jalannya sangat lambat. Atau mungkin karena melintas di Selat, yang kanan-kirinya adalah pulau. Bisa jadi untuk menghindari potensi abrasi semakin meluas di pulau-pulau tersebut. Sebab salah satu persoalan wilayah kepulauan adalah adanya abrasi besar-besaran. Di kepulauan meranti, daerah yang mengalami tingkat abrasi sangat tinggi yaitu daerah rangsang, suatu daerah terluar dan berbatasan langsung dengan negara Malaysia.

Ketia saya sampai di Pelabuhan Buton, ada panggilan masuk. Ternyata supir driver. Saya segera menuju ke mobil nya, dan duduk di samping pak supir.

“Inilah kerja saya jadi supir travel pak” katanya membuka pembicaraan.

“Wah, ini pekerjaan hebat, sangat mulia. Gara-gara Travel, semua kegiatan bisa sukses. Coba kalau tidak ada travel, maka semua orang bisa terkendala kegiatan. Termasuk saya” kataku kepadanya.

“Benar pak, Allah telah membagi pekerjaan kita berbeda-beda agar bisa saling membutuhkan satu dengan lainnya. Jadi, kita saat ini harus belajar menerima apa yang telah diberikan Allah kepada kita dengan selalu mensyukurinya” kata pak Supir.

Saya mengangguk. Dalam hati, pak supir ini mirip seorang ustadz. Nasehatnya sangat mengena. Entah karena memang sering mendengar ceramah di youtube atau mungkin sedang menghibur diri, saya pun tidak tahu. tapi setelah cukup lama ngobrol di perjalanan, pak supir semakin banyak yang dibicarakan. Bahkan lebih luas lagi; mulai dari Pilkada, Pilpres, Pileg sampai pada mahal nya Minyak Goreng di Warung-Warung.

“Minyak goreng sekarang mahal” katanya sambil menjelaskan kondisi ekonomi saat sekarang ini. tentu pak supir bukan menteri ekonomi atau menteri keuangan yang bisa menganalisis situasi ekonomi global dan segala dampak yang ditimbulkan, sehingga harga menjadi lebih mahal dari sebelumnya.

“Apa bapak tidak merasakan harga minyak goreng mahal” tanya dia kepadaku.

“Wah, itu saya tidak tahu. sebenarnya saya biasa belanja, tapi tidak pernah melihat harga. Kalau ke Minimarket, apa yang saya inginkan, saya ambil lalu saya bawa ke kasir dan dihitung, langsung saya bayar” jawabku.

Pak supir cerita lagi tentang kehidupanya anak, istri dan lagi-lagi persoalan ekonomi. Namun setelah panjang lebar bercerita kesedihan, hebatnya dia menutup dengan kalimat yang sangat bijak.

“Bagi saya yang terpenting saat ini adalah badan sehat. Menurut saya, rezeki yang paling agung adalah kesehatan. Apa artinya jika menjadi pejabat, tapi sakit. Jadi konglomerat, tapi sedikit-sedikit ke rumah sakit. Ujung-ujungnya duit habis untuk berobat” katanya

“Jozzz” kata ku. Dia pun tersenyum. lalu dia pun menceritakan tentang tetangganya yang dulu miskin tapi berubah saat sudah menjadi orang kaya.

“Pak, tetangga saya dulu miskin. Saat masih menjadi orang biasa, saya lihat mereka sangat akur, makan apa adanya. Tapi sekarang setelah menjadi kaya, mereka sering berkelahi. Suami jarang pulang. Istri nya malah berselingkuh dengan “brondong” (sebutan anak-anak yang masih ABG)” katanya.

“Untung saja saya belum  jadi orang kaya, mungkin jika saya ditakdirkan menjadi orang kaya, belum tentu kuat menahan cobaan seperti tetangga saya” katanya sambil mensyukuri keadaan saat sekarang ini.

Saya tertawa mendengar ucapannya. Dia masih tersenyum. Mungkin Dia membayangkan sendiri, jika jadi orang kaya bisa jadi seperti kisah tetangganya.

“Ustadz, boleh saya tanya. Apakah  istri ustadz sama dengan istri supir travel ?” tanya dia kepadaku.

“Beda kalau istri ustadz marahnya pakai dalil naqli, kalau istri mu marah pakai dalil aqli” jawabku.

Kami tertawa. Mungkin karena nasibnya sama, sama-sama sering kena marah.

“Saya kira istri ustadz tidak pernah marah” tanya dia lagi.

“Jangankan istri ustadz, istri Umar bin Khatab sering marah padanya. Padahal, Setan saja takut sama khalifah Umar, tapi ketika dibentak istrinya, dia diam saja” jawabku.

“Berarti level marah  istri di atas setan yang pak ustadz” tanya dia lagi.

“Husss….!!!” Kataku.

Kami tertawa lagi.

“Pak supir, meskipun istri sering marah-marah tapi dialah yang mengantarkan diri mu menjadi Ahlu Surga” kataku menjelaskan.

“Kok begitu “ tanya dia agak sedikit bingung.

“Saat istri mu marah di siang hari, kamu bersabar. Saat istrimu tersenyum di malam hari dan kamu bersyukur, maka kamu bisa masuk Surga melalui jalur sabar dan jalur syukur” jawab ku.

“tapi istri saya jarang tersenyum, kerjanya marah-marah terus. Saya pusing dibuat oleh nya” jawabnya.

“Berarti jalur kamu menjadi Ahli Surga melalui jalur Sabar” jawab ku.

Dia tersenyum kecut. Sepertinya kurang ikhlas jika dia masuk Surga melalui jalur sabar. Bayangkan saja, sudah letih mencari duit, jadi driver travel sampai Rumah istri ngompreng karena dapat duit tidak sesuai target. Nasib-nasib. Sabar ya pak supir.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Futri Hidayah ABI 1A

Hadir pak

Avatar

Anggun lestari

Hadir

Avatar

Zeti zulaika ABI 1A 5404230020

Hadir

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876