
Transportasi daerah kepulauan memang sangat
terbatas dibandingkan daerah daratan. Jika di daratan, kapan pun bisa berangkat
dengan beragam kendaraan. Tapi, jika di daerah kepulauan yang dibatasi oleh
selat dan laut, jika sudah terlambat jadwal pemberangkatan Kapal Laut atau
Ferry, berarti terlambat perjalanan. Hari berikutnya baru bisa berangkat
bepergian. Jika toh harus berangkat hari itu juga, maka harus “nyarter”
Speadboot. Selatpanjang-Buton bisa sekitar 2 jutaan biaya sewanya. Padahal
perjalanan laut Selatpanjang-Buton sekitar dua jam. Tentu, hanya para pejabat
atau orang-orang level papan atas dan orang-orang yang sedang sakit parah (harus
dirujuk ke Rumah Sakit Provinsi) yang bisa menyewa Speadboot.
Ini yang saya alami ketika menghadiri Rakerda
MUI II Provinsi Riau. Pikiran saya, kapal berangkat jam 09.00. Ternyata jam
tersebut sudah lepas tali. Saya tanya teman, Katanya masih ada lagi kapal Dumai
Line jam 11.30 dan Kapal Nagaline jam 13.00. Saya memilih jam 11.30 naik Dumai
Line. Entah karena rusak, atau gimana, Kapal jalannya sangat lambat. Atau
mungkin karena melintas di Selat, yang kanan-kirinya adalah pulau. Bisa jadi
untuk menghindari potensi abrasi semakin meluas di pulau-pulau tersebut.
Sebab salah satu persoalan wilayah kepulauan adalah adanya abrasi besar-besaran.
Di kepulauan meranti, daerah yang mengalami tingkat abrasi sangat tinggi yaitu
daerah rangsang, suatu daerah terluar dan berbatasan langsung dengan negara
Malaysia.
Ketia saya sampai di Pelabuhan Buton, ada
panggilan masuk. Ternyata supir driver. Saya segera menuju ke mobil nya, dan
duduk di samping pak supir.
“Inilah kerja saya jadi supir travel pak”
katanya membuka pembicaraan.
“Wah, ini pekerjaan hebat, sangat mulia.
Gara-gara Travel, semua kegiatan bisa sukses. Coba kalau tidak ada travel, maka
semua orang bisa terkendala kegiatan. Termasuk saya” kataku kepadanya.
“Benar pak, Allah telah membagi pekerjaan
kita berbeda-beda agar bisa saling membutuhkan satu dengan lainnya. Jadi, kita
saat ini harus belajar menerima apa yang telah diberikan Allah kepada kita
dengan selalu mensyukurinya” kata pak Supir.
Saya mengangguk. Dalam hati, pak supir ini
mirip seorang ustadz. Nasehatnya sangat mengena. Entah karena memang sering
mendengar ceramah di youtube atau mungkin sedang menghibur diri, saya pun tidak
tahu. tapi setelah cukup lama ngobrol di perjalanan, pak supir semakin banyak
yang dibicarakan. Bahkan lebih luas lagi; mulai dari Pilkada, Pilpres, Pileg sampai
pada mahal nya Minyak Goreng di Warung-Warung.
“Minyak goreng sekarang mahal” katanya
sambil menjelaskan kondisi ekonomi saat sekarang ini. tentu pak supir bukan
menteri ekonomi atau menteri keuangan yang bisa menganalisis situasi ekonomi
global dan segala dampak yang ditimbulkan, sehingga harga menjadi lebih mahal
dari sebelumnya.
“Apa bapak tidak merasakan harga minyak
goreng mahal” tanya dia kepadaku.
“Wah, itu saya tidak tahu. sebenarnya saya
biasa belanja, tapi tidak pernah melihat harga. Kalau ke Minimarket, apa yang
saya inginkan, saya ambil lalu saya bawa ke kasir dan dihitung, langsung saya
bayar” jawabku.
Pak supir cerita lagi tentang kehidupanya anak,
istri dan lagi-lagi persoalan ekonomi. Namun setelah panjang lebar bercerita
kesedihan, hebatnya dia menutup dengan kalimat yang sangat bijak.
“Bagi saya yang terpenting saat ini adalah
badan sehat. Menurut saya, rezeki yang paling agung adalah kesehatan. Apa
artinya jika menjadi pejabat, tapi sakit. Jadi konglomerat, tapi sedikit-sedikit
ke rumah sakit. Ujung-ujungnya duit habis untuk berobat” katanya
“Jozzz” kata ku. Dia pun tersenyum. lalu
dia pun menceritakan tentang tetangganya yang dulu miskin tapi berubah saat
sudah menjadi orang kaya.
“Pak, tetangga saya dulu miskin. Saat masih
menjadi orang biasa, saya lihat mereka sangat akur, makan apa adanya. Tapi
sekarang setelah menjadi kaya, mereka sering berkelahi. Suami jarang pulang.
Istri nya malah berselingkuh dengan “brondong” (sebutan anak-anak yang
masih ABG)” katanya.
“Untung saja saya belum jadi orang
kaya, mungkin jika saya ditakdirkan menjadi orang kaya, belum tentu kuat menahan cobaan seperti tetangga saya” katanya sambil mensyukuri keadaan saat sekarang ini.
Saya tertawa mendengar ucapannya. Dia masih tersenyum. Mungkin Dia
membayangkan sendiri, jika jadi orang kaya bisa jadi seperti kisah tetangganya.
“Ustadz, boleh saya tanya. Apakah istri ustadz sama dengan istri supir travel ?” tanya dia kepadaku.
“Beda kalau istri ustadz marahnya pakai
dalil naqli, kalau istri mu marah pakai dalil aqli” jawabku.
Kami tertawa. Mungkin karena nasibnya sama,
sama-sama sering kena marah.
“Saya kira istri ustadz tidak pernah marah”
tanya dia lagi.
“Jangankan istri ustadz, istri Umar bin
Khatab sering marah padanya. Padahal, Setan saja takut sama khalifah Umar, tapi
ketika dibentak istrinya, dia diam saja” jawabku.
“Berarti level marah istri di atas setan yang pak ustadz” tanya
dia lagi.
“Husss….!!!” Kataku.
Kami tertawa lagi.
“Pak supir, meskipun istri sering
marah-marah tapi dialah yang mengantarkan diri mu menjadi Ahlu Surga” kataku
menjelaskan.
“Kok begitu “ tanya dia agak sedikit
bingung.
“Saat istri mu marah di siang hari, kamu
bersabar. Saat istrimu tersenyum di malam hari dan kamu bersyukur, maka kamu
bisa masuk Surga melalui jalur sabar dan jalur syukur” jawab ku.
“tapi istri saya jarang tersenyum, kerjanya
marah-marah terus. Saya pusing dibuat oleh nya” jawabnya.
“Berarti jalur kamu menjadi Ahli Surga melalui
jalur Sabar” jawab ku.
Dia tersenyum kecut. Sepertinya kurang
ikhlas jika dia masuk Surga melalui jalur sabar. Bayangkan saja, sudah letih
mencari duit, jadi driver travel sampai Rumah istri ngompreng karena
dapat duit tidak sesuai target. Nasib-nasib. Sabar ya pak supir.
Penulis : Imam Ghozali
Futri Hidayah ABI 1A
Hadir pak
Anggun lestari
Hadir
Zeti zulaika ABI 1A 5404230020
Hadir
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3574
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876