
Jam 14.35 pesawat Lion Air take off menuju
Pekanbaru. Saya mendapatkan Kursi bernomor 7B, jadi di posisi tengah; samping
saya seorang bapak yang bekerja di dinas kota pekanbaru. Dia menceritakan perjalanan
hidunya anjang lebar. Ternyata dia pernah tinggal di kota Selatanjang mulai
lahir sampai Aliyah. Obrolanya menjadi sangat asik dan akrab. Disini saya
merasakan arti penting solidaritas dan soliditas ketika sama-sama di
perantauan. Padahal jika ketemu di Pekanbaru, belum tentu seakrab seperti ini.
Sama seperti para jamaah haji atau para saudara kita yang bekerja di luar negeri,
mereka berbeda suku, agama, logat bahasa, tapi merasa satu saudara karena ada
persamaan satu tinggal wilayah satu kabupaten, satu provinsi dan satu bangsa
yaitu Indonesia. Oh ya, sebelah samping kanan saya ada seorang ibu. Jika
dilihat dari wajahnya, kira-kira berumur 50-an tahun ke atas. Orang nya cukup
ramah, berjilbab dan punya wawasan cukup lumayan. Setelah beberapa kali ngobrol
denganya, ternyata dia Pegawai Negeri di kota Pekanbaru.
Di Pesawat semua sibuk dengan dirinya sendiri. Kursi baris sebelah kanan, sepasang muda-muda guyon penuh dengan kemesraan. sebelahnya, seorang ibu yang selama perjalanan senantiasa membaca Al-Qur’an. Terlihat husu’ dan tidak memperdulikan tingkah laku sepasang pemuda-pemudi tadi. Di depan, ada seorang pemuda berambut gondrong asik menonton film barat melalui iPhone model 14 Pro Max.

Keheningan pesawat tiba-tiba dikagetkan
oleh tangisan seorang bocah berumur sekitar 3 tahun. Sepanjang perjalanan tidak
henti-hentinya menangis. Tangisan yang sangat menyayat hati. Ayah nya
menggendong dan sibuk menenangkan tangisanya. Dia berjalan mondar-mandir,
kadang ke depan-kadang ke belakang. Namun, tidak juga mampu membuat buah
hatinya terdiam. Berhenti sebentar, kemudian menangis lagi. Pramugari hanya
bisa melihat dan tidak berani marah kepada nya saat ada himbauan para penumpang
disuruh kembali ke tempat duduknya.
Sekitar jam 16.30 Pesawat sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim Riau. Saya mencari Taksi. Di depan pintu keluar, suara agen taksi memanggil dan menawarkan masing-masing taksi, seperti para calo bus di era jadul. Sekarang terminal bus sudah relatif aman, sudah tidak ada calo, atau paling tidak sudah kurang sangat banyak. Pola pembelian tiket model online sangat membantu memperminin calo berkeliaran di terminal bus. Hal yang sama juga di kereta api. Bahkan ini lebih rapi lagi, beli tiket online. Tempat nya bersih dan berkelas, para petugasnya cantik-cantik dan tidak kalah dengan pramugari pesawat. Ini berbeda pada zaman 2000-an saat saya pulang dari Banyuwangi menuju Banyumas. Tiket seperti kartu domino. Setiap berhenti stasiun, tiket di lubangi. Lebih tragis lagi, kadang tidak mendapatkan tempat duduk. Caranya tidur di bawah dengan beralaskan Koran yang sudah disiapkan sebelum naik Kereta Api. Resikonya dilangkahi para penumpang atau petugas Kereta Api. Rasa nya waktu itu biasa saja. kadang memang yang menyedihkan ketika petugas lewat dan sepatunya nginjak sebagian jari-jari kaki. Terasa sangat sakit. Pernah saat pulang mendekati lebaran, saya tidak mendapatkan tempat duduk. Terpaksa berdiri di dalam WC Kereta Api sambil menahan kantuk selama berjam-jam. Kadang keluar sebentar dari WC sambil mengintai “mana tau” ada kursi kosong atau lantai kosong untuk “nglencengne geger” dan tidur. Itu dulu, Semoga fasilitas transportasi yang sudah baik saat ini bertambah baik di masa mendatang.

Setelah diskusi harga tiket taksi dan
cocok, saya pun naik taksi menuju ke Hotel. Sore itu suasana bandara terlihat
tenang. Kelihatanya beberapa waktu lalu hujan cukup lebat. Udara masih terasa
sejuk dan segar. Jalan di sekitar Bandara masih basah. Kata sopir sekitar dua
jam lalu baru saja hujan. Kebetulan sopir nya ramah, dan suka ngobrol. Sepanjang perjalanan, saya mengobrol dengan
nya seputar keluarga, tanya istri, anak dan riwayat hidup nya. Karena pola
obrolannya “gaya terminal”, menjadi terlihat sangat akrab. Ini persis obrolan
kekeluargaan yang sering ditemukan ketika saya pulang di kampung halaman.
Biasanya ketika bertemu dengan orang tua, saudara-saudara saya, yang ditanyakan
bukan persoalan kerja dimana dan sudah punya gaji berapa, bukan itu. biasanya
mereka tanya tentang keadaan keluarga, istri anak, dan saudara-saudaranya.
Pertama yang saya tanyakan tentang
statusnya, apakah sudah menikah atau belum. Sambil bergurau, saya memberi saran
agar cepat menikah, sebab khawatir keburu kiamat. Sang supir tertawa
mendengarnya, saya pun ikut tertawa. Lalu dengan kalimat yang terlihat lugu
tapi memembuat saya kurang begitu yakin ketika dia menjawab bahwa dia sudah
menikah dan mempunyai tiga orang istri.
“Apa…?, ente punya tiga istri?” saya
bertanya dan ingin menyakinkan jawaban tersebut bergurau atau memang
benar-benar serius. Setelah melakukan berbagai pertanyaan pendukung lainya, dia
pun menyakinkan kepadaku bahwa istri nya ada tiga orang dan anak ada lima.
Semua masih hidup, dan akur-akur saja.
Saya tersenyum mendengar cerita pak supir
taksi tersebut. Saya jadi ingat kisah teman saya ketika kami melakukan
perjalanan keliling pulau Jawa dengan mobil Fortuner miliknya. Ketika di Jalan
Tol menuju Pesantren Buntet Cirebon, dia mengutarakan ingin “wayuh” atau
berpoligami. Sebab menurutnya, jika ukuran harta dia sudah mencukupi kebutuhan
untuk berpoligami, bukan hanya dua, tapi empat pun bisa mencukupi kebutuhan
hidup pasangan jika berpoligami nanti.
“Kenapa ingin poligami mas” tanya ku
kepadanya.
“Saya iri dengan tukang bengkel di kampung
saya” jawabnya.
“ Memangnya kenapa” tanya ku lagi.
“Sebab dia hanya tukang bengkel di pinggir
jalan tapi bisa mempunyai dua istri. Dua-dua nya solehah. Istri pertama PNS dan
istri kedua Ibu Rumah Tangga. Keduanya akur. Saya jadi berfikir, kalau tukang
bengkel bisa “wayuh” masa saya tidak bisa” jawabnya sambil tertawa. Saya hanya nyengir
dan sedikit takjub dengan keberanian tukang bengkel tersebut.
Kembali lagi kepada supir taksi. Saya
kemudian menelusuri lebih mendalam tentang ilmu poligami. Sebab hal tidak
menutup kemungkinan bahwa lelaki yang berpoligami akan terjadi rawan konflik
pada persoalan-persoalan tertentu. Saya berfikir bahwa istri satu saja, kalau
pas marah membuat kepala “nyut-nyut”, apalagi istri tiga, apa tidak
“sutris!!!”. Supir taksi pun menjawab begini, “Mas, saya tidak merespon
istri-istri saya kalau lagi marah, paling saya tinggal pergi sebentar ke rumah
kawan, ngopi, ngerokok. Kira-kira sudah hilang marah nya, saya pun pulang.
Kalau masih marah lagi, saya pergi kerja”.
“Pernahkan kamu menampar istri mu” tanyaku
“Tidak pernah mas, pokok nya kalau lagi
marah, saya biarkan saja dan keluar rumah” katanya.
“Kamu kok berani poligami” tanyaku lagi.
“Saya pun tak tahu. pokok nya ketika saya
ingin menikah lagi, saya izin ke istri dan menikah. Sampai detik ini tidak ada
permasalahan. Saya yakin Allah tidak memberi beban di luar kemampuan hamba-nya”
jawabnya penuh dengan keyakinan.
Saya garuk-garuk kepala mendengar jawaban
sekaligus tausiah dari sopir taksi. Dunia memang penuh dengan keajaiban,
keunikan dan kadang juga mengejutkan. Sang supir taksi tidak hapal dalil nya,
tapi tahu artinya sudah cukup efektif jadi senjata untuk berpoligami.
Apakah anda ingin mencoba trik Supir Taksi dan
bengkel Honda di atas? Silahkan. Tapi saya tidak ikut bertanggungjawab, jika
terjadi putting beliung di rumah anda.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879