Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ngaji Bareng Supir Taksi



Rabu , 19 Juli 2023



Telah dibaca :  352

Jam 14.35 pesawat Lion Air take off menuju Pekanbaru. Saya mendapatkan Kursi bernomor 7B, jadi di posisi tengah; samping saya seorang bapak yang bekerja di dinas kota pekanbaru. Dia menceritakan perjalanan hidunya anjang lebar. Ternyata dia pernah tinggal di kota Selatanjang mulai lahir sampai Aliyah. Obrolanya menjadi sangat asik dan akrab. Disini saya merasakan arti penting solidaritas dan soliditas ketika sama-sama di perantauan. Padahal jika ketemu di Pekanbaru, belum tentu seakrab seperti ini. Sama seperti para jamaah haji atau para saudara kita yang bekerja di luar negeri, mereka berbeda suku, agama, logat bahasa, tapi merasa satu saudara karena ada persamaan satu tinggal wilayah satu kabupaten, satu provinsi dan satu bangsa yaitu Indonesia. Oh ya, sebelah samping kanan saya ada seorang ibu. Jika dilihat dari wajahnya, kira-kira berumur 50-an tahun ke atas. Orang nya cukup ramah, berjilbab dan punya wawasan cukup lumayan. Setelah beberapa kali ngobrol denganya, ternyata dia Pegawai Negeri di kota Pekanbaru.

Di Pesawat semua sibuk dengan dirinya sendiri. Kursi baris sebelah kanan, sepasang muda-muda guyon penuh dengan kemesraan. sebelahnya, seorang ibu yang selama perjalanan senantiasa membaca Al-Qur’an. Terlihat husu’ dan tidak memperdulikan tingkah laku sepasang pemuda-pemudi tadi. Di depan, ada seorang pemuda berambut gondrong asik menonton film barat melalui iPhone model 14 Pro Max.


Keheningan pesawat tiba-tiba dikagetkan oleh tangisan seorang bocah berumur sekitar 3 tahun. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya menangis. Tangisan yang sangat menyayat hati. Ayah nya menggendong dan sibuk menenangkan tangisanya. Dia berjalan mondar-mandir, kadang ke depan-kadang ke belakang. Namun, tidak juga mampu membuat buah hatinya terdiam. Berhenti sebentar, kemudian menangis lagi. Pramugari hanya bisa melihat dan tidak berani marah kepada nya saat ada himbauan para penumpang disuruh kembali ke tempat duduknya.

Sekitar jam 16.30 Pesawat sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim Riau. Saya mencari Taksi. Di depan pintu keluar, suara agen taksi memanggil dan menawarkan masing-masing taksi, seperti para calo bus di era jadul. Sekarang terminal bus sudah relatif aman, sudah tidak ada calo, atau paling tidak sudah kurang sangat banyak. Pola pembelian tiket model online sangat membantu memperminin calo berkeliaran di terminal bus. Hal yang sama juga di kereta api. Bahkan ini lebih rapi lagi, beli tiket online. Tempat nya bersih dan berkelas, para petugasnya cantik-cantik dan tidak kalah dengan pramugari pesawat. Ini berbeda pada zaman 2000-an saat saya pulang dari Banyuwangi menuju Banyumas. Tiket seperti kartu domino. Setiap berhenti stasiun, tiket di lubangi. Lebih tragis lagi, kadang tidak mendapatkan tempat duduk. Caranya tidur di bawah dengan beralaskan Koran yang sudah disiapkan sebelum naik Kereta Api. Resikonya dilangkahi para penumpang atau petugas Kereta Api. Rasa nya waktu itu biasa saja. kadang memang yang menyedihkan ketika petugas lewat dan sepatunya nginjak sebagian jari-jari kaki. Terasa sangat sakit. Pernah saat pulang mendekati lebaran, saya tidak mendapatkan tempat duduk. Terpaksa berdiri di dalam WC Kereta Api sambil menahan kantuk selama berjam-jam. Kadang keluar sebentar dari WC sambil mengintai “mana tau” ada kursi kosong atau lantai kosong untuk “nglencengne geger” dan tidur. Itu dulu, Semoga fasilitas transportasi yang sudah baik saat ini bertambah baik di masa mendatang.


Setelah diskusi harga tiket taksi dan cocok, saya pun naik taksi menuju ke Hotel. Sore itu suasana bandara terlihat tenang. Kelihatanya beberapa waktu lalu hujan cukup lebat. Udara masih terasa sejuk dan segar. Jalan di sekitar Bandara masih basah. Kata sopir sekitar dua jam lalu baru saja hujan. Kebetulan sopir nya ramah, dan suka ngobrol.  Sepanjang perjalanan, saya mengobrol dengan nya seputar keluarga, tanya istri, anak dan riwayat hidup nya. Karena pola obrolannya “gaya terminal”, menjadi terlihat sangat akrab. Ini persis obrolan kekeluargaan yang sering ditemukan ketika saya pulang di kampung halaman. Biasanya ketika bertemu dengan orang tua, saudara-saudara saya, yang ditanyakan bukan persoalan kerja dimana dan sudah punya gaji berapa, bukan itu. biasanya mereka tanya tentang keadaan keluarga, istri anak, dan saudara-saudaranya.

Pertama yang saya tanyakan tentang statusnya, apakah sudah menikah atau belum. Sambil bergurau, saya memberi saran agar cepat menikah, sebab khawatir keburu kiamat. Sang supir tertawa mendengarnya, saya pun ikut tertawa. Lalu dengan kalimat yang terlihat lugu tapi memembuat saya kurang begitu yakin ketika dia menjawab bahwa dia sudah menikah dan mempunyai tiga orang istri.

“Apa…?, ente punya tiga istri?” saya bertanya dan ingin menyakinkan jawaban tersebut bergurau atau memang benar-benar serius. Setelah melakukan berbagai pertanyaan pendukung lainya, dia pun menyakinkan kepadaku bahwa istri nya ada tiga orang dan anak ada lima. Semua masih hidup, dan akur-akur saja.

Saya tersenyum mendengar cerita pak supir taksi tersebut. Saya jadi ingat kisah teman saya ketika kami melakukan perjalanan keliling pulau Jawa dengan mobil Fortuner miliknya. Ketika di Jalan Tol menuju Pesantren Buntet Cirebon, dia mengutarakan ingin “wayuh” atau berpoligami. Sebab menurutnya, jika ukuran harta dia sudah mencukupi kebutuhan untuk berpoligami, bukan hanya dua, tapi empat pun bisa mencukupi kebutuhan hidup pasangan jika berpoligami nanti.

“Kenapa ingin poligami mas” tanya ku kepadanya.

“Saya iri dengan tukang bengkel di kampung saya” jawabnya.

“ Memangnya kenapa” tanya ku lagi.

“Sebab dia hanya tukang bengkel di pinggir jalan tapi bisa mempunyai dua istri. Dua-dua nya solehah. Istri pertama PNS dan istri kedua Ibu Rumah Tangga. Keduanya akur. Saya jadi berfikir, kalau tukang bengkel bisa “wayuh” masa saya tidak bisa” jawabnya sambil tertawa. Saya hanya nyengir dan sedikit takjub dengan keberanian tukang bengkel tersebut.

Kembali lagi kepada supir taksi. Saya kemudian menelusuri lebih mendalam tentang ilmu poligami. Sebab hal tidak menutup kemungkinan bahwa lelaki yang berpoligami akan terjadi rawan konflik pada persoalan-persoalan tertentu. Saya berfikir bahwa istri satu saja, kalau pas marah membuat kepala “nyut-nyut”, apalagi istri tiga, apa tidak “sutris!!!”. Supir taksi pun menjawab begini, “Mas, saya tidak merespon istri-istri saya kalau lagi marah, paling saya tinggal pergi sebentar ke rumah kawan, ngopi, ngerokok. Kira-kira sudah hilang marah nya, saya pun pulang. Kalau masih marah lagi, saya pergi kerja”.

“Pernahkan kamu menampar istri mu” tanyaku

“Tidak pernah mas, pokok nya kalau lagi marah, saya biarkan saja dan keluar rumah” katanya.

“Kamu kok berani poligami” tanyaku lagi.

“Saya pun tak tahu. pokok nya ketika saya ingin menikah lagi, saya izin ke istri dan menikah. Sampai detik ini tidak ada permasalahan. Saya yakin Allah tidak memberi beban di luar kemampuan hamba-nya” jawabnya penuh dengan keyakinan.

Saya garuk-garuk kepala mendengar jawaban sekaligus tausiah dari sopir taksi. Dunia memang penuh dengan keajaiban, keunikan dan kadang juga mengejutkan. Sang supir taksi tidak hapal dalil nya, tapi tahu artinya sudah cukup efektif jadi senjata untuk berpoligami.

Apakah anda ingin mencoba trik Supir Taksi dan bengkel Honda di atas? Silahkan. Tapi saya tidak ikut bertanggungjawab, jika terjadi putting beliung di rumah anda.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879