
Jam 07.17 saya menuju Bandara Sultan Syarif
Kasim. Agak Santai. Pesawat terbang seharusnya berangkat jam 08.50 bergeser
09.30. Saya ambil aplikasi Maxim. Di Sumatera, aplikasi ini cukup laris. Terutama
di Riau. Jika kota Medan, Maxim dan Grab bersaing. 50-50. Di daerah Jawa, kelihatannya
Grab masih mendominasi. Saya pernah tanya Maxim di Bandara Yogyakarta, mereka
bingung dan bertanya apa itu Maxim. Mungkin pasca pernikahan Luna Maya,
aplikasi Maxim di Jawa dan Bali semakin terkenal.
07.35 sudah sampai bandara. Saya lihat
aplikasi pembayaran. Rp. 31.000,00. Saya kasih Rp.41.000. Padahal sebenarnya
saya pelit banget. Namun pagi ini baik banget. Supir maxim tentu sangat senang
menerimanya. Dari mulutnya keluar doa-doa kebaikan untukku. Anda harus tahu,
bahwa doa adalah esensi dari ibadah kita. sholat yang kita kerjakan sebagai
ibadah pokok adalah rangkaian doa-doa yang sangat indah.
Ada alasan kebaikan saya di pagi ini. Selama
perjalanan kami berdua ngaji kehidupan. supir maxim yang bernama Alex ternyata
sedang menerapkan ilmu para mursyid atau guru tarikat tentang aturan kehidupan
dan aturan rezeki. Saya harus berterima kasih kepada nya karena telah memberikan
setetes ilmu kehidupan.
Sebagai seorang kepala keluarga, saat malam
hari tiba, ia selalu berfikir untuk mendapatkan rezeki di pagi hari. Ia memprediksi
akan mangkal di jalan ini dan jalan itu. Dengan harapan banyak penumpang. Berarti
banyak pemasukan. Tapi ketika pagi hari ia mangkal di tempat tersebut penumpang
pun tetap tidak ada. Ia terus berfikir kemungkinan-kemungkinan tempat yang memungkinkan
aplikasinya terjangkau dengan baik.
“Seorang suami setiap hari kerjanya mikir
terus pak, jadi sering pusing” katanya kepada ku.
“Benar pak Alex, ma’lum suami sebagai
kepala keluarga. Seluruh kepala di keluarga ditaruh di pikiran suami, jadi
pantas saja pusing” jawab ku tersenyum. Dia malah tertawa.
Manusia memang selalu saling pandang-memandang
tentang kehidupan orang lain. seolah-olah mereka lebih nikmat hidupnya daripada
kita. Padahal, mereka juga lagi berfikir sama dengan kita.
“Artinya kita memang harus mensyukuri
nikmat yang telah diberikan Allah ya” tanya dia kepada ku.
Saya membenarkan jawabannya. Meskipun saya
belum bisa serratus persen menyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Hari-hari
masih sering mengeluh. Seolah-olah hanya kita satu-satunya yang sedang
menderita di dunia. Kadang otak kita “mengkerut”saat berbicara tentang
penderitaan. Sehingga sulit melihat kenikmatan Allah Yang Maha Luas. Kita mungkin
mudah panas pikirannya saat melihat kenikmatan orang lain. Padahal bisa jadi
kenikmatan yang dicurahkan oleh Allah kepada kita jauh lebih besar dari mereka.
Pak Alex bisa jadi lebih besar rezekinya. Ia
supir, tapi ia punya mobil. Saya mobil tidak punya, ada kendaraan roda dua merk
Yamaha keluaran tahun 2008.
Namun kita sering melihat hanya satu sisi
saja. Jika punya mobil menunjukan kemewahan dan kemulyaan. Padahal semakin
banyak mobil dan asesoris dunia, semakin besar pikiran kita dihabiskan untuk
benda-benda tersebut. harus bayar pajak, beli bensin, oli, solar, rusak bawa ke
bengkel, bayarnya mahal, harus buat garasi yang representatif, juga harus
memasang CCTV. Jadi semakin banyak keinginan, manusia semakin diperbudak oleh
keinginan tersebut.
Dalam diskusi ini pak Alex nampaknya mulai
memahami makna tentang kehidupan. Ia telah menyadari bahwa memang Tuhan telah
menjadikan nya sebagai supir untuk mendapatkan rezeki-Nya. Ia juga menyakini
bahwa melalui rezeki menjadi supir, bisa mendapatkan keberkahan hidup.
Sungguh luarbiasa. Ternyata seorang supir
sangat menyakini makna keberkahan. Suatu ajaran yang mulai luntur di
tengah-tengah masyarakat. Padahal, orang tua kita sangat menyakini makna
keberkahan hidup tadi. Sebab keberkahan ukuran bukan banyak harta atau ilmu
pengetahuan, tapi ukuran keyakinan atas keputusan Allah yang terbaik kepada
hamba-hamba-Nya. Keyakinan model tersebut yang menjadi tenang dalam menjalani
kehidupan.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872