Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ngaji Kehidupan Bersama Maxim



Kamis , 22 Mei 2025



Telah dibaca :  409

Jam 07.17 saya menuju Bandara Sultan Syarif Kasim. Agak Santai. Pesawat terbang seharusnya berangkat jam 08.50 bergeser 09.30. Saya ambil aplikasi Maxim. Di Sumatera, aplikasi ini cukup laris. Terutama di Riau. Jika kota Medan, Maxim dan Grab bersaing. 50-50. Di daerah Jawa, kelihatannya Grab masih mendominasi. Saya pernah tanya Maxim di Bandara Yogyakarta, mereka bingung dan bertanya apa itu Maxim. Mungkin pasca pernikahan Luna Maya, aplikasi Maxim di Jawa dan Bali semakin terkenal.

07.35 sudah sampai bandara. Saya lihat aplikasi pembayaran. Rp. 31.000,00. Saya kasih Rp.41.000. Padahal sebenarnya saya pelit banget. Namun pagi ini baik banget. Supir maxim tentu sangat senang menerimanya. Dari mulutnya keluar doa-doa kebaikan untukku. Anda harus tahu, bahwa doa adalah esensi dari ibadah kita. sholat yang kita kerjakan sebagai ibadah pokok adalah rangkaian doa-doa yang sangat indah.

Ada alasan kebaikan saya di pagi ini. Selama perjalanan kami berdua ngaji kehidupan. supir maxim yang bernama Alex ternyata sedang menerapkan ilmu para mursyid atau guru tarikat tentang aturan kehidupan dan aturan rezeki. Saya harus berterima kasih kepada nya karena telah memberikan setetes ilmu kehidupan.

Sebagai seorang kepala keluarga, saat malam hari tiba, ia selalu berfikir untuk mendapatkan rezeki di pagi hari. Ia memprediksi akan mangkal di jalan ini dan jalan itu. Dengan harapan banyak penumpang. Berarti banyak pemasukan. Tapi ketika pagi hari ia mangkal di tempat tersebut penumpang pun tetap tidak ada. Ia terus berfikir kemungkinan-kemungkinan tempat yang memungkinkan aplikasinya terjangkau dengan baik.

“Seorang suami setiap hari kerjanya mikir terus pak, jadi sering pusing” katanya kepada ku.

“Benar pak Alex, ma’lum suami sebagai kepala keluarga. Seluruh kepala di keluarga ditaruh di pikiran suami, jadi pantas saja pusing” jawab ku tersenyum. Dia malah tertawa.

Manusia memang selalu saling pandang-memandang tentang kehidupan orang lain. seolah-olah mereka lebih nikmat hidupnya daripada kita. Padahal, mereka juga lagi berfikir sama dengan kita.

“Artinya kita memang harus mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah ya” tanya dia kepada ku.

Saya membenarkan jawabannya. Meskipun saya belum bisa serratus persen menyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Hari-hari masih sering mengeluh. Seolah-olah hanya kita satu-satunya yang sedang menderita di dunia. Kadang otak kita “mengkerut”saat berbicara tentang penderitaan. Sehingga sulit melihat kenikmatan Allah Yang Maha Luas. Kita mungkin mudah panas pikirannya saat melihat kenikmatan orang lain. Padahal bisa jadi kenikmatan yang dicurahkan oleh Allah kepada kita jauh lebih besar dari mereka.

Pak Alex bisa jadi lebih besar rezekinya. Ia supir, tapi ia punya mobil. Saya mobil tidak punya, ada kendaraan roda dua merk Yamaha keluaran tahun 2008.

Namun kita sering melihat hanya satu sisi saja. Jika punya mobil menunjukan kemewahan dan kemulyaan. Padahal semakin banyak mobil dan asesoris dunia, semakin besar pikiran kita dihabiskan untuk benda-benda tersebut. harus bayar pajak, beli bensin, oli, solar, rusak bawa ke bengkel, bayarnya mahal, harus buat garasi yang representatif, juga harus memasang CCTV. Jadi semakin banyak keinginan, manusia semakin diperbudak oleh keinginan tersebut.

Dalam diskusi ini pak Alex nampaknya mulai memahami makna tentang kehidupan. Ia telah menyadari bahwa memang Tuhan telah menjadikan nya sebagai supir untuk mendapatkan rezeki-Nya. Ia juga menyakini bahwa melalui rezeki menjadi supir, bisa mendapatkan keberkahan hidup.

Sungguh luarbiasa. Ternyata seorang supir sangat menyakini makna keberkahan. Suatu ajaran yang mulai luntur di tengah-tengah masyarakat. Padahal, orang tua kita sangat menyakini makna keberkahan hidup tadi. Sebab keberkahan ukuran bukan banyak harta atau ilmu pengetahuan, tapi ukuran keyakinan atas keputusan Allah yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya. Keyakinan model tersebut yang menjadi tenang dalam menjalani kehidupan.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872