Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ngobrol Sufistik, Penutup Malah Soal Politik



Senin , 08 Mei 2023



Telah dibaca :  321

Walaupun Idul Fitri sudah lama berlalu, tapi silaturahim dan halal bi halal tetap berlanjut. Kuncinya sederhana, jika masih ada kueh, berarti lebaran masih berlanjut. Tidak peduli bulan sawwal habis. Apalagi sebagian kawan-kawan saya yang terlihat sholeh menggunakan prinsip Nabi, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah memuliakan tamu”.  Gara-gara hadist ini dikirim lewat WA, saya tidak jadi menutup Pintu. Khawatir dituduh keimanan saya kepada Allah kurang berkualitas.

Jika sudah kumpul, yang paling nikmat bukan Kueh atau Nasi Bungkus nya, tapi diskusi nya. Jika diurut kenikmatan pertemuan saya dengan teman-teman sebagai berikut; diskusi,kueh, kopi, kueh, nasi bungkus ( bacanya menggunakan deret tulisan arab). Makanya setelah selesai makan kueh, kami baru serius diskusi. Tema nya tentang sufistik dan politik. Sebuah teman yang cukup berat. Tapi saya yakin mereka adalah para cendekiawan muslim. Meskipun tidak selevel Nurcholish Madjid atau Azyumardi Azra yang memang benar-benar cendekiawan. Teman-teman saya menggunakan pendekatan terminologi bahasa Jawa, “cendek (pendek) iawan” yang arti nya perkumpulan orang-orang pendek. Hanya saudara Syukron Darsyah yang tubuh nya sedikit “modod” atau agak tinggi. Lainya 11-12 dengan saya, pendek-pendek.

Saudara Basuki menjadi moderator. Dia magister Timur-Tengah ( Alumni Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, tapi SD  di Jawa Tengah disingkat Timur-Tengah). Mempertanyakan tentang hakikat Waliyulloh. Saya kaget. Ini kajian tidak sembarangan. Ini tidak bisa dibahas yang literature bacaanya “cekak”, atau hanya sebatas ahli ibadah atau berperilaku layaknya seorang paranormal yang omonganya nasib-nasiban. Nasib kadang benar, kadang salah. Atau punya kekuaatan magis seperti syamsudin si tukang debus dan si pesulap rambut merah. Sebab menurut ahli ‘arif billah, ciri-ciri Wailyulloh tidak model seperti ini.

Saya tidak menjawab. Saya mempersilahkan Kiai Mungidan al-hafidz untuk menjawab. Ma’lum kami harus menghormatinya, selain dia hafidz atau hapal al-qur’an beserta tafsirnya, juga satu-satunya dari kami yang jebolan pendidikan Barat  (bukan di Harvard university atau Princeton university, tapi di Pesantren Al-Azhar Jawa Barat).  Dengan berat hati, dia sedikit memberi komentar:

“Yang tahu wali hanya wali , لا يعرف الوالي الا الوالي . Ketika ada orang membahas tentang kewaliyan seseorang, hakikatnya dia sedang membahas dirinya sendiri. jadi, mohon maaf saya tidak mampu”.

Diskusi hampir saja gagal. Narasumber langsung menjawab to the point. Apalagi merasa bukan wali, jadi merasa su’ul adab apabila membahas yang bukan pada bidang nya. Istilah kerennya, the right man on the right place. Bukan wali kok berbicara “bergaya” wali. Untuk saja ada Dr. Chanif mampu melembutkan hati kiai Mungidan dengan jampi-jampi sufistik yang diperoleh waktu di Timur-Tengah ( sekali lagi, istilah timur untuk nyantrinya, Tengah tempat kelahirannya). Melalui kelihaian olah kata, doktor muda yang hampir saja mendapatkan beasiswa 1000 doktor (dia sendiri nomor 1001, jadi gagal dengan sendirinya) dia pun membuat pertanyaan status kewalian atas dasar al-Qur’an.

“Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Aulia atau para kekasihnya Allah itu tidak takut dan tidak sedih, ini maksud nya apa kiai?” tanya Dr Chanifuddin.

Kiai Mungidan diam. Mulutnya masih asyik menikmati rokok gudang-garam. Setelah menyelesaikan aktivitas “penyedotan” dan mengeluarkan asap dengan pelan-pelan tapi pasti, kiai Mungidan menjawab:

“Saya kira ini setandar kewalian tingkat tinggi. Ketika seseorang mampu merealisasikan konsep “berani” dan “senantiasa bahagia”, maka dia bukan hanya mampu menempatkan diri atas kewalian spiritual, tapi juga bisa mengantarkan kewalian material?”.

“Maksud nya”, tanya basuki

“Begini, Allah memberi bekal dua untuk menjadi kekasih-nya “tidak takut” dan “tidak khawatir”. Dua kondisi batiniah seseorang yang sudah benar-benar “mesra” dengan Tuhan nya, selalu merasa nyaman dalam kondisi apapun. Ini digambarkan oleh Robi’ah Adawiyah saat disuruh milih masuk Surga atau Neraka, dia dengan tegas menjawab bahwa masuk neraka lebih menyenangkan ketimbang pada dirinya putus hubungan dengan kekasih teragungnya yaitu Allah s.w.t”.

“Disisi lain, orang yang sudah bersandar kepada Tuhan, lalu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, orang ini menjadi manusia yang sangat produktif sekali. hidup optimis, bukan pesimis. Kenapa? Karena setiap karya adalah kumpulan mahabah. Semakin besar maha karya untuk kehidupan yang memberi manfaat kepada masyarakat, maka semakin jelas kecintaan kepada-Nya dalam mewujudkan sinar-sinar kasih sayang kepada alam semesta”.

“ Berarti waliyulloh bukan identik keajaiban-keajaiban pengalaman spritiual seperti mampu melihat kejadian masa depan, atau mampu melihat hal-hal yang bersifat ghoib dan sejenisnya” tanya basuki

Kiai Abdul Rauf yang sejak tadi menjadi pendengar setia tersenyum. kemudian dia berkata:

“ Sekali lagi, Waliyulloh bukan paranormal. Dia mampu melihat nasib orang lain, tapi tidak bisa melihat nasib dirinya sendiri. Orang-orang sering ketipu di sini. Sering orang merasa terpesona atas berbagai peristiwa spiritual melalui pengalaman-pengalaman yang unik, dan terkesan sakral menurutnya. Lalu semua ini dianggap sebagai bagian dari ciri-ciri kewalian”.

“Toh jika ada orang menuju pada tingkatan menuju kewalian dan mempunyai karomah-karomah yang diberikan oleh Allah kepada nya sebenarnya itu bagian dari luapan mahabah yang tinggi kepada-Nya. Lalu lahir apa yang sering disebut “karomah” tadi. Itupun sebenarnya masih tahap elementari atau dasar saat cinta sedang mengalami ketingkat mahabah tinggi dan bisa jadi belum “mendep” atau belum tenang. Bagai air di dalam gelas. Apa jadinya jika air dalam gelas terjadi goncangan, dan kemudian tumpah airnya, maka gelas pun menjadi kosong. Saya kira, kisah Barseso dalam Kitab Duratunnasihin adalah sebagai bagian terkecil dari contoh air yang tumpah dari gelas kewalian. Lalu dicabut oleh Allah s.w.t”.

Sahabat Syukron Darsyah “nglutik” tangan ku. Dia berharap saya ikut urun rembug dalam seminar lintas alam. Saya mbatin saja. Jika disuruh membahas “wali murid” atau “wali santri” saya siap menjawab tentang suka duka nya ketika belum membayar uang SPP atau iuran pondok. Tapi jika tidak menjawab, kok terlihat kurang intelektual dan terlalu “ndesit” atau “ndeso” banget. Lalu dengan bergaya sholeh, saya pun menjawab dengan pelan dan pasti. Begini jawabanku:

“Hujatul Islam telah mengatakan bahwa menemukan Jarum Pentol di Gurun Pasir jauh lebih mudah daripada menemukan seorang yang berstatus sebagai waliyulloh. Jika ada orang yang status nya masih diragukan kok ngomong kewalian seseorang, mungkin dia sudah merasa menjadi wali”.

Semua pun tertawa mendengar ucapan saya. Namun tiba-tiba suasana kembali hening. Mereka kelihatanya masih menunggu lanjutan syarah kewalian dariku. Saya pun memahaminya, lalu saya melanjutkan syarah kewalian sebagai berikut:

Ibnu abbas ra mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda, “ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seseorang maka ia akan menjadi wali Allah yaitu pertama, pandai mengendalikan perasaannya di saat marah; kedua wara’; ketiga berbudi luhur kepada orang lain”.

“Itu teori menjadi wali. Itu sebabnya jika yang hadir di majelis ini mampu meredam marah saat diomeli istri, dibentak-bentak oleh nya dan anda bisa mengerem marah seperti mudah nya air kembali dingin saat dipanaskan, maka anda calon wali, yaitu berkah karena dibentak-bentak istri. Jadi, bersyukurlah jika mempunyai istri cerewet, suka ngompreng, dan marah-marah. Itu cara Tuhan mengangkat derajat anda menjadi kekasih Allah”.

Semua yang hadir di ruangan tersebut saling memandang. Lalu mereka pun kembali tertawa. Bahkan ada yang memukul pundak temannya, saking tidak kuat menahan tawa. Bisa jadi, itu pengalaman mereka dengan istri nya. ternyata kenangan masa pahit masa lalu kadang menjadi jalan untuk bisa bahagia di masa mendatang.

Senyum-senyum politik

Sahabat Chanifudin kemudian memecah kesunyian saat tertawa telah berhenti. Menurutnya membahas hal-hal yang sifatnya spiritual kurang menarik. Kurang ada greget nya. Sebab walaupun begitu banyak pendapat, ujung-ujungnya sama juga. Jadi dia pun meminta agar seminar ini ditambah materi nya yaitu persoalan politik.

Dia pun mengajukan pertanyaan begini:

“Politik yang baik seperti apa sih”

Ada beberapa jawaban. Kiai Mungidan dan kiai Rauf menjawab dengan definisi-definisi ma’lum sebagaimana yang tertulis dalam kitab-kitab klasik: sholeh, cerdas, prosesional dan sejenisnya. Namun jawaban-jawaban tersebut yang diambil dari berbagai kitab klasik terlihat masuk akal, tapi sebenarnya bias ketika dijadikan ukuran-ukuran operasional. Jika ukuran sholeh dalam hal ibadah, maka akan terjadi ambigiuitas bahwa kesholehan kadang hanya sebatas formalitas, tapi salah dalam subtansional. Ketika kesholehan dibuat semacam kriteria perilaku kebaikan semata, maka seorang pemimpin tidak ada yang baik. Setiap orang punya ukuran-ukuran subyektif dengan mengajukan beberapa bukti otentik untuk menyangkalnya. Sehebat apapun seorang pemimpin selalu saja, sisi-sisi negatif pasti ada. Dari sini sebenarnya makna manusia sebagai makhluk allah yang tidak lepas dari salah.

“Syeikh Imam, bagaimana pendapat antum” kata chanifudin dan disambut tawa oleh yang lain, sebab “cengkok” kata “antum” kurang syar’i, mungkin karena tidak terbiasa mengucapkannya.

Saya menjawab:

“Politik sebenarnya terletak pada senyum nya”

Semua diam. Mereka kurang paham. Saya tersenyum, dan membiarkan mereka berpandang-pandangan sambil menunggu jawaban lanjutan.

Saya pun melanjutkan jawabanya:

“Senyum politik ada beberapa macam; ada senyum simpul, senyum sampul, senyum sampel dan senyum sumpel”.

Semua mendengar tertawa. Mereka semakin serius mendengarkan fatwa dariku.

“Senyum simpul adalah filosofis seorang politikus yang sudah matang dalam berpolitik. Orang-orang jenis ini adalah orang yang mampu melihat perbedaan bagian dari kewajaran. Dia menyadari bahwa membangun suatu bangsa tidak terlepas dari perbedaan. Sehingga saat dia disakiti atau dikhianati, dia tetap bahagia atas segala resiko. Karena bahasa khianat dan kerjasama adalah bahasa politik seperti kita memasukan butang di baju, saat kita memasukan berarti saat itu kita telah keluar. Tidak ada keabadian. Kepentingan adalah adalah ruh politik. Dan kepentingan tertinggi adalah untuk memanusiakan manusia”.

“Kedua adalah senyum sampul, adalah wujud dari karakteristik dari setiap ideologi dan perilaku para politikus. Benar bahwa kita sering dinasehati oleh orang-orang bijak, “Jangan membaca sebatas pada sampul buku”. Namun sampul sebagai bagian dari referensi untuk melihat karakter dari ideologi dan cita-cita yang diinginkan. Walaupun memang benar, bahwa kita harus bisa membacanya dengan baik. Sebab kenyataannya memang saat ini demikian. Banyak orang yang mempunyai sampul bagus ternyata tidak sesuai dengan isinya”.

“Ketiga senyum sampel adalah perilaku politik yang selalu menggunakan simbol-simbol dalam mengambil keputusan. Politik adalah dunia majaz. Seorang politikus harus bisa memahami sosio-geografis serta budaya yang syarat akan makna-makna di dalam nya. Jika tepat menggunakan, maka menjadi menjadi berkah bagi dirinya. Tapi jika kurang tepat menggunakan, maka tafsir-tafsir negatif yang akan berpengaruh kepada masyarakat yang memahami makna-makna tersebut. hal ini karena bangsa ini atau masyarakat ini hidup dari budaya yang beragam dan mengandung nilai-nilai kebaikan yang hidup di tengah-tengah masyarakat”

Semua mendengarkan dan manggut-manggut. Bisa jadi mereka menikmati paparan saya atau sebatas menghargai jawaban yang panjang lebar. Tapi apapun alasannya, saya bersyukur semua bisa menerima secara taken off granted.

Sahabat Basuki yang paling rajin mencatat, ternyata masih ada yang ketinggalan penjelasanya. Tiba-tiba dia ngacung tangan nya:

“Oh ya, untuk “senyum sumpel” belum dijelaskan pak” katannya.

Saya pun menjawab asal-asalan:

“Sesuai dengan namanya, “senyum sumpel”, bahwa dia bisa “tersenyum” jika “disumpel”.

Semua tertawa. Kali ini mungkin tertawa yang paling heboh sejak pertama diskusi. Saya sendiri bersyukur, bisa membahagiakan mereka di saat keadaan Meranti belum stabil dan satu sisi istri dan anak-anak nya minta belikan beras tapi belum bisa membelinya. Mari kita berikhtiar sama agar hari-hari yang akan datang, daerah yang kita tempati bisa semakin lebih baik dan memberi manfaat bagi masyarakat luas. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2882