
Walaupun Idul Fitri sudah lama berlalu,
tapi silaturahim dan halal bi halal tetap berlanjut. Kuncinya sederhana,
jika masih ada kueh, berarti lebaran masih berlanjut. Tidak peduli bulan sawwal
habis. Apalagi sebagian kawan-kawan saya yang terlihat sholeh menggunakan
prinsip Nabi, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, hendaklah
memuliakan tamu”. Gara-gara hadist ini
dikirim lewat WA, saya tidak jadi menutup Pintu. Khawatir dituduh keimanan saya
kepada Allah kurang berkualitas.
Jika sudah kumpul, yang paling nikmat bukan
Kueh atau Nasi Bungkus nya, tapi diskusi nya. Jika diurut kenikmatan pertemuan
saya dengan teman-teman sebagai berikut; diskusi,kueh, kopi, kueh, nasi bungkus
( bacanya menggunakan deret tulisan arab). Makanya setelah selesai makan kueh,
kami baru serius diskusi. Tema nya tentang sufistik dan politik. Sebuah teman
yang cukup berat. Tapi saya yakin mereka adalah para cendekiawan muslim. Meskipun
tidak selevel Nurcholish Madjid atau Azyumardi Azra yang memang benar-benar
cendekiawan. Teman-teman saya menggunakan pendekatan terminologi bahasa Jawa, “cendek
(pendek) iawan” yang arti nya perkumpulan orang-orang pendek. Hanya saudara Syukron
Darsyah yang tubuh nya sedikit “modod” atau agak tinggi. Lainya 11-12
dengan saya, pendek-pendek.
Saudara Basuki menjadi moderator. Dia
magister Timur-Tengah ( Alumni Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, tapi SD di Jawa Tengah disingkat Timur-Tengah).
Mempertanyakan tentang hakikat Waliyulloh. Saya kaget. Ini kajian tidak
sembarangan. Ini tidak bisa dibahas yang literature bacaanya “cekak”,
atau hanya sebatas ahli ibadah atau berperilaku layaknya seorang paranormal
yang omonganya nasib-nasiban. Nasib kadang benar, kadang salah. Atau punya
kekuaatan magis seperti syamsudin si tukang debus dan si pesulap rambut
merah. Sebab menurut ahli ‘arif billah, ciri-ciri Wailyulloh tidak model
seperti ini.
Saya tidak menjawab. Saya mempersilahkan Kiai
Mungidan al-hafidz untuk menjawab. Ma’lum kami harus menghormatinya, selain dia
hafidz atau hapal al-qur’an beserta tafsirnya, juga satu-satunya dari kami yang
jebolan pendidikan Barat (bukan di Harvard
university atau Princeton university, tapi di Pesantren Al-Azhar Jawa
Barat). Dengan berat hati, dia sedikit
memberi komentar:
“Yang tahu wali hanya wali , لا يعرف الوالي الا الوالي . Ketika ada orang
membahas tentang kewaliyan seseorang, hakikatnya dia sedang membahas dirinya
sendiri. jadi, mohon maaf saya tidak mampu”.
Diskusi hampir saja gagal. Narasumber
langsung menjawab to the point. Apalagi merasa bukan wali, jadi merasa su’ul
adab apabila membahas yang bukan pada bidang nya. Istilah kerennya, the
right man on the right place. Bukan wali kok berbicara “bergaya” wali. Untuk
saja ada Dr. Chanif mampu melembutkan hati kiai Mungidan dengan jampi-jampi
sufistik yang diperoleh waktu di Timur-Tengah ( sekali lagi, istilah timur
untuk nyantrinya, Tengah tempat kelahirannya). Melalui kelihaian olah kata, doktor
muda yang hampir saja mendapatkan beasiswa 1000 doktor (dia sendiri nomor 1001,
jadi gagal dengan sendirinya) dia pun membuat pertanyaan status kewalian atas
dasar al-Qur’an.
“Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Aulia
atau para kekasihnya Allah itu tidak takut dan tidak sedih, ini maksud nya apa
kiai?” tanya Dr Chanifuddin.
Kiai Mungidan diam. Mulutnya masih asyik
menikmati rokok gudang-garam. Setelah menyelesaikan aktivitas “penyedotan” dan
mengeluarkan asap dengan pelan-pelan tapi pasti, kiai Mungidan menjawab:
“Saya kira ini setandar kewalian tingkat
tinggi. Ketika seseorang mampu merealisasikan konsep “berani” dan “senantiasa
bahagia”, maka dia bukan hanya mampu menempatkan diri atas kewalian spiritual,
tapi juga bisa mengantarkan kewalian material?”.
“Maksud nya”, tanya basuki
“Begini, Allah memberi bekal dua untuk
menjadi kekasih-nya “tidak takut” dan “tidak khawatir”. Dua kondisi batiniah
seseorang yang sudah benar-benar “mesra” dengan Tuhan nya, selalu merasa nyaman
dalam kondisi apapun. Ini digambarkan oleh Robi’ah Adawiyah saat disuruh milih
masuk Surga atau Neraka, dia dengan tegas menjawab bahwa masuk neraka lebih
menyenangkan ketimbang pada dirinya putus hubungan dengan kekasih teragungnya
yaitu Allah s.w.t”.
“Disisi lain, orang yang sudah bersandar
kepada Tuhan, lalu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, orang ini
menjadi manusia yang sangat produktif sekali. hidup optimis, bukan pesimis. Kenapa?
Karena setiap karya adalah kumpulan mahabah. Semakin besar maha karya untuk
kehidupan yang memberi manfaat kepada masyarakat, maka semakin jelas kecintaan
kepada-Nya dalam mewujudkan sinar-sinar kasih sayang kepada alam semesta”.
“ Berarti waliyulloh bukan identik keajaiban-keajaiban
pengalaman spritiual seperti mampu melihat kejadian masa depan, atau mampu
melihat hal-hal yang bersifat ghoib dan sejenisnya” tanya basuki
Kiai Abdul Rauf yang sejak tadi menjadi
pendengar setia tersenyum. kemudian dia berkata:
“ Sekali lagi, Waliyulloh bukan paranormal.
Dia mampu melihat nasib orang lain, tapi tidak bisa melihat nasib dirinya
sendiri. Orang-orang sering ketipu di sini. Sering orang merasa terpesona atas
berbagai peristiwa spiritual melalui pengalaman-pengalaman yang unik, dan
terkesan sakral menurutnya. Lalu semua ini dianggap sebagai bagian dari
ciri-ciri kewalian”.
“Toh jika ada orang menuju pada tingkatan
menuju kewalian dan mempunyai karomah-karomah yang diberikan oleh Allah kepada
nya sebenarnya itu bagian dari luapan mahabah yang tinggi kepada-Nya. Lalu
lahir apa yang sering disebut “karomah” tadi. Itupun sebenarnya masih tahap elementari
atau dasar saat cinta sedang mengalami ketingkat mahabah tinggi dan bisa jadi
belum “mendep” atau belum tenang. Bagai air di dalam gelas. Apa jadinya
jika air dalam gelas terjadi goncangan, dan kemudian tumpah airnya, maka gelas
pun menjadi kosong. Saya kira, kisah Barseso dalam Kitab Duratunnasihin adalah
sebagai bagian terkecil dari contoh air yang tumpah dari gelas kewalian. Lalu dicabut
oleh Allah s.w.t”.
Sahabat Syukron Darsyah “nglutik”
tangan ku. Dia berharap saya ikut urun rembug dalam seminar lintas alam. Saya mbatin
saja. Jika disuruh membahas “wali murid” atau “wali santri” saya siap menjawab
tentang suka duka nya ketika belum membayar uang SPP atau iuran pondok. Tapi jika
tidak menjawab, kok terlihat kurang intelektual dan terlalu “ndesit” atau “ndeso”
banget. Lalu dengan bergaya sholeh, saya pun menjawab dengan pelan dan pasti. Begini
jawabanku:
“Hujatul Islam telah mengatakan bahwa
menemukan Jarum Pentol di Gurun Pasir jauh lebih mudah daripada menemukan
seorang yang berstatus sebagai waliyulloh. Jika ada orang yang status nya masih
diragukan kok ngomong kewalian seseorang, mungkin dia sudah merasa menjadi wali”.
Semua pun tertawa mendengar ucapan saya. Namun
tiba-tiba suasana kembali hening. Mereka kelihatanya masih menunggu lanjutan
syarah kewalian dariku. Saya pun memahaminya, lalu saya melanjutkan syarah
kewalian sebagai berikut:
Ibnu abbas ra mengatakan bahwa Rasulullah
s.a.w bersabda, “ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seseorang maka ia akan
menjadi wali Allah yaitu pertama, pandai mengendalikan perasaannya di saat
marah; kedua wara’; ketiga berbudi luhur kepada orang lain”.
“Itu teori menjadi wali. Itu sebabnya jika
yang hadir di majelis ini mampu meredam marah saat diomeli istri,
dibentak-bentak oleh nya dan anda bisa mengerem marah seperti mudah nya air
kembali dingin saat dipanaskan, maka anda calon wali, yaitu berkah karena
dibentak-bentak istri. Jadi, bersyukurlah jika mempunyai istri cerewet, suka
ngompreng, dan marah-marah. Itu cara Tuhan mengangkat derajat anda menjadi
kekasih Allah”.
Semua yang hadir di ruangan tersebut saling
memandang. Lalu mereka pun kembali tertawa. Bahkan ada yang memukul pundak
temannya, saking tidak kuat menahan tawa. Bisa jadi, itu pengalaman mereka dengan
istri nya. ternyata kenangan masa pahit masa lalu kadang menjadi jalan untuk
bisa bahagia di masa mendatang.
Senyum-senyum politik
Sahabat Chanifudin kemudian memecah
kesunyian saat tertawa telah berhenti. Menurutnya membahas hal-hal yang
sifatnya spiritual kurang menarik. Kurang ada greget nya. Sebab walaupun begitu
banyak pendapat, ujung-ujungnya sama juga. Jadi dia pun meminta agar seminar
ini ditambah materi nya yaitu persoalan politik.
Dia pun mengajukan pertanyaan begini:
“Politik yang baik seperti apa sih”
Ada beberapa jawaban. Kiai Mungidan dan
kiai Rauf menjawab dengan definisi-definisi ma’lum sebagaimana yang tertulis
dalam kitab-kitab klasik: sholeh, cerdas, prosesional dan sejenisnya. Namun jawaban-jawaban
tersebut yang diambil dari berbagai kitab klasik terlihat masuk akal, tapi
sebenarnya bias ketika dijadikan ukuran-ukuran operasional. Jika ukuran sholeh
dalam hal ibadah, maka akan terjadi ambigiuitas bahwa kesholehan kadang hanya
sebatas formalitas, tapi salah dalam subtansional. Ketika kesholehan dibuat
semacam kriteria perilaku kebaikan semata, maka seorang pemimpin tidak ada yang
baik. Setiap orang punya ukuran-ukuran subyektif dengan mengajukan beberapa
bukti otentik untuk menyangkalnya. Sehebat apapun seorang pemimpin selalu saja,
sisi-sisi negatif pasti ada. Dari sini sebenarnya makna manusia sebagai makhluk
allah yang tidak lepas dari salah.
“Syeikh Imam, bagaimana pendapat antum” kata
chanifudin dan disambut tawa oleh yang lain, sebab “cengkok” kata “antum”
kurang syar’i, mungkin karena tidak terbiasa mengucapkannya.
Saya menjawab:
“Politik sebenarnya terletak pada senyum
nya”
Semua diam. Mereka kurang paham. Saya tersenyum,
dan membiarkan mereka berpandang-pandangan sambil menunggu jawaban lanjutan.
Saya pun melanjutkan jawabanya:
“Senyum politik ada beberapa macam; ada
senyum simpul, senyum sampul, senyum sampel dan senyum sumpel”.
Semua mendengar tertawa. Mereka semakin
serius mendengarkan fatwa dariku.
“Senyum simpul adalah filosofis seorang
politikus yang sudah matang dalam berpolitik. Orang-orang jenis ini adalah orang
yang mampu melihat perbedaan bagian dari kewajaran. Dia menyadari bahwa
membangun suatu bangsa tidak terlepas dari perbedaan. Sehingga saat dia
disakiti atau dikhianati, dia tetap bahagia atas segala resiko. Karena bahasa
khianat dan kerjasama adalah bahasa politik seperti kita memasukan butang di
baju, saat kita memasukan berarti saat itu kita telah keluar. Tidak ada
keabadian. Kepentingan adalah adalah ruh politik. Dan kepentingan tertinggi
adalah untuk memanusiakan manusia”.
“Kedua adalah senyum sampul, adalah wujud
dari karakteristik dari setiap ideologi dan perilaku para politikus. Benar bahwa
kita sering dinasehati oleh orang-orang bijak, “Jangan membaca sebatas pada
sampul buku”. Namun sampul sebagai bagian dari referensi untuk melihat karakter
dari ideologi dan cita-cita yang diinginkan. Walaupun memang benar, bahwa kita
harus bisa membacanya dengan baik. Sebab kenyataannya memang saat ini demikian.
Banyak orang yang mempunyai sampul bagus ternyata tidak sesuai dengan isinya”.
“Ketiga senyum sampel adalah perilaku
politik yang selalu menggunakan simbol-simbol dalam mengambil keputusan. Politik
adalah dunia majaz. Seorang politikus harus bisa memahami sosio-geografis serta
budaya yang syarat akan makna-makna di dalam nya. Jika tepat menggunakan, maka
menjadi menjadi berkah bagi dirinya. Tapi jika kurang tepat menggunakan, maka
tafsir-tafsir negatif yang akan berpengaruh kepada masyarakat yang memahami
makna-makna tersebut. hal ini karena bangsa ini atau masyarakat ini hidup dari
budaya yang beragam dan mengandung nilai-nilai kebaikan yang hidup di
tengah-tengah masyarakat”
Semua mendengarkan dan manggut-manggut. Bisa
jadi mereka menikmati paparan saya atau sebatas menghargai jawaban yang panjang
lebar. Tapi apapun alasannya, saya bersyukur semua bisa menerima secara taken
off granted.
Sahabat Basuki yang paling rajin mencatat,
ternyata masih ada yang ketinggalan penjelasanya. Tiba-tiba dia ngacung tangan
nya:
“Oh ya, untuk “senyum sumpel” belum
dijelaskan pak” katannya.
Saya pun menjawab asal-asalan:
“Sesuai dengan namanya, “senyum sumpel”,
bahwa dia bisa “tersenyum” jika “disumpel”.
Semua tertawa. Kali ini mungkin tertawa
yang paling heboh sejak pertama diskusi. Saya sendiri bersyukur, bisa
membahagiakan mereka di saat keadaan Meranti belum stabil dan satu sisi istri
dan anak-anak nya minta belikan beras tapi belum bisa membelinya. Mari kita
berikhtiar sama agar hari-hari yang akan datang, daerah yang kita tempati bisa
semakin lebih baik dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2882