
Tribun Yogya menampilkan hasil penelitian para
peneliti terhadap #kaburAjaDulu dengan hasil survei sebagai berikut: sekitar 41
persen Gen Z mempertimbangkan ber-imigrasi, 31 persen milenial, 26 Gen X, dan
12 persen Baby Boomers(Senin,10 maret
2025).
Saya tidak perlu serius meneliti akurasi
data tersebut. Wong dunia ini semua tidak ada yang serius. Jika diibaratkan, negara
di dunia saat sekarang ini seperti kehidupan satu kampung modern (village city).
Perilaku kampung, tapi suasana kota. Akhirnya tetap jadi “kampungan”. Hari ini
satu bangsa milihat bangsa lain itu “iri-irian”, dengki dan kadang melakukan
semacam bisik-bisik tetangga. Jika terprovokasi, sudah pahamlah hasilnya:
keluarga tidak akur, orang tua kerja nya marah-marah, anak-anak diatur susah
dan tetangga tepuk-tangan sambil nyengir sinis.
Tagar #kaburAjaDulu adalah gambaran keluarga
besar bangsa Indonesia. Sebagian dari anak-anak bangsa ini ada yang mutung dianggap orang tuanya tidak responsif. Sebagian ingin minggat, tapi lupa baju dan celana tidak
dibawa. Akhirnya cuma beberapa hari nginap di rumah teman-temanya sambil main
lacak atau catur. Pulang masih sewot. Ada yang nekat ingin kabur dari rumah, tapi duit tidak punya
untuk beli tiket. Tanggung. Munda-mundu, apakah saya bisa sukses juga ketika
kabur dari rumah. Ada juga yang sudah mantap 100%, dia pergi. Tapi percayalah,
yang pergi suatu saat tetap rindu kampung halaman. Ia bisa saja tidak akan
pulang sebelum ia bisa menunjukan kesuksesan. Sebab tipe orang terakhir ini
punya prinsip “banyak jalan menuju roma”. Jika tidak bisa beli tiket, kalau
harus mbonek-jadi bonek lah, yang penting sampai tujuan.
Bangsa Indonesia adalah seperti satu rumah
tangga. Anak nya “kemruyek”, banyak dan orang tua tidak sempat mendidik
semua dengan cara yang baik dan tuntas. Wajar jika perilaku mereka ada yang “mbeneh”,
setengah “mbeneh”, ada yang memang terkadang tidak “mbeneh” sama
sekali. Namun bagaimanapun orang tua harus tetap berlapang dada. Atine kudu
jembar. Atau jembar atine. Ojo gampang nesu. Dan yang
terpenting kudu memperbaiki sistem meditasi para leluhur bangsa ini yaitu nyuwun
petunjuk dumateng Sang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.
Lho kenapa demikian? Sebab manusia memang
terdiri dari aspek, satu sisi pada pendekatan kemaslahatan satu sisi lagi
pendekatan syariat. Jika meminjam istilah pendapat Syathibi, manusia mempunyai
kemerdekaan melakukan inovasi untuk menyelesaikan masalah. Itu juga yang
menjadi blue print dari Al-Qur’an bahwa suatu perubahan diberikan kepada
manusia itu sendiri baik secara personal maupun kolektif. Tanpa adanya kecerdasan
intelektual membaca persoalan dan menyelesaikannya, jelas akan membuat keluarga
besarnya semakin “kemruyek” dan sikut-sikutan akibat rebutan sepiring
nasi yang tidak cukup dibagi.
Apakah kondisi sekarang ini yang suka “gontok-gontokan”
harus dipertontonkan terus kepada tetangga sebelah dan dipertontonkan di media
sosial? Apakah bangsa ini sudah lupa jika 85% adalah orang yang sudah mengakui
syariat islam sebagai keyakinan. Artinya muslim mayoritas. Bukankah bangsa ini
dulu pernah makan bonggol pisang, gaplek dan tiwul. Apakah bangsa
ini tidak bisa lagi memperbaiki “nawaitu soma ghodi” agar bisa di
kemudian hari memetik buah apa yang disebut hari kemerdekaan. Apakah anak-anak
keluarga besar bangsa yang terkenal religius ini sudah melupakan hakikat puasa.
Padahal bangsa ini terkenal bangsa yang sangat kuat menjalankan ibadah puasa. Bukan
hanya bulan ramadhan atau puasa senin-kamis. Para leluhur bangsa telah
melakukan puasa ngebleng, mutih dan hanya buka dan sahur cukup air
putih. Leluhur bangsa ini kuat.
Nanti dulu !. menyimpulkan sepihak pendekatan puasa di atas juga kurang tepat. saya kira bangsa ini masih masih sanggup puasa ngebleng, mutih dan siap sehidup-semati “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” bersama-sama dalam suka dan duka. Saya kira bangsa masih mempunyai kebersamaan yang sangat kuat. Untuk menjaga marwah, bukan hanya harta, nyawapun dipertaruhkan untuk menjaga harga diri. pendek kata, bangsa ini sudah cukup memahami arti dari syariat Islam.
Jika demikian, maka sangat pantas jika
meminjam pendapat Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Asghar Ali Engineer untuk direnungkan sebagai
berikut:
Orang yang berkeinginan memperbudak
sesamanya berarti inign menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; orang
yang berkeinginan menjadi tirani berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan
selain Allah; Penguasa yang berkeinginan merendahkan rakyatnya berarti ingin
menjadi Tuhan, padahal tidak Tuhan selain Allah. Kita menghargai setiap manusia
apa pun keadaannya dan dari mana pun asalnya, asal bisa menjadi saudara bagi
sesamanya.
Apa maknanya? Dalam kontek kemanusiaan, manusia
sama. Kata Umar bin Khatab seperti Sisir. Rata semua.. Dalam kontek syariat
manusia berbeda dalam takwa nya. Dalam kontek sosial, ada stratifikasi perbedaan
kedudukan orang tua dan anak. Orang tua tidak boleh arogansi, anak juga tidak
boleh durhaka. Rumusan sederhananya, yaitu duduk bareng, rembug bareng dan
kira-kira dimana pokok persoalannya.
Sebab saling menyalahkan pasti semua salah.
Sebab sudah ada subyektifitas yang tumbuh di hati masing-masing. Ujub,
gumede dan merasa paling hebat. siapa saja bisa terjadi, baik orang tua
maupun anak. Semua sama-sama teking.
Mumpung masih di bulan ramadhan, mari kita
sama-sama (baik pemerintah maupun masyarakat) untuk sama untuk saling
interopeksi diri atas segala kelemahan, kesalahan dan tumpukan dosa. Kalau bisa
mari kita sama-sama menangis sampai “ngugguk” sampai “keseguken”
karena terbayang atas dosa-dosanya. Harapannya, Allah membuka rohman dan Rahim-Nya
dengan diampuni segala dosa-dosanya, baik kepada-Nya maupun kepada keluarga
besar bangsa Indonesia.
Semoga bangsa Indonesia kembali ke fitrah
puasa yaitu muttaqin yaitu saling memaafkan dan saling bersinergi untuk
membangun bangsa Indonesia semakin baik di masa depannya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872