Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Niat Puasa Orang yang KaburAjaDulu



Senin , 10 Maret 2025



Telah dibaca :  583

Tribun Yogya menampilkan hasil penelitian para peneliti terhadap #kaburAjaDulu dengan hasil survei sebagai berikut: sekitar 41 persen Gen Z mempertimbangkan ber-imigrasi, 31 persen milenial, 26 Gen X, dan 12 persen  Baby Boomers(Senin,10 maret 2025).

Saya tidak perlu serius meneliti akurasi data tersebut. Wong dunia ini semua tidak ada yang serius. Jika diibaratkan, negara di dunia saat sekarang ini seperti kehidupan satu kampung modern (village city). Perilaku kampung, tapi suasana kota. Akhirnya tetap jadi “kampungan”. Hari ini satu bangsa milihat bangsa lain itu “iri-irian”, dengki dan kadang melakukan semacam bisik-bisik tetangga. Jika terprovokasi, sudah pahamlah hasilnya: keluarga tidak akur, orang tua kerja nya marah-marah, anak-anak diatur susah dan tetangga tepuk-tangan sambil nyengir sinis.

Tagar #kaburAjaDulu adalah gambaran keluarga besar bangsa Indonesia. Sebagian dari anak-anak bangsa ini ada yang mutung dianggap orang tuanya tidak responsif. Sebagian ingin minggat, tapi lupa baju dan celana tidak dibawa. Akhirnya cuma beberapa hari nginap di rumah teman-temanya sambil main lacak atau catur. Pulang masih sewot. Ada yang nekat ingin kabur dari rumah, tapi duit tidak punya untuk beli tiket. Tanggung. Munda-mundu, apakah saya bisa sukses juga ketika kabur dari rumah. Ada juga yang sudah mantap 100%, dia pergi. Tapi percayalah, yang pergi suatu saat tetap rindu kampung halaman. Ia bisa saja tidak akan pulang sebelum ia bisa menunjukan kesuksesan. Sebab tipe orang terakhir ini punya prinsip “banyak jalan menuju roma”. Jika tidak bisa beli tiket, kalau harus mbonek-jadi bonek lah, yang penting sampai tujuan.

Bangsa Indonesia adalah seperti satu rumah tangga. Anak nya “kemruyek”, banyak dan orang tua tidak sempat mendidik semua dengan cara yang baik dan tuntas. Wajar jika perilaku mereka ada yang “mbeneh”, setengah “mbeneh”, ada yang memang terkadang tidak “mbeneh” sama sekali. Namun bagaimanapun orang tua harus tetap berlapang dada. Atine kudu jembar. Atau jembar atine. Ojo gampang nesu. Dan yang terpenting kudu memperbaiki sistem meditasi para leluhur bangsa ini yaitu nyuwun petunjuk dumateng Sang Maha Kuasa yaitu Allah SWT.

Lho kenapa demikian? Sebab manusia memang terdiri dari aspek, satu sisi pada pendekatan kemaslahatan satu sisi lagi pendekatan syariat. Jika meminjam istilah pendapat Syathibi, manusia mempunyai kemerdekaan  melakukan inovasi untuk menyelesaikan masalah. Itu juga yang menjadi blue print dari Al-Qur’an bahwa suatu perubahan diberikan kepada manusia itu sendiri baik secara personal maupun kolektif. Tanpa adanya kecerdasan intelektual membaca persoalan dan menyelesaikannya, jelas akan membuat keluarga besarnya semakin “kemruyek” dan sikut-sikutan akibat rebutan sepiring nasi yang tidak cukup dibagi.

Apakah kondisi sekarang ini yang suka “gontok-gontokan” harus dipertontonkan terus kepada tetangga sebelah dan dipertontonkan di media sosial? Apakah bangsa ini sudah lupa jika 85% adalah orang yang sudah mengakui syariat islam sebagai keyakinan. Artinya muslim mayoritas. Bukankah bangsa ini dulu pernah makan bonggol pisang, gaplek dan tiwul. Apakah bangsa ini tidak bisa lagi memperbaiki “nawaitu soma ghodi” agar bisa di kemudian hari memetik buah apa yang disebut hari kemerdekaan. Apakah anak-anak keluarga besar bangsa yang terkenal religius ini sudah melupakan hakikat puasa. Padahal bangsa ini terkenal bangsa yang sangat kuat menjalankan ibadah puasa. Bukan hanya bulan ramadhan atau puasa senin-kamis. Para leluhur bangsa telah melakukan puasa ngebleng, mutih dan hanya buka dan sahur cukup air putih. Leluhur bangsa ini kuat.

Nanti dulu !. menyimpulkan sepihak pendekatan puasa di atas juga kurang tepat. saya kira bangsa ini masih masih sanggup puasa ngebleng, mutih dan siap sehidup-semati “rawe-rawe rantas, malang-malang putung” bersama-sama dalam suka dan duka. Saya kira bangsa masih mempunyai kebersamaan yang sangat kuat. Untuk menjaga marwah, bukan hanya harta, nyawapun dipertaruhkan untuk menjaga harga diri. pendek kata, bangsa ini sudah cukup memahami arti dari syariat Islam.

Jika demikian, maka sangat pantas jika meminjam pendapat Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh  Asghar Ali Engineer untuk direnungkan sebagai berikut:

Orang yang berkeinginan memperbudak sesamanya berarti inign menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; orang yang berkeinginan menjadi tirani berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tiada Tuhan selain Allah; Penguasa yang berkeinginan merendahkan rakyatnya berarti ingin menjadi Tuhan, padahal tidak Tuhan selain Allah. Kita menghargai setiap manusia apa pun keadaannya dan dari mana pun asalnya, asal bisa menjadi saudara bagi sesamanya.

Apa maknanya? Dalam kontek kemanusiaan, manusia sama. Kata Umar bin Khatab seperti Sisir. Rata semua.. Dalam kontek syariat manusia berbeda dalam takwa nya. Dalam kontek sosial, ada stratifikasi perbedaan kedudukan orang tua dan anak. Orang tua tidak boleh arogansi, anak juga tidak boleh durhaka. Rumusan sederhananya, yaitu duduk bareng, rembug bareng dan kira-kira dimana pokok persoalannya.

Sebab saling menyalahkan pasti semua salah. Sebab sudah ada subyektifitas yang tumbuh di hati masing-masing. Ujub, gumede dan merasa paling hebat. siapa saja bisa terjadi, baik orang tua maupun anak. Semua sama-sama teking.

Mumpung masih di bulan ramadhan, mari kita sama-sama (baik pemerintah maupun masyarakat) untuk sama untuk saling interopeksi diri atas segala kelemahan, kesalahan dan tumpukan dosa. Kalau bisa mari kita sama-sama menangis sampai “ngugguk” sampai “keseguken” karena terbayang atas dosa-dosanya. Harapannya, Allah membuka rohman dan Rahim-Nya dengan diampuni segala dosa-dosanya, baik kepada-Nya maupun kepada keluarga besar bangsa Indonesia.

Semoga bangsa Indonesia kembali ke fitrah puasa yaitu muttaqin yaitu saling memaafkan dan saling bersinergi untuk membangun bangsa Indonesia semakin baik di masa depannya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872