Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nilai-Nilai Kebajikan;Catatan Orientasi Hari Pertama



Selasa , 27 Februari 2024



Telah dibaca :  257

Malam senin sebenarnya ingin istirahat. Namun, tiba-tiba ada salah satu Kepala Dinas Kepulauan Meranti menelponku. Kebetulan ia berada di Bengkalis. Katanya ia ada undangan untuk mengantar pengantin di Desa Kelapapati. Entah karena kebetulan, yang jadi pengantin dari pihak laki-laki adalah anak angkatnya dan pihak pengantin perempuan masih ada hubungannya dengan Mas Asruari Misda, dosen STAIN Bengkalis. Ternyata kami saudara, meskipun tidak saling kenal mengenal dan sudah menjadi saudara jauh, tetap terasa aura persaudaraan. Bahkan kalau ditarik keatas, kita sama-sama keturunan darah biru, yaitu Nabi Adam dan Hawa. Hanya saja, sampai pada kita sudah tidak biru lagi, berubah merah. Kita telah diajarkan oleh nenek moyang kita, nabi adam bahwa untuk merubah status “darah merah” menjadi “darah biru” adalah meningkatkan kualitas diri menjadi level takwa. Sebab kita semua sama. Kita bisa jadi punya darah biru, tapi KW. Kita semua sama dalam pandangan Allah, kecuali orang-orang yang sangat mencintai-Nya.

Setelah sholat subuh, saya tidak bisa tidur. Khawatir “mbangkong” dan bangun kesiangan. Ma’lum ini hari pertama orientasi PPPK. Apalagi di malam hari, beberapa kawan sudah sibuk di grup WA. Ada yang Tanya jam berapa mulai orientasi, bagaimana cara peserta orientasi absen di aplikasi Pusaka dan lain-lain. Semua belum ada kepastian. Persis seperti perdebatan menentukan awal bulan syawal. Itu sebabnya, jam 06.30 saya sudah menuju ke kampus. Ternyata masih sepi. Baru beberapa orang peserta yang datang. Saya lihat dari kantor kementrian agama atau dari sekolah. Sedangkan kawan-kawan dari STAIN belum kelihatan.

Orientasi PPPK di tempatkan digedung SBSN STAIN Bengkalis. Di lantai III. Saya lihat kawan-kawan dari instansi Kemenag, MIN dan MTSN “ngos-ngosan”. Mungkin belum biasa naik tangga sampai lantai tiga tanpa lift. Sebenarnya ini sangat baik untuk menjaga kesehatan dan melangsingkan tubuh. Tapi bagi saya sendiri malah tidak cocok. Ma’lum badan sudah langsing. Semakin sering naik-turun di lantai tiga, badan semakin tidak karuan bentuknya.

Pemateri atau narasumber pertama yaitu Dr. Hasanah, M.Pd. Dilihat dari wajahnya seperti orang batak, ternyata bukan. Dia asli Betawi. Orang tuanya perpaduan Betawi dan Cirebon. Nasib nya agak mirip seperti saya. Dulu saat saya mengikuti pelatihan di sumbar dan juga pembekalan  diisi oleh Tim Ary Ginanjar dari ESQ, saya juga dianggap bukan orang Jawa, tapi orang Cina. Katanya, mataku sipit. Lucunya, para nyonya etnis tionghoa pun melihat anak-anak saya dikira masih marga tionghoa. Saya heran. Saya katakan bahwa “mas asli” dari Jawa. Bukan 24 karat, malah 1000 karat.

Saya pun muhasabah diri, mungkin ada dosa yang pernah saya lakukan sehingga saya dan anak-anaknya dianggap seperti orang tionghoa. Setelah saya merunut sejarah ke belakang, saya baru sadar, bahwa dulu waktu masih di pesantren, saya pernah jatuh cinta kepada santri keturunan tionghoa. Sangat cantik, saya mencintainya. Tapi ia tidak mencintaiku. Mungkin wajah ku masih dibawah standar. Apakah jatuh cinta berdosa?

Saya mengikuti pemateri dengan khusu’, meskipun kadang mengantuk. Setelah saya perhatikan beberapa materi yang telah disampaikan, ternyata Dr. Hasanah termasuk santri dari Ary Ginanjar yang menggunakan brand marketingnya ESQ Bussines School. Dulu ESQ sangat terkenal. Persis seperti terkenalnya ESQ nya model AA Gym dengan label “MQ” (Manajemen Qalbu). Hanya saja, MQ terlihat sudah tidak seperti dulu. Sedangkan ESQ Ary Ginanjar masih eksis. Beberapa waktu lalu sempat tidak terdengar. Namun saya melihat beberapa waktu terakhir ini, video-video inspiratifnya terus bermunculan dan menginspirasi jutaan orang untuk bangkit dari keterpurukan.

Nilai-nilai spiritualnya sungguh sangat menyentuh hati. Apalagi dulu, saat saya mengikuti pelatihan, dia menceritakan tentang “jatuh-bangun” saat membangun gedung “Menara 165”. Cobaan untuk mewujudkan impian mengalami ujian yang sangat hebat. Namun dalam hitungan tahun, bangunan tersebut berdiri dengan megah. Kini bangunan tersebut telah menjadi pusat pengembangan SDM unggul. Ditempat  ini ada juga lembaga-lembaga pelatihan dan lembaga pendidikan tinggi yang memperkenalkan ajaran-ajaran keagungan dalam rangka mengenal diri sendiri.

Umar bin Khatab pernah dawuh sebagai berikut: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal” ucapan tersebut menunjukan bahwa hal yang terpenting manusia adalah mengenal diri sendiri. dengan mengenal diri sendiri maka akan mengenal sang pencipta dengan baik. Itu sebabnya, yang terpenting dalam hidup ini adalah menilai diri sendiri atau menyibukan diri sendiri untuk menilai segala kekurangan dan memperbaikinya dengan hal-hal yang lebih baik dan berkualitas.

Abraham Maslow ketika membicarakan hierarchy of needs dalam rangka self-actualization sebagai kebutuhan manusia mengalami beberapa tahap yaitu: phsysiological (kebutuhan psikologi), safey (keselamatan), esteem ( penghargaan), social (masyarakat). Kebutuhan akan persoalan jiwa merupakan keputuhan dalam hirarki pertama merupakan naluri manusia. Dalam berbagai dinamika kehidupan, manusia senantiasa mengalami adanya berbagai persoalan dan perubahan-perubah psikologi akibat adannya berbagai peristiwa yang terjadi silih berganti. Manusia menginginkan adanya kepastian hidup dan kedamaian setelah kehidupan ini berakhir. Dalam segala aktivitasnya, manusia dalam alam bawah sadar menyadari bahwa apa yang dikerjakan saat ini akan berakhir dan ada pertanggungjawabannya. Ini adalah watak dasar dari manusia yang senantiasa berfikir bahwa disebalik dunia seisinya, ada Sang Pencipta yang menjadi tujuan hidup.

Mahatma Gandi mengatakan bahwa kedamaian hati dan perilaku yang selaras dengan hati selalu menampilkan sinar-sinar kebajikan. Suatu kebaikan tidak boleh disandarkan pada sesuatu yang nista. Keberhasilan yang benar adalah keberhasilan yang tidak melalui suatu kekerasan, menipu dan menghancurkan orang lain. Jika ada suatu keberhasilan dengan cara-cara yang tidak benar dan berdalih ini merupakan satu-satu jalan untuk mewujudkan suatu cita-cita, maka kesuksesan itu sebenarnya tidak bisa dibenarkan. Meskipun mempunyai tujuan yang mulia (Easwaran, 2011).

Sang guru spiritual dan tokoh agama budha, Daisaku Ikeda menganjurkan tentang kebersihan hati dalam mencapai suatu tujuan yang mulia. Kekerasan yang telah menghancurkan jepang dan Indonesia akibat kebiadaban penjajah Jepang pada masa itu, merupakan wujud dari jiwa yang belum menemukan kedamaian. Sehingga mereka belum bisa melihat hakikat kesuksesan sejati. Sebab kesukesan sejati sebenarnya ada keselarasan antara perilaku dan pikiran serta pesan-pesan sang pencipta dalam kehidupan sehari-hari. Kesuksesan laksana melebihi harumnya bunga. Jika bunga melati harumnya mengikuti mata angin, maka harumnya manusia mampu melawan arah mata angin (Ikeda, 2000).

Dalam ajaran Islam, Seorang muslim yang sudah mencapai hakikat kesukesan ketika  sudah mengenal Allah  sering disebut ihsan yaitu engkau menyembah/beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya (Allah). Jika pun belum bisa melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Ia (Allah) melihatmu (An-Naisabury, 1997). Padahal manusia tidak mungkin bisa melihat allah dalam wujud-nya. meskipun dalam keyakinan tauhid bahwa salah satu sifat allah yaitu ada atau wujud sebagaimana Q.S. Al-Hadid [57]: 3sebagai berikut: “huwal-awwalu wal-âkhiru wadh-dhâhiru wal-bâthin, wa huwa bikulli syai'in ‘alîm” (Dialah Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, dan Mahabatin. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu). Namun karena sang pencipta telah menegaskan diri-nya, “tidak ada yang serupa dengan-Nya”, maka manusia tidak mungkin mampu melihatnya. Itu sebabnya mengenal Allah adalah melalui pendekatan pengembangan kepribadian diri dengan melaksanakan segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Melaksanakan perintah-perintah Allah berarti seorang peserta orientasi harus secara tegak lurus menimplementasikan dalam wujud-wujud operasional. Bahwa Tuhan akan memberikan pahala saat beramal kebaikan, maka amal kebaikan yang mendapatkan pahala adalah amal kebaikan dengan prosedur yang benar dan tepat. Benar dan tepat adalah sesuatu yang sangat penting. Seorang suami atau seorang istri menasehati pasangannya dengan suatu kebaikan, tapi tidak pada saat yang tepat bisa jadi bermasalah. Tujuanya menyelesaikan masalah, malah timbul masalah baru. Meskipun Allah telah mencatat amalan kebaikannya, tapi Allah juga mencatat bahwa ada unsur tidak professional dalam menyampaikan materi nasehat tadi. Itu sebabnya, kualitas kebaikannya mendapatkan nilai tidak maksimal. Sebab selain proses, juga dampak dari proses tersebut. Laksana seorang guru memerintah peserta didik  untuk sholat sementara mereka tidak sholat. Tujuan baik, materi baik, tapi proses ada persoalan. Ini yang kemudian dalam administrasi modern bahwa manajemen sebagai wujud profesionalisme adalah wujud the right man on the right place.

Melihat manusia berdasarkan ada pertimbangan-pertimbangan profesional berangkat dari pertimbangan obyektifitas penilaian, bukan subyektivitas keakuan. Apalagi ketika pada suatu wilayah yang menuntut kesetaraan, sangat penting dalam mewujudkan nilai-niali profesionalitas tersebut, maka batas-batas kesamaan etnis, suku, agama dan budaya semakin cair dan pembauran atas kesamaan derajat dalam lingkungan pekerjaan menjadi hal yang sangat penting. Sikap seseorang atau kelompok yang menggambarkan perilaku yang demokratis, sabar, lemah lembut, konsisten terhada tugas ada pada dirinya, punya tanggung jawab, terbuka untuk kerjasama dan mempunyai jiwa kasih sayang kepada sesama (Wasehudin, 2018).

Pesan-pesan tersebut bertebaran dalam al-Qur’an. Tuhan telah berpesan bahwa betapa pentingnya tradisi membaca dalam ungkapan firman-Nya: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu”. Lalu Tuhan juga menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang disebut “ahsanitaqwiim”, tapi tidak perintah menjalankan perintah-perintah-Nya kemudian menjadi “asfalasaafiliin”. Tuhan juga telah menggunakan kata-kata kunci dan sangat tegas, “wal’asri, innal insanalfi husrin”. Rangkaian-rangkain tersebut merupakan bangun dasar professional dan ketika dibangun menjadi sebuah sistem kehidupan, maka tidak ada perintah  Allah yang dilakukan secara asal-asalan. Semua harus dilakukan dengan penuh pertimbangan-pertimbangan yang mengacu kepada kemanfaatan dan keridhoan-Nya.

Walhasil, dari paparan hari pertama, penulis bisa mengambil pelajaran bahwa siapapun bisa menjadi orang yang berguna, bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Tidak ada yang tidak bisa untuk melakukan suatu perubahan. Semua bisa dilakukan dengan penuh keyakinan, bahwa Allah memberi kesempatan sama untuk meraih prestasi pada bidang masing-masing. Hanya orang-orang yang membuka diri untuk menerima masukan yang konstruktif, lalu melakukan reformasi kerangka berfikir terfokus dan pola kerja yang sistematis, serta tidak lupa selalu meminta pertolongan kepada-Nya, maka kesuksesan akan segera diraihnya. Semoga orientasi hari pertama dengan ajaran-ajaran agung yang telah dipaparkan oleh para pemateri, bisa lebih semakin mengenal kekurangan diri sendiri sebagai jalan untuk menggapai kesuksesan hakiki.

References

Akhyar, T. (1992). The Secret of Sufi. Semarang : CV. Asy-Syifa'.

al-Bassam, A. b. (2003). Penjelasan Hukum dari Kitab Bulughul Maram. terj;M.Irfan. Jakarta : Pustaka Azzam.

Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu an Tushahhah . Surabaya .

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

Baqir, H. (2020). Agama di Tengah Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.

Budiardjo, M. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia Pustaka .

Easwaran, E. (2011). Gandhi The Man, terj; Yendhi Amalia dan Hari Mulyana. Yogyakarta : PT. Bintang Pustaka .

Ikeda, A. W. (2000). Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

TGH.Husnuddu'at, S. (2003). Menelusuri Penduduk Langit bersama 40 Kekasih Allah . Surabaya: CV.Dunia Ilmu.

Wasehudin. (2018). Perspektif Al-Qur’an dan Undang-Undang Tentang Guru profesional. Tarbawi, Vol. 5, No.1, 111-122.

Yunus, O. M.-J. (t.t). Tauhid dan Tasawuf . t.p.

Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876