Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

NU dan Lalaran Alfiyah



Kamis , 02 Februari 2023



Telah dibaca :  321

Memasuki usia ke-100 NU telah menjadi inspirasi tradisi keilmuan dan peradaban Dunia. Jika pada tahun 1990-1998-an, saya mengutip dari Pidato Kiai Said Aqil, bahwa Prof. Amin Rais mencari kader Muhamadiyah yang hafidz al-Qur’an sangat sulit. Sedangkan saat itu, sudah ribuan kader NU yang hafidz al-Qur’an. Apa yang dikatakan Prof Amin Masuk akal juga jika demikian. Sebab mulai Orde Baru, Muhamadiyah mempunyai tempat yang strategis di mata Soeharto. Konsep modernisasi melalui pendidikan yang dipeloporinya membuahkan hasil. Para alumnus dan kader-kader Muhamadiyah masuk ke dalam pemerintahan. Mereka bersimbiosis mutualisme, yaitu saling menguatkan. Soeharto membutuhkan dukungan Muhamadiyah untuk menjaga identitasnya yang pro terhadap Islam, sedangkan Muhamadiyah mendapatkan keuntungan melalui fasilitas yang dipermudah oleh penguasa Orde Baru. Maka wajar, jika seluruh kementrian tidak kecuali Departeman Agama berisi kader-kader Muhamadiyah. Dari sini juga bisa dipahami, mengapa pendidikan Muhamadiyah sangat maju. Salah satu yang tidak bisa dinafikan adalah konstribusi Orde Baru terhadap nya selama 32 tahun tidak bisa diabaikan begitu saja. Tentu saja selain itu, Muhamadiyah memang sudah menerapkan sistem organisasi modern. Ia mampu menggerakan fungsi organisasi secara efektif. Ini perlu dicontoh oleh NU, seharunya.

Pada saat yang sama, NU justru organisasi yang terpinggirkan. Ormas yang pada waktu itu adalah terbesar tidak mendapatkan ‘Kueh Pembangunan’. Pemerintah hadir saat ada pemilihan umum dan hanya mengambil suara NU. Setelah selesai, pemerintah melupakannya. Mereka tidak mendapatan akses pendidikan dan ekonomi. Pemerintah Orde Baru melakukan pengawasan sampai ke tingkat RT. Adanya Hansip (Pertahanan Sipil) yang sekarang seperti Satpol PP berada di setiap Desa. Semua aparat merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah pusat untuk melakukan pengawasan sekaligus eksekusi untuk menyukseskan program-program pemerintah Orde Baru. Akibatnya, kader-kader NU, para ulama dan kiai, serta para ustadz menyibukan diri menjadi petani, pedagang dan membuka pengajian di Pondok Pesantren dan Majelis Ta’lim.

Para ulama NU saat itu menjadi sentral kekuatan masyarakat. Mereka menjadi rujukan masyarakat kelas menangah kebawah dalam kegiatan keagamaan dan menjadi tempat penyelesaian berbagai persoalan kehidupan. Dari sini muncul dan menjamurnya para ulama mendirikan pesantren setelah mereka selesai belajar dari pesantren-pesantren tua yang telah berdiri jauh sebelum kemerdekaan [seperti Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus, Wanayasa, Purwakarta yang berdiri pada tahun 1848]. Pendirian pesantren terus berkembang yang diperkirakan jumlah saat ini sekitar 1000-an pesantren besar dan kecil di seluruh Nusantara.

NU saat itu benar-benar menjadi social capital yang mayoritas tetapi sebagai silent mayority untuk menjauhkan dari persoalan-persoalan politik praktis. Para Kiai di ribuan pesantren lebih fokus memberikan pendidikan keagamaan dan ketrampilan dasar kepada para santri. Mereka rata-rata mendoktrin kepada para santri untuk berjiwa mandiri dan setelah lulus dari pesantren mempunyai kewajiban menyebarkan ilmu-ilmu agama. Maka wajar, dari alumni yang mempunyai kemampuan ilmu al-qur’an membukan pesantren tahfidz al-qur’an beserta tafsir dan ilmu-ilmunya. Santri yang mempunyai kedalaman kitab kuning, membuka pondok pesantren kajian kitab kuning. Santri yang mempunyai kedalaman gramatikal bahasa arab mendirikan pesantren tatabasa arab. Hingga kini sudah ribuan bahkan puluhan ribu alumni pesantren NU yang tahfidz Al-Qur’an, mempunyai kemampuan kajian kitab kuning dan kemampuan tatabasa arab.

Taat Dalam Penderitaan

Para Kiai di pesantren mengajarkan tentang konsep “sami’na wa atho’na” terhadap penguasa. Padahal Pesantren adalah gudang tentang kitab-kitab klasik yang berbicara siyasah atau politik Islam. Setiap kitab fiqh mulai dari yang kecil sampai yang besar membahas bab tentang ‘khilafah dan jihad’. Namun hampir seluruh pesantren NU tidak mengajarkan kepada para santri untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Orde Baru dan tidak mengajarkan jihad untuk melawan pemerintah yang sah. Para Kiai NU mengajarkan kepada para santri bahwa keaatan terhadap pemerintah itu wajib. Bahkan meminjam pendapat Ibnu Taimiyah mengutip hadis nabi : “Barangsiapa membenci tindakan yang ada pada penguasaanya. Hendaklah dia berabar. Karena siapa saja yang keluar dari ketaatan kepadanya sejengkal saja, maka dia akan mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyah [ HR. Bukhori no.7053 dan Muslim no.1849]. Tentu maksud Taimiyah makna matinya jahilyah bukan pada kekafiran, tapi terletak pada tradisi orang jahiliyah yang tidak mempunyai Kepala Negara dan suka berperang antar suku.

Mengapa para ulama NU tidak dendam terhadap orde baru dan tidak melakukan konsolidasi politik untuk melakukan pemberontakan. Padahal orde baru telah melakukan pendzaliman luarbiasa terhadap masyarakat Islam. Salah satu peristiwa yang sangat mengerikan yaitu ribuan korban umat Islam di Aceh mati mengenaskan pada tahun 1976 yang kemudian melahirkan Gerakan Aceh Merdeka [GAM].

Para ulama dan kiai NU masih memandang sisi positifnya. Walaupun dalam disisi lain, warga NU adalah warga yang mendapatkan penderitaan, diintimidasi, dan dijauhkan dari kekuasaan, bahkan tidak jarang para ulama-ulama NU harus bersembunyi atau harus tinggal di Hotel Prodeo.  Mereka tetap saja menilai bahwa orde baru ada sisi baiknya yaitu masih mengakomodir kepentingan islam [ormas muhamadiyah]. Itu sebabnya tidak ada alasan para kiai NU menuduh kepada pemerintah orde baru sebagai penguasa yang dzalim dan harus digulingkan kekuasaannya. Tentu saja, ulama nu mempunyaii prinsip bahwa menjaga yang sudah ada adalah sesuatu kewajiban dan memperbaiki menjadi lebih baik adalah suatu keharusan. Itu sebabnya memperbaiki Negara bukan dengan jalan merusak dan merobohkannya dengan membangun kembali, tetapi memperbaiki Sumber Daya Manusia [SDM] nya. mengganti pada

Maka wajar, apabila para kiai senantiasa memberikan cerita-cerita hikmah saat kiai menjadi santri tentang sakit bertahun-tahun dan tidak mendapatkan kiriman dari orang tuanya. Penulis artikel ini masih ingat kisah yang sangat membekas di hati, yaitu kisah K.H. Jazuli Usman atau Mbah Jazuli Pendiri Pondok Pesantren Ploso. Jazuli muda adalah seorang remaja yang cerdas dan sudah diterima di fakultas kedokteran. Namun saran dari seorang ulama, agar mondok atau belajar ilmu di pesantren. Tragisnya, saat masih di pesantren mengalami ujian yang sangat berat. Seluruh tubuhnya terkena penyakit kudis bertahun-tahun, sehingga baunya terasa amis dan diasingkan dari pesantren oleh teman-temanya. Hal yang sama juga Kh.Muhtar Syafaat Pendiri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Kisah penderitaan tentang kemiskinan, sakit bertahun-tahun telah menjadi pelajaran para santri sehingga mereka sanggup menghadapi penderitaan hidup sebagaimana yang telah dialami oleh para pendiri pesantren. Dan penulis artikel ini pun pernah mengalami hal yang sama saat belajar di pesantren ini. Bertahun-tahun terkena penyakit kudis, tipus dan harus bekerja di sawah untuk menyambung hidup karena orang tua tidak pernah mengirim biaya hidup di pesantren.

Hafalan Al-Fiyah Ibn Malik

Pada tanggal 9 Januari 2023 Presiden Joko Widodo ‘lalaran’ Nadzam Al-Fiyah Ibn Malik yang diikuti oleh 800 santri di Banyuwangi. Presiden RI tentu tidak mengerti secara mendetail tentang nadzaman tersebut, tapi saya melihat bahwa dia sangat mengaguminya dan menikmatinya. Bahwa tradisi pesantren sebagai penjaga ilmu-ilmu agama [‘ulumuddin] masih terjaga dengan baik.

Penulis masih ingat betapa sulitnya menghapalkan kitab gramatikal bahasa Arab ini yang berjumlah 1001 nadzam. Ada kitab-kitab lebih kecil selainya seperti Amtsilatutasrifiyah, Al-Jurmiyah, Al-Maqsud, dan Imriti. Ini adalah menu tatabahasa wajib yang harus dihapalkan. Setelah ini selesai, lanjutnya menghapalkan Alfiyah tadi. Selesai Alfiyah, hapalan terakhir yaitu Jauhirul Maknun sebuah kitab sastra Arab. Adanya kemampuan menghapal dan memahami kitab gramatikal dan sastra arab tadi, diharapkan santri mampu memahami secara utuh isi-isi kitab klasik baik berkaitan dengan tafsir al-qur’an, fiqh, tauhid, tasawuf dan akhlak.

Dari sini pembaca artikel ini bisa membayangkan betapa padat materi di pesantren yang hampir 24 jam setiap hari selalu saja ada pelajaran, terutama pesantren-pesantren tradisional. Kehidupan pengajian kitab sampai jam 24.00 yang kemudian bangun jam 3.00 dini hari untuk melakukan mujahadah adalah bagian dari kedisiplinan kajian ilmu. Selesai sholat subuh, lalu belajar lagi sampai jam 6.30-an, para santri selanjutnya melakukan aktivitas sesuai bidang masing-masing. Ada yang pergi sekolah umum, pergi ke Sawah dan belanja sayur di Pasar.  Tidak ada hiburan bagi santri. Kecuali saat imtihan atau akhir tahun. Mereka bebas untuk aktivitas, berkarya seni bermain drama, musik, film, melukis dan lain-lain. bahkan mereka juga kadang bisa ‘nglinting’ tembakau dengan kawan-kawan mereka yang bekerja di bagian bangunan. Mereka duduk bareng, merokok, ngopi dan guyonan tentang kehidupan model pesantren. Namun saat ada petugas keamaan pesantren, mereka pun cepat-cepat membuang ‘lintingan’ nya karena takut ‘dibotak’ kepalanya ketika ketahuan keamanan. Namun jika sudah “CS” mereka pun sama-sama merokok.

Dari sini saya melihat bahwa pendidikan pesantren NU yang beragam model dan karakternya tidak ada satupun yang mengajarkan tentang ajakan pemberontakan terhadap penguasa yang telah menindasnya. Para ulama NU dari dulu dan sampai sekarang senantiasa untuk selalu taat dan senantiasa mengisi kemerdekaan ini dengan karya nyata. Salah satu yang sangat ditekankan yaitu menciptakan kemandirian umat. Walaupun satu sisi usaha NU ini belum berhasil, namun Penulis melihat bahwa tradisi ini justru telah menyumbangkan kondisi keamanan yang besar saat bangsa dan Negara sepanjang sejarah termasuk saat kondisi dalam bahaya seperti terjadi krisi moneter dan pandemic covid-19.

Kini memasuki tahun 2000-sekarang sudah mulai tumbuh pesantren yang mengadopsi model pendidikan pesantren NU dengan kemasan yang terlihat menggoda seperti; Pesantren Tahfidz, Rumah Tahfidz dan sejenisnya. Bahkan agar terlihat lebih Islami, pesantren-pesantren ini pun diberi nama dengan para sahabat-Sahabat Nabi, Tabi’in dan imam-imam mujtahid seperti pesantren Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Lucunya lagi antara nama dan isinya tidak singkron. Nama pesantren mujtahid, tetapi prakteknya anti madzhab.

Sejak era reformasi dan memasuki era 2000-an saat semangat masyarakat umum mendalami agama Islam. Pada saat yang sama juga muncul pemikiran-pemikiran eklusif yang sebelumnya tidak pernah terjadi di pesantren-pesantren NU yang sudah didirikan mulai tahun 1800-an. Dulu alumni Pesantren mengucapkan kata kafir hanya kepada para penjajah seperti Belanda dan Jepang. Kini sebagian alumni pesantren dan para pecinta agama sudah berani mengkafir-kafirkan sesama muslim dengan merasa tidak bersalah [ kecuali jika diklarifikasi, lalu dengan muka memelas meminta maaf atas kehilafanya dan membuat pernyataan di atas materi 10.000]. Secara pribadi, penulis artikel ini sangat sedih. Saat semangat beragama tumbuh, tapi sesama saudara seiman dan segama saling menuduh dan sudah tidak betah lagi terhadap Negara NKRI yang telah didirikan oleh para ulama.

Entah apa yang terjadi di masa mendatang. Apakah ‘lalaran’ Alfiyah Ibn Malik, Jauhirul Maknun dan hapalan al-Qur’an di pinggir-pinggir sungai dekat pesantren masih hidup di masa mendatang dan diganti dengan pesantren kelas elit yang ruangan ber-AC dan biaya nya puluhan juta. Pesantren yang dulu mengajarkan tentang ‘rasa kemanusaan’ terhadap orang-orang tertindas, kini telah dicekoki tentang ‘mahkota’ di surga yang orientasinya terkadang menjadi melenceng yaitu untuk jihad demi mendapatkan surga. Pesantren dulu mengajarkan agama sebagai sumber kehidupan, kini sudah mulai ada diajari sebagai sumber kematian dengan bunuh diri atas nama jihad. Dan baru saat ini, saat ada seorang non-muslim disuruh menjadi penceramah di Masjid dan disambut Takbir, tapi disisi lain ada seorang ulama yang jelas kedalaman ilmunya dikafir-kafirkan. Sungguh suatu zaman yang dulu belum pernah ditemukan saat saya masih di Pesantren. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884