
Memasuki usia ke-100 NU telah menjadi inspirasi tradisi
keilmuan dan peradaban Dunia. Jika pada tahun 1990-1998-an, saya mengutip dari Pidato
Kiai Said Aqil, bahwa Prof. Amin Rais mencari kader Muhamadiyah yang hafidz
al-Qur’an sangat sulit. Sedangkan saat itu, sudah ribuan kader NU yang hafidz
al-Qur’an. Apa yang dikatakan Prof Amin Masuk akal juga jika demikian. Sebab mulai
Orde Baru, Muhamadiyah mempunyai tempat yang strategis di mata Soeharto. Konsep
modernisasi melalui pendidikan yang dipeloporinya membuahkan hasil. Para alumnus
dan kader-kader Muhamadiyah masuk ke dalam pemerintahan. Mereka bersimbiosis
mutualisme, yaitu saling menguatkan. Soeharto membutuhkan dukungan Muhamadiyah
untuk menjaga identitasnya yang pro terhadap Islam, sedangkan Muhamadiyah
mendapatkan keuntungan melalui fasilitas yang dipermudah oleh penguasa Orde
Baru. Maka wajar, jika seluruh kementrian tidak kecuali Departeman Agama berisi
kader-kader Muhamadiyah. Dari sini juga bisa dipahami, mengapa pendidikan Muhamadiyah
sangat maju. Salah satu yang tidak bisa dinafikan adalah konstribusi Orde Baru
terhadap nya selama 32 tahun tidak bisa diabaikan begitu saja. Tentu saja
selain itu, Muhamadiyah memang sudah menerapkan sistem organisasi modern. Ia
mampu menggerakan fungsi organisasi secara efektif. Ini perlu dicontoh oleh NU,
seharunya.
Pada saat yang sama, NU justru organisasi yang
terpinggirkan. Ormas yang pada waktu itu adalah terbesar tidak mendapatkan ‘Kueh
Pembangunan’. Pemerintah hadir saat ada pemilihan umum dan hanya mengambil
suara NU. Setelah selesai, pemerintah melupakannya. Mereka tidak mendapatan
akses pendidikan dan ekonomi. Pemerintah Orde Baru melakukan pengawasan sampai
ke tingkat RT. Adanya Hansip (Pertahanan Sipil) yang sekarang seperti Satpol PP
berada di setiap Desa. Semua aparat merupakan kepanjangan tangan dari
pemerintah pusat untuk melakukan pengawasan sekaligus eksekusi untuk
menyukseskan program-program pemerintah Orde Baru. Akibatnya, kader-kader NU,
para ulama dan kiai, serta para ustadz menyibukan diri menjadi petani, pedagang
dan membuka pengajian di Pondok Pesantren dan Majelis Ta’lim.
Para ulama NU saat itu menjadi sentral kekuatan
masyarakat. Mereka menjadi rujukan masyarakat kelas menangah kebawah dalam
kegiatan keagamaan dan menjadi tempat penyelesaian berbagai persoalan
kehidupan. Dari sini muncul dan menjamurnya para ulama mendirikan pesantren
setelah mereka selesai belajar dari pesantren-pesantren tua yang telah berdiri
jauh sebelum kemerdekaan [seperti Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus,
Wanayasa, Purwakarta yang berdiri pada tahun 1848]. Pendirian pesantren terus
berkembang yang diperkirakan jumlah saat ini sekitar 1000-an pesantren besar
dan kecil di seluruh Nusantara.
NU saat itu benar-benar menjadi social capital
yang mayoritas tetapi sebagai silent mayority untuk menjauhkan
dari persoalan-persoalan politik praktis. Para Kiai di ribuan pesantren lebih fokus
memberikan pendidikan keagamaan dan ketrampilan dasar kepada para santri.
Mereka rata-rata mendoktrin kepada para santri untuk berjiwa mandiri dan
setelah lulus dari pesantren mempunyai kewajiban menyebarkan ilmu-ilmu agama.
Maka wajar, dari alumni yang mempunyai kemampuan ilmu al-qur’an membukan
pesantren tahfidz al-qur’an beserta tafsir dan ilmu-ilmunya. Santri yang
mempunyai kedalaman kitab kuning, membuka pondok pesantren kajian kitab kuning.
Santri yang mempunyai kedalaman gramatikal bahasa arab mendirikan pesantren
tatabasa arab. Hingga kini sudah ribuan bahkan puluhan ribu alumni pesantren NU
yang tahfidz Al-Qur’an, mempunyai kemampuan kajian kitab kuning dan kemampuan
tatabasa arab.
Taat Dalam Penderitaan
Para Kiai di pesantren mengajarkan tentang konsep “sami’na
wa atho’na” terhadap penguasa. Padahal Pesantren adalah gudang tentang
kitab-kitab klasik yang berbicara siyasah atau politik Islam. Setiap
kitab fiqh mulai dari yang kecil sampai yang besar membahas bab tentang ‘khilafah
dan jihad’. Namun hampir seluruh pesantren NU tidak mengajarkan kepada
para santri untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Orde Baru dan
tidak mengajarkan jihad untuk melawan pemerintah yang sah. Para Kiai NU
mengajarkan kepada para santri bahwa keaatan terhadap pemerintah itu wajib.
Bahkan meminjam pendapat Ibnu Taimiyah mengutip hadis nabi : “Barangsiapa
membenci tindakan yang ada pada penguasaanya. Hendaklah dia berabar. Karena
siapa saja yang keluar dari ketaatan kepadanya sejengkal saja, maka dia akan
mati sebagaimana matinya orang-orang jahiliyah [ HR. Bukhori no.7053 dan Muslim
no.1849]. Tentu maksud Taimiyah makna matinya jahilyah bukan pada kekafiran,
tapi terletak pada tradisi orang jahiliyah yang tidak mempunyai Kepala Negara
dan suka berperang antar suku.
Mengapa para ulama NU tidak dendam terhadap orde baru
dan tidak melakukan konsolidasi politik untuk melakukan pemberontakan. Padahal
orde baru telah melakukan pendzaliman luarbiasa terhadap masyarakat Islam.
Salah satu peristiwa yang sangat mengerikan yaitu ribuan korban umat Islam di Aceh
mati mengenaskan pada tahun 1976 yang kemudian melahirkan Gerakan Aceh Merdeka
[GAM].
Para ulama dan kiai NU masih memandang sisi
positifnya. Walaupun dalam disisi lain, warga NU adalah warga yang mendapatkan
penderitaan, diintimidasi, dan dijauhkan dari kekuasaan, bahkan tidak jarang
para ulama-ulama NU harus bersembunyi atau harus tinggal di Hotel Prodeo. Mereka tetap saja menilai bahwa orde baru ada
sisi baiknya yaitu masih mengakomodir kepentingan islam [ormas muhamadiyah].
Itu sebabnya tidak ada alasan para kiai NU menuduh kepada pemerintah orde baru
sebagai penguasa yang dzalim dan harus digulingkan kekuasaannya. Tentu saja,
ulama nu mempunyaii prinsip bahwa menjaga yang sudah ada adalah sesuatu
kewajiban dan memperbaiki menjadi lebih baik adalah suatu keharusan. Itu
sebabnya memperbaiki Negara bukan dengan jalan merusak dan merobohkannya dengan
membangun kembali, tetapi memperbaiki Sumber Daya Manusia [SDM] nya. mengganti
pada
Maka wajar, apabila para kiai senantiasa memberikan
cerita-cerita hikmah saat kiai menjadi santri tentang sakit bertahun-tahun dan
tidak mendapatkan kiriman dari orang tuanya. Penulis artikel ini masih ingat
kisah yang sangat membekas di hati, yaitu kisah K.H. Jazuli Usman atau Mbah
Jazuli Pendiri Pondok Pesantren Ploso. Jazuli muda adalah seorang remaja yang
cerdas dan sudah diterima di fakultas kedokteran. Namun saran dari seorang
ulama, agar mondok atau belajar ilmu di pesantren. Tragisnya, saat masih di
pesantren mengalami ujian yang sangat berat. Seluruh tubuhnya terkena penyakit
kudis bertahun-tahun, sehingga baunya terasa amis dan diasingkan dari pesantren
oleh teman-temanya. Hal yang sama juga Kh.Muhtar Syafaat Pendiri Pesantren Darussalam
Blokagung Banyuwangi. Kisah penderitaan tentang kemiskinan, sakit bertahun-tahun
telah menjadi pelajaran para santri sehingga mereka sanggup menghadapi
penderitaan hidup sebagaimana yang telah dialami oleh para pendiri pesantren.
Dan penulis artikel ini pun pernah mengalami hal yang sama saat belajar di
pesantren ini. Bertahun-tahun terkena penyakit kudis, tipus dan harus bekerja
di sawah untuk menyambung hidup karena orang tua tidak pernah mengirim biaya
hidup di pesantren.
Hafalan Al-Fiyah Ibn Malik
Pada tanggal 9 Januari 2023 Presiden Joko Widodo ‘lalaran’
Nadzam Al-Fiyah Ibn Malik yang diikuti oleh 800 santri di Banyuwangi. Presiden RI
tentu tidak mengerti secara mendetail tentang nadzaman tersebut, tapi saya
melihat bahwa dia sangat mengaguminya dan menikmatinya. Bahwa tradisi pesantren
sebagai penjaga ilmu-ilmu agama [‘ulumuddin] masih terjaga dengan baik.
Penulis masih ingat betapa sulitnya menghapalkan kitab
gramatikal bahasa Arab ini yang berjumlah 1001 nadzam. Ada kitab-kitab lebih
kecil selainya seperti Amtsilatutasrifiyah, Al-Jurmiyah, Al-Maqsud, dan
Imriti. Ini adalah menu tatabahasa wajib yang harus dihapalkan. Setelah ini
selesai, lanjutnya menghapalkan Alfiyah tadi. Selesai Alfiyah, hapalan terakhir
yaitu Jauhirul Maknun sebuah kitab sastra Arab. Adanya kemampuan menghapal dan
memahami kitab gramatikal dan sastra arab tadi, diharapkan santri mampu
memahami secara utuh isi-isi kitab klasik baik berkaitan dengan tafsir
al-qur’an, fiqh, tauhid, tasawuf dan akhlak.
Dari sini pembaca artikel ini bisa membayangkan betapa
padat materi di pesantren yang hampir 24 jam setiap hari selalu saja ada
pelajaran, terutama pesantren-pesantren tradisional. Kehidupan pengajian kitab
sampai jam 24.00 yang kemudian bangun jam 3.00 dini hari untuk melakukan
mujahadah adalah bagian dari kedisiplinan kajian ilmu. Selesai sholat subuh,
lalu belajar lagi sampai jam 6.30-an, para santri selanjutnya melakukan
aktivitas sesuai bidang masing-masing. Ada yang pergi sekolah umum, pergi ke Sawah
dan belanja sayur di Pasar. Tidak ada
hiburan bagi santri. Kecuali saat imtihan atau akhir tahun. Mereka bebas
untuk aktivitas, berkarya seni bermain drama, musik, film, melukis dan
lain-lain. bahkan mereka juga kadang bisa ‘nglinting’ tembakau dengan
kawan-kawan mereka yang bekerja di bagian bangunan. Mereka duduk bareng,
merokok, ngopi dan guyonan tentang kehidupan model pesantren. Namun saat
ada petugas keamaan pesantren, mereka pun cepat-cepat membuang ‘lintingan’ nya
karena takut ‘dibotak’ kepalanya ketika ketahuan keamanan. Namun jika sudah “CS”
mereka pun sama-sama merokok.
Dari sini saya melihat bahwa pendidikan pesantren NU
yang beragam model dan karakternya tidak ada satupun yang mengajarkan tentang
ajakan pemberontakan terhadap penguasa yang telah menindasnya. Para ulama NU
dari dulu dan sampai sekarang senantiasa untuk selalu taat dan senantiasa
mengisi kemerdekaan ini dengan karya nyata. Salah satu yang sangat ditekankan
yaitu menciptakan kemandirian umat. Walaupun satu sisi usaha NU ini belum
berhasil, namun Penulis melihat bahwa tradisi ini justru telah menyumbangkan
kondisi keamanan yang besar saat bangsa dan Negara sepanjang sejarah termasuk
saat kondisi dalam bahaya seperti terjadi krisi moneter dan pandemic covid-19.
Kini memasuki tahun 2000-sekarang sudah mulai tumbuh
pesantren yang mengadopsi model pendidikan pesantren NU dengan kemasan yang
terlihat menggoda seperti; Pesantren Tahfidz, Rumah Tahfidz dan sejenisnya.
Bahkan agar terlihat lebih Islami, pesantren-pesantren ini pun diberi nama
dengan para sahabat-Sahabat Nabi, Tabi’in dan imam-imam mujtahid seperti
pesantren Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Lucunya lagi antara nama dan
isinya tidak singkron. Nama pesantren mujtahid, tetapi prakteknya anti
madzhab.
Sejak era reformasi dan memasuki era 2000-an saat
semangat masyarakat umum mendalami agama Islam. Pada saat yang sama juga muncul
pemikiran-pemikiran eklusif yang sebelumnya tidak pernah terjadi di
pesantren-pesantren NU yang sudah didirikan mulai tahun 1800-an. Dulu alumni Pesantren
mengucapkan kata kafir hanya kepada para penjajah seperti Belanda dan Jepang.
Kini sebagian alumni pesantren dan para pecinta agama sudah berani
mengkafir-kafirkan sesama muslim dengan merasa tidak bersalah [ kecuali jika
diklarifikasi, lalu dengan muka memelas meminta maaf atas kehilafanya dan
membuat pernyataan di atas materi 10.000]. Secara pribadi, penulis artikel ini
sangat sedih. Saat semangat beragama tumbuh, tapi sesama saudara seiman dan
segama saling menuduh dan sudah tidak betah lagi terhadap Negara NKRI yang
telah didirikan oleh para ulama.
Entah apa yang terjadi di masa mendatang. Apakah
‘lalaran’ Alfiyah Ibn Malik, Jauhirul Maknun dan hapalan al-Qur’an di
pinggir-pinggir sungai dekat pesantren masih hidup di masa mendatang dan
diganti dengan pesantren kelas elit yang ruangan ber-AC dan biaya nya puluhan
juta. Pesantren yang dulu mengajarkan tentang ‘rasa kemanusaan’ terhadap
orang-orang tertindas, kini telah dicekoki tentang ‘mahkota’ di surga yang
orientasinya terkadang menjadi melenceng yaitu untuk jihad demi mendapatkan
surga. Pesantren dulu mengajarkan agama sebagai sumber kehidupan, kini sudah
mulai ada diajari sebagai sumber kematian dengan bunuh diri atas nama jihad.
Dan baru saat ini, saat ada seorang non-muslim disuruh menjadi penceramah di
Masjid dan disambut Takbir, tapi disisi lain ada seorang ulama yang jelas kedalaman
ilmunya dikafir-kafirkan. Sungguh suatu zaman yang dulu belum pernah ditemukan
saat saya masih di Pesantren.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2986
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884