
Beberapa hari ini ada berita mengagetkan tentang
dinamika di internal PBNU. Rais Aam meminta mundur kepada Gus Yahya dari Ketua
Umum PBNU. Bagi sebagian pengurus organisasi tersebut atau sebagian warga
nadhilyin maupun eksternal sangat susah sekali menerima berita tersebut. “Diluar
nurul”, tidak masuk nalar sama sekali.
Saya memperkirakan berita ini untuk
beberapa waktu ke depan semakin viral. Bagi yang belum memahami organisasi ini
kemungkinan merasa heran sangat besar “kok bisa ya?”. Bagi pembenci
organisasi ini akan mencaci maki setengah mati. Bagi yang paham terhadap
organisasi ini atau bagian dari organisasi ini akan tetap santai menikmati kopi
sambil mengkaji kitab kuning: kitab ihya ‘ulumuddin, bidayatul hidayah dan
lain-lain. Yang biasa mujahadah, tetap juga mujahadah. Pendek kata, aktivitas
keseharian tidak ada hubungan sama sekali dengan “gonjang-ganjing” organisasi. Seolah
tidak ada kejadian sama sekali. ora gumun sama sekali melihat konflik
tersebut. Jika toh ditanya, teman-teman ku paling-paling akan menjawab kurang
lebih begini: “Biarkan saja, wes podo tuwane, nanti akur sendiri. sudah biasa
“geger gegeran” nanti juga “ger ger an”.
Saya melihat teman-teman ku di pengurus NU-ada
di PCNU dan PWNU-terlihat santai sekali menyikapi kejadian tersebut. Saya
menilai karena sebagian teman-teman di NU- baik kultural atau struktural-sudah
matang dalam mengkaji hakikat menjalankan hidup sebagaimana yang diajarkan oleh
para ulama melalui literasi kitab turos. Mereka sehari-hari sudah biasa mengkaji
hakikat kehidupan dalam bingkai nilai-nilai ilahiyah. Organisasi keagamaan
bagian kecil dari pembahasan tersebut. Pemahaman yang mendalam menyebabkan
mereka tetap tenang happy dalam menjalankan roda organisasi dalam
kondisi apapun.
Saya teringat suatu kisah kecil. Di acara
harlah NU ke-91 di Gedung PBNU(29 Januari 2017), Cak Lontong mengaku dirinya
sudah NU sejak kecil. Katanya: “Saya NU sejak kecil. Kalau anak lain nakal,
saya NUaaakal”. Semua tertawa mendengar banyolan Cak Lontong. Bagi orang
jawa timuran, dialek penambahan huruf “U” pada kata “nakal” tersebut mempunyai
makna “taukid”-penguat- yang artinya sungguh-sungguh nakal atau nakal “banget”.
Lebih tepat nya mungkin bisa dibilang “ndableg” atau “mbeling”.
Terlepas itu sebatas guyonan pada acara di harlah
tersebut, Cak Lontong sebenarnya sedang memberi gambaran tradisi yang
sesungguhnya dari NU yaitu : tradisi nakal dan guyonan. Suatu tradisi kehidupan
pesantren yang kemudian menjadi ciri khas santri dan alumni dalam merespon peristiwa
dalam kehidupan sehari-hari dalam pengertian konstruktif.
Tradisi NU lahir dari tradisi pesantren
yang mandiri dan tidak mau terikat oleh kekuatan lain, termasuk pemerintah. Pesantren
sebagai lembaga pendidikan lahir dari kemandirian para pendirinya sejak sebelum
kemerdekaan republik Indonesia. Ia tidak mau tunduk terhadap siapapun. Ia membangun
Lembaga Pendidikan, mendidik dan membiayai kehidupan ustadz dan pesantren
dengan usaha bersama-sama melalui pertanian, perkebunan dan perdagangan. Itu pola
dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan serba terbatas. Tapi mereka tidak
pernah mengeluh dan menerima dengan ikhlas.
Tradisi NU yang demikian membuat warga NU
sudah terbiasa kritis terhadap pemerintah. Pada masa penjajahan belanda,
pesantren menjadi motor penggerak paling utama melawan penjajah belanda. Ketika
orde lama, pesantren menjadi kontrol sangat aktif mengkritisi Soekarno. Ketika orde
baru, pesantren sangat mengkritisi kebijakan yang melanggar syariat seperti
pemberlakukan judi legal:SDSB yang diputuskan menteri sosial pada masa itu.
Kesan ini terlihat nakal bagi yang tidak
suka. Bagi pesantren-santri-ini adalah pengejawantahan dari ajaran ulama yang
mengajarkan tentang pentingnya mandiri dan kritis terhadap segala kebijakan
yang bertentangan dengan kebenaran.
Tradisi NU lahir dari otoritas pimpinan pesantren
bukan pada pada organisasi PBNU. Otoritas menjadi pendukung atau oposisi
terhadap penguasa adalah hak preogratif masing-masing pesantren. Contoh ketika
pada masa orde baru pesantren berada sebagai oposisi pemerintah, ada tokoh NU
justru mendukung pemerintah orde baru, yaitu Kiai Mustain Ramli pimpinan Pondok
Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang
Otoritas kekuasaan pimpinan pesantren dalam
mengelola lembaga pendidikan ini mewarnai kebiasaan kemandirian berfikir kritis
terhadap problematika baik dalam organisasi NU maupun dalam merespon kompleksitas
isu-isu sosial. Karena tradisi ini yang menyebabkan para ulama di kalangan NU
sudah terbiasa terjadi perbedaan pendapat atau konflik berkaitan dengan internal
organisasi maupun dengan luar organisasi seperti hubungan NU dan pemerintah. Hingga
kini selalu saja masih terjadi pro dan kontra-apakah sebaiknya NU menjadi
bagian dari pemerintah atau berada di luar pemerintah sebagai kontrol sosial.
Ada tulisan Disertasi saudara Kang Young
Soon dengan judul:”Antara Tradisi Dan Konflik: Kepolitikan Nahdlatul Ulama”.
Pada halaman 264, ia menulis konflik Muktamar NU ke-29 di Cipasung sebagai
bentuk “perang” antara NU tandingan jago dari orde baru-Abu Hasan- dan Gus Dur.
Suasana sangat panas. Akhirnya Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Pada halaman
berikutnya, ia juga menulis konflik Kiai Ali Yafie-Ketua Pelaksana Harian
Syuriah NU- dengan Gus Dur. Ali Yafie sebagai tokoh NU sekaligus pengurus MUI
yang lebih dekat dengan orde baru kecewa terhadap Gus Dur yang dianggap terlalu
dekat dengan kelompok minoritas daripada kepada muslim. Disisi lain, ia menuduh
Gus Dur tidak mengurus secara serius organisasi NU
Meskipun demikian, konflik internal yang
sangat dahsyat sekalipun di tubuh NU tidak menyebabkan mereka terpecah-belah. Pada
Muktamar NU di Lampung tahun 2021, persaingan Ketua Umum-Gus Yahya dan Kang
Said-sangat ketat dan tegang. Kedua tim nya melakukan berbagai manuver dan
saling serang. Selesai muktamar dan terpilih Gus Yahya Sebagai Ketua Umum PBNU,
mereka berdua rangkul-rangkulan dan sering bertemu dalam satu majelis
ilmu. Suasana benar-benar cair. Tapi ia-Kang Said-tetap tidak kehilangan
tradisi pesantren yaitu selalu kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil
oleh PBNU. Hal sama juga dilakukan oleh Kyai Mustofa Bisri-Gus Mus-yang selalu
mengkritisi PBNU dan pemerintah sebagai bagian dari tugas ulama. Justru ini
sangat baik untuk perjalanan sebuah organisasi atau pemerintah agar tidak
otoriter dan selalu terbuka perbaikan-perbaikan yang datang dari masyarakat.
Kemampuan mengelola kritik dan konflik di
kalangan NU juga bagian dari tradisi pesantren yang selalu menyelesaikan
masalah dengan sederhana dan guyonan. Tidak pernah penyelesaian dengan tegang
dan marah-marah. Tradisi pesantren yang mandiri dan kritis terhadap problematika
yang ada dengan cara guyonan dan santai sebenarnya bagian dari tradisi keulamaan
yang diwariskan oleh Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang selalu di luar
pemerintahan. Itu sebabnya, tradisi yang demikian menampilkan ulama pesantren
mempunyai tradisi “ngemong”-mengayomi-kepada masyarakat dengan penuh
kasih sayang
Tradisi ulama yang ngemong terhadap
masyarakat menyebabkan hubungan mereka sangat kuat dan mengakar. Para ulama menjadi
rujukan masyarakat dalam menyelesaikan segala persoalan. Kedekatan hubungan
yang sedemikian dekat melahirkan dan membentuk kehalusan dan kelembutan
karakter masyarakat. Hanya dengan melalui simbol-simbol dan kiasan-kiasan
disertai dengan guyonan yang khas, masyarakat bisa memahami makna dibalik semua
itu. Dari sini kemudian muncul tradisi guyonan suatu tradisi yang tidak bisa
dipisahkan dari NU, PBNU dan masyarakat nahdilyin.
Apakah dalam dinamika terjadi di tubuh NU
sekarang ini-para pengurus PBNU- masih bisa guyonan sambil minum kopi, saya
belum bisa melihat hilal nya. Terus terang saya tidak mempersoalkan pada
konflik tersebut, tapi selera humor nya itu lhoooo. Khwatir saja, jika selera
humor sudah hilang, maka ciri khas NU pun hilang.
Untung saja teman-teman ku di grassroot
tetap hidup secara enjoy dan guyonanya masih sangat normal. Pagi pergi ke
sawah, siang istirahat, sore dan malam ngaji kitab. Selesai ngaji ngopi bareng.
Satu gelas diminum rame-rame sambil nyantap ubi goreng.“Gitu Aja Kok Repot”.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872