Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

NU nya Cak Lontong



Sabtu , 22 November 2025



Telah dibaca :  285

Beberapa hari ini ada berita mengagetkan tentang dinamika di internal PBNU. Rais Aam meminta mundur kepada Gus Yahya dari Ketua Umum PBNU. Bagi sebagian pengurus organisasi tersebut atau sebagian warga nadhilyin maupun eksternal sangat susah sekali menerima berita tersebut. “Diluar nurul”, tidak masuk nalar sama sekali.

Saya memperkirakan berita ini untuk beberapa waktu ke depan semakin viral. Bagi yang belum memahami organisasi ini kemungkinan merasa heran sangat besar “kok bisa ya?”. Bagi pembenci organisasi ini akan mencaci maki setengah mati. Bagi yang paham terhadap organisasi ini atau bagian dari organisasi ini akan tetap santai menikmati kopi sambil mengkaji kitab kuning: kitab ihya ‘ulumuddin, bidayatul hidayah dan lain-lain. Yang biasa mujahadah, tetap juga mujahadah. Pendek kata, aktivitas keseharian tidak ada hubungan sama sekali dengan “gonjang-ganjing” organisasi. Seolah tidak ada kejadian sama sekali. ora gumun sama sekali melihat konflik tersebut. Jika toh ditanya, teman-teman ku paling-paling akan menjawab kurang lebih begini: “Biarkan saja, wes podo tuwane, nanti akur sendiri. sudah biasa “geger gegeran” nanti juga “ger ger an”.

Saya melihat teman-teman ku di pengurus NU-ada di PCNU dan PWNU-terlihat santai sekali menyikapi kejadian tersebut. Saya menilai karena sebagian teman-teman di NU- baik kultural atau struktural-sudah matang dalam mengkaji hakikat menjalankan hidup sebagaimana yang diajarkan oleh para ulama melalui literasi kitab turos. Mereka sehari-hari sudah biasa mengkaji hakikat kehidupan dalam bingkai nilai-nilai ilahiyah. Organisasi keagamaan bagian kecil dari pembahasan tersebut. Pemahaman yang mendalam menyebabkan mereka tetap tenang happy dalam menjalankan roda organisasi dalam kondisi apapun.

Saya teringat suatu kisah kecil. Di acara harlah NU ke-91 di Gedung PBNU(29 Januari 2017), Cak Lontong mengaku dirinya sudah NU sejak kecil. Katanya: “Saya NU sejak kecil. Kalau anak lain nakal, saya NUaaakal”. Semua tertawa mendengar banyolan Cak Lontong. Bagi orang jawa timuran, dialek penambahan huruf “U” pada kata “nakal” tersebut mempunyai makna “taukid”-penguat- yang artinya sungguh-sungguh nakal atau nakal “banget”. Lebih tepat nya mungkin bisa dibilang “ndableg” atau “mbeling”.

Terlepas itu sebatas guyonan pada acara di harlah tersebut, Cak Lontong sebenarnya sedang memberi gambaran tradisi yang sesungguhnya dari NU yaitu : tradisi nakal dan guyonan. Suatu tradisi kehidupan pesantren yang kemudian menjadi ciri khas santri dan alumni dalam merespon peristiwa dalam kehidupan sehari-hari dalam pengertian konstruktif.

Tradisi NU lahir dari tradisi pesantren yang mandiri dan tidak mau terikat oleh kekuatan lain, termasuk pemerintah. Pesantren sebagai lembaga pendidikan lahir dari kemandirian para pendirinya sejak sebelum kemerdekaan republik Indonesia. Ia tidak mau tunduk terhadap siapapun. Ia membangun Lembaga Pendidikan, mendidik dan membiayai kehidupan ustadz dan pesantren dengan usaha bersama-sama melalui pertanian, perkebunan dan perdagangan. Itu pola dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan serba terbatas. Tapi mereka tidak pernah mengeluh dan menerima dengan ikhlas.

Tradisi NU yang demikian membuat warga NU sudah terbiasa kritis terhadap pemerintah. Pada masa penjajahan belanda, pesantren menjadi motor penggerak paling utama melawan penjajah belanda. Ketika orde lama, pesantren menjadi kontrol sangat aktif mengkritisi Soekarno. Ketika orde baru, pesantren sangat mengkritisi kebijakan yang melanggar syariat seperti pemberlakukan judi legal:SDSB yang diputuskan menteri sosial pada masa itu.

Kesan ini terlihat nakal bagi yang tidak suka. Bagi pesantren-santri-ini adalah pengejawantahan dari ajaran ulama yang mengajarkan tentang pentingnya mandiri dan kritis terhadap segala kebijakan yang bertentangan dengan kebenaran.

Tradisi NU lahir dari otoritas pimpinan pesantren bukan pada pada organisasi PBNU. Otoritas menjadi pendukung atau oposisi terhadap penguasa adalah hak preogratif masing-masing pesantren. Contoh ketika pada masa orde baru pesantren berada sebagai oposisi pemerintah, ada tokoh NU justru mendukung pemerintah orde baru, yaitu Kiai Mustain Ramli pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang (Sujuthi, 2001). Langkah yang terkesan sangat kontroversi dan menentang arus kebiasaan ulama NU saat itu. Justru, ijtihad kyai Mustain ini, NU mulai masuk babak baru tentang modernisasi pendidikan dengan berdirinya Universitas Darul Ulum di pondok tersebut.

Otoritas kekuasaan pimpinan pesantren dalam mengelola lembaga pendidikan ini mewarnai kebiasaan kemandirian berfikir kritis terhadap problematika baik dalam organisasi NU maupun dalam merespon kompleksitas isu-isu sosial. Karena tradisi ini yang menyebabkan para ulama di kalangan NU sudah terbiasa terjadi perbedaan pendapat atau konflik berkaitan dengan internal organisasi maupun dengan luar organisasi seperti hubungan NU dan pemerintah. Hingga kini selalu saja masih terjadi pro dan kontra-apakah sebaiknya NU menjadi bagian dari pemerintah atau berada di luar pemerintah sebagai kontrol sosial.

Ada tulisan Disertasi saudara Kang Young Soon dengan judul:”Antara Tradisi Dan Konflik: Kepolitikan Nahdlatul Ulama”. Pada halaman 264, ia menulis konflik Muktamar NU ke-29 di Cipasung sebagai bentuk “perang” antara NU tandingan jago dari orde baru-Abu Hasan- dan Gus Dur. Suasana sangat panas. Akhirnya Gus Dur terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Pada halaman berikutnya, ia juga menulis konflik Kiai Ali Yafie-Ketua Pelaksana Harian Syuriah NU- dengan Gus Dur. Ali Yafie sebagai tokoh NU sekaligus pengurus MUI yang lebih dekat dengan orde baru kecewa terhadap Gus Dur yang dianggap terlalu dekat dengan kelompok minoritas daripada kepada muslim. Disisi lain, ia menuduh Gus Dur tidak mengurus secara serius organisasi NU (Soon, 2008).

Meskipun demikian, konflik internal yang sangat dahsyat sekalipun di tubuh NU tidak menyebabkan mereka terpecah-belah. Pada Muktamar NU di Lampung tahun 2021, persaingan Ketua Umum-Gus Yahya dan Kang Said-sangat ketat dan tegang. Kedua tim nya melakukan berbagai manuver dan saling serang. Selesai muktamar dan terpilih Gus Yahya Sebagai Ketua Umum PBNU, mereka berdua rangkul-rangkulan dan sering bertemu dalam satu majelis ilmu. Suasana benar-benar cair. Tapi ia-Kang Said-tetap tidak kehilangan tradisi pesantren yaitu selalu kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh PBNU. Hal sama juga dilakukan oleh Kyai Mustofa Bisri-Gus Mus-yang selalu mengkritisi PBNU dan pemerintah sebagai bagian dari tugas ulama. Justru ini sangat baik untuk perjalanan sebuah organisasi atau pemerintah agar tidak otoriter dan selalu terbuka perbaikan-perbaikan yang datang dari masyarakat.

Kemampuan mengelola kritik dan konflik di kalangan NU juga bagian dari tradisi pesantren yang selalu menyelesaikan masalah dengan sederhana dan guyonan. Tidak pernah penyelesaian dengan tegang dan marah-marah. Tradisi pesantren yang mandiri dan kritis terhadap problematika yang ada dengan cara guyonan dan santai sebenarnya bagian dari tradisi keulamaan yang diwariskan oleh Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang selalu di luar pemerintahan. Itu sebabnya, tradisi yang demikian menampilkan ulama pesantren mempunyai tradisi “ngemong”-mengayomi-kepada masyarakat dengan penuh kasih sayang (Wahid, 2011).

Tradisi ulama yang ngemong terhadap masyarakat menyebabkan hubungan mereka sangat kuat dan mengakar. Para ulama menjadi rujukan masyarakat dalam menyelesaikan segala persoalan. Kedekatan hubungan yang sedemikian dekat melahirkan dan membentuk kehalusan dan kelembutan karakter masyarakat. Hanya dengan melalui simbol-simbol dan kiasan-kiasan disertai dengan guyonan yang khas, masyarakat bisa memahami makna dibalik semua itu. Dari sini kemudian muncul tradisi guyonan suatu tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari NU, PBNU dan masyarakat nahdilyin.

Apakah dalam dinamika terjadi di tubuh NU sekarang ini-para pengurus PBNU- masih bisa guyonan sambil minum kopi, saya belum bisa melihat hilal nya. Terus terang saya tidak mempersoalkan pada konflik tersebut, tapi selera humor nya itu lhoooo. Khwatir saja, jika selera humor sudah hilang, maka ciri khas NU pun hilang.

Untung saja teman-teman ku di grassroot tetap hidup secara enjoy dan guyonanya masih sangat normal. Pagi pergi ke sawah, siang istirahat, sore dan malam ngaji kitab. Selesai ngaji ngopi bareng. Satu gelas diminum rame-rame sambil nyantap ubi goreng.“Gitu Aja Kok Repot”.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872