
Rasanya sedih tidak bisa memegang Laptop. Bingung.
Tapi kondisi memang diharuskan untuk istirahat. Jangankan megang Lptop, megang
istri pun sangat sulit. Kepala “gleyeng”, seperti berputar-putar. Jika tidur
terlentang langsung terasa seperti berputar. Ganti posisi tidur miring, sembuh.
Ganti posisi duduk, berputar lagi. Berdiri kadang tambah kenceng mutarnya. Itu dalam
perasaan. Halusinasi. Sebenarnya posisi tetap. Tapi dalam rasa dunia sudah
seperti kiamat. Istilah dokter “oyong-oyong”. Istilah keren nya terkena
penyakit vertigo. Ternyata tidak ada sakit yang enak. Tidak ada penyakit yang
menyenangkan. Semua harus dijalani dengan kesabaran.
Bagiku tidak bisa memegang Laptop sangat
menyedihkan. Ada sesuatu yang hilang pada diriku jika tidak ada laptop
disampingku. Tulisan ini adalah ujicoba membuka laptop kedua. Tadi malam membuka
laptop 20 menit mulai jam 20.00 WIB. Ngaji online kitab fiqh super tipis: Sulam
Munajat Karya Syeikh Imam Nawawi. Hasil uji coba, kepala masih gliyeng. Konsentrasi
masih terganggu.
Sedang uji coba kedua tulisan ini. Masih gliyeng
juga. tapi saya kuat-kuatkan. Mumpung kapolda tidak melihatku. Sebab jika
kapolda melihat ku menulis, bisa kena semprit. Sebab menurutnya gara-gara kena
vertigo disebabkan terlalu sering di Laptop. Padahal faktor vertigo macam-macam
jenisnya; bisa gangguang pendengaran telinga, migrain, dan darah tinggi. Termasuk
juga faktor internal antara lain sering kena sanksi indisipliner oleh kapolda. Factor
yang terakhir mungkin dia tidak mengetahuinya.
Meskipun gleyeng, saya tetap nulis. Entah
apa isinya, yang penting nulis. Saya ingin tulisanku ada yang membaca. Satu pembaca
pun tak masalah. Jika satu saja pembaca dan merasakan manfaat, saya merasa bahagia.
Artinya dalam kondisi seperti ini masih bisa memberi manfaat kepada orang lain.
Saya tidak akan menunggu sempurna susunan
kalimat atau sempurna kosa kata ku. Tidak harus dan tidak akan saya lakukan. Saya
sudah merasa bahwa tulisanku jauh dari kaidah-kaidah ilmuwan atau ahli
tatabahasa Indonesia yang baik dan benar. Idealnya memang harusnya demikian. Supaya
ramuan tulisanya semakin nikmat. Namun mencari momentum untuk belajar meracik
kata terasa segar, nikmat dan menggairahkan para pembaca untuk “ketungkul”melototi
tulisanku”rasa-rasanya” kok tidak ada waktu nya. Selain itu setelah saya amati
dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, masyarakat ini ternyata
tidak semua membutuhkan susunan kalimat yang sangat ideal. Saya melihatnya
dalam ucapan dan percakapan sehari-hari, mereka membutuhkan kata atau kalimat
yang bisa dipaham, meskipun agak sedikit kacau susunan kalimat dan pilihan
kata-katanya.
Tulisan ku jelas bukan sekelas boy candra,
tere liye,hilman hariwijaya dan penulis muda lainnya. bahkan ada yang terbaru
penulis masih berumur belasan tahun dan telah menelorkan puluhan karya novel. Saya
juga bukan penulis sekaliber abdurrahman wahid, nurcholish madjid, emha ainun
najib, kh. Kholil bisri, Mustofa bisri atau butet kertaredjasa yang tulisannya
bisa membuat orang menangis dan tertawa terbahak-bahak atau kesedihan hingga
meneteskan air mata penderitaan.
Saya hanya berprinsip pada status sebagai
bagian dari orang-orang yang menyingkirkan ada ranting di pinggir jalan. Mana tahu,
ia bermanfaat. Sebab kata Nabi “Kamu
menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah
bagimu,”
Di era saat sekarang ini ruang sedekah
sangat banyak. Jika efisiensi menjadi alasan kita semakin sulit untuk
bersedekah dengan harta dan kekayaan, maka Tuhan memberi ruang-ruang lebih luas
lagi untuk memperkaya amal sholeh kita yang memberi manfaat kepada khalyak
ramai. Tidak harus dengan harta. Jika itu sulit, kita bisa tersenyum, pandangan
mata yang bersahabat, berbicara yang menyejukan hati, dan membuat goresan kalimat,
syair, puisi, karya ilmiah dan buku-buku yang menyehatkan pikiran kita. Ia bisa
menjadi nutrisi yang manfaatnya jauh lebih besar dari program makan berizi. Sebab
ketika nutrisi peradaban telah tertanam dalam kecerdasan akal pikiran dan hati,
maka akan melahirkan generasi yang bisa menciptakan makanan bergizi yang sangat
berkualitas di atas rata-rata. Sebab orang-orang yang akal pikian dan hati
telah mendapatkan nutrisi peradaban yang benar, maka ia secara alamiah akan
mencari dan mengambil nutrisi makan yang berkualitas.
Penulis : Imam Ghozali
Tri Wahono
Pak kiyai ini sambil tiduran pun masih ada inspirasi untuk menulis.
Admin
hehehehe, hiburan mas
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872