Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Nutrisi saat terjadi Oyong-Oyong



Senin , 24 Februari 2025



Telah dibaca :  614

Rasanya sedih tidak bisa memegang Laptop. Bingung. Tapi kondisi memang diharuskan untuk istirahat. Jangankan megang Lptop, megang istri pun sangat sulit. Kepala “gleyeng”, seperti berputar-putar. Jika tidur terlentang langsung terasa seperti berputar. Ganti posisi tidur miring, sembuh. Ganti posisi duduk, berputar lagi. Berdiri kadang tambah kenceng mutarnya. Itu dalam perasaan. Halusinasi. Sebenarnya posisi tetap. Tapi dalam rasa dunia sudah seperti kiamat. Istilah dokter “oyong-oyong”. Istilah keren nya terkena penyakit vertigo. Ternyata tidak ada sakit yang enak. Tidak ada penyakit yang menyenangkan. Semua harus dijalani dengan kesabaran.

Bagiku tidak bisa memegang Laptop sangat menyedihkan. Ada sesuatu yang hilang pada diriku jika tidak ada laptop disampingku. Tulisan ini adalah ujicoba membuka laptop kedua. Tadi malam membuka laptop 20 menit mulai jam 20.00 WIB. Ngaji online kitab fiqh super tipis: Sulam Munajat Karya Syeikh Imam Nawawi. Hasil uji coba, kepala masih gliyeng. Konsentrasi masih terganggu.

Sedang uji coba kedua tulisan ini. Masih gliyeng juga. tapi saya kuat-kuatkan. Mumpung kapolda tidak melihatku. Sebab jika kapolda melihat ku menulis, bisa kena semprit. Sebab menurutnya gara-gara kena vertigo disebabkan terlalu sering di Laptop. Padahal faktor vertigo macam-macam jenisnya; bisa gangguang pendengaran telinga, migrain, dan darah tinggi. Termasuk juga faktor internal antara lain sering kena sanksi indisipliner oleh kapolda. Factor yang terakhir mungkin dia tidak mengetahuinya.

Meskipun gleyeng, saya tetap nulis. Entah apa isinya, yang penting nulis. Saya ingin tulisanku ada yang membaca. Satu pembaca pun tak masalah. Jika satu saja pembaca dan merasakan manfaat, saya merasa bahagia. Artinya dalam kondisi seperti ini masih bisa memberi manfaat kepada orang lain.

Saya tidak akan menunggu sempurna susunan kalimat atau sempurna kosa kata ku. Tidak harus dan tidak akan saya lakukan. Saya sudah merasa bahwa tulisanku jauh dari kaidah-kaidah ilmuwan atau ahli tatabahasa Indonesia yang baik dan benar. Idealnya memang harusnya demikian. Supaya ramuan tulisanya semakin nikmat. Namun mencari momentum untuk belajar meracik kata terasa segar, nikmat dan menggairahkan para pembaca untuk “ketungkul”melototi tulisanku”rasa-rasanya” kok tidak ada waktu nya. Selain itu setelah saya amati dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, masyarakat ini ternyata tidak semua membutuhkan susunan kalimat yang sangat ideal. Saya melihatnya dalam ucapan dan percakapan sehari-hari, mereka membutuhkan kata atau kalimat yang bisa dipaham, meskipun agak sedikit kacau susunan kalimat dan pilihan kata-katanya.

Tulisan ku jelas bukan sekelas boy candra, tere liye,hilman hariwijaya dan penulis muda lainnya. bahkan ada yang terbaru penulis masih berumur belasan tahun dan telah menelorkan puluhan karya novel. Saya juga bukan penulis sekaliber abdurrahman wahid, nurcholish madjid, emha ainun najib, kh. Kholil bisri, Mustofa bisri atau butet kertaredjasa yang tulisannya bisa membuat orang menangis dan tertawa terbahak-bahak atau kesedihan hingga meneteskan air mata penderitaan.

Saya hanya berprinsip pada status sebagai bagian dari orang-orang yang menyingkirkan ada ranting di pinggir jalan. Mana tahu, ia bermanfaat. Sebab kata Nabi  “Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah bagimu,”

Di era saat sekarang ini ruang sedekah sangat banyak. Jika efisiensi menjadi alasan kita semakin sulit untuk bersedekah dengan harta dan kekayaan, maka Tuhan memberi ruang-ruang lebih luas lagi untuk memperkaya amal sholeh kita yang memberi manfaat kepada khalyak ramai. Tidak harus dengan harta. Jika itu sulit, kita bisa tersenyum, pandangan mata yang bersahabat, berbicara yang menyejukan hati, dan membuat goresan kalimat, syair, puisi, karya ilmiah dan buku-buku yang menyehatkan pikiran kita. Ia bisa menjadi nutrisi yang manfaatnya jauh lebih besar dari program makan berizi. Sebab ketika nutrisi peradaban telah tertanam dalam kecerdasan akal pikiran dan hati, maka akan melahirkan generasi yang bisa menciptakan makanan bergizi yang sangat berkualitas di atas rata-rata. Sebab orang-orang yang akal pikian dan hati telah mendapatkan nutrisi peradaban yang benar, maka ia secara alamiah akan mencari dan mengambil nutrisi makan yang berkualitas.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Tri Wahono

Pak kiyai ini sambil tiduran pun masih ada inspirasi untuk menulis.

Admin

hehehehe, hiburan mas

Avatar

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872