
Setelah sholat ashar saya bersama istri
jalan-jalan. Keliling kota kecil Selatpanjang. Pemandang mulai ada perubahan. Bangunan
rumah-rumah toko (ruko) bermunculan, mini market, hotel, rumah makan, dan
pedagang kaki lima yang beberapa bulan ini sangat menjamur. Bisnis UMKM. Sangat
bagus. Tapi prospek nya belum jelas. Perputaran duit kurang lancar. Atau memang
karena jiwa bisnis kurang tahan banting. Saya kurang mendalami hal tersebut. Yang
jelas, sudah ada beberapa jualan UMKM yang sudah tutup di sebelah sini, tapi
sebelah sana muncul lagi. Mungkin kebijakan baru menteri keuangan baru -Pak
Purbaya- bisa menghidupkan UMKM yang masih terlihat “may be yes, may be no” di
Kota Selatpanjang.
Bisnis kecil-kecilan membutuhkan modal. Tentu
saja kecil. Meskipun kecil, belum tentu punya. Usaha model seperti ini yang
sering disebut UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Caranya, mereka pinjam ke
Bank Pemerintah dengan ketentuan-ketentuan kesesuian besaran modal usahanya. Ada
juga yang pinjamg di koperasi. Dulu sering disebut “bank ucek-ucek”. Orang Jawa
kata “ucek-ucek” artinya bangun pagi hari tapi belum cuci muka. Karena biasanya
petugas koperasi datang masih pagi.
UMKM yang kecil-kecilan memang tidak bisa cepat
besar seperti kisah-kisah di film pendek (short film) seperti film korea
atau china. Dari kismis tiba-tiba melejit jadi kaya gara-gara menemukan Batu
Giok Kerajaan. Para pedagang kecil memang harus benar-benar menyiapkan segala
kemungkinan dengan hidup tahan banting. Hari ini usaha, hari ini juga bisa
makan. Usaha kecil, untung kecil. Itu sebabnya, makan pun harus ekstra
hati-hati. Jika orang lain sekali makan dengan harta ratusan ribu, pedagang
kecil cukup dengan makan ikan asin. Pendek kata, pedagang kecil memang harus
bisa memperkuat ikat pinggang dalam proses hidup keseharian.
Pedagang bermodal kecil bermimpi sukses besar
boleh-boleh saja. Meskipun tidak sebesar Ahmad Sahroni. Pedagang kecil -tanpa
adanya relasi orang hebat-harus terus belajar dan kerja keras untuk bisa naik
tangga sedikit demi sedikit. Jangan meloncat ke tangga berikutnya jika belum
mempunyai ilmunya. Bisa-bisa terpeleset,terjungkal dan kaki patah. Seperti pertumbuhan
badan. Jika pertumbuhan secara normal, maka terlihat enak di pandang. Tapi jika
pertumbuhan dengan bantuan obat atau vitamin penggemuk badan, semua orang akan
sangat kaget. Kesukesan yang tidak alamiah.
Ada orang kecil sekarang menjadi orang besar
dan memberi nasehat tentang strategi menjadi orang besar, percayalah ia laksana
guru pencak silat yang sedang merahasiakan “jurus kuncinya”. Orang hebat,
selalu saja menyembunyikan sebagian strategi paling penting yang merubah hidup
nya.
Tapi sore ini saya menemukan sepasang suami-istri
yang jualan kelapa muda. Kelihatannya ia benar-benar UMKM (Usaha Mandiri Kurang
Modal). Sang suami sudah tidak mempunyai kaki. Tugas nya menyiapkan dan
mengupas kelapa muda, sedangkan istrinya mempunyai tugas mengantar ke pembeli.
Saya melihatnya ikut prihatin. Tapi mereka
justru terlihat bahagia. Apalagi sang suami. Meskipun tanpa kaki, wajah nya
terlihat sangat optimis menjalani hidup. Senyum dan tawa menghiasi wajah nya. Seperti
tidak ada rasa sedih. enjoy. Mereka menjalani hidup nya penuh dengan
semangat dengan keterbatasan anggota tubuh dan keterbatasan modal usaha
tentunya.
Sepasang suami istri itu tidak paham
tentang moneter, siapa sri mulyani, siapa itu purbaya dan apa yang disebut
efisiensi anggaran. Saya kadang tanya tentang omset penjualannya. Ia menceritakan
bahwa jika dulu buka usaha mulai jam 15/00-jam 21.00 bisa habis 100 biji kelapa
muda. Sekarang untuk menghabiskan 40 biji saja sangat sulit. Namun, ia tetap
konsisten jualan kelapa muda. Baginya sudah mengalami manis dan pahitnya bisnis
kelapa muda. Baginya senang dan susah adalah jodoh kehidupan yang akan terus
ada sepanjang manusia masih hidup.
Saya kira kata kunci nya disini. Di saat
orang lain “gumrungsung “ terhadap kesulitan ekonomi dan merasa tidak
baik-baik saja saat sekarang ini, sepasang suami istri ini menunjukan optimisme
hidup di tengah kondisi bisnis UMKM yang tidak menentu. Mungkin dia berfikir, buat
apa mengeluh kepada orang lain, orang lain pun sama juga sedang mengeluh. Daripada
mengeluh terus menghadapi kehidupan, mendingan tetap usaha seberapa pun
hasilnya. Hidup memang butuh perjuangan. Semakin keras hidup semakin keras
perjuangan. Dan perjuangan tentu saja akan membawa hasil. Salah satu hasilnya
yaitu diantara anak nya yang “ragil” sedang menyelesaikan program magister di
kota malang.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874