Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Obat Anti Mengeluh



Minggu , 14 September 2025



Telah dibaca :  707

Setelah sholat ashar saya bersama istri jalan-jalan. Keliling kota kecil Selatpanjang. Pemandang mulai ada perubahan. Bangunan rumah-rumah toko (ruko) bermunculan, mini market, hotel, rumah makan, dan pedagang kaki lima yang beberapa bulan ini sangat menjamur. Bisnis UMKM. Sangat bagus. Tapi prospek nya belum jelas. Perputaran duit kurang lancar. Atau memang karena jiwa bisnis kurang tahan banting. Saya kurang mendalami hal tersebut. Yang jelas, sudah ada beberapa jualan UMKM yang sudah tutup di sebelah sini, tapi sebelah sana muncul lagi. Mungkin kebijakan baru menteri keuangan baru -Pak Purbaya- bisa menghidupkan UMKM yang masih terlihat “may be yes, may be no” di Kota Selatpanjang.

Bisnis kecil-kecilan membutuhkan modal. Tentu saja kecil. Meskipun kecil, belum tentu punya. Usaha model seperti ini yang sering disebut UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Caranya, mereka pinjam ke Bank Pemerintah dengan ketentuan-ketentuan kesesuian besaran modal usahanya. Ada juga yang pinjamg di koperasi. Dulu sering disebut “bank ucek-ucek”. Orang Jawa kata “ucek-ucek” artinya bangun pagi hari tapi belum cuci muka. Karena biasanya petugas koperasi datang masih pagi.

UMKM yang kecil-kecilan memang tidak bisa cepat besar seperti kisah-kisah di film pendek (short film) seperti film korea atau china. Dari kismis tiba-tiba melejit jadi kaya gara-gara menemukan Batu Giok Kerajaan. Para pedagang kecil memang harus benar-benar menyiapkan segala kemungkinan dengan hidup tahan banting. Hari ini usaha, hari ini juga bisa makan. Usaha kecil, untung kecil. Itu sebabnya, makan pun harus ekstra hati-hati. Jika orang lain sekali makan dengan harta ratusan ribu, pedagang kecil cukup dengan makan ikan asin. Pendek kata, pedagang kecil memang harus bisa memperkuat ikat pinggang dalam proses hidup keseharian.

Pedagang bermodal kecil bermimpi sukses besar boleh-boleh saja. Meskipun tidak sebesar Ahmad Sahroni. Pedagang kecil -tanpa adanya relasi orang hebat-harus terus belajar dan kerja keras untuk bisa naik tangga sedikit demi sedikit. Jangan meloncat ke tangga berikutnya jika belum mempunyai ilmunya. Bisa-bisa terpeleset,terjungkal dan kaki patah. Seperti pertumbuhan badan. Jika pertumbuhan secara normal, maka terlihat enak di pandang. Tapi jika pertumbuhan dengan bantuan obat atau vitamin penggemuk badan, semua orang akan sangat kaget. Kesukesan yang tidak alamiah.

Ada orang kecil sekarang menjadi orang besar dan memberi nasehat tentang strategi menjadi orang besar, percayalah ia laksana guru pencak silat yang sedang merahasiakan “jurus kuncinya”. Orang hebat, selalu saja menyembunyikan sebagian strategi paling penting yang merubah hidup nya.

Tapi sore ini saya menemukan sepasang suami-istri yang jualan kelapa muda. Kelihatannya ia benar-benar UMKM (Usaha Mandiri Kurang Modal). Sang suami sudah tidak mempunyai kaki. Tugas nya menyiapkan dan mengupas kelapa muda, sedangkan istrinya mempunyai tugas mengantar ke pembeli.

Saya melihatnya ikut prihatin. Tapi mereka justru terlihat bahagia. Apalagi sang suami. Meskipun tanpa kaki, wajah nya terlihat sangat optimis menjalani hidup. Senyum dan tawa menghiasi wajah nya. Seperti tidak ada rasa sedih. enjoy. Mereka menjalani hidup nya penuh dengan semangat dengan keterbatasan anggota tubuh dan keterbatasan modal usaha tentunya.

Sepasang suami istri itu tidak paham tentang moneter, siapa sri mulyani, siapa itu purbaya dan apa yang disebut efisiensi anggaran. Saya kadang tanya tentang omset penjualannya. Ia menceritakan bahwa jika dulu buka usaha mulai jam 15/00-jam 21.00 bisa habis 100 biji kelapa muda. Sekarang untuk menghabiskan 40 biji saja sangat sulit. Namun, ia tetap konsisten jualan kelapa muda. Baginya sudah mengalami manis dan pahitnya bisnis kelapa muda. Baginya senang dan susah adalah jodoh kehidupan yang akan terus ada sepanjang manusia masih hidup.

Saya kira kata kunci nya disini. Di saat orang lain “gumrungsung “ terhadap kesulitan ekonomi dan merasa tidak baik-baik saja saat sekarang ini, sepasang suami istri ini menunjukan optimisme hidup di tengah kondisi bisnis UMKM yang tidak menentu. Mungkin dia berfikir, buat apa mengeluh kepada orang lain, orang lain pun sama juga sedang mengeluh. Daripada mengeluh terus menghadapi kehidupan, mendingan tetap usaha seberapa pun hasilnya. Hidup memang butuh perjuangan. Semakin keras hidup semakin keras perjuangan. Dan perjuangan tentu saja akan membawa hasil. Salah satu hasilnya yaitu diantara anak nya yang “ragil” sedang menyelesaikan program magister di kota malang.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874