
Seingat saya, istilah “open house” mulai populer tahun 1999-an di
permulaan era reformasi. Waktu itu saya lagi rajin-rajin nya membaca Media
Massa seperti Kompas, Tempo, Jawa Pos dan Republika. Tokoh yang sering menggunakan
istilah ini yaitu K.H. Abdurrahman Wahid [Gus Dur]. Pada hari lebaran pertama, Rumah
Gus Dur yang di Ciganjur membuka open house sebagai silaturahim nasional
dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan negara. Setelah kejadian itu, open
house menjadi kosa kata khususiyah untuk berlebaran kalangan para
pejabat. Maka sampai detik ini, saya belum melihat rumah penjual sayur dan
tukang becak membuat pengumuman di Media Sosial atau Media Massa dengan kata open
house. Masyarakat umum masih menggunakan kata “lebaran” ke saudara dekat
dan masyarakat sekitar nya. kata lebaran terdengar lebih merakyat.
Setelah otonomi daerah dan reformasi
berjalan, makna open house sudah populer sampai di tingkat kabupaten.
Para pejabat mulai dari eksekutif dan legislatif sering menggunakan istilah ini.
Sebab terkesan elit, baik dari bahasa maupun dari penyelenggara acara tersebut.
Di Meranti sudah sering ini dilakukan. Lucunya[ jika memang dianggap lucu],
sejak Pak Irwan, Pak Muhammad Adil, dan sekarang pak Asmar menjadi petinggi
negeri ini, saya belum pernah ikut open house. Saya baru menyadari.
Padahal sering bertemu di setiap acara. Pak Irwan sering ketemu, apalagi Pak
Haji Adil. Begitu juga dengan Pak Asmar sering ketemu. Tapi saat open house
selalu saja tidak bisa hadir. Hal yang sama dilakukan oleh para anggota dewan,
saya tidak bisa hadir.
Tentu bukan berarti saya sedang menjaga
jarak dengan para pejabat untuk mempraktekan kalimat, “Ulama harus jaga jarak dengan
Umaro”. Sejak dulu, saya sudah menjaga jarak kok. Duduk saja, saya tidak “dempetan”,
kecuali dengan istri, itupun di malam hari. Saya juga tidak sedang mengkritisi
Umaro, sebab kritis juga tidak ada hubungan nya dengan “ di dalam atau di luar
pemerintah”. Ada juga kritis yang diluar pemerintah tapi rusak juga, karena
kritisnya kadang banyak motif dan maqasyid siyasah-nya. saking kritisnya pun
menabrak etika dan moral-moral agama. Yang jelas, perasaan saya selalu dekat,
mulai dari pejabat bersih dan tidak
bersih sampai tukang pemungut sampah yang bau sampah pun dekat. Kadang jika
dekat dengan para pejabat, saya seolah-oleh keluarga pejabat. Dekat dengan Pemulung
dikira saya ipar nya pemulung. Tidak masalah. Enjoy saja. Sebab hubungan sosial
selalu ada resiko. Tapi, konsistensi hati saya kira perlu saya latih untuk
memahami suatu kebenaran yang memang kadang tidak perlu dijelaskan kepada
masyarakat.
Terlepas dari berbagai muatan politik, open
house sebenarnya telah menggambarkan sejatinya manusia yang mempunyai
naluri agama atau ketuhanan. Ciri-ciri manusia penegak nilai-nilai agama selalu
menginginkan kebaikan dan keberkahan. Tuan Rumah [para pejabat] telah
menyiapkan segala persiapan penghormatan kepada para tamu yang datang, mulai
dari tempat duduk sampai pada hidangan dengan beragam jenis dan selera. Para tamu
yang datang terutama masyarakat biasa adalah suatu penghormatan bisa duduk,
makan atau sebatas mencicipi makanan para pembesar negeri. Hidup yang
selama-lama bergelut dengan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup,
tiba-tiba mendapat hiburan beberapa jam di rumah para pejabat untuk makan,
minum dan bersalaman dengan Tuan Rumah, dan bahkan kadang Tuan Rumah menyisipkan
duit [jumlah nya tidak seberapa] kepada tamu-tamu yang datang. Sungguh masyarakat
awam yang tidak begitu memahami arti sebuah politik dan segala kesemrawutan di
dalam nya, mendapatkan duit sebesar puluhan ribu atau air kaleng akan menjadi
kisah indah dalam hidupnya. Apalagi sampai bisa mengabadikan foto dengan tuan
rumah, sungguh menjadi cerita berseri sampai kepada anak-anak dan cucu-cucunya.
Dari nya mengalir doa kebaikan untuk para pejabat negeri [tanpa perlu diminta
doa].
Fenomena ini yang saya maksud “manusia
berwajah malaikat”, yaitu wajah-wajah yang tulus gembira, dengan wajah yang
ceria saling bertemu, tatap muka dan menebar senyum kedamaian. Hikmah Idul
Fitri benar-benar telah mengembalikan lagi para tamu bisa makan dan minum dan
bisa menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam bersikap dan berbuat saat
berjumpa di acara open house.
Perilaku masyarakat umum berbeda masyarakat
level di atas nya. Ada masyarakat birokrat yang mereka berada di perkantoran;
menjadi kepala dinas, kepala bagian dan lain-lain. Orang-orang ini harus bisa
menterjemahkan bahasa tubuh pemimpin nya. Sebab bahasa tubuh adalah bahasa
kehidupan dan karir bagi para kepala dinas dan sejenisnya. Ia sering menjadi
urat nadi kehidupan. Mereka benar-benar dilatih untuk bisa memahami arti
senyum, tertawa dan diam nya pemimpinya. Pola hubungan seperti ini kemudian
juga membentuk komunitas masyarakat tersendiri yang tidak bisa diterjemahkan
apa adanya oleh kelompok masyarakat pada umum nya. Masyarakat birokrat
sebagaimana masyarakat politik praktis telah menggunakan bahasa dialog dan
bahasa isyarat menjadi dua wajah; bahasa tersurat dan tersirat. Bahasa tersurat
pun melahirkan berbagai macam kasta yang bisa dipahami oleh mereka yang sudah
terbiasa dalam dunia ini. Hari ini baik ketika ada kesamaan tujuan, besok akan
berubah karena sudah berbeda tujuan. Jadi, masyarakat ini sungguh masyarakat
dinamis yang harus mempunyai daya tahan tubuh melebihi dari masyarakat pada
umum nya.
Dari paparan ini tentu saja akan melebar
judul dari artikel ini, bahwa manusia berwajah malaikat tidak selama nya apa
yang disebut nabi sebagai “malaikat rahmah” yang datang ke rumah nya dengan
membawa kedamaian. Open house para pejabat akan melahirkan definisi-definisi
malaikat; bisa jadi ada malaikat pembagi rizki dengan naik jabatanya atau
malaikat penjabut nyawa [jabatan-nya] dalam prespektif sosial politik tentunya.
Kenapa demikian? Karena memang kelahiran
istilah open house pada era dimana etika-etika hubungan atasan dan
bawahan lahir dari pergulatan politik. Konsekuensinya selalu ada yang
menyenangkan dan tidak menyenangkan. Berbeda bagi orang-orang umum yang kurang peduli
terhadap kepentingan politik, mereka selalu saja enjoy dan bahkan
menikmati.
Di akhir tulisan ini saya kadang
bertanya-tanya dalam hati, saya termasuk kelompok birokrat atau masyarakat
umum? Apa bisa jadi bukan kedua-dua nya. apakah perlu saya rubah format
komunikasi saya dan ikut kebiasaan open house. Bisa jadi begitu, sebab ini gara-gara
kelaku saya yang tidak pernah ikut open house para pejabat. Walaupun saya bukan
di anggap sebagai orang birokrat dan sudah tidak dianggap lagi orang pada
umumnya, tapi setidak nya saya bukan mu’tazilah,kikkik.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883