Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Open House; Manusia Berwajah Malaikat



Selasa , 25 April 2023



Telah dibaca :  510

Seingat saya, istilah “open house” mulai populer tahun 1999-an di permulaan era reformasi. Waktu itu saya lagi rajin-rajin nya membaca Media Massa seperti Kompas, Tempo, Jawa Pos dan Republika. Tokoh yang sering menggunakan istilah ini yaitu K.H. Abdurrahman Wahid [Gus Dur]. Pada hari lebaran pertama, Rumah Gus Dur yang di Ciganjur membuka open house sebagai silaturahim nasional dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan negara. Setelah kejadian itu, open house menjadi kosa kata khususiyah untuk berlebaran kalangan para pejabat. Maka sampai detik ini, saya belum melihat rumah penjual sayur dan tukang becak membuat pengumuman di Media Sosial atau Media Massa dengan kata open house. Masyarakat umum masih menggunakan kata “lebaran” ke saudara dekat dan masyarakat sekitar nya. kata lebaran terdengar lebih merakyat.

Setelah otonomi daerah dan reformasi berjalan, makna open house sudah populer sampai di tingkat kabupaten. Para pejabat mulai dari eksekutif dan legislatif sering menggunakan istilah ini. Sebab terkesan elit, baik dari bahasa maupun dari penyelenggara acara tersebut. Di Meranti sudah sering ini dilakukan. Lucunya[ jika memang dianggap lucu], sejak Pak Irwan, Pak Muhammad Adil, dan sekarang pak Asmar menjadi petinggi negeri ini, saya belum pernah ikut open house. Saya baru menyadari. Padahal sering bertemu di setiap acara. Pak Irwan sering ketemu, apalagi Pak Haji Adil. Begitu juga dengan Pak Asmar sering ketemu. Tapi saat open house selalu saja tidak bisa hadir. Hal yang sama dilakukan oleh para anggota dewan, saya tidak bisa hadir.

Tentu bukan berarti saya sedang menjaga jarak dengan para pejabat untuk mempraktekan kalimat, “Ulama harus jaga jarak dengan Umaro”. Sejak dulu, saya sudah menjaga jarak kok. Duduk saja, saya tidak “dempetan”, kecuali dengan istri, itupun di malam hari. Saya juga tidak sedang mengkritisi Umaro, sebab kritis juga tidak ada hubungan nya dengan “ di dalam atau di luar pemerintah”. Ada juga kritis yang diluar pemerintah tapi rusak juga, karena kritisnya kadang banyak motif dan maqasyid siyasah-nya. saking kritisnya pun menabrak etika dan moral-moral agama. Yang jelas, perasaan saya selalu dekat, mulai dari pejabat bersih dan  tidak bersih sampai tukang pemungut sampah yang bau sampah pun dekat. Kadang jika dekat dengan para pejabat, saya seolah-oleh keluarga pejabat. Dekat dengan Pemulung dikira saya ipar nya pemulung. Tidak masalah. Enjoy saja. Sebab hubungan sosial selalu ada resiko. Tapi, konsistensi hati saya kira perlu saya latih untuk memahami suatu kebenaran yang memang kadang tidak perlu dijelaskan kepada masyarakat.

Terlepas dari berbagai muatan politik, open house sebenarnya telah menggambarkan sejatinya manusia yang mempunyai naluri agama atau ketuhanan. Ciri-ciri manusia penegak nilai-nilai agama selalu menginginkan kebaikan dan keberkahan. Tuan Rumah [para pejabat] telah menyiapkan segala persiapan penghormatan kepada para tamu yang datang, mulai dari tempat duduk sampai pada hidangan dengan beragam jenis dan selera. Para tamu yang datang terutama masyarakat biasa adalah suatu penghormatan bisa duduk, makan atau sebatas mencicipi makanan para pembesar negeri. Hidup yang selama-lama bergelut dengan kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, tiba-tiba mendapat hiburan beberapa jam di rumah para pejabat untuk makan, minum dan bersalaman dengan Tuan Rumah, dan bahkan kadang Tuan Rumah menyisipkan duit [jumlah nya tidak seberapa] kepada tamu-tamu yang datang. Sungguh masyarakat awam yang tidak begitu memahami arti sebuah politik dan segala kesemrawutan di dalam nya, mendapatkan duit sebesar puluhan ribu atau air kaleng akan menjadi kisah indah dalam hidupnya. Apalagi sampai bisa mengabadikan foto dengan tuan rumah, sungguh menjadi cerita berseri sampai kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Dari nya mengalir doa kebaikan untuk para pejabat negeri [tanpa perlu diminta doa].

Fenomena ini yang saya maksud “manusia berwajah malaikat”, yaitu wajah-wajah yang tulus gembira, dengan wajah yang ceria saling bertemu, tatap muka dan menebar senyum kedamaian. Hikmah Idul Fitri benar-benar telah mengembalikan lagi para tamu bisa makan dan minum dan bisa menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam bersikap dan berbuat saat berjumpa di acara open house.

Perilaku masyarakat umum berbeda masyarakat level di atas nya. Ada masyarakat birokrat yang mereka berada di perkantoran; menjadi kepala dinas, kepala bagian dan lain-lain. Orang-orang ini harus bisa menterjemahkan bahasa tubuh pemimpin nya. Sebab bahasa tubuh adalah bahasa kehidupan dan karir bagi para kepala dinas dan sejenisnya. Ia sering menjadi urat nadi kehidupan. Mereka benar-benar dilatih untuk bisa memahami arti senyum, tertawa dan diam nya pemimpinya. Pola hubungan seperti ini kemudian juga membentuk komunitas masyarakat tersendiri yang tidak bisa diterjemahkan apa adanya oleh kelompok masyarakat pada umum nya. Masyarakat birokrat sebagaimana masyarakat politik praktis telah menggunakan bahasa dialog dan bahasa isyarat menjadi dua wajah; bahasa tersurat dan tersirat. Bahasa tersurat pun melahirkan berbagai macam kasta yang bisa dipahami oleh mereka yang sudah terbiasa dalam dunia ini. Hari ini baik ketika ada kesamaan tujuan, besok akan berubah karena sudah berbeda tujuan. Jadi, masyarakat ini sungguh masyarakat dinamis yang harus mempunyai daya tahan tubuh melebihi dari masyarakat pada umum nya.

Dari paparan ini tentu saja akan melebar judul dari artikel ini, bahwa manusia berwajah malaikat tidak selama nya apa yang disebut nabi sebagai “malaikat rahmah” yang datang ke rumah nya dengan membawa kedamaian. Open house para pejabat akan melahirkan definisi-definisi malaikat; bisa jadi ada malaikat pembagi rizki dengan naik jabatanya atau malaikat penjabut nyawa [jabatan-nya] dalam prespektif sosial politik tentunya.

Kenapa demikian? Karena memang kelahiran istilah open house pada era dimana etika-etika hubungan atasan dan bawahan lahir dari pergulatan politik. Konsekuensinya selalu ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Berbeda bagi orang-orang umum yang kurang peduli terhadap kepentingan politik, mereka selalu saja enjoy dan bahkan menikmati.

Di akhir tulisan ini saya kadang bertanya-tanya dalam hati, saya termasuk kelompok birokrat atau masyarakat umum? Apa bisa jadi bukan kedua-dua nya. apakah perlu saya rubah format komunikasi saya dan ikut kebiasaan open house. Bisa jadi begitu, sebab ini gara-gara kelaku saya yang tidak pernah ikut open house para pejabat. Walaupun saya bukan di anggap sebagai orang birokrat dan sudah tidak dianggap lagi orang pada umumnya, tapi setidak nya saya bukan mu’tazilah,kikkik.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2883