Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pahlawanku, Pahlawanmu dan Pahlawan Kita



Sabtu , 09 November 2024



Telah dibaca :  674

Pada hari minggu, saya menjadi pembina upacara pada peringatan hari pahlawan di STAIN Bengkalis. Sebagai Pembina upacara saya juga menyampaikan sebagian pesan atau amanat Menteri Sosial Republik Indonesia Saifullah Yusuf ( panggilan populernya Gus Ipul). Hari pahlawan tahun ini mengambil tema: Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu.

Gus Ipul sebagai seorang menteri sosial atas nama pemerintah RI dan bagian dari rakyat Indonesia menyadari kemerdekaan saat sekarang ini buah maha karya dari para pahlawan masa lalu.

Peringatan hari pahlawan berangkat dari peristiwa 10 November 1945 tentu bukan melupakan perjuangan para pahlawan yang telah meninggal dunia pada masa lalu. Tanggal tersebut sebagai “sampel” spirit perlawanan dan kebencian bangsa Indonesia terhadap penjajah sebagaimana rakyat Surabaya marah terhadap kedatangan sekutu ke Indonesia. Dari peristiwa Surabaya penulis bisa merasakan bahwa “kemerdekaan” suatu negara sangat penting dan mahal sekali. Kemerdekaan dan kedaulatan suatu negara kebutuhan yang sangat vital. Bahkan untuk menerapkan ajaran-ajaran tuhan hanya bisa dilaksanakan dengan baik saat kondisi negara dalam keadaan damai. Itu sebabnya, hadratusyeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa perlunya “resolusi jihad”. Perang membela tanah air bagian dari maqashid syariah (bagian dari hifzdul maal). Dan cinta tanah air menjadi bagian dari iman.

Gus menteri juga menyadari bahwa negara yang sehat adalah negara yang selalu mengenang para pahlawannya. Kehebatan kita sebenarnya bagian dari tangga-tangga perjuangan yang pondasinya telah diletakan oleh para pendahulunya. Anda sekarang menjadi orang hebat lahir dari pondasi orang tua anda yang mungkin tidak pernah sekolah atau malah buta huruf. Tanpa ada nya orang tua, anda tidak ada dan sejarah tidak akan menulis nama anda selama-lamanya.

Negara yang sehat tentu juga mampu melahirkan para pahlawan-pahlawan pada setiap masanya. Makna pahlawan tidak sebatas pada kenangan orang-orang pada masa lalu saja, tetapi para pahlawan berprestasi pada masa nya dan dikenang saat telah tiada. Semakin banyak pahlawan semakin menunjukan perjalanan bangsa semakin sehat dan jelas arah pembangunannya.

Para pahlawan lahir di masa kini bukan berarti lahir sebagai seorang laksana malaikat yang tanpa cacat. Tidak sama sekali. Para pahlawan masa lalu yang kita kenang juga ada beberapa bagian yang kurang sempurna. Namun kita hanya mengambil sisi positifnya atas beragam sumbangan yang telah diberikan kepada bangsa dan negara dengan menutup rapat-rapat sisi kelam dan kekurangan pada diri mereka. Ini yang kemudian melahirkan adagium nenek moyang kita: mikul duwur mendem jero.

Pahlawan masa kini juga bagian dari manusia normal yang pada bagian hidupnya ada kebaikan dan kekurangan. Jika parameter kita menilai seorang pahlawan adalah manusia tanpa cacat dan terus berprestasi maka kita tidak akan menemukan para pahlawan.

Seorang Cristiano Ronaldo bagi negara nya dianggap sebagai pahlawan. Separo manusia di dunia mengagumi prestasinya. Bahkan negara nya membuat mata uang berwajah Ronaldo. Anda bisa menilai sendiri betapa hebat dan bangganya rakyat protugal mempunyai seorang Ronaldo.

Kehidupan seorang Cristiano Ronaldo tidak sesempurna anggapan masyarakat protugal. Anda sebagai seorang muslim bisa jadi sangat ngefans pada permainan sepakbolanya, tidak pada permainan asmaranya. Sebab dalam pandangan Islam, apa yang ia lakukan bertentangan ajaran Islam.Tapi anda sebagai penggemar berat tidak mempersoalkan kehidupan pribadinya. Anda mungkin akan berdalih”urusan pribadi itu urusan dia, saya tetap menjadi penggemar sebagai seorang legendaris sepakbola dunia”. Itulah pahlawan, orang senantiasa hanya melihat sisi positifnya. Tentu saja, setiap wilayah, daerah, dan bangsa mempunyai filosofis sendiri dalam mendeskripsikan arti pahlawan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan yang berlaku ditempat tersebut.

Penulis sangat mengapresiasi Perkataan gus menteri bahwa setiap masa selalu melahirkan pahlawan dari beragam aspek kehidupan;pendidikan, politik, olah raga dan sebagainya. Tentu saja ungkapan tersebut sebagai wujud keterbukaan nya untuk menerima siapapun darimana datangnya sepanjang ia memberi konstribusi hebat untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia disebut sebagai pahlawan.

Itulah harapan atau pengakuan seorang menteri atas kelahiran pahlawan dari setiap masa. Tidak berharap pun, dalam realita sosial pahlawan akan senantiasa lahir di Indonesia. saya kira sudah sangat sulit menghitung orang-orang hebat yang pernah lahir dari rahim Indonesia. Apakah mereka sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintah atau belum, itu persoalan lain. Pada bagian ini tentu pemerintah yang lebih memahaminya.

Penulis kadang sedih mendengar dan melihat di layer televisi atau di media sosial para  pencipta lagu, seorang seniman, seorang olahragawan dan lain-lain pada masa nya sangat berkonstribusi mengharumkan nama bangsa Indonesia. Ironis saat mereka memasuki masa tua, mereka harus hidup dengan keterbatasan hasil tabungan masa lalunya. Mungkin, mereka belum masuk kriteria pahlawan dalam tataran regulasi. Sedangkan dalam tataran de facto, keberadaan dan sumbangsih mereka sudah tidak diragukan lagi.

Memang dalam dunia ke-pahlawan-nan, seorang pahlawan tidak pernah menyatakan dirinya sebagai seorang pahlawan. Mereka melaksanakan tugas secara totalitas yang ada pada dirinya. Lalu pemerintah dan masyarakat mengakui karya dan perjuangannya. Ia panggilan jiwa untuk mengabdi kepada negeri tercinta yaitu nkri.

Semoga di hari pahlawan tahun 2024 dan kebetulan juga presiden dan wakil presidennya baru akan melahirkan kebijakan baru yaitu adanya panggilan jiwa untuk menghargai para pahlawan dari setiap zaman atas prestasi yang telah mengharumkan nama Indonesia. Tentang jenis panggilan jiwa dan wujud penghargaan, mekanisme yang tahu pemerintah itu sendiri.

Sekali lagi, “selamat hari pahlawan, mari teladani para pahlawan, mari cintai bangsa dan negara dengan karya nyata”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875