
Pada hari minggu, saya menjadi pembina
upacara pada peringatan hari pahlawan di STAIN Bengkalis. Sebagai Pembina
upacara saya juga menyampaikan sebagian pesan atau amanat Menteri Sosial
Republik Indonesia Saifullah Yusuf ( panggilan populernya Gus Ipul). Hari
pahlawan tahun ini mengambil tema: Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu.
Gus Ipul sebagai seorang menteri sosial atas
nama pemerintah RI dan bagian dari rakyat Indonesia menyadari kemerdekaan saat
sekarang ini buah maha karya dari para pahlawan masa lalu.
Peringatan hari pahlawan berangkat dari
peristiwa 10 November 1945 tentu bukan melupakan perjuangan para pahlawan yang
telah meninggal dunia pada masa lalu. Tanggal tersebut sebagai “sampel” spirit
perlawanan dan kebencian bangsa Indonesia terhadap penjajah sebagaimana rakyat
Surabaya marah terhadap kedatangan sekutu ke Indonesia. Dari peristiwa Surabaya
penulis bisa merasakan bahwa “kemerdekaan” suatu negara sangat penting dan
mahal sekali. Kemerdekaan dan kedaulatan suatu negara kebutuhan yang sangat
vital. Bahkan untuk menerapkan ajaran-ajaran tuhan hanya bisa dilaksanakan
dengan baik saat kondisi negara dalam keadaan damai. Itu sebabnya,
hadratusyeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa perlunya “resolusi jihad”.
Perang membela tanah air bagian dari maqashid syariah (bagian dari hifzdul
maal). Dan cinta tanah air menjadi bagian dari iman.
Gus menteri juga menyadari bahwa negara
yang sehat adalah negara yang selalu mengenang para pahlawannya. Kehebatan kita
sebenarnya bagian dari tangga-tangga perjuangan yang pondasinya telah diletakan
oleh para pendahulunya. Anda sekarang menjadi orang hebat lahir dari pondasi
orang tua anda yang mungkin tidak pernah sekolah atau malah buta huruf. Tanpa
ada nya orang tua, anda tidak ada dan sejarah tidak akan menulis nama anda
selama-lamanya.
Negara yang sehat tentu juga mampu
melahirkan para pahlawan-pahlawan pada setiap masanya. Makna pahlawan tidak
sebatas pada kenangan orang-orang pada masa lalu saja, tetapi para pahlawan
berprestasi pada masa nya dan dikenang saat telah tiada. Semakin banyak
pahlawan semakin menunjukan perjalanan bangsa semakin sehat dan jelas arah
pembangunannya.
Para pahlawan lahir di masa kini bukan
berarti lahir sebagai seorang laksana malaikat yang tanpa cacat. Tidak sama
sekali. Para pahlawan masa lalu yang kita kenang juga ada beberapa bagian yang
kurang sempurna. Namun kita hanya mengambil sisi positifnya atas beragam
sumbangan yang telah diberikan kepada bangsa dan negara dengan menutup
rapat-rapat sisi kelam dan kekurangan pada diri mereka. Ini yang kemudian
melahirkan adagium nenek moyang kita: mikul duwur mendem jero.
Pahlawan masa kini juga bagian dari manusia
normal yang pada bagian hidupnya ada kebaikan dan kekurangan. Jika parameter
kita menilai seorang pahlawan adalah manusia tanpa cacat dan terus berprestasi
maka kita tidak akan menemukan para pahlawan.
Seorang Cristiano Ronaldo bagi negara nya
dianggap sebagai pahlawan. Separo manusia di dunia mengagumi prestasinya.
Bahkan negara nya membuat mata uang berwajah Ronaldo. Anda bisa menilai sendiri
betapa hebat dan bangganya rakyat protugal mempunyai seorang Ronaldo.
Kehidupan seorang Cristiano Ronaldo tidak
sesempurna anggapan masyarakat protugal. Anda sebagai seorang muslim bisa jadi
sangat ngefans pada permainan sepakbolanya, tidak pada permainan asmaranya. Sebab
dalam pandangan Islam, apa yang ia lakukan bertentangan ajaran Islam.Tapi anda
sebagai penggemar berat tidak mempersoalkan kehidupan pribadinya. Anda mungkin
akan berdalih”urusan pribadi itu urusan dia, saya tetap menjadi penggemar
sebagai seorang legendaris sepakbola dunia”. Itulah pahlawan, orang senantiasa
hanya melihat sisi positifnya. Tentu saja, setiap wilayah, daerah, dan bangsa
mempunyai filosofis sendiri dalam mendeskripsikan arti pahlawan sesuai dengan
nilai-nilai kebaikan yang berlaku ditempat tersebut.
Penulis sangat mengapresiasi Perkataan gus menteri
bahwa setiap masa selalu melahirkan pahlawan dari beragam aspek
kehidupan;pendidikan, politik, olah raga dan sebagainya. Tentu saja ungkapan
tersebut sebagai wujud keterbukaan nya untuk menerima siapapun darimana
datangnya sepanjang ia memberi konstribusi hebat untuk kemajuan bangsa dan
negara Indonesia disebut sebagai pahlawan.
Itulah harapan atau pengakuan seorang
menteri atas kelahiran pahlawan dari setiap masa. Tidak berharap pun, dalam
realita sosial pahlawan akan senantiasa lahir di Indonesia. saya kira sudah
sangat sulit menghitung orang-orang hebat yang pernah lahir dari rahim
Indonesia. Apakah mereka sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintah atau
belum, itu persoalan lain. Pada bagian ini tentu pemerintah yang lebih
memahaminya.
Penulis kadang sedih mendengar dan melihat
di layer televisi atau di media sosial para pencipta lagu, seorang seniman, seorang
olahragawan dan lain-lain pada masa nya sangat berkonstribusi mengharumkan nama
bangsa Indonesia. Ironis saat mereka memasuki masa tua, mereka harus hidup
dengan keterbatasan hasil tabungan masa lalunya. Mungkin, mereka belum masuk
kriteria pahlawan dalam tataran regulasi. Sedangkan dalam tataran de facto,
keberadaan dan sumbangsih mereka sudah tidak diragukan lagi.
Memang dalam dunia ke-pahlawan-nan, seorang
pahlawan tidak pernah menyatakan dirinya sebagai seorang pahlawan. Mereka
melaksanakan tugas secara totalitas yang ada pada dirinya. Lalu pemerintah dan
masyarakat mengakui karya dan perjuangannya. Ia panggilan jiwa untuk mengabdi
kepada negeri tercinta yaitu nkri.
Semoga di hari pahlawan tahun 2024 dan
kebetulan juga presiden dan wakil presidennya baru akan melahirkan kebijakan
baru yaitu adanya panggilan jiwa untuk menghargai para pahlawan dari setiap
zaman atas prestasi yang telah mengharumkan nama Indonesia. Tentang jenis
panggilan jiwa dan wujud penghargaan, mekanisme yang tahu pemerintah itu
sendiri.
Sekali lagi, “selamat hari pahlawan,
mari teladani para pahlawan, mari cintai bangsa dan negara dengan karya nyata”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875