
Paijo ulang tahun ke-65. Selama hidup nya, baru kali ini ada tiup lilin dan kueh model butter cake di hari ulang tahun nya. Seumur hidup belum pernah ada acara ulang tahun. Jangankan untuk membeli kueh, untuk makan sehari-hari, dia harus menggarap sawah ¼ hektar di daerah tadah hujan, dimana tanaman padi tergantung pada turun-nya air hujan. Irigasi tidak berjalan, karena berada di dataran rendah. Jika musim penghujan, sawah sering tenggelam dan sering gagal panen. Kadang harus menanam padi, berulang-ulang sampai tiga kali. Jika dihitung untung dan ruginya, jelas sangat rugi. Itu sebabnya, ketika anak-anak dan cucu-cucu nya membuat surprise, Paijo senang sekaligus terharu melihat anak-anak dan cucu-cucunya sehat-sehat, tidak seperti dulu ketika anak-anak nya masih di kampung sering sakit-sakit dan makan hanya sebatas mengganjal perut nya.
Waginem, Istri paijo telah meninggal dunia dua
tahun lalu. Dari perkawinan dengannnya, dikaruniai 5 orang anak; tiga
laki-laki, dua perempuan. Teguh anak pertama sudah bekerja di salah satu
perusahaan di Jakarta. Dia sudah menikah dan mempunyai dua anak. Kedua anak nya
sudah kuliah masing-masing semester 7 dan 5 di Jakarta. Soimah anak kedua Paijo. Setelah tamat SLTA, dia
langsung menikah. Anak-anak nya sudah bekerja. Anisatun anak paijo nomor tiga. Dia
sudah menikah dan mempunyai dua orang anak; pertama Jadu berumur 15 tahun dan Wartuniah
berumur 13 tahun. Anak Paijo nomor 4 dan 5 bernama Gito dan Sarino. Kedua
nya sudah selesai sekolah tingkat SLTA dan tidak melanjutkan kuliah atau bekerja
di tempat lain. Kedua nya setiap hari
membantu dan merawat Paijo di hari-hari tua nya.
Tahun ini anak-anak dan cucu-cucu Paijo
liburan di Kampung. Namun hiburan mereka tidak seperti ada masa-masa kecilnya
dulu; bermain Kelereng, Gasing, kebo
gider dan sejenisnya. Anak-anak sekarang sudah tidak mengenal permainan
seperti itu lagi. Mereka sudah asyik bermain game yang ada di HP
Android. Mobil-mobilan atau robot-robotan pun sudah memakai remote yang
harga nya sudah ratusan ribu. TV yang dulu merupakan barang mewah, kini sudah
menjadi ciri khas hiburan rakyat, yang hampir setiap rumah sudah memiliki nya.
melalui saluran Parabola, semua bisa mengakses dan menonton siaran sesuai
dengan selera nya.
“ Suasana sekarang tidak sama ketika waktu saya masih muda” kata Paijo.
“Bedanya dimana pak”, tanya Anisatun anak
ketiga, yang sejak tadi masih memegang remote TV dan sibuk mencari
sinetron “Ikatan Cinta” di RCTI atau “Buku Harian Seorang Istri” di Indosiar.
“Waktu bapak dulu, siaran TV hanya TURI ( aslinya
TVRI, tapi anak-anak dulu membaca TURI). Isinya berkaitan siaran pemerintah
orde baru seperti: siaran pembangunan desa, irigasi sawah, transmigrasi. Untuk hiburan
yang terkenal dulu ada tiga; sepakbola, tinju dan bulu tangkis. Hiburan film
atau sinetron ada sinetron "Jendela Rumah Kita". film anak-anak yang terkenal yaitu "Si-Unyil". Pesan nya hampir sama, yaitu tentang pentingnya pembangunan di desa”.
“Sekarang, berita di TV membuat saya
pusing. Setiap hari isi nya kriminal; entah itu kasus pemerkosaan oleh oknum
guru ngaji, pejabat dan pelajar. Lebih heboh lagi, para pejabat mulai dari
tingkat pemda sampai para menteri merampok bernilai trilyunan rupiah”.
“Lebih menyedihkan lagi, saat sekarang Timses
para calon pemimpin suka mengatakan kalimat-kalimat kotor, tidak sopan dan
menyebarkan berita ngawur (hoax) dengak kalimat seperti kafir,
kadrun, kampret, cebong, PKI, dan sejenisnya”.
“Mbah,
dulu nonton siaran berita dimana” tanya Jadu seorang cucu laki-laki yang
berumur 15 tahun. Ia cucu dari Anisatun anak perempuan paijo nomor tiga.
“Mbah dulu nonton TV di rumah pak kades.
Rumahnya diujung desa. Jauh. Sekitar 1 kilo meter. Jalan belum di aspal. Jika
hujan, jalan licin. Biasanya jam 5 sore mbah dan teman-teman jalan kaki pergi
ke Mushola dekat rumah nya pak kades. Selesai sholat Isa, kami
cepat-cepat lari ke rumah nya, dan mencari duduk paling depan” jawab Paijo
panjang-lebar.
“Kenapa harus nonton ke rumah pak kades
mbah” tanya Jadu penasaran.
Paijo melirik cucu nya, Dia tersenyum,
lalu menyeruput kopi hitam, kemudian menjawab pertanyaan Jadu;
“Waktu zaman mbah masih kecil, sebanyak
orang di kampung, hanya pak kades yang punya TV. Itupun warnya hanya hitam-putih. Dulu tidak
pakai listrik seperti sekarang, tapi pakai Acu atau Batere ABC. Jam 19.00 TV dihidupkan, jam
22.00 sudah dimatikan. Jika dihidupkan selama 24 jam, Batere nya tidak kuat,
dan cepat habis”.
Anak-anak dan cucu mbah Paijo nampak diam mendengar cerita tersebut. Seolah-olah mereka bisa merasakan betapa susah nya hidup di masa tersebut. tentu yang lebiih bisa memahami anak-anak paijo. ingatan masa lalu masih terrtata dengan rapi di file memori mereka. mereka hapal betul keadaan kampungnya; tidak ada listrik, jalan belum di aspal, saat turun hujan, jalan sangat licin, dan tidak ada hiburan kecuali saat ada acara di kampung seperti sunatan dan pernikahan. Jika ada acara ini, anak-anak kampung bisa mendengar hiburan guyonan ( stand up) model khas seperti "guyonan peang-penjol". Jika tidak ada, hiburan hanya nonton TV di rumah tetangga.
“Zaman mbah dulu memang serba susah. Makan
nasi tidak mesti setiap hari ada. Kadang kami sekeluarga hanya makan gaplek
(ubi dikeringkan) atau oyek (lebihan nasi yang dieringkan dan disimpan.
Jika sudah banyak, sewaktu-waktu tidak ada nasi, ia bisa menjadi penggantinya. Sekolah
paling tinggi kelas 4 SD atau kelas 6 SD. Setelah, itu yang laki-laki biasanya
membantu di sawah membantu orang tua. Jika musim matun ( membersihkan rumput
pada tananam padi yang sudah berumur 20 hari-an), anak laki-laki ikut orang tua
nya berdagang di kota-kota terdekat. Ketika sudah memasuki musim panen, mereka
pulang kampung. Sedangkan bagi anak-anak perempuan, biasanya sudah ada yang
menikah. Bagi keluarga yang agak mampu, anak-anak perempuan bisa melanjutkan
sekolah sampai ke tingkat SLTP. ada juga yang sampai SLTA, setelah itu baru menikah” kata Paijo
menjelaskan masa-masa kecil yang penuh suka-duka.
“Walaupun demikian, suasana tenang dan
tidak pernah ada berita huru-hara, korupsi, pembunuhan dan macam-macam seperti
yang diberitakan di TV. Bayangkan, setiap melihat berita isi nya selalu saja
seputar para pejabat di tangkap gara-gara korupsi dan ganja, serta
perselingkuhan. Sedih rasa nya melihat hal ini” kata mbah Paijo.
Wartuniah cucu ke dua Paijo yang masih
berumur 13 tahun bertanya ;
“Dulu kalau mau menelpon menggunakan apa
mbah, apa pakai HP atau video call”
Mbah paijo sepontan tertawa dan memegang
kepala wartuniah dengan penuh kasih-sayang. Dia pun menjawab:
“Dulu belum ada HP, apalagi video call. Dulu kalau ingin mengetahui kabar orang tua atau saudaranya cukup mengirim surat ke Kantor Pos. sekitar satu minggu, surat baru sampai yang dituju. untuk mendapat balasan, kadang sampai satu bulan. bahkan kadang kita mengirim surat dan tidak juga di balas sampai sekarang ini. jadi, kadang mbah bertemu dengan saudara-saudara nya setelah sekian puluh tahun berpisah. Beda dengan sekarang, semua informasi serba cepat".
“Wah kalau begitu enak sekarang mbah, saya
pergi sekolah di antar ayah atau umi. Kalau ayah yang mengantar ke sekolah
pakai mobil, kalau umi biasanya sama Honda nimex. Kalau terlambat, saya cukup
video call, ayah atau umi langsung jemput saya di sekolah. Bahkan kalau saya
rindu mbah di kampung, cukup video call”, kata wartuniah dengan bangga.
“Benar mbah, sepanjang perjalanan ke desa,
saya melihat jalan-jalan sudah bagus-bagus membelah pesawahan yang sudah mulai
menguning. Saya juga melihat para petani mengusir burung-burung gereja, ada
juga di antara mereka yang sedang nyabit rumput untuk pakan ternak kambing atau
sapi. Saya juga melihat anak-anak seumuran saya asyik bermain layang-layang di
pinggir jalan dan tegalan. Indah sekali pemandangan nya mbah. Rasa nya ingin
lebih lama lagi tinggal di kampung mbah”, kata Jadu.
Paijo tersenyum dan sekaligus kagum mendengar
jawaban cucu-cucu nya yang masih sekolah di tingkat SLTP, tapi terlihat cerdas
dan badan berisi sehat-sehat. Dia hanya membayangkan dan membandingkan dirinya
saat seusia cucu nya yang tidak mempunyai pandangan luas dan mendalam. Saat itu
yang ada dalam benak nya adalah melaksanakan tugas yang diberikan orang tua,
yaitu membantu berladang dan mengerjakan sawah setiap waktu. Tidak ada berita
atau informasi yang masuk pada nya, kecuali berita-berita pemerintahan di Radio
RRI dan TVRI. Tidak ada berita politik, korupsi dan pembunuhan. Semua berita
baik. Slogan penguasa orde baru sebagai “bapak pembangunan” telah menginspirasi
anak-anak waktu itu untuk giat menjadi petani dan tidak berfikir untuk menjadi
pengusaha atau pun penguasa. Waktu itu, orang-orang kampung kurang punya
pandangan tidak tertulis bahwa “pengusaha dan pejabat” hanya milik orang-orang
darah biru. Namun demikian, jiwa petani telah ditempa berpuluh-puluh tahun
telah membentuk kemandirian yang luarbiasa bagi masyarakat pedesaan telah “nrima
ing pandum”, yaitu kepasrahan secara totalitas terhadap keputusan Tuhan
Yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari. orang-orang seperti mbah paijo
merasa damai dalam keterbatasan hidup.
Itu sebab nya, ketika Paijo mendengar berita yang menyesakan dada seperti demonstrasi buruh, tertangkap nya seorang perwira tinggi di kepolisian atas kasus ganja, kasus Sambo dan terbaru kasus korupsi trilyunan rupiah di berbagai kementrian seperti Kementrian Komunikasi dan Informatika, serta kasus-kasus para pejabat pemda, seolah-olah dunia semakin sempit. Namun melihat anak-anak dan cucu di sekitarnya seperti sudah terbiasa mendengar hal-hal seperti ini. Mereka tetap bahagia.
Paijo harus belajar memulai menjalankan pola hidup sesuai dengan zaman yang kontradiktif dengan diri nya sendiri. Dari sini dia pun mulai belajar, bahwa makna kebaikan tidak selama nya sebagaimana cara pandang lama pada masa dulu. Kebaikan tidak selalu diidentikan kegagahan, dan kesantunan di muka umum. Para pejabat punya sifat ganda; saat dia berada di wilayah politik dan saat dia bertemu dengan masyarakat. Makna kebaikan juga berarti membuka suatu kenyataan apa adanya dalam rangka untuk kebaikan bersama, walaupun keterbukaan tersebut sering tidak bisa diterima oleh salah satu golongan tertentu. Termasuk hal ini perubahan orde baru menjadi era reformasi. Dan perubahan berikut nya akan terus terjadi, apakah perubahan dengan memutar jarum jam masa lalu dengan modifikasi baru, atau berjalan secara dinamis untuk terus menatap masa depan. Semua kembali pada gerakan dinamika sosial-politik untuk mewujudkan cita-cita yang diinginkan. Suara mayoritas itulah yang menentukan arah dinamika sosial-politik tersebut.
Dalam mengahadapi fenomena sosial-politik yang demikian, Paijo berpesan kepada anak-anak nya tentang arti kesuksesan. Menurutnya, kesuksesan tidak semata-mata sebatas pada gemerlap dunia seisinya. Ada yang lebih penting yaitu terjaga nya integritas diri sehingga nama baik tidak terkoyak oleh nafsu dunia yang fana. Persaingan yang mempunyai potensi untuk menghalalkan segala cara agar jangan sampai terjadi pada anak-anak nya. semua ada jatah nya. Ketika Tuhan menginginkan kebaikan, sangat mudah untuk mewujudkannya. Tapi jika Tuhan ingin mencabutnya, dengan kesenggol sedikit, kesuksesan bisa rontok semua.
Dumai Line, Senin 22 mei 2023
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879