Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Paket Hemat atau Hemat Paket ?



Sabtu , 01 Februari 2025



Telah dibaca :  723

Malam ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama [PCNU] Kepulauan Meranti melaksanakan Harlah NU dengan sistem paket hemat: Pertama, anggaran kegiatan berasal hasil iuran pengurus PCNU dan kader NU secara insidental dan terbatas. Ketika Pak Asmar [Plt Bupati dan sekaligus bupati terpilih Kabupaten Kepulauan Meranti ]menawarkan kepada ku tentang jenis bantuan, kami pun sepakat untuk kegiatan harlah tahun ini biarkan lah pengurus-pengurus PCNU mengeluarkan sebagian rezeki nya untuk iuran harlah NU. Alhamdulilah terkumpul. Tidak banyak. Tapi cukup. Lebih baik cukup daripada banyak tapi tidak cukup. Kedua, harlah NU biasanya diisi dengan pengajian akbar, tahun ini sepakat diadakan acara model seminar. Ada tanya jawab. Narasumber: staff ahli bagian hukum Pemda , Polres, Mas Kyai muda, Abdul Rauf, M.Pd.I, Mas Chanifuddin, doktor muda dosen STAIN  Bengkalis  dan saya sendiri. Ketiga, harlah ini juga sekaligus difungsikan pengenalan PD-PKPNU[Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama]. Harapannya melalui acara harlah bisa mengiventarisir anggota-anggota PCNU dan MWCNU untuk mengikuti kegiatan PD-PKKPNU di bulan-bulan mendatang. Keempat, harlah ini juga digunakan sebagai ajang pengenalan persuratan DIRGANTARA NU. Empat item tersebut menjadi kegiatan inti harlah NU tahun ini. Tentu saja acara khas nahdliyin juga tetap diadakan yaitu Istighosah Kubro setelah sholat maghrib.

Sistem paket hemat acara harlah tahun ini bukan mencontoh pemerintah Prabowo-Gibran yang sedang memperkuat “Ikat Pinggang” anggaran negara. Ma'lum, untuk mewujudkan visi-misi, salah satu upaya nya  melakukan penyisiran anggaran untuk efisiensi agar lebih tepat guna. Tentu saja, sebagai orang awam saya tidak tahu tentang efisiensi model pemerintah. biarkan para penggede negara yang memikirkan. Mereka lebih tahu makna "paket hemat" dan "hemat paket". Definisi ku dan rakyat kebanyakan seperti ku tentunya tidak sama dengan pandangan Pemerintah.

Tapi menurut ku acara ke-NU-an sudah selayaknya mengarah kepada kebutuhan subtansi. Perlu ada penyisiran kegiatan terkesan seremonial dan sebatas gebyar semata. NU harus semakin membumi eksistensi nya terhadap maslahat jam’iyah, jamaah dan bangsa Indonesia secara umum. 

Berkaitan dengan sumbangsih jam’iyah NU untuk bangsa Indonesia, Litbang Kompas telah melakukan survei pada tanggal 6-9 Januari 2025. Hasilnya sebagai berikut: pertama, menjaga nilai pancasila dan persatuan Indonesia responden menjawab 81,2%. Kedua, menjaga kerukunan umat beragama sebesar 87,5%. Ketiga, memajukan pendidikan 75,9%. Keempat,kesehatan 49,9%. Kelima, memajukan ekonomi 58,7%. Data tersebut menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia menilai bahwa organisasi NU mempunyai sumbangsih dalam menjaga nilai-nilai Pancasila, NKRI, dan kerukunan umat beragama.

Sebagai ormas agama yang sudah mendapatkan pengakuan konstribusinya dalam menjaga eksistensi bangsa dan negara, NU dalam realita sehari-hari tidak seindah apa yang dicitrakan oleh masyarakat di luar NU. Keteguhannya mempertahankan agama,dan menjaga kerukunan umat beragama justru sering mendapatkan tantangan dari sebagian internal umat Islam. Di berbagai media massa online dan media sosial sering muncul akun-akun berlabel Islam sering menyerang ormas NU, amalanya dan tokoh-tokohnya dengan sangat brutal dan membangun narasi-narasi menyesatkan dengan miskin data. Ribuan Lembaga pendidikan pesantren di bawah naungan ormas NU yang telah berpuluh-puluh tahun bahkan ada yang sudah ratusan tahun berdiri dianggap sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan kesesatan, sumber bid’ah dan sejenisnya. Padahal mereka hanya melihat dari luar tanpa mengetahui sesungguhnya di dalam nya. Namun semangat keagamaan yang tinggi dengan dibarengi dengan kebencian, melahirkan kesimpulan-kesimpulan logika yang menyesatkan.

Tentu saja Tuhan memberi jalan kebenaran dengan sangat baik. Ketika sebagian kecil kelompok pembenci NU menilai dengan nada kebencian dan sinis, justru semakin banyak masyarakat penasaran untuk melihat secara langsung pesantren-pesantren tradisional. Akhirnya mereka menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh akun-akun berlabel Islam [yang tidak mencerminkan hakikat ajaran Islam] yang suka menjelek-jelekan ormas NU justru secara tidak langsung malah mempromosikan pesantren NU semakin terkenal. Hasilnya sangat positif. Penelitian Lembaga Survei Alvara menunjukan bahwa 57,6% masyarakat muslim Indonesia mengaku sebagai warga nahdiyin. Jumlah pengakuan yang belum pernah dimiliki oleh ormas selain NU sejak penulis menulis artikel ini.

Pola penghinaan dan caci-maki terhadap NU dan tokoh-tokoh ulamanya sudah sejak pertama organisasi ini lahir pada tahun 1926. Mereka mungkin terlalu minim literasi sejarah para pendiri NU atau memang karena kebencian yang mendalam terhadapnya. K.H. Hasyim Asy’ari mendapatkan gelar “hadratusyeikh” adalah pengakuan dari para ulama pada masa nya sebagai wujud kepakaran terhadap ilmu hadist dan telah menghapalkan kutubusittah dari seluruh kitab hadist [ Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majjah].

Para pembenci ormas NU hanya sebatas melihat acara liburan pesantren satu tahun sekali [imtihan] selama satu minggu dengan kegiatan hiburan rakyat seperti di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Padahal pesantren tersebut dan pesantren-pesantren jenis tersebut telah melahirkan ribuan ulama, kyai, dan ustadz yang tersebar hingga di seluruh pelosok nusantra. Jika anda masuk ke daerah-daerah pedalaman seperti di daerah papua, Kalimantan, Sulawesi, maka akan menemukan alumni-alumni pesantren tersebut yang sangat tulus Ikhlas menerangkan kalimat tahuid dan mengajarkan tentang cara menyembah kepada Allah SWT. Mereka harus berpisah dengan orang tua dan saudara-saudaranya di pelosok desa atau di daerah baru yang masyarakat masih awam terhadap pengetahuan agama. Para pembenci justru sibuk menyesatkan orang-orang yang sudah mengucapkan tauhid. Ini lah yang disebut oleh kanjeng nabi:”Barangsiapa menuduh orang yang sudah bertauhid sesat atau kafir, maka dia sendiri telah kafir”.

Saat pesantren membuat acara hiburan sebenarnya untuk masyarakat umum di sekitar pesantren. segala hiburan yang disukai oleh masyarakat, maka pihak pesantren membuat acara tersebut. Masyarakat yang datang adalah masyarakat sekitar pesantren yang terkadang belum mengenal agama Islam atau agama non-muslim. Mereka merasa dekat dengan pesantren yang kemudian hari lama kelamaan mereka merasa dihargai atau dihormati keberadaan budaya mereka. Proses kesadaran yang bersifat evolusi ini yang kemudian hari dengan kesadaran diri masuk ke dalam agama Islam. Pola dakwah model begini tidak nyampai pada pikiran para pembenci. Sebab memang kebencian hanya menggunakan sebagian akal pikiran dari sisi negatif. Tidak ada keseimbangan melihat suatu persoalan yang sebenarnya. Dan kebencian sebenarnya wujud dari sifat kekanakan dalam memandang ajaran Islam yang mulia. Bagaimana mungkin sifat kekanakan-kekanakan harus dilawan dengan analisis ilmiah, tentu saja dihadapi dengan cara menghadapi anak-anak.

Tentu saja ormas agama tidak ada yang sempurna termasuk juga NU. Ada human error nya. Apalagi jumlah anggota nya yang sangat besar sekali. Tidak mudah mengelola anggota nya yang sangat besar dengan latarbelakang pendidikan dan karakter pesantren yang berbeda-beda. Apalagi pesantren di tubuh NU mempunyai kemandirian otoritas para pengasuh pesantrennya. Satu pesantren berbeda dengan pesantren lain. Laksana sebuah Taman Bunga yang beragam warna bunga. Organisasi akhirnya berfungsi untuk mendesain taman agar tetap indah tanpa menghilangkan atau mencabut sebagian warna bunga yang ada di Taman Bunga. Semakin ditata taman bunga semakin indah. Berbedaan akan tetap terjadi dalam kontek pandangan furu’iyah, ijtihad masail dan bahkan juga dalam kontek pilihan-pilihan politik dalam kontestasi.

Kritik dan saling menasehati memang perlu untuk perbaikan jam’iyah dan jamaahnya. Sebab semua itu adalah jamu agar tubuh semakin sehat. Anggap saja selama ini kita terbuai oleh kenangan-kenangan indah masa lalu sehingga kaget ada nuansa baru yang tidak biasa. Membangun kewajaran diri menerima masukan konstruktif  merupakan upaya semakin menyehatkan diri dan organisasi.

Selatpanjang, 1 Pebruari 2025

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

✏ You have received 1 notification # 476167. Open

5hhzw5

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872