
Malam ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama
[PCNU] Kepulauan Meranti melaksanakan Harlah NU dengan sistem paket hemat: Pertama, anggaran kegiatan berasal hasil iuran pengurus PCNU dan kader NU secara insidental dan terbatas. Ketika Pak Asmar [Plt Bupati dan
sekaligus bupati terpilih Kabupaten Kepulauan Meranti ]menawarkan kepada ku
tentang jenis bantuan, kami pun sepakat untuk kegiatan harlah tahun ini biarkan
lah pengurus-pengurus PCNU mengeluarkan sebagian rezeki nya untuk iuran harlah NU.
Alhamdulilah terkumpul. Tidak banyak. Tapi cukup. Lebih baik cukup daripada
banyak tapi tidak cukup. Kedua, harlah NU biasanya diisi dengan pengajian
akbar, tahun ini sepakat diadakan acara model seminar. Ada tanya jawab.
Narasumber: staff ahli bagian hukum Pemda , Polres, Mas Kyai muda, Abdul Rauf, M.Pd.I, Mas Chanifuddin, doktor muda dosen STAIN Bengkalis dan saya sendiri. Ketiga, harlah ini juga sekaligus
difungsikan pengenalan PD-PKPNU[Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak
Nahdlatul Ulama]. Harapannya melalui acara harlah bisa mengiventarisir
anggota-anggota PCNU dan MWCNU untuk mengikuti kegiatan PD-PKKPNU di
bulan-bulan mendatang. Keempat, harlah ini juga digunakan sebagai ajang
pengenalan persuratan DIRGANTARA NU. Empat item tersebut menjadi kegiatan inti harlah
NU tahun ini. Tentu saja acara khas nahdliyin juga tetap diadakan yaitu Istighosah
Kubro setelah sholat maghrib.
Sistem paket hemat acara harlah tahun ini bukan mencontoh pemerintah Prabowo-Gibran yang sedang memperkuat “Ikat Pinggang” anggaran negara. Ma'lum, untuk mewujudkan visi-misi, salah satu upaya nya melakukan penyisiran anggaran untuk efisiensi agar lebih tepat guna. Tentu saja, sebagai orang awam saya tidak tahu tentang efisiensi model pemerintah. biarkan para penggede negara yang memikirkan. Mereka lebih tahu makna "paket hemat" dan "hemat paket". Definisi ku dan rakyat kebanyakan seperti ku tentunya tidak sama dengan pandangan Pemerintah.
Tapi menurut ku acara ke-NU-an sudah selayaknya mengarah kepada kebutuhan subtansi. Perlu ada penyisiran kegiatan terkesan seremonial dan sebatas gebyar semata. NU harus semakin membumi eksistensi nya terhadap maslahat jam’iyah, jamaah dan bangsa Indonesia secara umum.
Berkaitan dengan sumbangsih jam’iyah NU
untuk bangsa Indonesia, Litbang Kompas telah melakukan survei pada tanggal 6-9 Januari
2025. Hasilnya sebagai berikut: pertama, menjaga nilai pancasila dan persatuan Indonesia
responden menjawab 81,2%. Kedua, menjaga kerukunan umat beragama sebesar 87,5%.
Ketiga, memajukan pendidikan 75,9%. Keempat,kesehatan 49,9%. Kelima, memajukan
ekonomi 58,7%. Data tersebut menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia
menilai bahwa organisasi NU mempunyai sumbangsih dalam menjaga nilai-nilai Pancasila,
NKRI, dan kerukunan umat beragama.
Sebagai ormas agama yang sudah mendapatkan pengakuan konstribusinya dalam menjaga eksistensi bangsa dan negara, NU dalam realita sehari-hari tidak seindah apa yang dicitrakan oleh masyarakat di luar NU. Keteguhannya mempertahankan agama,dan menjaga kerukunan umat beragama justru sering mendapatkan tantangan dari sebagian internal umat Islam. Di berbagai media massa online dan media sosial sering muncul akun-akun berlabel Islam sering menyerang ormas NU, amalanya dan tokoh-tokohnya dengan sangat brutal dan membangun narasi-narasi menyesatkan dengan miskin data. Ribuan Lembaga pendidikan pesantren di bawah naungan ormas NU yang telah berpuluh-puluh tahun bahkan ada yang sudah ratusan tahun berdiri dianggap sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan kesesatan, sumber bid’ah dan sejenisnya. Padahal mereka hanya melihat dari luar tanpa mengetahui sesungguhnya di dalam nya. Namun semangat keagamaan yang tinggi dengan dibarengi dengan kebencian, melahirkan kesimpulan-kesimpulan logika yang menyesatkan.
Tentu saja Tuhan memberi jalan kebenaran dengan sangat
baik. Ketika sebagian kecil kelompok pembenci NU menilai dengan nada kebencian dan sinis, justru
semakin banyak masyarakat penasaran untuk melihat secara langsung
pesantren-pesantren tradisional. Akhirnya mereka menyadari bahwa apa yang dikatakan
oleh akun-akun berlabel Islam [yang tidak mencerminkan hakikat ajaran Islam]
yang suka menjelek-jelekan ormas NU justru secara tidak langsung malah
mempromosikan pesantren NU semakin terkenal. Hasilnya sangat positif. Penelitian
Lembaga Survei Alvara menunjukan bahwa 57,6% masyarakat muslim Indonesia mengaku
sebagai warga nahdiyin. Jumlah pengakuan yang belum pernah dimiliki oleh ormas
selain NU sejak penulis menulis artikel ini.
Pola penghinaan dan caci-maki terhadap NU
dan tokoh-tokoh ulamanya sudah sejak pertama organisasi ini lahir pada tahun 1926.
Mereka mungkin terlalu minim literasi sejarah para pendiri NU atau memang
karena kebencian yang mendalam terhadapnya. K.H. Hasyim Asy’ari mendapatkan
gelar “hadratusyeikh” adalah pengakuan dari para ulama pada masa nya sebagai
wujud kepakaran terhadap ilmu hadist dan telah menghapalkan kutubusittah dari seluruh
kitab hadist [ Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i,
Sunan At-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majjah].
Para pembenci ormas NU hanya sebatas melihat acara liburan
pesantren satu tahun sekali [imtihan] selama satu minggu dengan kegiatan hiburan rakyat
seperti di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Padahal pesantren
tersebut dan pesantren-pesantren jenis tersebut telah melahirkan ribuan ulama,
kyai, dan ustadz yang tersebar hingga di seluruh pelosok nusantra. Jika anda
masuk ke daerah-daerah pedalaman seperti di daerah papua, Kalimantan, Sulawesi,
maka akan menemukan alumni-alumni pesantren tersebut yang sangat tulus Ikhlas menerangkan
kalimat tahuid dan mengajarkan tentang cara menyembah kepada Allah SWT. Mereka harus berpisah dengan orang tua dan saudara-saudaranya di pelosok desa atau di daerah baru yang masyarakat masih awam terhadap pengetahuan agama. Para pembenci
justru sibuk menyesatkan orang-orang yang sudah mengucapkan tauhid. Ini lah
yang disebut oleh kanjeng nabi:”Barangsiapa menuduh orang yang sudah bertauhid
sesat atau kafir, maka dia sendiri telah kafir”.
Saat pesantren membuat acara hiburan sebenarnya untuk masyarakat umum di sekitar pesantren. segala hiburan yang disukai oleh masyarakat, maka pihak pesantren membuat acara tersebut. Masyarakat yang datang adalah masyarakat
sekitar pesantren yang terkadang belum mengenal agama Islam atau agama
non-muslim. Mereka merasa dekat dengan pesantren yang kemudian hari lama
kelamaan mereka merasa dihargai atau dihormati keberadaan budaya mereka. Proses
kesadaran yang bersifat evolusi ini yang kemudian hari dengan kesadaran diri masuk
ke dalam agama Islam. Pola dakwah model begini tidak nyampai pada pikiran para
pembenci. Sebab memang kebencian hanya menggunakan sebagian akal pikiran dari
sisi negatif. Tidak ada keseimbangan melihat suatu persoalan yang sebenarnya. Dan
kebencian sebenarnya wujud dari sifat kekanakan dalam memandang ajaran Islam
yang mulia. Bagaimana mungkin sifat kekanakan-kekanakan harus dilawan dengan
analisis ilmiah, tentu saja dihadapi dengan cara menghadapi anak-anak.
Tentu saja ormas agama tidak ada yang
sempurna termasuk juga NU. Ada human error nya. Apalagi jumlah anggota nya yang
sangat besar sekali. Tidak mudah mengelola anggota nya yang sangat besar dengan
latarbelakang pendidikan dan karakter pesantren yang berbeda-beda. Apalagi pesantren
di tubuh NU mempunyai kemandirian otoritas para pengasuh pesantrennya. Satu pesantren
berbeda dengan pesantren lain. Laksana sebuah Taman Bunga yang beragam warna
bunga. Organisasi akhirnya berfungsi untuk mendesain taman agar tetap indah
tanpa menghilangkan atau mencabut sebagian warna bunga yang ada di Taman Bunga.
Semakin ditata taman bunga semakin indah. Berbedaan akan tetap terjadi dalam
kontek pandangan furu’iyah, ijtihad masail dan bahkan juga dalam kontek
pilihan-pilihan politik dalam kontestasi.
Kritik dan saling menasehati memang perlu
untuk perbaikan jam’iyah dan jamaahnya. Sebab semua itu adalah jamu agar tubuh
semakin sehat. Anggap saja selama ini kita terbuai oleh kenangan-kenangan indah
masa lalu sehingga kaget ada nuansa baru yang tidak biasa. Membangun kewajaran
diri menerima masukan konstruktif merupakan upaya semakin menyehatkan diri dan
organisasi.
Selatpanjang, 1 Pebruari 2025
Penulis : Imam Ghozali
✏ You have received 1 notification # 476167. Open
5hhzw5
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872