Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

306 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Para Ilmuwan Yang Hatinya Tertutup



Selasa , 27 Januari 2026



Telah dibaca :  226

Kaum yahudi selalu saja membuat alasan atas dakwah Islam Nabi Muhammad SAW. Salah satu alasannya yaitu karena hatinya sudah tertutup, keras dan membatu. Suatu alasan yang dibuat-buat oleh mereka "yang terlihat" seolah-olah mereka begitu sangat tidak bisa memahami apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Tapi sebenarnya jawaban tersebut sedang mempertawakan atau memperolok-olok nabi atas ajaran agama baru yang dianggap tidak selevel dengan status kaum yahudi. Ini yang menyebabkan setiap nasehat kebaikan dari Muhammad selalu saja menolak secara otomasi. Allah telah menjelaskan fenomena penolakan tersebut pada ayat 88 sebagai berikut:

وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا غُلْفٌۗ بَلْ لَّعَنَهُمُ اللّٰهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيْلًا مَّا يُؤْمِنُوْنَ ۝٨٨

Artinya:

Mereka berkata, “Hati kami tertutup.” Tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka, tetapi sedikit sekali mereka yang beriman.

Kaum Yahudi menolak bukan berarti mereka dari golongan orang-orang yang tidak berpendidikan. Justru sebaliknya, mereka menolak karena mempunyai keluasan ilmu pengetahuan, para ilmuwan dan kedalaman memahami tentang kitab taurat. Tentu saja Kitab Taurat yang telah mendapatkan perubahan-perubahan oleh para ulama dan pendeta mereka. Justru melalui tangan-tangan ilmuwan inilah, api permusuhan terus membara melalui tipuan-tipuan ilmu pengetahuan dan saint atau rekayasa-rekayasa teknologi perang dan digital yang berkembang sangat cepat saat sekarang ini. Mereka-kaum ilmuwan-bagian dari kelompok yang mempunyai kepentingan politik-sekarang istilah zionis yahudi-untuk menguasi kembali tanah-tanah leluhurnya di Palestina.

Status diri sebagai para ilmuwan dan agamawan yang telah dianugerahi berbagai kelebihan-kelebihan oleh Allah -berupa kecerdasan dengan lahirnya para ilmuwan dan kemudahan berbisnis-, kaum Yahudi merasa gengsi mengikuti ajaran Muhammad dan mengatakan kepadanya bahwa firman-firman dan segala bukti mukjizatnya tidak mendatangkan suatu petunjuk apapun pada dirinya. Bahasa sederhana nya, mereka “tidak” membutuhkan suatu kebenaran lagi meskipun itu berasal dari Tuhan. Bagi kaum yahudi,persoalan bukan pada terletak kebenaran firman Tuhan. Toh mereka juga mendapatkan wahyu Tuhan, bahkan mereka beranggapan bahwa wahyu Tuhan yang diberikan kepada kaum Yahudi hanya untuk diri mereka dan agama Yahudi untuk mereka. Mereka akan sekuat tenaga akan memblokade setiap garis keturunan non-yahudi untuk tidak menikah dengan selain darah kaum yahudi. Jika toh ada, maka pemahaman privilege meaning tetap merujuk pada status sebagai kaum yahudi, bukan etnis lainnya.

Pada sisi lain, mereka juga menolak ajaran-ajaran agama selain Yahudi-termasuk menolak ajaran Islam. Bagi mereka, agama yahudi non-misioneris-tidak untuk didakwahkan selain kelompoknya. Tidak untuk diberikan kepada setiap manusia dengan beragam etnis. Agama Yahudi merupakan agama spesial hanya untuk kaum Yahudi yang mengklaim diri sebagai anak Tuhan. Jika toh sama sama sebagai firman Tuhan, tentu statusnya tetap lebih tinggi kedudukan Kaum Yahudi. Pandangan psikologis kaum yahudi tersebut yang menutup kebenaran-kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Tentu saja tidak semua kaum yahudi punya watak jahat. Tuhan memberikan dua sisi pada manusia yang kontras yaitu sisi baik dan sisi buruk. Orang-orang yahudi yang berpandangan moderat dan selalu mengedepankan sisi kemanusiaan selalu saja ada di setiap masa. Sebagian mereka juga para ilmuwan dan agamawan serta para politisi. Namun panggung politik internasional telah dikuasi oleh kaum zionis yahudi yang telah merubah citra buruk agama dan kaum yahudi. Akibatnya presepsi sebagian umat Islam terhadap kaum yahudi sering dilihat pada sisi negatifnya. Hal sama juga, kaum yahudi selalu saja membangun citra negarif dilontarkan kepada agama dan umat Islam. Ketika berbicara Yahudi Vs Islam seperti sebuah pertarungan duel head to head yang hanya ada dua pilihat: “hidup atau mati !”

Kini usia agama-agama di dunia sudah cukup berumur dan dianut oleh manusia dunia sudah berabad-abad tahun lamanya. Namun kenyataannya semakin bertambahnya usia perjalanan agama tidak menjadikan para penganutnya bisa hidup rukun dalam keberagaman. Selalu saja muncul rasa curiga yang tidak tuntas-tuntas. Agama sebagai jalan menuju kedamaian, justru oleh sebagian penganutnya sebagai jalan untuk saling curiga, mengintai, dan ujung-ujungnya terjebak pada ranah politik. Jika ini penyelesaiannya, maka lagi-lagi masyarakat dunia pun menjadi korban karena pembunuhan, genosida dan perang.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   42

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   67

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   96

Kisah Kaum Yahudi Meninggalkan Kalimat Tauhid
06 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   186

Keimanan Yang Tersandera
03 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   227

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      12930


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4046


Puasa dan Ilmu Padi
Rabu , 03 April 2024      2424


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2355