Pelamun yang menulis daily journal, membaca dan mencoba meramu prosa dan puisi. Berkepribadian melankolik, romantik, dan narsistik. Bisa dikenal melalui
Ig : @standbymi1
"
Lailahailallah Lailahailallah...
Masih teringat ketika Abah Munawwir berkunjung ke rumah nenek 7 tahunan yang lalu. Secara bahasa Tahlil adalah memperbanyak mengucapkan kalimat Lailahailallah sebanyak mungkin selama masa hidup, dengan harapan kalimat itu yang nanti akan diucapkan ketika maut menjemput, dawuhnya.
Sudah menjelang pukul 02 malam, tahlil masih riuh dari dalam kesepuhan itu. Sebuah Maqbaroh tokoh Cilongok. Nampak luar tembok putih dengan ornamen-ornamen keramik bulat, mirip dengan makam Sunan Gunung Jati Cirebon. Satu komplek dengan dua bangunan masjid. Mulanya hanya ada masjid yang kini dikenal dengan masjid kasepuhan itu dan Pesantren Istiqlaliyah. Sejak tahun 2021 Cilongok semakin ramai dikunjungi dan membuat pemerintah kabupaten Tangerang merasa perlu membangunkan satu masjid Raya kabupaten, Masjid besar dengan 4 menara tinggi seperti kastil disney yang diarani Masjid Kanoman. Kasepuhan dan Kanoman.
Halamannya pun dimarmer sehingga harus repot menenteng sendal kemana-mana, untungnya bawa kresek tadi. Satu hal yang juga baru adalah menara yang menjiplak Menara Masjid Banten di gigir masjid kasepuhan, dengan tangga spiral yang mengizinkan peziarah yang ingin naik.
Kemarin di Martapura jama'ah berkumpul dalam radius 5 KM dari pusat acara. Membandingkan Cilongok dengan Martapura sepertinya kurang adil. Martapura tetap yang terbesar, sedangkan Cilongok mungkin nanti akan sebesar Martapura sekarang.
Tahlil yang berbunyi sejak aku tiba pukul 01 kurang sudah mulai reda, pukul 02 lewat.
Membicarakan Cilongok, kawanku pasti berkata, "Sekali kau kesana pasti ingin kesana lagi."
***
Seumur hidup dan selama 3 tahun lebih jadi orang Banten, aku dapat membaca begitu cintanya masyarakat pada sosok Almarhum Abuya Uci, pada Cilongok, pada istiqlaliyah, dan tentu pada Syekh Abdul Qodir al-Jailani. Baik Haul Abah ataupun Haul Tuan Syekh bukanlah acara yang sepi dan hanya dihadiri oleh satu kampung, bandingannya mungkin sama dengan haul Abah guru Sekumpul di Martapura, event dimana beberapa kampung menjadi lautan manusia.
Di hari haul di Tangerang terlihat orang-orang berjalan kaki berdua atau dalam satu kafilah. Sarung melingkar seperti orang ronda, berpeci dan bercelana sirwal yang sering disebut celana fathul mu’in. Mereka adalah remaja-remaja dan beberapa diantaranya masih cukup belia untuk menempuh perjalanan 'spiritual' tahunan itu. Sebagian muhibbin Abuya yang lebih sepuh juga ada yang ke Cilongok bersama rombongan dalam pick up atau angkot. Wajah-wajah mereka bersemangat dengan perasaan memenuhi undangan Tuan Syekh.
Begitulah pengamatan sebelum aku pernah pergi ke Cilongok. Kawan-kawan menganggapku dusun*karena sudah 3 tahun belum pernah ke Cilongok. Padahal rute ziarah sejauh Syekh Cholil Bangkalan sudah pernah ku datangi.
“Mungkin Abuya belum manggil aku, hahaha, ncan ayeuna, sugan ngke.”**
***
Setelah beberapa hari yang remuk redam, malam benar-benar mengantarkan aku kesini. Cukup jauh ternyata untuk berjalan kaki dari Cimone menuju sini, tentu aku tak akan berani bila saja kali ini bukan yang pertama kali. Tak semua jalan raya adalah jalan yang bercahaya, dan memiliki bahu jalan beraspal atau trotoar, sialnya itu yang harus dilewati. Beberapa kali aku harus betul-betul menepi ketika truk-truk besar lewat. Jalan gelap dan sehabis hujan, becek dimana-mana, sandal jepit selip berkali-kali, dan di satu persimpangan aku terlalu fokus melihat google maps tiba-tiba kaki kanan masuk ke dalam lubang selokan.
30 menit sebelum sampai, abang-abang Scoopy menawariku untuk ikut naik, tujuannya searah katanya. "Makasih ya, memang sengaja jalan kaki." Cukup sulit untuk membuatnya yakin bahwa aku benar-benar menolak dengan sadar bukan karena takut ini pembegalan. Akhirnya ia pun berlalu dan menjadi saksi kebodohanku. Betis kiri mulai menjalar nyeri.
Menuju kecamatan Pasar Kemis, kau akan menjumpai deretan pabrik. Bisa jadi produk yang kini ada di rumahmu berasal dari denyut mesin-mesin mekanis dan manusia pabrik di sini. Nampak karyawan dengan APD baru keluar dari pabrik Fumakilla, jika membunuh nyamuk itu dosa, mungkin mereka bisa dipermasalahkan di hari nanti, jika saja ada segelintir nyamuk-nyamuk kritis yang lalu mengirimkan gugatan pada Tuhan di akhirat.
Terpleset lagi. Hanya orang bodoh yang tengah-tengah malam berjalan sendirian di jalanan yang tak ramah bagi seorang pejalan. Dan aku memang orang bodoh. Tak kubiarkan ada sesuatu yang menghalangi kuasaku atas jalan.
Saat berjalan kaki, kekuasaan tertinggi berada pada dua kakimu. Kau tak dikuasai oleh rambu-rambu lalu lintas, tak ada yang mengatur berhenti dan lajumu. Kau bebas. Seharusnya ketika berjalan kaki, urusan yang berlaku adalah antara diri dan Tuhan.
Terkadang bukan tempat peribadatan yang megah dengan permadani halus yang membuatmu benar-benar dekat dengan-Nya. Perlu rasa ketidakberdayaan yang meredam keangkuhan memicu kepasrahan.
Saat berjalan melintasi jalanan yang lelah, kian jelas wajah-wajah Tuhan yang seperti dimaksud dalam kitab perjanjian baru. Yang kemudian Paus Fransiskus menyeru umat untuk mencari "Wajah Allah" yang ada dalam diri orang miskin, sakit, yang ditinggalkan dan orang-orang asing.
Persis seperti ajaran Kyai Ahmad Dahlan, yang kemudian menjadi ideologi Muhammadiyah.
Dan ternyata aku dan kamu bertemu pada ayat "Walaa Yahuddhu alaa to'aamil miskiin...."
(
24 Januari 2024).
*Tidak patut, kurang semenggah
**belum sekarang, mungkin nanti.
Penulis : A. Ushfuri
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3561
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2870