
Persiapan PBAK STAIN Bengkalis 2024 termasuk
mepet. Semua gelisah. Terutama ketua panitia, Mas Muhammad al-Mansur. Dia
menelponku. Katanya: “Waktu sudah mepet sekali pak”.
Kami rapat dadakan. Agak mirip anggota DPR-RI
membahas Undang-Undang Pilkada. Persoalan umur sebagai peryaratan menjadi calon
kepala daerah. Jika DPR-RI gagal rapat ngrembug umur, maka panitia PBAK malah
cukup sering rapat. Meskipun waktu sudah mepet. Saking seringnya, Mas
Wan Fariq kalau rapat jarang datang. Yang rajin Mas Reno, tapi suka bingung.Tapi
rapat jalan terus.
Setiap rapat selalu saya katakan,”Kegiatan
harus satu komando. Top-down. Semua panitia harus tunduk dan taat atas keputusan
yang dibuat pak mansur. Jika tidak, acara amburadul”.
Sebagian mungkin kaget. Tidak mengira suara
saya bisa keras. Sampai ada anggota panitia pegang dada karena kaget. Alhamdulillah,
kelihatannya anggota panitia sami’na wa atha’na sama perintah ketua
pelaksana.
Apakah saya diam?. Tidak. Malam saya cek. Jum’at sore hujan sangat lebat. Lokasi tempat acara banjir lantainya. Panitiai pontang-panting. Kata mas Edi Purnomo, saya disuruh jadi pawang hujan. Saya duduk di teras berdoa dalam hati, “Ya Rabb, mbok yo, hujan mandeg disit sampai hari sabtu, minggu hujan lagi tidak apa-apa”. Atas kehendak Allah, hari sabtu matahari bersinar sangat indah sampai sore hari. Minggu pagi gerimis, tidak hujan. Sore gelap lagi, mendung dan belum hujan.

Malam sabtu suasana sepi. Air hujan masih
menggenang. Saya mengajak Mas Chanifudin dan Mas Jarir untuk SIDAK. Selesai
SIDAK, kedua nya pulang. Saya tetap di kampus dan tidur di ruang waket
tiga. Saya ingin pastikan acara tetap berjalan sesuai dengan jadwal yang
diberikan oleh akademik. Sat-set, tepat waktu. Saya cek para penggede
panitia datang. Saya bersyukur.
Jam 03.30 saya bangun. Jam 04.00 saya
keliling Lokasi. Semua sudah siap. Ada beberapa panitia masih bekerja. Saya tidak
tahu entah tidur entah tidak. Anggota MENWA sudah stand by. Ganteng-ganteng,
cantik-cantik. PMI sudah stand by. Cantik-cantik. Panggung, kursi dan semua
saya cek sudah OK. Air untuk wudhu OK. Tinggal satu, seksi acara.
Jam 06.30 Syahrizal saya telpon. “Tolong
cek narasumber, kapolres, dandim, pak jarir, chanif, pak nasrun dan bu nadia. Jika
ada roling waktu, jangan mendadak. Setengah jam sebelum selesai acara,
narasumber harus sudah ready dan ada gantinya”. Alhamdulilah benar-benar
tertib. Mungkin gara-gara saya nelpon kepadanya agak sedikit keras.
Alhasil acara cukup sukses. Di tulisan ini,
saya mengucapkan terima kasih kepada para panitia, SEMA, DEMA, MENWA dan ormawa
lainnya yang sangat antusias melaksanakan kegiatan PBAK.
Sniper Mahasiswa
Rahasia PBAK yang terpenting adalah saya
mempunyai catatan-catatan mahasiswa yang menurut sebagian mereka sangat
problematik. Sebagian dosen mengadu kepadaku perilaku mereka. Saya pun merasakan
hal tersebut. Namun saya berkumpul sama mereka terasa asyik. Jadi ingat perilakuku
pada masa-masa seperti mereka. Sebelas-duabelas.
Saya dulu pernah ngaji di pesantren. Dulu para
guru-guru ku menjadi sniper para santri. Para guru ku, selalu mencatat santri-santri
yang menurut teman-teman nya sangat degil, dan gendul pecah. Apa yang
dilakukan guru-guruku? Mereka sholat tahajud dan mendoakan kebaikan khusus
kepada mereka.
Ilmuku tentu tidak sama dengan para
ulama-ulama dan guru ngajiku di pesantren. Kesholehanku juga tidak ada seujung
jarinya. Namun, mendengar kisah guru-guruku di pesantren saya pun bergerak untuk mendoakan para
mahasiswa agar jalan hidupnya selalu mendapatkan kebaikan di masa-masa
mendatang.
Sebab, saya sendiri menyadari bahwa hari
ini saya bisa selesai kuliah dan belajar bersama dengan para mahasiswa juga
berkah dari doa-doa ulama, ilmuwan, dosen, professor, guru dan terutama kedua
orang tuaku.
Mahasiswa tetap setatusnya sama sebagai bagian dari orang-orang yang sedang mencari identitas. Mereka bukan tidak mau menerima kebenaran, tetapi mereka sedang mencari kebenaran dan belum mendapatkan jalan yang tepat menuju ke arah tersebut. Doa-doa para dosen dan guru-guru sangat membantu mempercepat terbuka hatinya mendapatkan jalan-jalan kebenaran.

Tuhan telah mengajarkan bahwa doa mampu
mengubah yang secara rasional tidak mungkin, tapi bisa mungkin melalui doa.
“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan
lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”
Doa tersebut diabadikan di dalam Al-Qur’an agar
umat Rosul bisa berbagai kebaikan kepada generasi-generasi Islam agar mereka
bisa mempunyai masa depan lebih baik dan menjadi pembela agama yang tangguh.
Doa laksana aliran listrik. Di alam metafisika
ia akan mencari dan menyatu dengan sinyal-sinyak kesamaan. Saat bertemu, maka
sinyal doa mustajab akan terlihat terang benderang. Semoga Allah memberi
kebaikan kepada kita semua.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876