Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

PBAK dan Sniper Mahasiswa



Minggu , 25 Agustus 2024



Telah dibaca :  608

Persiapan PBAK STAIN Bengkalis 2024 termasuk mepet. Semua gelisah. Terutama ketua panitia, Mas Muhammad al-Mansur. Dia menelponku. Katanya: “Waktu sudah mepet sekali pak”.

Kami rapat dadakan. Agak mirip anggota DPR-RI membahas Undang-Undang Pilkada. Persoalan umur sebagai peryaratan menjadi calon kepala daerah. Jika DPR-RI gagal rapat ngrembug umur, maka panitia PBAK malah cukup sering rapat. Meskipun waktu sudah mepet. Saking seringnya, Mas Wan Fariq kalau rapat jarang datang. Yang rajin Mas Reno, tapi suka bingung.Tapi rapat jalan terus.

Setiap rapat selalu saya katakan,”Kegiatan harus satu komando. Top-down. Semua panitia harus tunduk dan taat atas keputusan yang dibuat pak mansur. Jika tidak, acara amburadul”.

Sebagian mungkin kaget. Tidak mengira suara saya bisa keras. Sampai ada anggota panitia pegang dada karena kaget. Alhamdulillah, kelihatannya anggota panitia sami’na wa atha’na sama perintah ketua pelaksana.

Apakah saya diam?. Tidak. Malam saya cek. Jum’at sore hujan sangat lebat. Lokasi tempat acara banjir lantainya. Panitiai pontang-panting. Kata mas Edi Purnomo, saya disuruh jadi pawang hujan. Saya duduk di teras berdoa dalam hati, “Ya Rabb, mbok yo, hujan mandeg disit sampai hari sabtu, minggu hujan lagi tidak apa-apa”. Atas kehendak Allah, hari sabtu matahari bersinar sangat indah sampai sore hari. Minggu pagi gerimis, tidak hujan. Sore gelap lagi, mendung dan belum hujan.


Malam sabtu suasana sepi. Air hujan masih menggenang. Saya mengajak Mas Chanifudin dan Mas Jarir untuk SIDAK. Selesai SIDAK, kedua nya pulang. Saya tetap di kampus dan tidur di ruang waket tiga. Saya ingin pastikan acara tetap berjalan sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh akademik. Sat-set, tepat waktu. Saya cek para penggede panitia datang. Saya bersyukur.

Jam 03.30 saya bangun. Jam 04.00 saya keliling Lokasi. Semua sudah siap. Ada beberapa panitia masih bekerja. Saya tidak tahu entah tidur entah tidak. Anggota MENWA sudah stand by. Ganteng-ganteng, cantik-cantik. PMI sudah stand by. Cantik-cantik. Panggung, kursi dan semua saya cek sudah OK. Air untuk wudhu OK. Tinggal satu, seksi acara.

Jam 06.30 Syahrizal saya telpon. “Tolong cek narasumber, kapolres, dandim, pak jarir, chanif, pak nasrun dan bu nadia. Jika ada roling waktu, jangan mendadak. Setengah jam sebelum selesai acara, narasumber harus sudah ready dan ada gantinya”. Alhamdulilah benar-benar tertib. Mungkin gara-gara saya nelpon kepadanya agak sedikit keras.

Alhasil acara cukup sukses. Di tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada para panitia, SEMA, DEMA, MENWA dan ormawa lainnya yang sangat antusias melaksanakan kegiatan PBAK.

Sniper Mahasiswa

Rahasia PBAK yang terpenting adalah saya mempunyai catatan-catatan mahasiswa yang menurut sebagian mereka sangat problematik. Sebagian dosen mengadu kepadaku perilaku mereka. Saya pun merasakan hal tersebut. Namun saya berkumpul sama mereka terasa asyik. Jadi ingat perilakuku pada masa-masa seperti mereka. Sebelas-duabelas.

Saya dulu pernah ngaji di pesantren. Dulu para guru-guru ku menjadi sniper para santri. Para guru ku, selalu mencatat santri-santri yang menurut teman-teman nya sangat degil, dan gendul pecah. Apa yang dilakukan guru-guruku? Mereka sholat tahajud dan mendoakan kebaikan khusus kepada mereka.

Ilmuku tentu tidak sama dengan para ulama-ulama dan guru ngajiku di pesantren. Kesholehanku juga tidak ada seujung jarinya. Namun, mendengar kisah guru-guruku di pesantren  saya pun bergerak untuk mendoakan para mahasiswa agar jalan hidupnya selalu mendapatkan kebaikan di masa-masa mendatang.

Sebab, saya sendiri menyadari bahwa hari ini saya bisa selesai kuliah dan belajar bersama dengan para mahasiswa juga berkah dari doa-doa ulama, ilmuwan, dosen, professor, guru dan terutama kedua orang tuaku.

Mahasiswa tetap setatusnya sama sebagai bagian dari orang-orang yang sedang mencari identitas. Mereka bukan tidak mau menerima kebenaran, tetapi mereka sedang mencari kebenaran dan belum mendapatkan jalan yang tepat menuju ke arah tersebut. Doa-doa para dosen dan guru-guru sangat membantu mempercepat terbuka hatinya mendapatkan jalan-jalan kebenaran.


Tuhan telah mengajarkan bahwa doa mampu mengubah yang secara rasional tidak mungkin, tapi bisa mungkin melalui doa.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.”

Doa tersebut diabadikan di dalam Al-Qur’an agar umat Rosul bisa berbagai kebaikan kepada generasi-generasi Islam agar mereka bisa mempunyai masa depan lebih baik dan menjadi pembela agama yang tangguh.

Doa laksana aliran listrik. Di alam metafisika ia akan mencari dan menyatu dengan sinyal-sinyak kesamaan. Saat bertemu, maka sinyal doa mustajab akan terlihat terang benderang. Semoga Allah memberi kebaikan kepada kita semua.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876