Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

PBNU, Lakpesdam dan Erick Thohir



Senin , 04 Desember 2023



Telah dibaca :  421

Beberapa minggu ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) membuat kejutan, paling tidak untuk ukuran saya sendiri; pertama penonaktifan seluruh Pengurus NU dalam segala jenjang kepengurusan baik pusat, maupun daerah yang terlibat menjadi Tim Sukses Bacalon Presiden dan Wakil Presiden, menjadi Daftar Calon Tetap (DCT) Utusan Daerah dan Legislatif Baik DPR RI, DPRD Provinsi Maupun DPRD Kabupaten/Kota. Keputusan PBNU tertuang dalam surat nomor: 1201/PB.01/A.I.03.08/99/11/2023 tentang penonaktifan Pengurus NU yang menjadi Timses dan Caleg.

Saya kira ini memang membuat kejutan bagi sebagian orang menyangsikan keberanian dari Pengurus PBNU mengambil langkah tegas. Sebab dalam kehidupan organisasi ini, sangat susah dipisahkan antara organisasi dan Partai Politik. Jika dilihat di berbagai daerah dalam segala tingkatan, sering ditemukan Pengurus NU juga menjadi Pengurus Partai Politik. Penulis sering telpon-telponan dengan beberapa sahabat di berbagai daerah tentang keprihatinan politik praktis masuk terlalu dalam pada organisasi yang didirikan oleh Hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Bahkan orang-orang yang sangat prihatin justru dari para Pengurus Partai Politik (meskipun orang politik berfikir seperti ini sangat sedikit bukan?). Mereka menginginkan ormas NU harus berjalan sebagai ormas keagamaan yang bisa menampung dan memperdayakan masyarakat dalam aspek yang lebih luas. Organisasi benar-benar mandiri, sehingga mampu melihat dengan jernih segala persoalan bangsa dalam kacamata batin politik kebangsaan, bukan politik praktis yang sering bersifat pragmatis.

Tentu saja sikap politik PBNU bukan berarti melarang warga nya berpolitik praktis. Bahkan sangat dianjurkan jika memang mempunyai profesionalitas di bidang tersebut. Harapan besarnya, mereka yang sudah dalam lingkaran pemerintahan mampu meneberkan benih-benih positif politik kebangsaan yang dicita-citakan oleh PBNU bisa terealisasikan dalam berbagai kebijakannya. Jadi, PBNU menjadi semacam laboratorium politik kebangsaan bagi seluruh warga NU yang mempunyai warna politik beragam. Atas dasar ini, harapannya bisa terbangun kesadaran kolektif mereka untuk sama-sama membesarkan cita-cita besar NU melalui kiprah politik di Pemerintahan.

Cita-cita besar ormas NU untuk mandiri dan melepaskan syahwat politik praktis sebagian pengurusnya di berbagai daerah sangat sulit. Ini berbeda dari saudara tua nya, yaitu Muhamadiyah. Dalam hal kemandirian dan netralitas, organisasi keagamaan ini terhitung lebih dewasa. Bisa jadi, PBNU sedang belajar dari Muhamadiyah dalam kemandirian politik. Itu pendapat saya sendiri.

Kejutan kedua yaitu Ketum PBNU mengangkat Erick Thohir menjadi Ketua Lakpesdam. Biasanya di berbagai wilayah, Ketua Lakpesdam adalah para pemikir, ulama atau penulis yang sering berkutat pada persoalan-persoalan kajian-kajian keagamaan. Meskipun memang fungsinya jauh dari itu. Contoh sebelumnya, adalah K.H. Ulil Absar Abdalah. Dia adalah tokoh yang matang di Pesantren. Jago Kitab Kuning, dan senantiasa mengisi kajian-kajian kitab klasik secara ofline dan online. Saat sekaraang ini, secara online dia mengkaji kitab karya-karya Syeikh Imam Al-Ghozali. Selain itu, Ulama yang juga jebolan Harvard University memang terkenal sebagai pemikir dan penulis produktif. Tulisannya sering muncul di media-media nasional seperti Kompas. Saya rasa dia memang benar-benar mewarisi tradisi pendiri Lakpesdam yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sering menulis berbagai isu nasional di Media Massa.

Jika melihat latarbelakang pendiriannya, Gus Dur memimpikan Lakspedam sebagai Pengawal Deklarasi “Kembali ke Khitah 1926” seperti diputuskan pada muktamar ke-27 di situbondo tahun 1984. Lakpesdam diharapkan mampu menciptakan manusia yang layak dikemudian hari dengan membuat pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan tenaga-tenaga NU. Ketika sudah menjadi lembaga otonom, Lakpesdam mempunyai tugas utama yaitu mensosialisasikan Khittah 1926. Ini suatu tugas yang sangat berat. Sebab seperti dikatakan di atas, bahwa sebagian Pengurus NU belum bisa melepaskan diri dari politik. Ini akibat dari sejarah pendirian NU sendiri yang lahir dalam situasi persoalan politik di masa Penjajah Belanda. Jadi, Lakpesdam mempunyai tugas pembenahan ke dalam organisasi, dan membuat terobosan keluar tanpa terjebak catur politik praktis.

Dasar-dasar pemikiran ini saya kira, Ketua Umum PBNU memilih Erick thohir menjadi ketua Lakpesdam. Pemilihannya tentu tanpa alasan. Menteri BUMN ini telah mengikuti kelas ke-NU-an dan telah mengikuti ujian-ujian ke-organisasi-an; pertama dia telah menjadi anggota Banser; kedua dia telah berhasil sangat sukses menjadi Panitia Peringatan Satu Abad NU di Sidoarjo pada tanggal 7 Pebruari 2023. Tentu saja, ada berbagai pertimbangan lain menjadikan Ketum PBNU menjatuhkan pilihan kepadanya ketua Lakpesdam. Dia menyakini, bahwa ditangan nya, Lakpesdam bukan hanya melahirkan pemikir dan ilmuwan, juga ia menjadi lokomotif perubahan besar NU dalam membangun berbagai aspek kehidupan masyarakat (seperti pendidikan, politik dan ekonomi) dan memberi sumbangsih positif dalam membangun akhlak al-karimah peradaban dunia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876