
Beberapa minggu ini Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) membuat kejutan, paling tidak untuk ukuran saya sendiri;
pertama penonaktifan seluruh Pengurus NU dalam segala jenjang kepengurusan baik
pusat, maupun daerah yang terlibat menjadi Tim Sukses Bacalon Presiden dan
Wakil Presiden, menjadi Daftar Calon Tetap (DCT) Utusan Daerah dan Legislatif
Baik DPR RI, DPRD Provinsi Maupun DPRD Kabupaten/Kota. Keputusan PBNU tertuang
dalam surat nomor: 1201/PB.01/A.I.03.08/99/11/2023 tentang penonaktifan Pengurus
NU yang menjadi Timses dan Caleg.
Saya kira ini memang membuat kejutan bagi
sebagian orang menyangsikan keberanian dari Pengurus PBNU mengambil langkah
tegas. Sebab dalam kehidupan organisasi ini, sangat susah dipisahkan antara
organisasi dan Partai Politik. Jika dilihat di berbagai daerah dalam segala
tingkatan, sering ditemukan Pengurus NU juga menjadi Pengurus Partai Politik. Penulis
sering telpon-telponan dengan beberapa sahabat di berbagai daerah tentang
keprihatinan politik praktis masuk terlalu dalam pada organisasi yang didirikan
oleh Hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Bahkan orang-orang yang sangat prihatin
justru dari para Pengurus Partai Politik (meskipun orang politik berfikir
seperti ini sangat sedikit bukan?). Mereka menginginkan ormas NU harus berjalan
sebagai ormas keagamaan yang bisa menampung dan memperdayakan masyarakat dalam
aspek yang lebih luas. Organisasi benar-benar mandiri, sehingga mampu melihat
dengan jernih segala persoalan bangsa dalam kacamata batin politik kebangsaan,
bukan politik praktis yang sering bersifat pragmatis.
Tentu saja sikap politik PBNU bukan berarti
melarang warga nya berpolitik praktis. Bahkan sangat dianjurkan jika memang
mempunyai profesionalitas di bidang tersebut. Harapan besarnya, mereka yang
sudah dalam lingkaran pemerintahan mampu meneberkan benih-benih positif politik
kebangsaan yang dicita-citakan oleh PBNU bisa terealisasikan dalam berbagai
kebijakannya. Jadi, PBNU menjadi semacam laboratorium politik kebangsaan bagi
seluruh warga NU yang mempunyai warna politik beragam. Atas dasar ini,
harapannya bisa terbangun kesadaran kolektif mereka untuk sama-sama membesarkan
cita-cita besar NU melalui kiprah politik di Pemerintahan.
Cita-cita besar ormas NU untuk mandiri dan
melepaskan syahwat politik praktis sebagian pengurusnya di berbagai daerah
sangat sulit. Ini berbeda dari saudara tua nya, yaitu Muhamadiyah. Dalam hal
kemandirian dan netralitas, organisasi keagamaan ini terhitung lebih dewasa.
Bisa jadi, PBNU sedang belajar dari Muhamadiyah dalam kemandirian politik. Itu
pendapat saya sendiri.
Kejutan kedua yaitu Ketum PBNU mengangkat
Erick Thohir menjadi Ketua Lakpesdam. Biasanya di berbagai wilayah, Ketua
Lakpesdam adalah para pemikir, ulama atau penulis yang sering berkutat pada
persoalan-persoalan kajian-kajian keagamaan. Meskipun memang fungsinya jauh
dari itu. Contoh sebelumnya, adalah K.H. Ulil Absar Abdalah. Dia adalah tokoh
yang matang di Pesantren. Jago Kitab Kuning, dan senantiasa mengisi
kajian-kajian kitab klasik secara ofline dan online. Saat sekaraang ini, secara
online dia mengkaji kitab karya-karya Syeikh Imam Al-Ghozali. Selain itu, Ulama
yang juga jebolan Harvard University memang terkenal sebagai pemikir dan
penulis produktif. Tulisannya sering muncul di media-media nasional seperti Kompas.
Saya rasa dia memang benar-benar mewarisi tradisi pendiri Lakpesdam yaitu Abdurrahman
Wahid (Gus Dur) yang sering menulis berbagai isu nasional di Media Massa.
Jika melihat latarbelakang pendiriannya, Gus
Dur memimpikan Lakspedam sebagai Pengawal Deklarasi “Kembali ke Khitah 1926”
seperti diputuskan pada muktamar ke-27 di situbondo tahun 1984. Lakpesdam diharapkan
mampu menciptakan manusia yang layak dikemudian hari dengan membuat
pelatihan-pelatihan untuk mengembangkan tenaga-tenaga NU. Ketika sudah menjadi
lembaga otonom, Lakpesdam mempunyai tugas utama yaitu mensosialisasikan Khittah
1926. Ini suatu tugas yang sangat berat. Sebab seperti dikatakan di atas, bahwa
sebagian Pengurus NU belum bisa melepaskan diri dari politik. Ini akibat dari
sejarah pendirian NU sendiri yang lahir dalam situasi persoalan politik di masa
Penjajah Belanda. Jadi, Lakpesdam mempunyai tugas pembenahan ke dalam
organisasi, dan membuat terobosan keluar tanpa terjebak catur politik praktis.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3574
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876