Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Peci diantara Beragam Topi



Selasa , 03 Februari 2026



Telah dibaca :  286

Duduk satu meja dengan Pak Sekda dan Wakapolres Kabupaten Kepulauan Meranti. Di meja bagian depan dan setelah kanan petinggi-petinggi forkompinda dan para kepala dinas. Saya lihat banyak memakai topi. Beragam jenisnya. Berbeda jenis Topi beragam juga status dan tempat bekerja. Ada dua yang memakai peci, satu wakil ketua LAM, satu lagi saya sendiri.

Beda jenis topi dan beda jenis baju-meskipun sama jenis pecinya-adalah wujud keberagaman. Itu sunatullah. Manusia dengan segala ide-ide briliannya selalu saja berfikir unik dan progresif dalam melahirkan budaya-budaya. Keberagaman ini menjadi identitas. Dengan identitas ini kita bisa memahami siapa mereka, darimana dan apa aktivitasnya. Kita tahu jika seragam seperti ini adalah polisi, jaksa, dan TNI. Kita tahu jika seragam seperti itu adalah kepala dinas, dokter dan sebagainya. Ketika sama-sama mahfum, maka secara naluriah akan manusia bisa menyikapi dan mengambil suatu putusan-putusan berbeda-beda, termasuk pilihan-pilihan ketika menginginkan sesuatu. Contoh misalnya ingin ke Rumah Sakit, maka alam bawah sadar akan melihat para pegawai dan para dokter di Rumah Sakit memakai baju putih. Hal yang sama ketika kita mempunyai urusan dengan polisi atau jaksa, semua bisa dikenal melalui seragam nya.

Apakah seorang dokter boleh memakai sarung dan baju koko ketika mengobati pasien? Boleh-boleh saja. Bawa tasbih pun boleh.Tidak melanggar syariat sama sekali. Mungkin hanya melanggar SOP saja. Tapi akan menjadi pertanyaan dalam hati dari para pasien, “Jangan-jangan dokter nya masih mualaf dan baru saja sunnat”. Jadi presepsi sarung di Rumah Sakit dengan di tempat ibadah-seperti mushola atau masjid-bisa mempunyai presepsi yang berbeda. Bahkan Ketika anda berada di gereja atau kelenteng dianggap sesat atau liberal. Masa, memakai peci dan sarung di gereja!.

Bolehkan seorang ustadz memakai seragam polisi saat menjadi khatib? Boleh-boleh saja. Tidak ada dalil dalam nash al-qur’an dan as-sunnah yang melarang. Bahkan saat menjadi khatib, sah-sah saja memakai helm. Siapa yang melarang. Mana dalilnya?

Sekali lagi tidak ada yang melarang. Tapi bukan soal larangan semata dalam kehidupan bermasyarakat. Tapi ada suatu aturan yang tidak tertulis yaitu kepantasan yang diterima secara umum. Jika nilai-nilai kepantasan sudah disepakati oleh masyarakat dan kita melawan nya maka akan menimbulkan reaksi macam-macam. Seandainya saja. Ini andai-andai. Jika khatib tiba-tiba naik mimbar dengan memakai helm-tidak memakai peci-saya punya dua keyakinan yang akan terjadi pada jamaah sholat jum’at: pertama, kamu ditangkap karena dianggap melecehkan agama; kedua kamu dianggap stress dan semua jama’ah kabur.

Dalam kehidupan bermasyarakat keberagaman memang tidak harus semua dibuat keseragaman. Ada wilayah-wilayah yang memang perbedaan harus tumbuh sesuai dengan identitas sendiri-sendiri.

Saya mempunyai rambut sedikit ikal, tidak perlu dibuat rambut menjadi model gelombang rambut tsunami. Atau punya hidung pesek, syukuri saja. Tidak perlu dijepit pakai jepitan baju agar menjadi mancung. Sesuatu yang tidak sesuai dengan desainnya dan dicoba dipaksakan sesuai dengan seleranya justru akan terlihat lucu. Merubah jangan, merapikan boleh.

Masyarakat kita mempunyai keberagaman suku, etnis, budaya dan agama. Semua tumbuh secara alamiah. Semua harus dirawat dengan baik. Sebab keberagaman tersebut hakikatnya satu kesatuan seperti satu tubuh. Kadang ada seperti kepala, lainnya seperti tangan, lainnya seperti anggota tubuh lainnya. Bentuk berbeda-beda dan fungsinya pun tidak sama. Keberagaman tersebut tidak perlu diseragamkan. Biarkan saja mata mempunyai fungsi melihat, dan biarkan saja telinga mendengar atau mulut berbicara. Mencoba merubah fungsi tersebut justru akan menjadi persoalan baru yang lebih para lagi.

Meskipun demikian, pada wilayah tertentu keberagaman memang perlu diseragamkan. Bukan pada hal-hal yang sudah baku yang menjadi identitas atau adat budaya dan keyakinan. Bukan, bukan wilayah ini. Tuhan saja sudah menjelaskan dengan tegas “lakum dienukum wali yadien”-untuk mu agama mu, untuk ku agama ku. Pada sisi lain juga Allah telah mendesain pluralitas dari suku dan bangsa-plus juga akan beragam bahasa dan budaya nya. Tujuannya jelas yaitu “lita’arafu-untuk saling mengenal di antara kelompok satu dengan kelompok lain.

Konsep lita’arafu sebenarnya upaya membangun kedewasaan diri dengan mengambil sesuatu yang baik dan meninggalkan sesuatu yang tidak atau malah kurang baik dari budaya orang lain. Pada sisi tertentu sering kita melihat kelompok lain mempunyai semangat etos kerja tinggi yang mengantarkan kesukesan dalam berbisnis dan kemandirian. Ini Adalah sesuatu yang baik, maka ambillah sebagai bagian dari proses perubahan kualitas diri.

Pada sisi lain mungkin kita melihat ada hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, maka kita tidak perlu meniru sesuatu yang dianggap tidak pantas untuk ditiru. Mungkin ada latarbelakang budaya dan kebiasaan yang berbeda.

Tidak meniru budaya bukan berarti melarang. Tidak meniru dengan tanggungjawab hidup bersosial yaitu memberikan kemerdekaan mereka sebagaimana mereka juga memberi kemerdekaan kepada kita dalam kehidupan sosial budaya, termasuk juga dalam hal menjalankan agama.

Maka tanggungjawab kita dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya adalah berlomba-lomba menawarkan diri sebagai uswatun khasanah kepada orang lain. Orang lain-apapun suku dan agama nya-selalu akan dilihat pada moralitasnya, bukan pada agama nya. Ada seorang anak muda berlari-lari karena menolong orang yang keseruduk honda. Sang ibu tadi mengucapkan terima kasih. Saya yakin yang terpikir pada benak ibu tadi adalah kebaikannya bukan agama nya.

Ada kisah sedikit yang perlu ditulis disini. Suatu hari saya belanja di salah satu supermarket di Kota Bengkalis. Setelah selesai mengambil barang yang akan saya beli, saya pun melakukan antri di depan kasir.

Saya melihat ada tiga orang pembeli. Empat  dengan ku. Di depan ku ada dua anak-anak tionghoa. Sambil menunggu antrian-karena pembeli paling depan belanja cukup banyak- mereka bermain-main. Saat antrian nomor dua melihat ku, dia membisikan kepada temannya. Lalu dua anak-anak tionghoa mempersilahkan ku untuk maju.

Saya tersenyum dan tidak mau. Saya tetap mempersilahkan kepada anak-anak tadi untuk tetap sesuai antriannya. Saya tersenyum dan hatiku berkata,”betapa baik anak-anak tadi”.

Jadi, keberagaman memang tidak mungkin dihilangkan. Mereka akan tetap hidup sepanjang dunia ini masih ada. Bahkan Ketika bumi hancur pun keberagaman tetap ada.

Meskipun demikian, keseragaman memang juga perlu pada wilayah-wilayah yang bisa mencakup seluruh komponen masyarakat, yaitu tentang pentingnya penanaman moral atau etika-Islam akhlak al-karimah- kepada anak-anak dan generasi muda. Sama sama ada keseragaman dari setiap individu dan kelompok untuk sama-sama saling menjaga keragaman penuh dengan tanggungjawab bersama. Itulah naluri manusia sebagai makhluk sosial. Hidup tidak bisa dalam satu jenis, hidup akan selalu hadir beragam jenis. Itu sebabnya mengelola keberagaman menjadi sangat penting agar perjalanan kehidupan masyarakat menjadi terlihat indah.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2871