
Saya kalau pergi ke Rumah Makan terasa
senang jika di dalamnya ada penyanyi “Ikhlas beramal”. Biasanya dua orang. Bermodal
gitar dan plastik kresek. Satu orang bernyanyi, dan satu lagi membawa plastik
putih atau topi. Keliling sambil menyapa para pengunjung. Mana tahu ada yang
memberi sebagian rezekinya. Biasanya ada kalimat yang tidak pernah lepas dari
mulutnya, yaitu ucapan “terima kasih” ketika diantara pengunjung menaruh uang
di wadah tersebut.
“Hus, tak usah dikasih” kata seorang teman yang duduk di dekatku.
“Kenapa?” tanya ku balik.
“Kadang uang nya buat beli minum-minuman keras” kata nya.
Saya tersenyum sambil membisikan kalimat
kepada nya, “Saya bukan jaksa dan polisi mas”. Dia pun tertawa.
Kita sering menemukan sekelompok orang yang
berpenampilan membuat presepsi menjadi negatif. Itu kadang-kadang terjadi. Ketika
melihat sekumpulan anak muda berpakaian compang-camping, hidung dipasangi
peniti, telinga pakai anting-anting, dan rambut seperti rambut jewawut atau
rambut jagung, kuning kemerah-merahan. Pikiran kita mudah menjustifikasi,”arogan,
urakan,berandal, preman dan tdak punya moral”.
Ada pengalaman menarik. Ada sekumpulan
anak-anak punk. Lima orang. Empat laki-laki, satu Perempuan. Baju tidak
karuan. Kulit lusuh, kotor dan mengeluarkan bau kurang sedap. Celana nya banyak
yang robek dan kotor. Ada rantai besar di celananya. Dengan bahagia, mereka
memainkan gitar kecil dan menyanyikan lagu favoritnya. Mereka Bahagia sekali. Tapi
terpaksa mereka menghentikan lagunya. Ada seorang laki-laki dengan memakai
pakaian ahli ibadah membentak dan mengancam dengan sangat keras,” tak usah
bising. Jika sekali lagi bising, saya lemparkan ke laut”. Karena kebetulan
waktu itu, mereka sedang berada di kapal laut.
Saya tidak bisa menyalahkan bapak yang
berbaju ahli ibadah. Saya juga tidak bisa menyalahkan anak-anak punk
yang sedang menikmati kebahagiaan. Kehidupan sosial memang selalu menyajikan
hal-hal yang kontradiktif. Sejak dulu. Bahkan sejak zaman nabi adam sekalipun. Qabil
dan habil satu bapak ibu, berperilaku kontradiktif. Jangan berharap orang selalu
menyanjung diri kita, dan jangan tipis telinga ketika ada orang yang
menyaci-maki kita. Itulah zoon policon. Itu manusia “madaniyu bitab’i”.
Semua perilaku manusia ada beragam jenisnya.
Entah kenapa, saya melihat mereka teringat
diri sendiri. Saya teringat saat berada di pesantren klasik untuk menemukan
nasi satu piring sehari sangat susah. Kadang berhari-hari tidak menemukan nasi.
Perut diganjal dengan ubi bakar. Tanpa lauk. Bahkan kadang saking tidak ada
makanan. Sehari-hari hanya minum air sumur yang tidak di masak. Wajar saja
ketika saya pergi ke WC (maaf), kotorannya yang keluar hanya air saja.
“Bagaimana pun mereka adalah manusia
seperti kita, makhluk nya Allah dan membutuhkan kasih sayang” kata ku dalam
hati.
Saya kemudian menemui penjual makanan. Saya
mengatakan kepadanya, jika anak-anak punk membeli makanan apa saja, katakan
kepada mereka sudah ada yang membayarnya. Penjual itu pun mengangguk.
Saat malam hari saya tidur. Tiba-tiba ada
yang membangunkan ku. Ternyata anak-anak punk. Dengan wajah berkaca-kaca dengan
penuh kesopanan, mereka mengucapkan terima kasih. Saya kaget. Namun entah
kenapa, setelah peristiwa itu anak-anak tadi tidak lagi membuat keributan. Mungkin
mereka merasakan bahwa diantara manusia sebanyak di atas bumi, masih ada yang
memperhatikan dan memanusiakan mereka. Sebab bisa jadi, mereka melakukan hal
demikian karena kurang rasa keadilan dan kemanusiaan di lingkungan mereka
tinggal.
Saya teringat kisah dalam kitab turost. Suatu
hari ada seorang majuzi berumur 70 tahun mendatangi Nabi Ibrahim. Ia kelaparan
dan meminta makan kepada nya. Tapi Nabi Ibrahim memberi syarat agar masuk Islam
dulu baru diberi makanan. Sang majuzi itu pun pergi dalam keadaan lapar. Ia tidak
mau menerima syarat tersebut.
Lalu Allah memperingatkan kepada Nabi
Ibrahim bahwa “Kami memberi rezeki kepada siapapun makhluk dengan tidak melihat
apakah Islam atau tidak Islam. kenapa kamu membuat aturan yang justru
bertentangan dengan aturanku”.
Nabi Ibrahim menyesal dan mengakui
kesalahannya. Ia pun memanggil orang majuzi tersebut untuk memberi makanan
tanpa adanya syarat apapun.
Dari sini kita belajar makna kehidupan,
bahwa berbuat baik jangan dibatasi oleh egoisme sempit atas nama agama, suku,
etnis, budaya dan keyakinan. Berbuat baik jangan dibatasi oleh kesamaan agama
saja, suku saja, budaya saja. Pergaulan jangan hanya untuk satu budaya saja,
agama saja. Berbuat baik kepada siapa saja. Sebab setiap ajaran keagungan
darimanapun agama dan keyakinan serta ajaran filosofis kehidupan selalu
menghadirkan nilai-nilai universal tentang pentingnya berbuat baik kepada siapa
saja. Sebab Allah melihat kita pada sisi kebaikan dan besarnya memberi
kemanfaatan bagi orang-orang di sekitar kita.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875