Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Peduli kepada Sesama Manusia tanpa Perlu Banyak Bertanya



Rabu , 04 September 2024



Telah dibaca :  461

Saya kalau pergi ke Rumah Makan terasa senang jika di dalamnya ada penyanyi “Ikhlas beramal”. Biasanya dua orang. Bermodal gitar dan plastik kresek. Satu orang bernyanyi, dan satu lagi membawa plastik putih atau topi. Keliling sambil menyapa para pengunjung. Mana tahu ada yang memberi sebagian rezekinya. Biasanya ada kalimat yang tidak pernah lepas dari mulutnya, yaitu ucapan “terima kasih” ketika diantara pengunjung menaruh uang di wadah tersebut.

“Hus, tak usah dikasih” kata seorang teman yang duduk di dekatku.

“Kenapa?” tanya ku balik.

“Kadang uang nya buat beli minum-minuman keras” kata nya.

Saya tersenyum sambil membisikan kalimat kepada nya, “Saya bukan jaksa dan polisi mas”. Dia pun tertawa.

Kita sering menemukan sekelompok orang yang berpenampilan membuat presepsi menjadi negatif. Itu kadang-kadang terjadi. Ketika melihat sekumpulan anak muda berpakaian compang-camping, hidung dipasangi peniti, telinga pakai anting-anting, dan rambut seperti rambut jewawut atau rambut jagung, kuning kemerah-merahan. Pikiran kita mudah menjustifikasi,”arogan, urakan,berandal, preman dan tdak punya moral”.

Ada pengalaman menarik. Ada sekumpulan anak-anak punk. Lima orang. Empat laki-laki, satu Perempuan. Baju tidak karuan. Kulit lusuh, kotor dan mengeluarkan bau kurang sedap. Celana nya banyak yang robek dan kotor. Ada rantai besar di celananya. Dengan bahagia, mereka memainkan gitar kecil dan menyanyikan lagu favoritnya. Mereka Bahagia sekali. Tapi terpaksa mereka menghentikan lagunya. Ada seorang laki-laki dengan memakai pakaian ahli ibadah membentak dan mengancam dengan sangat keras,” tak usah bising. Jika sekali lagi bising, saya lemparkan ke laut”. Karena kebetulan waktu itu, mereka sedang berada di kapal laut.

Saya tidak bisa menyalahkan bapak yang berbaju ahli ibadah. Saya juga tidak bisa menyalahkan anak-anak punk yang sedang menikmati kebahagiaan. Kehidupan sosial memang selalu menyajikan hal-hal yang kontradiktif. Sejak dulu. Bahkan sejak zaman nabi adam sekalipun. Qabil dan habil satu bapak ibu, berperilaku kontradiktif. Jangan berharap orang selalu menyanjung diri kita, dan jangan tipis telinga ketika ada orang yang menyaci-maki kita. Itulah zoon policon. Itu manusia “madaniyu bitab’i”. Semua perilaku manusia ada beragam jenisnya.

Entah kenapa, saya melihat mereka teringat diri sendiri. Saya teringat saat berada di pesantren klasik untuk menemukan nasi satu piring sehari sangat susah. Kadang berhari-hari tidak menemukan nasi. Perut diganjal dengan ubi bakar. Tanpa lauk. Bahkan kadang saking tidak ada makanan. Sehari-hari hanya minum air sumur yang tidak di masak. Wajar saja ketika saya pergi ke WC (maaf), kotorannya yang keluar hanya air saja.

“Bagaimana pun mereka adalah manusia seperti kita, makhluk nya Allah dan membutuhkan kasih sayang” kata ku dalam hati.

Saya kemudian menemui penjual makanan. Saya mengatakan kepadanya, jika anak-anak punk membeli makanan apa saja, katakan kepada mereka sudah ada yang membayarnya. Penjual itu pun mengangguk.

Saat malam hari saya tidur. Tiba-tiba ada yang membangunkan ku. Ternyata anak-anak punk. Dengan wajah berkaca-kaca dengan penuh kesopanan, mereka mengucapkan terima kasih. Saya kaget. Namun entah kenapa, setelah peristiwa itu anak-anak tadi tidak lagi membuat keributan. Mungkin mereka merasakan bahwa diantara manusia sebanyak di atas bumi, masih ada yang memperhatikan dan memanusiakan mereka. Sebab bisa jadi, mereka melakukan hal demikian karena kurang rasa keadilan dan kemanusiaan di lingkungan mereka tinggal.

Saya teringat kisah dalam kitab turost. Suatu hari ada seorang majuzi berumur 70 tahun mendatangi Nabi Ibrahim. Ia kelaparan dan meminta makan kepada nya. Tapi Nabi Ibrahim memberi syarat agar masuk Islam dulu baru diberi makanan. Sang majuzi itu pun pergi dalam keadaan lapar. Ia tidak mau menerima syarat tersebut.

Lalu Allah memperingatkan kepada Nabi Ibrahim bahwa “Kami memberi rezeki kepada siapapun makhluk dengan tidak melihat apakah Islam atau tidak Islam. kenapa kamu membuat aturan yang justru bertentangan dengan aturanku”.

Nabi Ibrahim menyesal dan mengakui kesalahannya. Ia pun memanggil orang majuzi tersebut untuk memberi makanan tanpa adanya syarat apapun.

Dari sini kita belajar makna kehidupan, bahwa berbuat baik jangan dibatasi oleh egoisme sempit atas nama agama, suku, etnis, budaya dan keyakinan. Berbuat baik jangan dibatasi oleh kesamaan agama saja, suku saja, budaya saja. Pergaulan jangan hanya untuk satu budaya saja, agama saja. Berbuat baik kepada siapa saja. Sebab setiap ajaran keagungan darimanapun agama dan keyakinan serta ajaran filosofis kehidupan selalu menghadirkan nilai-nilai universal tentang pentingnya berbuat baik kepada siapa saja. Sebab Allah melihat kita pada sisi kebaikan dan besarnya memberi kemanfaatan bagi orang-orang di sekitar kita.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875