Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pejabat Rasa Rakyat atau Rakyat Rasa Pejabat?



Sabtu , 15 Februari 2025



Telah dibaca :  620

Ada seorang kawan dekat merambah jalan sufi sedang mengamalkan “ilmu rasa”. Saat ia menjemputkan di Pelabuhan, ada dua cangkir wedang kopi di meja. Saya kira dia sedang minum kopi. Ternyata ia memesankan untuk ku dan teman ku. Sedangkan ia sendiri tidak minum kopi karena sedang puasa bulan sya’ban.  saya tersenyum, sempat-sempat nya ia pesan wedang kopi untuk kami saat ia sendiri sedang puasa. Ia benar-benar sudah tidak "ngiler" melihat makanan. puasa terasa nikmat melebihi secangkir kopi.

Para ulama,  kaum sufi dan orang tua dulu  sering mempunyai sahabat dan murid yang mempunyai ilmu rasa, yaitu memahami apa yang diinginkan oleh sahabatnya sendiri. Ia berbuat secara spontanitas tanpa perlu berfikir mendalam. Ukuranya sederhana yaitu diri sendiri.  Jadi perilaku terbentuk menggunakan ukuran diri yang diberikan kepada orang lain. Ketika diri sendiri menyukai kopi dan orang lain juga, maka kontak batin langsung terkoneksi untuk memesan apa yang teman sukai. 

ilmu rasa ini sering dijadikan sebagai barometer puncak dari kualitas ilmu spiritual seseorang. "Unggah-ungguh nya" tidak sebatas pada  pada tataran ainul yaqin dan nurul yaqin. Tapi lebih mengacu kepada haqul yaqin yaitu suatu ilmu yang mampu merasakan keindahan Tuhan hadir pada dirinya saat dimana pun dan kapanpun dan dalam situasi atau kondisi apapun. Semua menjadi terlihat indah dan menyenangkan. Bagaimana tidak indah dan menyenangkan, sebab orang-orang yang sudah merambah maqam haqul yaqin ia bisa merasakan sesuatu yang pahit terasa enak sebagaimana saat merasakan sesuatu yang sangat lezat. Hidup benar-benar terlihat sangat sederhana. Dan menyederhanakan hidup jalan untuk mengenal ilmu rasa. Pola perilaku demikian yang menciptakan konektifitas kontak batin dan mampu melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji secara alamiah. 

ilmu rasa melahirkan empati yang sangat mendalam terhadap hamba-hamba allah tanpa perlu mempertimbangkan latarbelakangnya. Saya pernah membaca kisah hidup Umar bin Abdul Aziz. Masa kecil hingga dewasa hidup diistana dan serba kecukupan. Apapun yang ia minta nyaris semuanya tersedia. Sang umar muda sangat tampan sekali. kulit putih, rambut hitam, alis mata tebal dan hitam, hidung sangat mancung dan mempunyai badan tinggi tegap. Ia pemuda yang sangat berwibawa dan mempunyai pemahaman agama dan ilmu pengetahuan yang sangat luas.

Saat ia menjadi khalifah, kehidupan nya berubah 180 derajat. Baju yang merk kelas kaum bangsawan ditanggalkan. Ia memakai baju seharga masyarakat pada umumnya. Makan dengan lauk ala kadarnya. Dan lebih hebat lagi, semua fasilitas negara dikembalikan ke Baitul Mal. Ia hanya mengambil sedikit untuk ganjal perutnya. 

Walhasil, semua pegawai dan masyarakat mengikuti gaya hidup sang khalifah yang sangat sederhana kehidupan sehari-harinya. Ia tidak perlu terlalu membuat regulasi yang jlimet. Suri tauladan sudah cukup memberi kesadaran nasional.

Saya kira itu yang disebut ilmu rasa. ia mampu merubah perilaku secara nasional dengan cara yang sederhana.

Sebenarnya banyak pemimpin dunia yang hidup penuh dengan kezuhudan. Antara lain presiden iran yaitu Ayatollah Khumeini, dan Ahmadinejad. Rumah kedua mantan presiden hanya ada meja dan karpet untuk menerima tamu. Makan cukup kentang rebus dan kueh kasar.

Padahal kedua mantan presiden Iran tersebut di atas adalah presiden negara Islam yang paling ditakuti oleh AS dan negara barat. Sudah sering diembargo oleh AS dan sekutunya, Iran tetap kokoh dan tegar. Tidak cengeng, tidak putus asa, tidak ngrasani, dan tidak putus asa. Berkarya dan terus membangun negara dengan keterbatasan.

Bangsa Iran tetap berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri. Mandiri. Persis konsep Mahatma Gandi. Berdikari. Ia bangga memakai baju berwarna putih tanpa dijahit hasil dari karya anak bangsa India daripada memakai jas, topi, dasi dan sepatu tapi buatan Inggris.

Mahamatma Gandi, Ayatollah Khumeini, dan Ahmadinejad adalah segelintir orang yang melihat kemulyaan tidak pada gemerlapnya dunia. Mereka adalah cermin orang-orang yang bisa memangkas “nafsu duniawiyah” menuju kepada gemerlap spiritual. Jabatannya sebagai pemimpin, kepala negara benar-benar digunakan secara totalitas untuk kebahgiaan masyarakatnya. Ia benar-benar telah mampu membunuh kerakusan pada diri dan tumbuh sifat qanaah dan sumeleh semata-mata mencari ridha Sang Pencipta.

Para ulama seperti hadratusyeikh Hasyim Asy’ari dan K.H.R. As’ad Syamsul Arifin adalah sebagian dari ulama yang dunia sudah berada di genggamanya. Namun betapa sederhanya hidup mereka berdua. Para ulama dan ahli waris nya telah menceritakan kepadaku berkaitan dengan kamar tidurnya dan cara makan kesehariannya. Terkadang ingin menangis mendengar kisah hidup para ulama yang sangat zuhud terhadap dunia.

Sumber ilmu rasa tertinggi tentu ada pada manusia yang paling mulia yaitu Muhammad SAW. Ia seorang nabi dan rasul yang sudah tidak “gumunan” jika gunung uhud menjadi emas berlian. Ia memilih hidup secara normal dan merasakan kehidupan manusia pada umumnya, makan bersama sahabat dan istri-istrinya, terkadang lapar karena seharian tidak ada makanan di rumahnya, saat tidur, ia sangat menikmatinya meskipun hanya beralas pelepah daun kurma yang sudah dikeringkan. ketika ia akan meninggal dunia, ia masih terus memanggil umat nya; "umati", "umati", "umati"....

Penulis telah membaca kisah-kisah keagungan para pemimpin dunia yang pada dirinya tidak terjebak oleh hiasan dunia. Ia sangat khusu’ dan mampu puasa sepanjang masa yaitu puasa menahan hawa nafsu untuk tidak menuruti hal-hal yang bersifat negatif. Ini yang sering dimaksud “tidak puasa tapi hakikatnya puasa”. Hidup dengan penuh gembyare dunia, tapi hati senantiasa mengingat keagungan Allah SWT dan menebarkan kedamaian dengan kesederhanaannya. ia menjadi inspirasi ilmu rasa sepanjang masa.

Saya sebenarnya ingin mengasah ilmu rasa melalui laku puasa dhohir dan puasa batin. Puasa bulan sya’ban. Tapi kalau sudah diajak orang disampingku jalan-jalan, rasa-rasanya lebih baik makan dan minum dan belajar “puasa pada saat tidak puasa” (bingung ya?,hehehe).

Ternyata sulit menerapkan ilmu rasa melalui  puasa "mengencangkan ikat pinggang". Jika para pemimpin dan pembesar negeri ini punya ilmu rasa dan sama-sama berpuasa, kemungkinan untuk mendapatkan hari kemenangan bisa tercapai. Tapi jika para penggede negeri ini tidak punya ilmu rasa dan tidak berpuasa, dan rakyat kecil disuruh puasa, rasa-rasanya malah jadi “rasanan”. Ma’lum, rakyat kecil sudah biasa puasa di luar bulan puasa. Semua hari dan bulan sudah seperti bulan Ramadhan, sudah susah membedakan antara ramadhan dan bulan Syawal.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872