
Ada seorang kawan dekat merambah jalan sufi sedang mengamalkan “ilmu rasa”. Saat ia menjemputkan di Pelabuhan, ada dua cangkir wedang kopi di meja. Saya kira dia sedang minum kopi. Ternyata ia memesankan untuk ku dan teman ku. Sedangkan ia sendiri tidak minum kopi karena sedang puasa bulan sya’ban. saya tersenyum, sempat-sempat nya ia pesan wedang kopi untuk kami saat ia sendiri sedang puasa. Ia benar-benar sudah tidak "ngiler" melihat makanan. puasa terasa nikmat melebihi secangkir kopi.
Para ulama, kaum sufi dan orang tua dulu sering mempunyai sahabat dan murid yang mempunyai ilmu rasa, yaitu memahami apa yang diinginkan oleh sahabatnya sendiri. Ia berbuat secara spontanitas tanpa perlu berfikir mendalam. Ukuranya sederhana yaitu diri sendiri. Jadi perilaku terbentuk menggunakan ukuran diri yang diberikan kepada orang lain. Ketika diri sendiri menyukai kopi dan orang lain juga, maka kontak batin langsung terkoneksi untuk memesan apa yang teman sukai.
ilmu rasa ini sering dijadikan sebagai barometer puncak dari kualitas ilmu spiritual seseorang. "Unggah-ungguh nya" tidak sebatas pada pada tataran ainul yaqin dan nurul yaqin. Tapi lebih mengacu kepada haqul yaqin yaitu suatu ilmu yang mampu merasakan keindahan Tuhan hadir pada dirinya saat dimana pun dan kapanpun dan dalam situasi atau kondisi apapun. Semua menjadi terlihat indah dan menyenangkan. Bagaimana tidak indah dan menyenangkan, sebab orang-orang yang sudah merambah maqam haqul yaqin ia bisa merasakan sesuatu yang pahit terasa enak sebagaimana saat merasakan sesuatu yang sangat lezat. Hidup benar-benar terlihat sangat sederhana. Dan menyederhanakan hidup jalan untuk mengenal ilmu rasa. Pola perilaku demikian yang menciptakan konektifitas kontak batin dan mampu melahirkan sikap dan perbuatan yang terpuji secara alamiah.
ilmu rasa melahirkan empati yang sangat mendalam terhadap hamba-hamba allah tanpa perlu mempertimbangkan latarbelakangnya. Saya pernah membaca kisah hidup Umar bin Abdul Aziz. Masa kecil hingga dewasa hidup diistana dan serba kecukupan. Apapun yang ia minta nyaris semuanya tersedia. Sang umar muda sangat tampan sekali. kulit putih, rambut hitam, alis mata tebal dan hitam, hidung sangat mancung dan mempunyai badan tinggi tegap. Ia pemuda yang sangat berwibawa dan mempunyai pemahaman agama dan ilmu pengetahuan yang sangat luas.
Saat ia menjadi khalifah, kehidupan nya berubah 180 derajat. Baju yang merk kelas kaum bangsawan ditanggalkan. Ia memakai baju seharga masyarakat pada umumnya. Makan dengan lauk ala kadarnya. Dan lebih hebat lagi, semua fasilitas negara dikembalikan ke Baitul Mal. Ia hanya mengambil sedikit untuk ganjal perutnya.
Walhasil, semua pegawai dan masyarakat mengikuti gaya hidup sang khalifah yang sangat sederhana kehidupan sehari-harinya. Ia tidak perlu terlalu membuat regulasi yang jlimet. Suri tauladan sudah cukup memberi kesadaran nasional.
Saya kira itu yang disebut ilmu rasa. ia mampu merubah perilaku secara nasional dengan cara yang sederhana.
Sebenarnya banyak pemimpin dunia yang hidup
penuh dengan kezuhudan. Antara lain presiden iran yaitu Ayatollah Khumeini, dan
Ahmadinejad. Rumah kedua mantan presiden hanya ada meja dan karpet untuk
menerima tamu. Makan cukup kentang rebus dan kueh kasar.
Padahal kedua mantan presiden Iran tersebut
di atas adalah presiden negara Islam yang paling ditakuti oleh AS dan negara
barat. Sudah sering diembargo oleh AS dan sekutunya, Iran tetap kokoh dan
tegar. Tidak cengeng, tidak putus asa, tidak ngrasani, dan tidak putus
asa. Berkarya dan terus membangun negara dengan keterbatasan.
Bangsa Iran tetap berdikari. Berdiri di
atas kaki sendiri. Mandiri. Persis konsep Mahatma Gandi. Berdikari. Ia bangga
memakai baju berwarna putih tanpa dijahit hasil dari karya anak bangsa India daripada memakai
jas, topi, dasi dan sepatu tapi buatan Inggris.
Mahamatma Gandi, Ayatollah Khumeini, dan Ahmadinejad
adalah segelintir orang yang melihat kemulyaan tidak pada gemerlapnya dunia. Mereka
adalah cermin orang-orang yang bisa memangkas “nafsu duniawiyah” menuju
kepada gemerlap spiritual. Jabatannya sebagai pemimpin, kepala negara
benar-benar digunakan secara totalitas untuk kebahgiaan masyarakatnya. Ia benar-benar
telah mampu membunuh kerakusan pada diri dan tumbuh sifat qanaah dan sumeleh
semata-mata mencari ridha Sang Pencipta.
Para ulama seperti hadratusyeikh Hasyim Asy’ari dan K.H.R. As’ad Syamsul Arifin adalah sebagian dari ulama yang dunia sudah berada di genggamanya. Namun betapa sederhanya hidup mereka berdua. Para ulama dan ahli waris nya telah menceritakan kepadaku berkaitan dengan kamar tidurnya dan cara makan kesehariannya. Terkadang ingin menangis mendengar kisah hidup para ulama yang sangat zuhud terhadap dunia.
Sumber ilmu rasa tertinggi tentu ada pada manusia yang paling mulia yaitu Muhammad SAW. Ia seorang nabi dan rasul yang sudah tidak “gumunan” jika gunung uhud menjadi emas berlian. Ia memilih hidup secara normal dan merasakan kehidupan manusia pada umumnya, makan bersama sahabat dan istri-istrinya, terkadang lapar karena seharian tidak ada makanan di rumahnya, saat tidur, ia sangat menikmatinya meskipun hanya beralas pelepah daun kurma yang sudah dikeringkan. ketika ia akan meninggal dunia, ia masih terus memanggil umat nya; "umati", "umati", "umati"....
Penulis telah membaca kisah-kisah keagungan para pemimpin dunia yang pada dirinya tidak terjebak oleh hiasan dunia. Ia sangat khusu’ dan mampu puasa sepanjang masa yaitu puasa menahan hawa nafsu untuk tidak menuruti hal-hal yang bersifat negatif. Ini yang sering dimaksud “tidak puasa tapi hakikatnya puasa”. Hidup dengan penuh gembyare dunia, tapi hati senantiasa mengingat keagungan Allah SWT dan menebarkan kedamaian dengan kesederhanaannya. ia menjadi inspirasi ilmu rasa sepanjang masa.
Saya sebenarnya ingin mengasah ilmu rasa melalui laku puasa dhohir dan puasa batin. Puasa bulan sya’ban. Tapi kalau sudah diajak orang disampingku jalan-jalan, rasa-rasanya lebih baik makan dan minum dan belajar “puasa pada saat tidak puasa” (bingung ya?,hehehe).
Ternyata sulit menerapkan ilmu rasa melalui puasa "mengencangkan ikat pinggang". Jika para pemimpin dan pembesar
negeri ini punya ilmu rasa dan sama-sama berpuasa, kemungkinan untuk mendapatkan hari kemenangan
bisa tercapai. Tapi jika para penggede negeri ini tidak punya ilmu rasa dan tidak berpuasa, dan rakyat
kecil disuruh puasa, rasa-rasanya malah jadi “rasanan”. Ma’lum, rakyat kecil
sudah biasa puasa di luar bulan puasa. Semua hari dan bulan sudah seperti bulan
Ramadhan, sudah susah membedakan antara ramadhan dan bulan Syawal.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872