
Persoalan pelaksanaan haji selalu saja
muncul setiap tahun. Selain karena memang ibadah tersebut dilaksanakan setiap
tahun, juga jamaah haji nya berbeda-beda; baik orangnya, kondisi kesehatannya,
umurnya, menu makannya, perbedaan cuaca atau iklim antara Arab Saudi dengan Indonesia
dan pelayanananya. Apalagi ibadah haji sering disebut ibadah fisik. Secara
teori, hanya para jamaah yang mempunyai kesehatan secara sempurna yang bisa
melaksanakan ibadah haji.
Faktanya para jamaah haji secara fisik ada
yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah haji. Pada tahun 2024,
sekitar 41 ribu jamaah haji yang masuk kategori lanjut usia (lansia). Semua
ini terjadi karena daftar tunggu (waiting list) mbludak, sedangkan kuota
terbatas. Seandainya pemerintah meminta kepada pemerintah Arab Saudi untuk
menambahnya, tetap pertimbangan rasionalitas. Sebab orang-orang yang ingin
pergi haji bukan hanya berasal dari Indonesia, tapi juga negara-negara Islam di
belahan dunia. Proses panjang antrian ini yang kemudian melahirkan jamaah
lansia akibat masa tunggu yang cukup panjang.
Anggap saja dibuat estimasi umur, jika
mendaftar pada usia 45 tahun, lalu antriannya sampai 15 tahun berarti
berangkatnya sudah berumur 60 tahun. Jika antriannya di daerah tersebut sampai
20 tahun, berarti berangkat haji umur 65 tahun. Jika waktu daftar sudah berumur
55 tahun, berarti berangkat sudah berumur 75 tahun.
Jika pemerintah membuat kebijakan bahwa
usia di atas 65 tahun tidak boleh pergi haji dengan beragam analisis yang
sangat rasional dari berbagai aspek pasti akan terjadi “gonjang-ganjing” dunia
persilatan seperti mengurai benang kusut “ tali layang-layang” waktu
masih kecil. Ditarik sebelah sini, sebelah sana malah “njiret” nya
tambah kuat. Ditambah lagi ada jamaah yang tauhidnya sudah mendalam, maka ia
bisa berkata begini; “Hidup dan mati Allah yang menentukan, bukan umur,
bukan juga manusia !!”. Ini adalah dalil pamungkas yang membuat terdiam
semua orang mendengar jawaban tersebut.
Meskipun alasan iman, semua harus menyakini
tentang persoalan hidup sebagai bagian dari qodho dan qadhar dari Allah swt,
namun Tuhan juga telah meletakan hukum-hukum kehidupan pada persoalan
perubahan-perubahan fisik. Ketika umur manusia secara umum sudah memasuki usia
lansia, maka Tuhan memberi petunjuk keimanan kepada mereka bahwa batas
kehidupan sudah mulai menipis dengan segala tanda yang ada pada dirinya. Ketika
kondisi seperti ini terjadi, maka kemungkinan-kemungkinan resiko ketika melaksanakan
ibadah haji terbuka lebih besar terkena sakit atau malah kematian.
Penulis artikel ini menilai bahwa
pemerintah sudah memahami persoalan-persoalan tersebut. Salah satu buktinya
yaitu pendampingan secara totalitas terhadap para jamaah haji lansia. Mereka mendapatkan
sentuhan hati dan pelayanan haji secara maksimal yang telah disiapkan oleh
petugas haji.
Saya tentu saja tidak mengetahui secara
mendetail tugas-tugas mereka. Namun ketika melihat berita di televisi dan media
online ada beberapa orang petugas haji menggendong jamaah lansia, penulis
merasakan betapa beratnya menjadi pelayan tamu Allah. Penulis menilai, mereka
benar-benar ingin mengurai masalah dengan pendekatan kemanusiaan dan menjadi
bagian dari jamaah adalah keluarga besarnya, bukan hanya sebatas tugas secara prosedural.
Orang lain boleh berkomentar apa saja
tentang para petugas haji, apakah sebatas pencitraan atau ketulusan hati yang mendalam.
Namun penulis menilai, bahwa “nggendong” jamaah lansia secara
kemanusiaan adalah perbuatan yang sangat terpuji. Sebab dalam proses “nggendong”
ada sentuhan batiniah mendalam yang dirasakan oleh sang penggendong dan orang digendong
yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Sebab persoalan tersebut berkaitan
dengan “rasa”, dan “rasa” hanya bisa dinikmati dalam qalbu setiap pelaku.
Seorang petugas haji menuntun lansia dengan
kursi roda jelas berbeda rasa nya dengan yang “nggendong” tadi. Ada sentuhan
batiniah yang sangat membekas, sebagaimana kisah Uwais Al-Qarni menggendong ibu
nya saat melaksanakan ibadah haji. Dari sini saja penulis bisa memahami dari
peristiwa tersebut, bahwa para petugas haji benar-benar ingin melayani secara
tulus, ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah swt. Jika pelayanan belum
sempurna, itulah manusia. Sejak berdiri negara ini sampai sekarang tidak ada
pemerintah mulai dari pusat sampai daerah yang sempurna. Sebab sempurna sejati
adalah proses perubahan terus-menerus untuk semakin baik pelayanannya. Dan petugas
haji telah melakukan semaksimal mungkin. Salah satunya dengan pelayanan haji
model Uwais Al-Qarni.
Penulis : Imam Ghozali
Saifunnajar
Pengalaman saya petugas haji di tahun 2007 dan 2012, saat pelatihan simulasi tugas berat sudah diberi, tulus ikhlas melayani bukan basa basi, seperti menggendong jamaah diceritakan ini.
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876