Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pelaksanaan Haji “Nggendong” model Uwais Al Qarni



Kamis , 27 Juni 2024



Telah dibaca :  643

Persoalan pelaksanaan haji selalu saja muncul setiap tahun. Selain karena memang ibadah tersebut dilaksanakan setiap tahun, juga jamaah haji nya berbeda-beda; baik orangnya, kondisi kesehatannya, umurnya, menu makannya, perbedaan cuaca atau iklim antara Arab Saudi dengan Indonesia dan pelayanananya. Apalagi ibadah haji sering disebut ibadah fisik. Secara teori, hanya para jamaah yang mempunyai kesehatan secara sempurna yang bisa melaksanakan ibadah haji.

Faktanya para jamaah haji secara fisik ada yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah haji. Pada tahun 2024, sekitar 41 ribu jamaah haji yang masuk kategori lanjut usia (lansia). Semua ini terjadi karena daftar tunggu (waiting list) mbludak, sedangkan kuota terbatas. Seandainya pemerintah meminta kepada pemerintah Arab Saudi untuk menambahnya, tetap pertimbangan rasionalitas. Sebab orang-orang yang ingin pergi haji bukan hanya berasal dari Indonesia, tapi juga negara-negara Islam di belahan dunia. Proses panjang antrian ini yang kemudian melahirkan jamaah lansia akibat masa tunggu yang cukup panjang.

Anggap saja dibuat estimasi umur, jika mendaftar pada usia 45 tahun, lalu antriannya sampai 15 tahun berarti berangkatnya sudah berumur 60 tahun. Jika antriannya di daerah tersebut sampai 20 tahun, berarti berangkat haji umur 65 tahun. Jika waktu daftar sudah berumur 55 tahun, berarti berangkat sudah berumur 75 tahun.

Jika pemerintah membuat kebijakan bahwa usia di atas 65 tahun tidak boleh pergi haji dengan beragam analisis yang sangat rasional dari berbagai aspek pasti akan terjadi “gonjang-ganjing” dunia persilatan seperti mengurai benang kusut “ tali layang-layang” waktu masih kecil. Ditarik sebelah sini, sebelah sana malah “njiret” nya tambah kuat. Ditambah lagi ada jamaah yang tauhidnya sudah mendalam, maka ia bisa berkata begini; “Hidup dan mati Allah yang menentukan, bukan umur, bukan juga manusia !!”. Ini adalah dalil pamungkas yang membuat terdiam semua orang mendengar jawaban tersebut.

Meskipun alasan iman, semua harus menyakini tentang persoalan hidup sebagai bagian dari qodho dan qadhar dari Allah swt, namun Tuhan juga telah meletakan hukum-hukum kehidupan pada persoalan perubahan-perubahan fisik. Ketika umur manusia secara umum sudah memasuki usia lansia, maka Tuhan memberi petunjuk keimanan kepada mereka bahwa batas kehidupan sudah mulai menipis dengan segala tanda yang ada pada dirinya. Ketika kondisi seperti ini terjadi, maka kemungkinan-kemungkinan resiko ketika melaksanakan ibadah haji terbuka lebih besar terkena sakit atau malah kematian.

Penulis artikel ini menilai bahwa pemerintah sudah memahami persoalan-persoalan tersebut. Salah satu buktinya yaitu pendampingan secara totalitas terhadap para jamaah haji lansia. Mereka mendapatkan sentuhan hati dan pelayanan haji secara maksimal yang telah disiapkan oleh petugas haji.

Saya tentu saja tidak mengetahui secara mendetail tugas-tugas mereka. Namun ketika melihat berita di televisi dan media online ada beberapa orang petugas haji menggendong jamaah lansia, penulis merasakan betapa beratnya menjadi pelayan tamu Allah. Penulis menilai, mereka benar-benar ingin mengurai masalah dengan pendekatan kemanusiaan dan menjadi bagian dari jamaah adalah keluarga besarnya, bukan hanya sebatas tugas secara prosedural.

Orang lain boleh berkomentar apa saja tentang para petugas haji, apakah sebatas pencitraan atau ketulusan hati yang mendalam. Namun penulis menilai, bahwa “nggendong” jamaah lansia secara kemanusiaan adalah perbuatan yang sangat terpuji. Sebab dalam proses “nggendong” ada sentuhan batiniah mendalam yang dirasakan oleh sang penggendong dan orang digendong yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Sebab persoalan tersebut berkaitan dengan “rasa”, dan “rasa” hanya bisa dinikmati dalam qalbu setiap pelaku.

Seorang petugas haji menuntun lansia dengan kursi roda jelas berbeda rasa nya dengan yang “nggendong” tadi. Ada sentuhan batiniah yang sangat membekas, sebagaimana kisah Uwais Al-Qarni menggendong ibu nya saat melaksanakan ibadah haji. Dari sini saja penulis bisa memahami dari peristiwa tersebut, bahwa para petugas haji benar-benar ingin melayani secara tulus, ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah swt. Jika pelayanan belum sempurna, itulah manusia. Sejak berdiri negara ini sampai sekarang tidak ada pemerintah mulai dari pusat sampai daerah yang sempurna. Sebab sempurna sejati adalah proses perubahan terus-menerus untuk semakin baik pelayanannya. Dan petugas haji telah melakukan semaksimal mungkin. Salah satunya dengan pelayanan haji model Uwais Al-Qarni.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Saifunnajar

Pengalaman saya petugas haji di tahun 2007 dan 2012, saat pelatihan simulasi tugas berat sudah diberi, tulus ikhlas melayani bukan basa basi, seperti menggendong jamaah diceritakan ini.

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876