Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

352 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pembahasan Tentang Bersuci -Lanjutan



Jumat , 11 April 2025



Telah dibaca :  768

Pembahasan ini masih lanjutan pada pembahasan sebelumnya, yaitu masih membahas tentang jenis-jenis Najis. Semoga bermanfaat.

ويجبُ صبُّ الماءِ علي المتنجسِ اِذَا كان اَلْماءُ دُوْنَ الْقلّتينِ فان ادخل المتنجسُ فيه لمْ يطهر وتنجسُ الماءُ و ملاقيه ويجب عليه الاستبراء من البولِ حتّي يغلب علي ظنه انه لا يعود ولا يخرج ثمَّ يستنجئ ويرخي دبره حتّي يغسل ما في طبقاته من النجاسة ويدكله حتّي يغلب علي ظنّه زوال الطعم النجاسة ولونها وريحها ومتي لاقت النجاسة المذكورة الماء فان كان قلتين لم ينجس الا ان غيرت طعمه اولونه اوريحه ويطهر بزوال التغير وان كان اقل منهما ينجس با لملاقاة وان لم يتغير ويطهر ببلوغة قلتين ومتي لاقت النجاسات المذكورة مائعاغير الماء تنجس بملاقتها قليلا اوكثيرا تغير او لم يتغير ولا يطهر قط

Artinya:

Wajib bagi orang mukalaf membersihkan dengan air kepada benda yang terkena najis. Ketika airnya kurang dari dua kulah, dan ketika ada seseorang memasukan benda najis atau terkena najis, maka hukum air tersebut belum bisa dikatakan suci atau air mutanajis. Setiap orang mukalaf membersihkan diri dari air kencing sampai pada keyakinan bahwa ia sudah tidak kembali dan tidak keluar lagi. Kemudian ia juga melakukan istinja atau cebok dan mengendorkan duburnya sehingga ia bisa membersihkan lipatan-lipatan dubur dari benda-benda Najis, dan ia juga menggosok-gosok duburnya sehingga mempunyai keyakinan telah hilang rasa, warna dan bau najisnya. Apabila najis-najis tersebut mengenai air yang ukuran airnya ada dua kulah maka tidak najis, kecuali jika ada perubahan dari rasa, warna dan baunya. Air tersebut kembali menjadi suci ketika ketiga unsur tersebut hilang. Jika air kurang dari dua kulah, maka najis meskipun ia tidak mengalami perubahan tersebut. air kurang dua kulah bisa menjadi suci ketika ditambah menjadi dua kulah. Ketika najis tersebut bercampur dengan benda cair selain air,maka status benda tersebut hukum nya najis, baik sedikit maupun banyak, mengalami perubahan maupun tidak, ia statusnya tidak suci.

Belajar Tata Bahasa Arab

Mengenal fi’il. Dalam Bahasa Arab kalimat fi’il; fi’il Madhi, fi’il mudhare dan fi’il amar. Fi’il Madhi menunjukan pekerjaan pada masa lampau. Fi’il mudhari menunjukan pekerjaan pada masa sekarang. Fi’il amar menunjukan pekerjaan perintah atau kalimat perintah.

Contoh :

1.       Fi’il Madhi: [ كتب ] telah menulis

2.       Fi’il mudhari’: [يكتب ] sedang menulis

3.       Fi’il amar : [اكتب ] tulislah !

Tanda-tanda kalimat

1.       قد contoh : قد افلح المؤمنون

2.       س contoh : سيقول السفهاء من الناس

3.       سوف contoh : كلا سوف تعلمون

4.       تْ contoh: قالتْ نملتٌ يا ايها النمل ادخلوا مسكنكم

Pengertian fi’il lazim dan fi’il muta’adi

Fi’il lazim merupakan fi’il atau kata kerja yang tidak membutuhkan obyek. Sedangkan fi’il muta’adhi adalah fi’il yang membutuhkan obyek.

Contoh fi’il lazim [ فعل اللازم ]

1.     جلس زيدٌ : zaid duduk

2.     قام رجلٌ  : rajul berdiri

Contoh fi’il muta’adhi [ فعل المتعدي]

1.   كتب زيد الرسالةَ : zaid menulis surat

2.   اكل عمرٌ السمكَ : Amr makan ikan

Penjelasan Materi:

Mukalaf adalah orang yang sudah dewasa dengan tanda-tanda melekat pada nya. orang mukalaf berarti orang yang sudah mempunyai kewajiban menjalan syariat-syariat islam dan meninggalkan segala yang dilarang dalam syariat Islam.

Ketika orang mukalaf akan menjalankan ibadah sholat, maka kondisi nya harus dalam keadaan suci baik dirinya, pakaiannya dan tempat untuk sholat.

Ketika dirinya terkena najis harus dibersihkan dengan air sehingga hilang rasa, warna dan bau najis tersebut. seperti saat kita kencing, kita harus memastikan bahwa kencing yang kita keluarkan benar-benar sudah sempurna. Artinya sudah tidak ada lagi air kencing susulan saat kita sudah selesai membersihkannya. Itu sebabnya harus dipastikan benar-benar. Salah satu cara yaitu dengan cara berdehem-dehem saat sudah selesai kencing. Ini untuk membantu agar sisa-sisa air kencing bisa keluar. Silahkan cari cara lainnya untuk menyelesaikan persoalan tersebut.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   90

Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131

Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   221

Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258