Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pembukaan KTIQ; Menyemai Mata Air Peradaban



Minggu , 12 November 2023



Telah dibaca :  1017

Hujan cukup deras pagi ini. Untung perjalanan menuju Gedung Graha Wanita tidak ada hambatan. Sekitar jam 07.35, saya sudah sampai di tempat perlombaan KTIQ tingkat Provinsi. Ketua dan Majelis hakim sudah mulai sesi foto bersama. Saya segera meletakan Tas Ransel  dan ikut berfoto.

Selesai sesi foto bersama, Ketua Majelis hakim, Prof.Dr.H.Alaidin Koto,MA memberi sambutan. Point' terpenting adalah orisinalitas karya ilmiah, bukan plagiasi dan bukan juga fotocopi milik orang. Plagiasi sekarang ini mempunyai arti mengutip karya orang lain apa adanya. Meskipun menyebutkan sumbernya, tetap terindikasi plagiasi. Teknik agar tidak terjebak plagiasi yaitu mengutip sumber rujukan secara tidak langsung dengan cara mengutip sumber tulisan dengan redaksi tulisan berbeda dari aslinya tapi maksud nya sama dengan sumber rujukan aslinya.


Selain plagiasi yaitu mengambil fotocopy karya orang lain atau memindahkan artikel sudah jadi yang dibawa peserta melalui Flashdisk, WA, email, kiriman makanan dan lain-lain yang mempunyai potensi untuk mencapai tujuan tersebut. Saat ini semua memang bisa saja terjadi. Semakin maju teknologi, semakin tinggi juga kejahatan yang ditimbulkanya.

Dulu ketika saya melihat film Mission Imposible yang dibintangi oleh Tom Cruise, seolah-olah itu hanya imajinasi atau hayalan belaka. Pada film tersebut, Tom Cruies mendapatkan tugas sebagai Agen AS untuk membasmi kejahatan. Pemerintah AS membekali nya dengan teknologi paling canggih dan tidak terbaca orang. Misinya berhasil, dan berhasil membokar sindikat kejatahan internasional. Semoga saja, para Peserta KTIQ tidak mempunyai Flashdisk model Kacamata Tom Cruise, sumber data berbentuk Bakwan atau Tahu Goreng yang berpotensi menyimpan file-file karya ilmiah. Pasti tidak mungkin. Apalagi, para Hakim pasti tidak terpikir sejauh itu. mereka lebih banyak ber -husnudzon nya daripada su’udzon nya. Semua masih pada level saling percaya dan saling menghormati. Namun kadang hati saya bertanya, apakah budaya ini juga yang telah disalah artikan oleh sebagian orang yang berkepentingan? Wallahu a’lam.

Kembali lagi pada pentingnya orisinalitas tulisan karya ilmiah. Penulis artikel ini memandang bahwa persoalan menang-kalah dalam perlombaan adalah yang sangat natural, wajar dan alamiah. Mereka berusaha untuk meraih juara adalah suatu keharusan sebagai wujud realiasi perjuangan dan ikhtiar. Apa arti sebuah  kemenangan, jika mendapatkan dengan cara curang. Jika toh menang dengan ketidakwajaran rasanya tidak enak dan tidak terhormat. Seperti orang kurus ingin punya badan gemuk, harus minum Jamu enak makan. Memang berhasil dan badan terlihat gemuk. Ketika selfi atau foto bersama terlihat wibawa dan makmur. Tapi setelah berjalan beberapa waktu, dia mulai merasakan bahwa badan besar, gemuk ternyata sangat menyiksa diri. Persoalan-persoalan seperti ini tentu sangat penting untuk dipahami, diterapkan, agar peserta KTIQ terbiasa menulis ide-ide besar nya melalui karya ilmiah yang benar. Sulit memang, tapi mereka harus melalui cara-cara tersebut agar menjadi diri sendiri dan lepas dari bayang-bayang orang lain. Jika ini berhasil, saya kira program KTIQ telah meletakan pondasi budaya kemandirian generasi dengan penuh keagungan dan kemulyaan. 


Penulis artikel ini sangat berharap para peserta KTIQ bisa menjadi penulis menemukan karakter atau tulisan masing-masing. Mereka bisa meniru tulisan orang lain, tapi kekhasan identitas harus tetap ada. Tuhan telah memberi indentitas mata air ide yang beragam kepada hamba-hamba-Nya. Meskipun demikian, kaidah bahasa, gaya bahasa dan ketajaman analisis tidak boleh diabaikan. Sebab unsur unsur ini yang menyebab tulisan enak dibaca dan mempunyai daya sentuh kemanfaatan dan mempengaruhi setiap orang yang membaca tulisannya. 

Suatu karya tulisan yang baik,enak dibaca dan bernas tidak semudah seperti mengembalikan telapak tangan. Saya sering membaca tulisan-tulisan guru-guru ku ketika masih di bangku kuliah, atau tulisan tokoh-tokoh nasional yang sering tampil di Media Massa Nasional. Mereka mempunyai ciri khas sendiri. Semua punya gaya tulisan berbeda. Ada tulisan yang penuh dengan referensi Buku dan Jurnal Ilmiah. Setiap kalimat selalu saja ada rujukan referensi sebagai penguat pendapatnya. Ada juga penulis yang tidak menggunakan rujukan atau referensi, tapi subtansinya terekam dalam setiap kalimat yang bersumber dari kitab ini-itu atau buku ini-itu. Semua bisa diterima, dan selalu menjadi rujukan para mahasiswa dan pecinta ilmu. Tulisan-tulisan mereka kemudian  menjadi rujukan karya-karya ilmiah baru dalam bentuk Skripsi, Tesis dan Disertasi atau Jurnal-Jurnal Ilmiah. Bisa jadi ada beberapa  Penulis nasional atau Tokoh nasional yang tulisannya mengandung kontroversi pada sisi tertentu, tapi kita harus mengakui secara jujur, bahwa karya tulisnya telah menjadi inspirasi para pencari ilmu dengan merelakan diri meneruskan pemikiran-pemikiran tokoh melalui buku-buku atau karya-karyanya. Mereka akan tetap hidup saat jasadnya telah menyatu dengan tanah.

Para Peserta KTIQ sebenarnya sedang merambah jalan menuju kesempurnaan hidup melalui tulisan. Entah suatu saat mereka menjadi apa dan bagaimana itu hanya soal waktu. Namun, tulisan selalu saja berada dibarisan terdepan untuk memperkenalkan hakikat dari suatu peradaban. Semakin baik tulisan semakin baik peradaban. Dan hari ini, Peserta KTIQ sedang merintis peradaban masa depan melalui Karya Ilmiah. Para orang tua, guru, ulama, intelektual, ilmuwan mempunyai tugas memberi sinar nilai-nilai keagungan sebagai amal sholeh terindah. Tujuan adalah agar sama-sama mendapatkan kebaikan hidup dalam pandangan Allah SWT. Kata orang tua dulu ketika ngaji Kitab Hikam, Syeikh At-Thailah mengatakan, “Permulaan baik berakhir dengan cara yang baik”. Kebaikan bisa berwujud pada hasil yang positif ataupun dalam wujud hikmah di balik tumpukan berbagai kejadian yang negatif.

Inhu, 12 November 2023



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876