
Hujan cukup deras pagi ini. Untung
perjalanan menuju Gedung Graha Wanita tidak ada hambatan. Sekitar jam 07.35,
saya sudah sampai di tempat perlombaan KTIQ tingkat Provinsi. Ketua dan Majelis
hakim sudah mulai sesi foto bersama. Saya segera meletakan Tas Ransel dan ikut berfoto.
Selesai sesi foto bersama, Ketua Majelis hakim, Prof.Dr.H.Alaidin Koto,MA memberi sambutan. Point' terpenting adalah orisinalitas karya ilmiah, bukan plagiasi dan bukan juga fotocopi milik orang. Plagiasi sekarang ini mempunyai arti mengutip karya orang lain apa adanya. Meskipun menyebutkan sumbernya, tetap terindikasi plagiasi. Teknik agar tidak terjebak plagiasi yaitu mengutip sumber rujukan secara tidak langsung dengan cara mengutip sumber tulisan dengan redaksi tulisan berbeda dari aslinya tapi maksud nya sama dengan sumber rujukan aslinya.

Selain plagiasi yaitu mengambil fotocopy
karya orang lain atau memindahkan artikel sudah jadi yang dibawa peserta
melalui Flashdisk, WA, email, kiriman makanan dan lain-lain yang mempunyai
potensi untuk mencapai tujuan tersebut. Saat ini semua memang bisa saja
terjadi. Semakin maju teknologi, semakin tinggi juga kejahatan yang ditimbulkanya.
Dulu ketika saya melihat film Mission
Imposible yang dibintangi oleh Tom Cruise, seolah-olah itu hanya imajinasi
atau hayalan belaka. Pada film tersebut, Tom Cruies mendapatkan tugas sebagai Agen AS
untuk membasmi kejahatan. Pemerintah AS membekali nya dengan teknologi paling
canggih dan tidak terbaca orang. Misinya berhasil, dan berhasil membokar sindikat
kejatahan internasional. Semoga saja, para Peserta KTIQ tidak mempunyai Flashdisk model Kacamata Tom Cruise, sumber data berbentuk Bakwan atau Tahu Goreng yang
berpotensi menyimpan file-file karya ilmiah. Pasti tidak mungkin. Apalagi, para
Hakim pasti tidak terpikir sejauh itu. mereka lebih banyak ber -husnudzon nya
daripada su’udzon nya. Semua masih pada level saling percaya dan saling
menghormati. Namun kadang hati saya bertanya, apakah budaya ini juga yang telah
disalah artikan oleh sebagian orang yang berkepentingan? Wallahu a’lam.
Kembali lagi pada pentingnya orisinalitas tulisan karya ilmiah. Penulis artikel ini memandang bahwa persoalan menang-kalah dalam perlombaan adalah yang sangat natural, wajar dan alamiah. Mereka berusaha untuk meraih juara adalah suatu keharusan sebagai wujud realiasi perjuangan dan ikhtiar. Apa arti sebuah kemenangan, jika mendapatkan dengan cara curang. Jika toh menang dengan ketidakwajaran rasanya tidak enak dan tidak terhormat. Seperti orang kurus ingin punya badan gemuk, harus minum Jamu enak makan. Memang berhasil dan badan terlihat gemuk. Ketika selfi atau foto bersama terlihat wibawa dan makmur. Tapi setelah berjalan beberapa waktu, dia mulai merasakan bahwa badan besar, gemuk ternyata sangat menyiksa diri. Persoalan-persoalan seperti ini tentu sangat penting untuk dipahami, diterapkan, agar peserta KTIQ terbiasa menulis ide-ide besar nya melalui karya ilmiah yang benar. Sulit memang, tapi mereka harus melalui cara-cara tersebut agar menjadi diri sendiri dan lepas dari bayang-bayang orang lain. Jika ini berhasil, saya kira program KTIQ telah meletakan pondasi budaya kemandirian generasi dengan penuh keagungan dan kemulyaan.

Penulis artikel ini sangat berharap para peserta KTIQ bisa menjadi penulis menemukan karakter atau tulisan masing-masing. Mereka bisa meniru tulisan orang lain, tapi kekhasan identitas harus tetap ada. Tuhan telah memberi indentitas mata air ide yang beragam kepada
hamba-hamba-Nya. Meskipun demikian, kaidah bahasa, gaya bahasa dan ketajaman
analisis tidak boleh diabaikan. Sebab unsur unsur ini yang menyebab tulisan
enak dibaca dan mempunyai daya sentuh kemanfaatan dan mempengaruhi setiap orang yang membaca tulisannya.
Suatu karya tulisan yang baik,enak dibaca
dan bernas tidak semudah seperti mengembalikan telapak tangan. Saya sering
membaca tulisan-tulisan guru-guru ku ketika masih di bangku kuliah, atau
tulisan tokoh-tokoh nasional yang sering tampil di Media Massa Nasional. Mereka
mempunyai ciri khas sendiri. Semua punya gaya tulisan berbeda. Ada tulisan
yang penuh dengan referensi Buku dan Jurnal Ilmiah. Setiap kalimat selalu saja
ada rujukan referensi sebagai penguat pendapatnya. Ada juga penulis yang tidak menggunakan rujukan atau
referensi, tapi subtansinya terekam dalam setiap kalimat yang bersumber dari
kitab ini-itu atau buku ini-itu. Semua bisa diterima, dan selalu menjadi
rujukan para mahasiswa dan pecinta ilmu. Tulisan-tulisan mereka kemudian menjadi rujukan karya-karya ilmiah baru dalam bentuk Skripsi, Tesis
dan Disertasi atau Jurnal-Jurnal Ilmiah. Bisa jadi ada beberapa Penulis nasional atau Tokoh nasional yang tulisannya mengandung kontroversi pada sisi tertentu, tapi kita harus mengakui secara jujur,
bahwa karya tulisnya telah menjadi inspirasi para pencari ilmu dengan merelakan
diri meneruskan pemikiran-pemikiran tokoh melalui buku-buku atau
karya-karyanya. Mereka akan tetap hidup saat jasadnya telah menyatu dengan
tanah.
Para Peserta KTIQ sebenarnya sedang
merambah jalan menuju kesempurnaan hidup melalui tulisan. Entah suatu saat
mereka menjadi apa dan bagaimana itu hanya soal waktu. Namun, tulisan selalu
saja berada dibarisan terdepan untuk memperkenalkan hakikat dari suatu
peradaban. Semakin baik tulisan semakin baik peradaban. Dan hari ini, Peserta KTIQ sedang merintis peradaban masa depan melalui Karya Ilmiah. Para orang tua, guru, ulama, intelektual, ilmuwan mempunyai tugas memberi sinar nilai-nilai keagungan sebagai amal sholeh terindah. Tujuan adalah agar sama-sama mendapatkan kebaikan hidup dalam pandangan Allah SWT. Kata
orang tua dulu ketika ngaji Kitab Hikam, Syeikh At-Thailah mengatakan, “Permulaan
baik berakhir dengan cara yang baik”. Kebaikan bisa berwujud pada hasil yang
positif ataupun dalam wujud hikmah di balik tumpukan berbagai kejadian yang negatif.
Inhu, 12 November 2023
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2970
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876