
Pada pertemuan sebelumnya, penulis telah
membahas tentang kedudukan manusia sebagai khalifah di dunia. Allah
mengangkatnya sebagai khalifah disebabkan ada unsur pada dirinya yang tidak
dimiliki oleh makhluk lain ( Iblis dan Malaikat) berupa intelektual dan
dorongan nafsu progresifitas. Kedua unsur tersebut menjadi sangat istimewa, sampai-sampai
keistimewaan tersebut dipamerkan Allah di hadapan Iblis dan Malaikat. Mereka
merespon dengan cara berbeda, Malaikat merespon dengan lapang dada dan menerima
keunggulannya, sedang Iblis justru tidak mengakui kehebatannya dan tetap merasa
bahwa ia lebih baik dari Adam.
Allah mengabadikan etika malaikat sebagai
berikut: “Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang
telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui
lagi Mahabijaksana.” Bahkan ayat tersebut menjadi semacam “ayat wajib”
sering dibaca para ulama atau ustadz saat sebelum “mbalah” kitab kuning
sebagai wujud dan pengakuan mereka atas ketidaktahuannya. Meskipun mereka ulama
yang ilmunya laksana lautan tiada bertepi, tapi mereka dengan rendah
hari merasa dan menyakini bahwa semua ilmu yang ada pada diri mereka sebenarnya
adalah milik Allah swt.
Belajar dari para ulama tersebut, bahwa
manusia seharusnya menyadari akan dirinya sendiri. Sehebat apapun manusia
sebenarnya statusnya sebagai makhluk yang segala pada dirinya dibatasi oleh Allah
baik berupa umur, Kesehatan, kekuatan dan kehidupannya. Manusia dengan segala
kelebihan yang ada pada dirinya sebatas bagian kecil dari kisah kehidupan yang
akan dilaluinya lembaran-lembaran kehidupan di masa mendatang, bahkan sampai
perjumpaan dengan Allah swt. Ketika manusia menyadari status tersebut, maka
sikap keakuan diri atas segala kelebihannya bisa hilang dari kalbunya.
Mengawal sifat tawadhu tersebut di atas
sangat berat. Progresivitas akal dan nafsu akan melahirkan beragam jenis nafsu dan
orientasinya. Secara garis besarnya, ada dua yaitu nafsu mutmainah dan nafsu sayyiah.
Nafsu mutmainah merupakan perwujudan adanya konsistensi progresivitas nafsu
yang mempunyai orientasi mengharapkan ridha Allah swt. Sedangkan nafsu sayyiah
merupakan strategi politik semata-mata membangun kemuliaan dunia, jabatan
semata dan bergelimpang harta benda. Ciri khas yang membedakan keduanya yaitu
nafsu mutmainah telah menyandarkan diri kepada sifat ketawadhuan, sedangkan
nafsu sayyiah menyandarkan diri kepada sifat keangkuhan dalam sikap dan
perilakunya.
Sikap dan perilaku sombong telah diabadikan
dalam firman-nya sebagai berikut: “(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali
Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir”.
Sikap dan perilaku sombong sebagaimana yang
dilakukan oleh Iblis ada yang secara visual dalam wujud yang bisa dilihat dan
dirasakan oleh panca Indera. Ada juga kesombongan yang tersembunyi dalam hati
dan ditutupi oleh perilaku sopan-santun. Jika dalam wujud ucapan dan perilaku, manusia
hanya bisa menduga-duga. Meskipun praduga orang tersebut menuduh kepada
orang lain mempunyai sikap dan perilaku sombong tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
Sebab sering antara dhohir dan batin bisa saja bertolak belakang. Itu sebabnya,
sombong merupakan bagian dari penyakit hati yang keberadaanya hanya Allah dan
pelakunya yang mengetahuinya.
Sebagai bentuk pembelajaran manusia, Al-Qur’an
telah memberikan literatur kisah-kisah orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya
sebagai kelompok yang mempunyai kemampuan “linuwih” yaitu kemampuan yang
berdasarkan pada akal pikiran semata. Kan’an anaknya nabi Nuh menolak ajakan
ayahnya untuk masuk ke dalam perahu sebagai bagian dari perintah Allah swt. Ia tidak
mau dan menyakini banyak tempat yang memungkinkan untuk bisa menyelamatkan
diri. Akhirnya, ia meninggal dunia tenggelam oleh Banjir Bandang yang
sangat luarbiasa.
Istrinya nabi luth demikian. Ia mencoba
membangun imajinasi kebahagiaan atas dasar kebenaran akal semata. Ia bersekongkol
dengan masyarakat dan menentang perintah-perintah nabi luth untuk menikah
berbeda jenis. Mereka melakukan konspirasi dan melawan perintah Tuhan dengan
menikah sesama jenis. Jelas, perilaku demikian adalah perilaku yang secara teori
budaya hanya akan menghancurkan peradaban manusia. Sebab peradaban manusia
hanya bisa eksis ketika terjadi proses perkawinan. Melalui perkawinan ini,
manusia akan terus berkembang dan memakmurkan dunia ciptaan Allah swt. Dan tujuan
Allah menjadikan khalifah di bumi tidak lain adalah menciptakan peradaban
manusia yang baldatun toyibatun wa rabbul ghafur.
Di dalam Al-Qur’an Allah cukup banyak memberikan
contoh perilaku manusia yang telah menyombongkan diri ketika mendapatkan secuil
kekuasaan, harta kekayaan, kemulyaan dan keagungan di tengah-tengah masyarakat.
Potensi sombong bisa saja terjadi kepada siapapun, orang berilmu, orang bodoh,
pejabat, rakyat jelata, tampan, cantik, jelek, dan lain-lainnya. Semua punya
potensi, sebab setiap orang dengan segala kelebihan dan kelemahannya tidak lepas
dari bisikan hati yang potensi bisikan tersebut masuk kategori sombong
(meskipun ia merasa hal tersebut tidak termasuk sombong).
Itu sebabnya, sebagai bagian dari khalifah
di dunia, manusia memang harus serius belajar kepada malaikat atas kesadaran
totalitas diri bahwa ia kalah kualitasnya dari adam. Atas kesadaran ini, ia pun
secara totalitas tunduk kepada segala perintah-perintah Allah dan meninggalkan
larangan-larangan-Nya. Salah satu wujud bentuk tawadhu yaitu ia bersujud kepada
nabi adam, sebagai sujud penghormatan bukan sesembahan (hal sama dilakukan keluarga
Yusuf kepada Nabi Yusuf yaitu sujud penghormatan).
Saya kira kita membungkukan diri dihadapan para
pejabat, ulama dan orang tua atau dituakan adalah bagian dari tawadhu visual
sebagai wujud penghormatan kepada mereka. Dan para pejabat, ulama dan orang tua
atau orang yang dituakan menerima kita dengan gagah berdiri tegak juga bagian dari
tawadhu dalam tradisi yang berlaku dan kelapangan menerima siapapun yang datang
kepada mereka tanpa pandang bulu.
Saya kira memang harus begitu dan perbuatan tersebut jauh lebih baik ketimbang bersikap model orang tawadhu dan tidak mau dihormati oleh siapapun, namun ia dibelakang justru merasa tersinggung atas sikap dan perilaku seseorang atau beberapa orang yang tidak bersikap hormat kepadanya. Sungguh ironis.
Lagi-lagi semua itu kembali kepada diri
masing-masing.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876