Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pemimpin dan Sifat Keterbukaan Malaikat



Senin , 27 Mei 2024



Telah dibaca :  703

Pada pertemuan sebelumnya, penulis telah membahas tentang kedudukan manusia sebagai khalifah di dunia. Allah mengangkatnya sebagai khalifah disebabkan ada unsur pada dirinya yang tidak dimiliki oleh makhluk lain ( Iblis dan Malaikat) berupa intelektual dan dorongan nafsu progresifitas. Kedua unsur tersebut menjadi sangat istimewa, sampai-sampai keistimewaan tersebut dipamerkan Allah di hadapan Iblis dan Malaikat. Mereka merespon dengan cara berbeda, Malaikat merespon dengan lapang dada dan menerima keunggulannya, sedang Iblis justru tidak mengakui kehebatannya dan tetap merasa bahwa ia lebih baik dari Adam.

Allah mengabadikan etika malaikat sebagai berikut: “Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” Bahkan ayat tersebut menjadi semacam “ayat wajib” sering dibaca para ulama atau ustadz saat sebelum “mbalah” kitab kuning sebagai wujud dan pengakuan mereka atas ketidaktahuannya. Meskipun mereka ulama yang ilmunya laksana lautan tiada bertepi, tapi mereka dengan rendah hari merasa dan menyakini bahwa semua ilmu yang ada pada diri mereka sebenarnya adalah milik Allah swt.

Belajar dari para ulama tersebut, bahwa manusia seharusnya menyadari akan dirinya sendiri. Sehebat apapun manusia sebenarnya statusnya sebagai makhluk yang segala pada dirinya dibatasi oleh Allah baik berupa umur, Kesehatan, kekuatan dan kehidupannya. Manusia dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya sebatas bagian kecil dari kisah kehidupan yang akan dilaluinya lembaran-lembaran kehidupan di masa mendatang, bahkan sampai perjumpaan dengan Allah swt. Ketika manusia menyadari status tersebut, maka sikap keakuan diri atas segala kelebihannya bisa hilang dari kalbunya.

Mengawal sifat tawadhu tersebut di atas sangat berat. Progresivitas akal dan nafsu akan melahirkan beragam jenis nafsu dan orientasinya. Secara garis besarnya, ada dua yaitu nafsu mutmainah dan nafsu sayyiah. Nafsu mutmainah merupakan perwujudan adanya konsistensi progresivitas nafsu yang mempunyai orientasi mengharapkan ridha Allah swt. Sedangkan nafsu sayyiah merupakan strategi politik semata-mata membangun kemuliaan dunia, jabatan semata dan bergelimpang harta benda. Ciri khas yang membedakan keduanya yaitu nafsu mutmainah telah menyandarkan diri kepada sifat ketawadhuan, sedangkan nafsu sayyiah menyandarkan diri kepada sifat keangkuhan dalam sikap dan perilakunya.

Sikap dan perilaku sombong telah diabadikan dalam firman-nya sebagai berikut: “(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir”.

Sikap dan perilaku sombong sebagaimana yang dilakukan oleh Iblis ada yang secara visual dalam wujud yang bisa dilihat dan dirasakan oleh panca Indera. Ada juga kesombongan yang tersembunyi dalam hati dan ditutupi oleh perilaku sopan-santun. Jika dalam wujud ucapan dan perilaku, manusia hanya bisa menduga-duga. Meskipun praduga orang tersebut menuduh kepada orang lain mempunyai sikap dan perilaku sombong tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Sebab sering antara dhohir dan batin bisa saja bertolak belakang. Itu sebabnya, sombong merupakan bagian dari penyakit hati yang keberadaanya hanya Allah dan pelakunya yang mengetahuinya.

Sebagai bentuk pembelajaran manusia, Al-Qur’an telah memberikan literatur kisah-kisah orang-orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai kelompok yang mempunyai kemampuan “linuwih” yaitu kemampuan yang berdasarkan pada akal pikiran semata. Kan’an anaknya nabi Nuh menolak ajakan ayahnya untuk masuk ke dalam perahu sebagai bagian dari perintah Allah swt. Ia tidak mau dan menyakini banyak tempat yang memungkinkan untuk bisa menyelamatkan diri. Akhirnya, ia meninggal dunia tenggelam oleh Banjir Bandang yang sangat luarbiasa.

Istrinya nabi luth demikian. Ia mencoba membangun imajinasi kebahagiaan atas dasar kebenaran akal semata. Ia bersekongkol dengan masyarakat dan menentang perintah-perintah nabi luth untuk menikah berbeda jenis. Mereka melakukan konspirasi dan melawan perintah Tuhan dengan menikah sesama jenis. Jelas, perilaku demikian adalah perilaku yang secara teori budaya hanya akan menghancurkan peradaban manusia. Sebab peradaban manusia hanya bisa eksis ketika terjadi proses perkawinan. Melalui perkawinan ini, manusia akan terus berkembang dan memakmurkan dunia ciptaan Allah swt. Dan tujuan Allah menjadikan khalifah di bumi tidak lain adalah menciptakan peradaban manusia yang baldatun toyibatun wa rabbul ghafur.

Di dalam Al-Qur’an Allah cukup banyak memberikan contoh perilaku manusia yang telah menyombongkan diri ketika mendapatkan secuil kekuasaan, harta kekayaan, kemulyaan dan keagungan di tengah-tengah masyarakat. Potensi sombong bisa saja terjadi kepada siapapun, orang berilmu, orang bodoh, pejabat, rakyat jelata, tampan, cantik, jelek, dan lain-lainnya. Semua punya potensi, sebab setiap orang dengan segala kelebihan dan kelemahannya tidak lepas dari bisikan hati yang potensi bisikan tersebut masuk kategori sombong (meskipun ia merasa hal tersebut tidak termasuk sombong).

Itu sebabnya, sebagai bagian dari khalifah di dunia, manusia memang harus serius belajar kepada malaikat atas kesadaran totalitas diri bahwa ia kalah kualitasnya dari adam. Atas kesadaran ini, ia pun secara totalitas tunduk kepada segala perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Salah satu wujud bentuk tawadhu yaitu ia bersujud kepada nabi adam, sebagai sujud penghormatan bukan sesembahan (hal sama dilakukan keluarga Yusuf kepada Nabi Yusuf yaitu sujud penghormatan).

Saya kira kita membungkukan diri dihadapan para pejabat, ulama dan orang tua atau dituakan adalah bagian dari tawadhu visual sebagai wujud penghormatan kepada mereka. Dan para pejabat, ulama dan orang tua atau orang yang dituakan menerima kita dengan gagah berdiri tegak juga bagian dari tawadhu dalam tradisi yang berlaku dan kelapangan menerima siapapun yang datang kepada mereka tanpa pandang bulu.

Saya kira memang harus begitu dan perbuatan tersebut jauh lebih baik ketimbang bersikap model orang tawadhu dan tidak mau dihormati oleh siapapun, namun ia dibelakang justru merasa tersinggung atas sikap dan perilaku seseorang atau beberapa orang yang tidak bersikap hormat kepadanya. Sungguh ironis.

Lagi-lagi semua itu kembali kepada diri masing-masing. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876