Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pengerasan Identitas, membawa masalah atau berkah?



Minggu , 04 Februari 2024



Telah dibaca :  489

Saya mengikuti berita berkaitan Harlah NU secara online melalui tulisan-tulisan, video yang kadang mampir di Tik-Tok, FB dan media sosial lainnya. Ada tulisan yang cukup bagus yang dirilis JATMAN Online yang memuat subtansi khutbah iftitah Rais Aam yang menekankan tentang pentingnya tabayun ketika menghadapi setiap permasalahan. Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustafa Bisri atau Gus Mus dawuh bahwa tugas Nahdlatul Ulama adalah memperbaiki kerja dan berupaya memenangkan Indonesia (Suprasetio, 2024).

Saya tidak mengomentari siapa-siapa, dan juga tidak akan “metani” kekurangan atau kesalahan orang lain. Dawuh  Rais Syuriah dan Mustyasar PBNU tersebut sangat mengena pada diriku. Ada yang sering dilupakan pada diri sendiri dan mungkin sebagian dari anda pada saat tertentu, hingga pada titik tertentu melihat diri sendiri dalam keadaan superior, hebat, punya wawasan luas dan punya pengetahuan yang mutabaher atau “nyegoro”. Kadang kita tidak sadar jari telunjuk kita secara refleksi menunjuk kepada ini dan itu untuk menunjukan bahwa kita mempunyai kekuasaan. Hanya sekali tunjuk, maka puluhan orang akan mengikuti arah dan perintah kemana arah telunjuk yang diinginkan.

Pada level tertentu kita mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan, bisa jadi berupa jabatan, kehormatan dan jabatan. Pada masa dulu, saat masih manusia biasa dan apa adanya, saat belum menjadi konglomerat, pejabat dan teknokrat, ilmuwan, pengajar dosen, guru, ASN dan lain-lain. Saat kita belum ada apa-apanya dan tidak punya apa-apa, Saat itu kadang merasakan apa yang disebut manusia  merdeka. Seperti seorang santri yang hanya punya sarung yang sudah “nglinting” atau “ngepir”, yang sedang menikmati Ubi Bakar dengan sangat ladzat. Tidak peduli mulut dan gigi berwarna hitam dan kotor, tetap bisa enjoy dan bahagia.

Kenapa suasana yang membahagiakan saat itu seolah-olah hilang pada saat sekarang ini mungkin di antara kita ada yang sudah menjadi anggota legislatif, yudikatif, para pejabat dan konglomerat yang sekali makan atau sarapan bisa menghabiskan jutaan rupiah. Padahal isi makanannya sudah terdiri dari bahan terpilih yang didatangkan dari luar negeri dan steril. Tapi, untuk menemukan kembali masa lalu dengan penuh kebahagiaan tidak bisa lagi. Lalu apa arti dari sebuah jabatan dan kekayaan jika tidak bisa menemukan keindahan pada masa lalu? Ada masalah apa pada diri kita?

Ada suatu gejala terjadi ada sebagian umat manusia yang beragama, tentang adanya pengerasan identitas. Fenomena ini terlihat dari gejala sebagian umat beragama berusaha memenangkan dirinya sendiri dan menyalahkan sebagian yang lain karena adanya egoisme identitas yang menganggap dirinya lebih benar. Perasaan ini mendorong munculnya penyakit-penyakit hati seperti ada rasa sinis atas segala perbuatan yang dilakukan oleh orang lain, adanya perasaan meremehkan kemampuan orang lain, dan adanya merasa orang lain tidak mungkin lebih hebat dari dirinya. Meskipun faktanya tidaklah demikian, tapi segala argumentasi mencoba menolaknya dengan menebarkan panah-panah kebencian yang ditebarkan keseluruh penjuru mata angin (Baqir, 2020).

Pengerasan identitas terjadi berangkat dari pemahaman bahwa suatu kebenaran bahwa ajaran agama merupakan suatu kebenaran mutlak, absolut dan tidak boleh dirubah-rubah. Para penganut umat Islam mempunyai pandangan demikian, dan memang merupakan suatu keharusan sebagai bagian dari keimanan terhadap wahyu Tuhan. Persoalannya sebenarnya bukan pada penolakan kebenaran absolut yang dimiliki oleh Tuhan, tapi pandangan orang tersebut yang telah mengklaim dirinya sebagai wakil dari Tuhan dan mempunyai kewenangan absolut juga menafsiri secara tunggal firman-firman-Nya. Klaim kesempurnaan agama atas pemahaman dirinya dan tidak menerima pemahaman orang lain atau kelompok lain telah melahirkan perdebatan terlihat ilmiah, tapi sebenarnya jauh dari tradisi ilmiah dari para ulama-ulama yang memahami ajaran agama secara luas dan dalam. Sebab tradisi para ulama yang mempunyai kemampuan utuh tentang agama mempunyai kelembutan hati dan kelenturan pikiran akan beragam pandangan agama. Para ulama menyadari bahwa mereka tidak mungkin memposisikan sama dengan Sang Pencipta. Seluruh makhluk beragama hanya bisa memahami ajaran Tuhan dari perspektif yang beragam. Atas dasar ini, mereka tidak bisa mengklaim pendapatnya paling benar dan harus diikutinya. Itulah ungkapan yang disampaikan oleh para ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali.

Pengerasan identitas juga terjadi pada umat non-muslim. Mereka pun telah lahir beragam firkah dan saling mengklaim paling benar antara satu dengan lainnya. Kebenaran telah menjadi rebutan, justru oleh orang-orang yang mengklaim diri nya sebagai penganut agama dan mengatakan dirinya sebagai orang pembawa perdamaian atas nama agama. Tapi faktanya, malah terjadi persekusi, penganiayaan, penghinaan atas nama agama.

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Fathir [35]: 28 berbunyi: ” Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun”. Q.S. As-Syu’ara [26]:196 197 berbunyi: ”Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu (disebut) dalam kitab-kitab orang yang terdahulu. Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?”.

Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa orang-orang dari hamba hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah para ulama. Gus Qoyyum menjelaskan bahwa ulama yang takut kepada Allah yaitu mereka mampu menciptakan rasa damai dan tidak membuat orang lain ketakutan, tidak membuat kericuhan, keresahan sosial, individu maupun organisasi (Abdurrohman, 2023). Mereka senantiasa hadir memberikan pencarahan intelektual, kejernihan berfikir dan kedamaian hati agar keselarasan hidup bisa berjalan dengan sesuai aturan-aturan syariat Islam. Ilmu yang dianugerahkan kepada mereka berfungsi mendidik masyarakat orang awam dan orang-orang yang membutuhkannya bisa merasakan manisnya iman dan amal sholeh serta indahnya hidup dengan penuh kekeluargaan dan persahabatan. Hadirnya senantiasa memberi keberkahan dan kemanfaatan, saat tidak ada, semua merindukan tetesan nasehat dan petuah kehidupan.

Apakah hanya para ulama yang mampu menetralisir dirinya tidak terkena penyakit pengerasan identitas? Apakah juga para ulama saja yang takut kepada Allah? Tentu saja tidak. Pada sisi lain, Allah telah memberikan penjelasan bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang-orang bertakwa. Pada dimensi takwa, setiap manusia bisa mencapai derajat ketakwaan melalui beragam aktivitas dan pekerjaan. Seorang pedagang yang jujur dan pemimpin yang adil, orang yang berbakti kepada orang tuanya, bahkan orang yang mampu menyingkirkan duri di jalan adalah deretan kelompok yang mendapatkan kemuliaan di sisi-Nya. Allah tidak hanya membatasi kekasih-Nya hanya pada satu golongan manusia. Sebab ulama itupun tidak serta-merta mendapatkan titel “takut” kepada-Nya. Tidak semua diantara mereka melakukan seperti ini. Ulama adalah manusia yang pada dirinya dititipi pemahaman agama yang luarbiasa. Namun pada dirinya, juga ada dorongan nafsu yang terkadang mampu membobol pertahanan jiwa yang berdampak pada hilangnya rasa takut kepada Allah swt. Jika ini hilang, maka ketakukan terkadang pada dimensi keduniaan; takut kehilangan jama’ah, follower, fans, harta, kedudukan, jabatan dan lain-lain. Ilmu nya yang seharusnya menjadi sinar petunjuk berubah menjadi tempat pengumpul kemuliaan di dunia.

Allah memberi “ruang khusus” kepada ulama dalam ayat-nya yang suci karena mereka yang mempunyai kemampuan untuk menjelaskan esensi dari ayat-ayat-Nya. Firman Tuhan yang agung harus dipahami dengan kadar intelektual yang baik, pikiran yang jernih, dan hati terbebas dari nafsu amarah. Ulama mempunyai tugas laksana mata air yang terus memberi kesejukan dan kehausan saat  manusia mengalami kekeringan jiwa dan kesalahan memahami identitas akibat kurang paham terhadap identitas diri.

Sebab saat sekarang ini, ketika zaman mulai terbuka,manusia mencoba meramu jamu atau obat diri tanpa belajar terlebih dahulu. Laksana orang yang sedang sakit kepala, lalu disisi lain juga sakit perut dan telinga serta berdebar jatung dan rasanya lemas, ia lalu beli seluruh obat di apotik; beli obat sakit kepala, beli obat sakit perut, beli obat jantung dan telinga serta obat rematik. Semua diminum secara bersamaan, dengan harapan bisa sembuh. Justru sebaliknya, dia mengalami sakit yang lebih parah dari sebelumnya.

Bagi seorang dokter, ketika ada seorang pasien yang mempunyai rasa sakit, maka dia akan memeriksa detak jantung, tensi darah, mata dan mulut. Meskipun pasien mengeluh beragam rasa sakit yang dia derita, mulai dari kepala pusing, mual-mual, badan lemas dan tidak bisa tidur, dokter memberi resep obat dengan tepat; paracetamol dan vitamin. Sang pasien  heran. Meskipun demikian, dia pun tetap menuruti anjuran dokter; minum obat dan vitamin sesuai aturannya. Akhirnya sembuh.

Di era modern, terjadi fenomena pengerasan identitas bisa beragam penyebabnya; pertama, kelompok yang tidak memahami persoalan identitas, tapi saat identitasnya dianggap tidak benar, ia pun akan marah. Kelompok ini menyadari bahwa dirinya minim terhadap ilmu pengetahuan agama. Itu sebabnya, ada ruang pada dirinya bertanya kepada ahlinya. Fenomena kelompok ini adalah fenomena masyarakat muslim pada umumnya. Mereka mempunyai permasalah hidup dan persoalan agama selalu mengharapkan bantuan para ulama dan selalu konsultasi kepada mereka. Ulama benar-benar mampu menyelesaikan masalah dan kegundahan dalam menghadapi persoalan hidup. Kedua, kelompok yang senantiasa ingin belajar agama secara otodidak. Dengan keterbatasan waktu karena sibuk bekerja, dia terus belajar. Sehingga mendapatkan pemahaman agama dan merasa sudah kaffah. Meskipun kelompok ini belum memahami secara baik tentang asbabul nuzul, wurud, ilmu tafsir, balaghoh, mantiq, grammar dan sejenisnya. Kelompok ketiga, adalah kelompok yang mendapatkan bimbingan agama dengan intensif. Kelompok ketiga terbagi lagi dalam beragam kelompok; ada kelompok pengajaran agama secara menyeluruh beragam madzhab atau mengkhususkan satu madzab; ada pengajaran agama hanya untuk menyiapkan perdebatan; ada pengajaran agama untuk kepentingan politik. Perbedaan ini akan melahirkan produk yang beragam juga dalam memahami persoalan agama dalam kehidupan di masyarakat.

Jika merujuk masa lalu, masyarakat mendapatkan ilmu agama berdasarkan; pertama, belajar di Pesantren, Masjid, Mushola dan Majelis Ta’lim secara terbuka. Produk pola pendidikan ini melahirkan masyarakat muslim yang tulus beribadah dan istiqomah mendidik anak serta mencari nafkah dengan melakukan segala pekerjaan dengan konsep “yang penting halal” dan “berkah”. Kedua, kelompok yang belajar di pesantren dan ada juga kemudian melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Produk ini melahirkan para ulama dan guru-guru yang mengisi pengajian-pengajian dengan tema; al-qur’an, hadist, fiqh, akhlak dan tasawuf.

Pola pendidikan seperti ini telah melahirkan semangat ruhaniah masyarakat benar-benar bersandar kepada keputusan Allah dan tawakal-Nya benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sandaran sangat tinggi kepada Allah, maka menggantungkan harapan-harapan besar sudah tidak lagi hanya kepada pemerintah. Bahkan kadang mereka sudah tidak lagi berfikir tentang persoalan Pemilu dan seluruh janji-janjinya. Konsep hidup sederhana, “kerja dan ibadah”. Sebab yang mampu merubah dirinya adalah hanya dirinya.

Fenomena tersebut saat ini sudah mulai berkurang. Media online, media sosial telah dipenuhi “desahan” nafas panjang masyarakat dunia maya atas segala persoalan yang menimpanya. Pemahaman ayat-ayat al-qur’an dan hadist yang diambil sebagian saja yang hanya berkaitan dengan tugas para pemimpin dan ancamannya, tengan orang kaya dan ancamanya. Seolah-olah ajaran agama telah berubah menjadi ajaran yang berisi keluhan, sindiran dan ancaman kepada para penguasa, pejabat, orang kaya dan ilmuwan. Mereka semua salah karena telah lari dari koredor syariat.

Tapi masyarakat dunia maya telah lupa, bahwa persoalan yang paling besar dalam kehidupan adalah menundukan dirinya sendiri dari segala nafsu untuk mendapatkan segala sesuatu. Semakin krisis interopeksi diri dan semakin suka menyalahkan orang lain merupakan tanda bahwa “pengerasan identitas” bukan sebatas karena persoalan penolakan kebenaran akan tafsir orang lain, tapi juga pemaksaan bahwa penderitaan dirinya sendiri karena disebabkan oleh orang lain. Jika ini terjadi, maka krisis jiwa umat Islam harus diobatinya. Caranya yaitu semakin banyak interopeksi diri atas segala kekurangan nya dan terus memperbaiki kualitas ruhaniah, intelektual dan keahlian.

References

Abdurrohman, S. (2023, Januari 22). NU Online. Retrieved from 7 Ciri Ulama Takut kepada Allah menurut Gus Qoyyum: https://www.nu.or.id/nasional/7-ciri-ulama-takut-kepada-allah-menurut-gus-qoyyum-2HwXp

Af-Farabi. (t.t). Ara' Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah. Mesir : Maktabah Matba'ah Muhammad Ali.

Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu an Tushahhah . Surabaya .

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

Suprasetio, A. (2024, Januari 29). JATMAN Online. Retrieved from JATMAN Online: https://jatman.or.id/konbes-nu-2024-di-rangkaian-harlah-ke-101-kiai-miftachul-akhyar-ingatkan-pentingya-tabayun

Syathi', A. A. (1982). Manusia Siapa,Darimana dan Kemana?, terj; Achmad Masruch Nasucha. Semarang : Toha Putra.

Wahid, A. (2011). Sekadar Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar . Bandung : Nuansa .

Yunus, O. M.-J. (t.t). Tauhid dan Tasawuf . t.p.

Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876