
Saya mengikuti berita
berkaitan Harlah NU secara online melalui tulisan-tulisan, video yang kadang
mampir di Tik-Tok, FB dan media sosial lainnya. Ada tulisan yang cukup bagus
yang dirilis JATMAN Online yang memuat subtansi khutbah iftitah Rais
Aam yang menekankan tentang pentingnya tabayun ketika menghadapi setiap
permasalahan. Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustafa Bisri atau Gus Mus dawuh bahwa
tugas Nahdlatul Ulama adalah memperbaiki kerja dan berupaya memenangkan
Indonesia
Saya tidak mengomentari siapa-siapa,
dan juga tidak akan “metani” kekurangan atau kesalahan orang lain.
Dawuh Rais Syuriah dan Mustyasar PBNU tersebut
sangat mengena pada diriku. Ada yang sering dilupakan pada diri sendiri dan
mungkin sebagian dari anda pada saat tertentu, hingga pada titik tertentu
melihat diri sendiri dalam keadaan superior, hebat, punya wawasan luas
dan punya pengetahuan yang mutabaher atau “nyegoro”. Kadang kita
tidak sadar jari telunjuk kita secara refleksi menunjuk kepada ini dan itu
untuk menunjukan bahwa kita mempunyai kekuasaan. Hanya sekali tunjuk, maka
puluhan orang akan mengikuti arah dan perintah kemana arah telunjuk yang
diinginkan.
Pada level tertentu kita mempunyai
sesuatu yang bisa dibanggakan, bisa jadi berupa jabatan, kehormatan dan
jabatan. Pada masa dulu, saat masih manusia biasa dan apa adanya, saat belum
menjadi konglomerat, pejabat dan teknokrat, ilmuwan, pengajar dosen, guru, ASN dan
lain-lain. Saat kita belum ada apa-apanya dan tidak punya apa-apa, Saat itu
kadang merasakan apa yang disebut manusia merdeka. Seperti seorang santri yang hanya
punya sarung yang sudah “nglinting” atau “ngepir”, yang sedang
menikmati Ubi Bakar dengan sangat ladzat. Tidak peduli mulut dan gigi
berwarna hitam dan kotor, tetap bisa enjoy dan bahagia.
Kenapa suasana yang membahagiakan
saat itu seolah-olah hilang pada saat sekarang ini mungkin di antara kita ada
yang sudah menjadi anggota legislatif, yudikatif, para pejabat dan konglomerat
yang sekali makan atau sarapan bisa menghabiskan jutaan rupiah. Padahal isi
makanannya sudah terdiri dari bahan terpilih yang didatangkan dari luar negeri
dan steril. Tapi, untuk menemukan kembali masa lalu dengan penuh kebahagiaan
tidak bisa lagi. Lalu apa arti dari sebuah jabatan dan kekayaan jika tidak bisa
menemukan keindahan pada masa lalu? Ada masalah apa pada diri kita?
Ada suatu gejala terjadi ada
sebagian umat manusia yang beragama, tentang adanya pengerasan identitas.
Fenomena ini terlihat dari gejala sebagian umat beragama berusaha memenangkan
dirinya sendiri dan menyalahkan sebagian yang lain karena adanya egoisme identitas
yang menganggap dirinya lebih benar. Perasaan ini mendorong munculnya penyakit-penyakit
hati seperti ada rasa sinis atas segala perbuatan yang dilakukan oleh orang
lain, adanya perasaan meremehkan kemampuan orang lain, dan adanya merasa orang
lain tidak mungkin lebih hebat dari dirinya. Meskipun faktanya tidaklah
demikian, tapi segala argumentasi mencoba menolaknya dengan menebarkan
panah-panah kebencian yang ditebarkan keseluruh penjuru mata angin
Pengerasan identitas terjadi
berangkat dari pemahaman bahwa suatu kebenaran bahwa ajaran agama merupakan
suatu kebenaran mutlak, absolut dan tidak boleh dirubah-rubah. Para penganut
umat Islam mempunyai pandangan demikian, dan memang merupakan suatu keharusan
sebagai bagian dari keimanan terhadap wahyu Tuhan. Persoalannya sebenarnya
bukan pada penolakan kebenaran absolut yang dimiliki oleh Tuhan, tapi
pandangan orang tersebut yang telah mengklaim dirinya sebagai wakil dari Tuhan
dan mempunyai kewenangan absolut juga menafsiri secara tunggal firman-firman-Nya.
Klaim kesempurnaan agama atas pemahaman dirinya dan tidak menerima pemahaman
orang lain atau kelompok lain telah melahirkan perdebatan terlihat ilmiah, tapi
sebenarnya jauh dari tradisi ilmiah dari para ulama-ulama yang memahami ajaran
agama secara luas dan dalam. Sebab tradisi para ulama yang mempunyai kemampuan
utuh tentang agama mempunyai kelembutan hati dan kelenturan pikiran akan
beragam pandangan agama. Para ulama menyadari bahwa mereka tidak mungkin memposisikan
sama dengan Sang Pencipta. Seluruh makhluk beragama hanya bisa memahami ajaran
Tuhan dari perspektif yang beragam. Atas dasar ini, mereka tidak bisa mengklaim
pendapatnya paling benar dan harus diikutinya. Itulah ungkapan yang disampaikan
oleh para ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam
Hanbali.
Pengerasan identitas juga terjadi
pada umat non-muslim. Mereka pun telah lahir beragam firkah dan saling
mengklaim paling benar antara satu dengan lainnya. Kebenaran telah menjadi
rebutan, justru oleh orang-orang yang mengklaim diri nya sebagai penganut agama
dan mengatakan dirinya sebagai orang pembawa perdamaian atas nama agama. Tapi
faktanya, malah terjadi persekusi, penganiayaan, penghinaan atas nama agama.
Allah telah berfirman dalam Q.S.
Al-Fathir [35]: 28 berbunyi: ” Dan demikian (pula) di antara manusia,
makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam
warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya,
hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun”. Q.S.
As-Syu’ara [26]:196 197 berbunyi: ”Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu (disebut)
dalam kitab-kitab orang yang terdahulu. Apakah tidak (cukup) menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama
Bani Israil mengetahuinya?”.
Ayat tersebut memberikan pemahaman
bahwa orang-orang dari hamba hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah para
ulama. Gus Qoyyum menjelaskan bahwa ulama yang takut kepada Allah yaitu mereka
mampu menciptakan rasa damai dan tidak membuat orang lain ketakutan, tidak
membuat kericuhan, keresahan sosial, individu maupun organisasi
Apakah hanya para ulama yang mampu
menetralisir dirinya tidak terkena penyakit pengerasan identitas? Apakah juga
para ulama saja yang takut kepada Allah? Tentu saja tidak. Pada sisi lain, Allah
telah memberikan penjelasan bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah
orang-orang bertakwa. Pada dimensi takwa, setiap manusia bisa mencapai derajat ketakwaan
melalui beragam aktivitas dan pekerjaan. Seorang pedagang yang jujur dan
pemimpin yang adil, orang yang berbakti kepada orang tuanya, bahkan orang yang
mampu menyingkirkan duri di jalan adalah deretan kelompok yang mendapatkan
kemuliaan di sisi-Nya. Allah tidak hanya membatasi kekasih-Nya hanya pada satu
golongan manusia. Sebab ulama itupun tidak serta-merta mendapatkan titel
“takut” kepada-Nya. Tidak semua diantara mereka melakukan seperti ini. Ulama
adalah manusia yang pada dirinya dititipi pemahaman agama yang luarbiasa. Namun
pada dirinya, juga ada dorongan nafsu yang terkadang mampu membobol pertahanan
jiwa yang berdampak pada hilangnya rasa takut kepada Allah swt. Jika ini
hilang, maka ketakukan terkadang pada dimensi keduniaan; takut kehilangan
jama’ah, follower, fans, harta, kedudukan, jabatan dan lain-lain. Ilmu nya yang
seharusnya menjadi sinar petunjuk berubah menjadi tempat pengumpul kemuliaan di
dunia.
Allah memberi “ruang khusus” kepada
ulama dalam ayat-nya yang suci karena mereka yang mempunyai kemampuan untuk menjelaskan
esensi dari ayat-ayat-Nya. Firman Tuhan yang agung harus dipahami dengan kadar
intelektual yang baik, pikiran yang jernih, dan hati terbebas dari nafsu
amarah. Ulama mempunyai tugas laksana mata air yang terus memberi kesejukan dan
kehausan saat manusia mengalami
kekeringan jiwa dan kesalahan memahami identitas akibat kurang paham terhadap
identitas diri.
Sebab saat sekarang ini, ketika
zaman mulai terbuka,manusia mencoba meramu jamu atau obat diri tanpa belajar
terlebih dahulu. Laksana orang yang sedang sakit kepala, lalu disisi lain juga
sakit perut dan telinga serta berdebar jatung dan rasanya lemas, ia lalu beli
seluruh obat di apotik; beli obat sakit kepala, beli obat sakit perut, beli
obat jantung dan telinga serta obat rematik. Semua diminum secara bersamaan,
dengan harapan bisa sembuh. Justru sebaliknya, dia mengalami sakit yang lebih
parah dari sebelumnya.
Bagi seorang dokter, ketika ada
seorang pasien yang mempunyai rasa sakit, maka dia akan memeriksa detak jantung,
tensi darah, mata dan mulut. Meskipun pasien mengeluh beragam rasa sakit yang
dia derita, mulai dari kepala pusing, mual-mual, badan lemas dan tidak bisa
tidur, dokter memberi resep obat dengan tepat; paracetamol dan vitamin. Sang
pasien heran. Meskipun demikian, dia pun
tetap menuruti anjuran dokter; minum obat dan vitamin sesuai aturannya.
Akhirnya sembuh.
Di era modern, terjadi fenomena
pengerasan identitas bisa beragam penyebabnya; pertama, kelompok yang tidak
memahami persoalan identitas, tapi saat identitasnya dianggap tidak benar, ia
pun akan marah. Kelompok ini menyadari bahwa dirinya minim terhadap ilmu
pengetahuan agama. Itu sebabnya, ada ruang pada dirinya bertanya kepada
ahlinya. Fenomena kelompok ini adalah fenomena masyarakat muslim pada umumnya.
Mereka mempunyai permasalah hidup dan persoalan agama selalu mengharapkan
bantuan para ulama dan selalu konsultasi kepada mereka. Ulama benar-benar mampu
menyelesaikan masalah dan kegundahan dalam menghadapi persoalan hidup. Kedua,
kelompok yang senantiasa ingin belajar agama secara otodidak. Dengan
keterbatasan waktu karena sibuk bekerja, dia terus belajar. Sehingga
mendapatkan pemahaman agama dan merasa sudah kaffah. Meskipun kelompok
ini belum memahami secara baik tentang asbabul nuzul, wurud, ilmu tafsir,
balaghoh, mantiq, grammar dan sejenisnya. Kelompok ketiga, adalah kelompok yang
mendapatkan bimbingan agama dengan intensif. Kelompok ketiga terbagi lagi dalam
beragam kelompok; ada kelompok pengajaran agama secara menyeluruh beragam
madzhab atau mengkhususkan satu madzab; ada pengajaran agama hanya untuk
menyiapkan perdebatan; ada pengajaran agama untuk kepentingan politik.
Perbedaan ini akan melahirkan produk yang beragam juga dalam memahami persoalan
agama dalam kehidupan di masyarakat.
Jika
merujuk masa lalu, masyarakat mendapatkan ilmu agama berdasarkan; pertama,
belajar di Pesantren, Masjid, Mushola dan Majelis Ta’lim secara terbuka. Produk
pola pendidikan ini melahirkan masyarakat muslim yang tulus beribadah dan
istiqomah mendidik anak serta mencari nafkah dengan melakukan segala pekerjaan
dengan konsep “yang penting halal” dan “berkah”. Kedua, kelompok yang belajar
di pesantren dan ada juga kemudian melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Produk
ini melahirkan para ulama dan guru-guru yang mengisi pengajian-pengajian dengan
tema; al-qur’an, hadist, fiqh, akhlak dan tasawuf.
Pola pendidikan seperti ini telah
melahirkan semangat ruhaniah masyarakat benar-benar bersandar kepada keputusan
Allah dan tawakal-Nya benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sandaran
sangat tinggi kepada Allah, maka menggantungkan harapan-harapan besar sudah
tidak lagi hanya kepada pemerintah. Bahkan kadang mereka sudah tidak lagi
berfikir tentang persoalan Pemilu dan seluruh janji-janjinya. Konsep hidup
sederhana, “kerja dan ibadah”. Sebab yang mampu merubah dirinya adalah hanya
dirinya.
Fenomena tersebut saat ini sudah
mulai berkurang. Media online, media sosial telah dipenuhi “desahan”
nafas panjang masyarakat dunia maya atas segala persoalan yang menimpanya.
Pemahaman ayat-ayat al-qur’an dan hadist yang diambil sebagian saja yang hanya
berkaitan dengan tugas para pemimpin dan ancamannya, tengan orang kaya dan
ancamanya. Seolah-olah ajaran agama telah berubah menjadi ajaran yang berisi
keluhan, sindiran dan ancaman kepada para penguasa, pejabat, orang kaya dan
ilmuwan. Mereka semua salah karena telah lari dari koredor syariat.
Tapi masyarakat dunia maya telah
lupa, bahwa persoalan yang paling besar dalam kehidupan adalah menundukan
dirinya sendiri dari segala nafsu untuk mendapatkan segala sesuatu. Semakin
krisis interopeksi diri dan semakin suka menyalahkan orang lain merupakan tanda
bahwa “pengerasan identitas” bukan sebatas karena persoalan penolakan kebenaran
akan tafsir orang lain, tapi juga pemaksaan bahwa penderitaan dirinya sendiri
karena disebabkan oleh orang lain. Jika ini terjadi, maka krisis jiwa umat Islam
harus diobatinya. Caranya yaitu semakin banyak interopeksi diri atas segala
kekurangan nya dan terus memperbaiki kualitas ruhaniah, intelektual dan
keahlian.
Abdurrohman, S. (2023, Januari 22). NU
Online. Retrieved from 7 Ciri Ulama Takut kepada Allah menurut Gus Qoyyum:
https://www.nu.or.id/nasional/7-ciri-ulama-takut-kepada-allah-menurut-gus-qoyyum-2HwXp
Af-Farabi. (t.t). Ara'
Ahl Al-Madinah Al-Fadhilah. Mesir : Maktabah Matba'ah Muhammad Ali.
Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim
Yajibu an Tushahhah . Surabaya .
al-Qurtubi, A. '. (n.d.).
Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .
An-Naisabury, I. A.-Q.
(1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .
Rakhmat, J. (1998). Reformasi
Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .
Shihab, M. (2002). Tafsir
Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Suprasetio, A. (2024,
Januari 29). JATMAN Online. Retrieved from JATMAN Online:
https://jatman.or.id/konbes-nu-2024-di-rangkaian-harlah-ke-101-kiai-miftachul-akhyar-ingatkan-pentingya-tabayun
Syathi', A. A. (1982). Manusia
Siapa,Darimana dan Kemana?, terj; Achmad Masruch Nasucha. Semarang : Toha
Putra.
Wahid, A. (2011). Sekadar
Mendahului Bunga Rampai Kata Pengantar . Bandung : Nuansa .
Yunus, O. M.-J. (t.t). Tauhid
dan Tasawuf . t.p.
Yusuf, K. M. (2008).
Analisis Qur'ani terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi
Rohani dan Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876