Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Penghormatan: Dua Sisi yang Berbeda



Senin , 11 November 2024



Telah dibaca :  744

Saya sering mendengar kalimat nasehat begini: “hormati yang tua, sayangi yang muda”. Kalimat tersebut benar dan seharusnya demikian adanya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa ada rasa hormat dan kasih sayang, hubungan orang tua dan anak muda bisa terjadi kurang harmonis. Dalam kontek lebih luas tentu dalam kehidupan sosial. Anda mungkin sudah mulai merasakan budaya yang seperti ini mulai hilang di Tengah-tengah masyarakat.

Apakah pola hubungan orang tua dan anak atau orang lebih muda memang demikian?. Saya menemukan sesuatu yang sangat indah dalam Al-Qur’an. Pola hubungan yang mungkin belum terlihat populer yaitu pola saling menghormati, bukan sebatas menyayangi. Sebab kata “menyayangi” sebenarnya bukan sebatas pola top down, tapi juga dari bawah ke atas. Anak-anak wajib menyayangi orang tua mereka. Begitu juga sebaliknya. Itu sebabnya dalam doa untuk orang tua penekanannya pada “kasih-sayang”. Untuk anak dan orang tua.

Sedangkan pola “penghormatan” adalah pola hubungan sosial berkaitan pada pendekatan prestasi. Ada seorang dosen mendapat jenjang karir lalu kita memanggil nya professor. Ada teman mu sepermainan, guyonan bareng, tapi kemudian ia berprestasi menjadi pejabat, lalu memanggilnya dengan sebutan: bupati, camat, sekcam dan sejenisnya. Agak risih sebenarnya, tapi itu harus dilakukan pada saat yang tepat. Umpamanya saat teman mu di kantor, anda harus memanggilnya dengan sebutan jabatanya agar teman mu tidak kehilangan kewibawaan di depan karyawan-karyawannya. Tapi, saat ngopi bareng bisa di format ulang. Malah kadang teman mu risih jika disebut jabatannya: “Sudah, panggil Saja Paijo”.

Itulah manusia saat sebagai zoon politicon harus menerapkan pola madaniyun sebagai makhluk yang bertamadun. Anda pada saat tertentu dan pada forum tertentu sangat membutuhkan kalimat-kalimat pujian sebagai bagian prestise dan sekaligus prestasi di depan forum yang terhormat. Jika tidak, anda dicap sebagai orang barbar dan telah kehilangan sebagai insan madaniyu bitab’i.

Nabi kadang gitu juga. Saat dilihat orang banyak dan depan para pemimpin non-muslim, ia menerima sanjungan dan penghormatan. Sebab ia berkaitan dengan prestasi dan prestise. Tapi saat dengan para sahabat duduk-duduk bareng, ia pun merasa risih ketika dipanggil dengan gelar dan sejenisnya. Itu sebabnya ada hadist sanjungan dan hadist tidak mau disanjung. Dalam kontek sosial hal tersebut sudah ma’lum adanya.

Al-Qur’an mendeskripsikan penghormatan seperti tidak lazim dalam memberi contoh, yaitu memberi bentuk penghormatan dengan pola sujud. Ketika Nabi Yusuf bermimpi ada bulan, matahari dan 11 bintang sujud, ayah nya sudah tahu.  Itu mimpi keberuntungan. Itu sebabnya iya mengatakan: “jangan kau ceritakan kepada saudara-saudaramu”.

Perjalanan waktu cukup panjang. Nabi yusuf kecil yang dibuang kemudian hari menjadi perdana menteri. Saat terjadi paceklik panjang, kekeringan terjadi dimana-mana dan panen gagal maka munculah kelaparan. Kondisi ini yang kemudian mempertemukan orang tua dan saudara-saudara nabi yusuf. Saat mereka datang ke istana dan bertemu dengan nabi yusuf, mereka sujud kepada nya sebagai bentuk penghormatan.

Memang penghormatan model sujud “agak-agak mirip” ritual atau ibadah. Sebab dalam al-qur’an ada anjuran untuk sujud, yaitu sujud menyembah. Sedangkan keluarga yusuf melakukan sujud sebagai bentuk penghormatan atas prestasi nya. Dari sini kita bisa belajar atau mengambil pelajaran, jika ada bentuk penghormatan yang mirip-mirip ibadah jangan langsung men-justise perbuatan tersebut bid’ah, syirik dan sejenisnya karena menyerupai ritual sholat. Anda harus membedakan antara “penghormatan” dan “ibadah”. Penghormatan dalil kuli nya dari al-qur’an, sedangkan kreasinya lahir dari masyarakat bisa berbeda-beda. Sedangkan ibadah yang wajib sudah ada regulasi nya dalam al-qur’an, hadist dan ijtihad para ulama. Klir.

Ada penghormatan datang karena ada kesamaan “level”. Maksud nya sama-sama sebagai makhluk Allah, yaitu terjadi kisah Adam, Malaikat dan Iblis. Kasus nya sama, yaitu persoalan prestasi. Ketika Tuhan melakukan uji komptensi untuk menjadi khalifah di dunia, dari segala aspek penilaian hanya adam yang mempunyai kriteria. Meskipun malaikat dan iblis ada semacam “nggrundel” dan melakukan interupsi. Tapi analisis rasional Tuhan sangat makjleb. Adam terbaik dari yang ada. Ahsanitaqwiem. Pada dirinya ada kecerdasan dan dorongan inovasi untuk membuat peradaban di dunia. Kelebihan yang jelas tidak dipunyai oleh malaikat dan iblis.

Atas segala prestasi dan kelebihan Adam, Allah memerintah malaikat dan iblis untuk “sujud” sebagai wujud “penghormatan” atas prestasi yang sangat prestisius yang diraih oleh adam. Malaikat menerima, sedangkan iblis mennolak sujud.

Apa dampaknya? Jelas, Allah telah mem-vonis status iblis sebagai makhluk celaka sepanjang hayat.

Dari sini penulis bisa belajar bahwa memberi penghormatan seseorang melepaskan status dari status umur. Ada anak muda lebih berprestasi pantas dihormati oleh orang-orang tua yang secara kualitas prestasi di bawah nya. Ada orang tua lebih berprestasi maka perlu dihormati ada dua hal: tua dan prestasi.

Sedangkan format menghormati terserah kesepakatan masyarakat. Sepanjang tidak melanggar syariat tidak apa-apa. Ukurannya sederhana yang melanggar syariat “penghormatan yang mengandung unsur sesembahan”. Itu tidak boleh. Sedangkan kalau sebatas “mirip-mirip” seperti orang ruku’ atau sujud seperti praktek di keraton-keraton atau kerajaan adalah bagian dari bentuk keperagaman cara menghormati orang sebagaimana orang arab yang menghormati dengan sujud atau memegang jenggot.

Meskipun anda sangat ingin mempraktekan al-qur’an secara kaffah, tapi saya harap anda tidak perlu sujud ketika bertemu di depan lurah atau kepala desa atau pun bupati. Cukup membungkukan sedikit tubuh anda. Atau jabatan tangan dengan sedikit membungkuk. Atau saking akrabnya dengan memeluk tubuhnya. Menurutku tak apa-apa. Yang bermasalah malah saat anda sujud. Meskipun Al-Qur’an telah mencontohkan. Saya khawatir ketika anda sujud semua pegawai kantor bubar semua. Hari berikutnya anda viral di Tik Tok.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

ISKANDAR,S.Ag

Sangat menginspirasi agar bisa diterapkan jangan sampai hilang di muka bumi apalagi tanah Melayu yang identik dengan agama

Avatar

Muhammad Aufa Muis

Terimakasih atas ilmunya Pak Waket

Avatar

Imam Hakim

Isuk2 baru terbaca ini setelah satu malam bacaan segar ini nginep dan tilem...bacaannya serasa ringan, segar, namun sangat bermakna berhujjah mendalam; yo yo pancen urip iku (hidup) dengan keluesan...Trims Yai nasehat yang diformat dengan tdk menasehati...

Admin

Semoga harapan pak guru iskandar,S.Ag terwujud, amin. sama-sama pak dosen muhammad aufa muis. Ketua Senat, ah, saya jadi malu....hehehe

Avatar

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875