
Saya sering mendengar kalimat nasehat
begini: “hormati yang tua, sayangi yang muda”. Kalimat tersebut benar dan
seharusnya demikian adanya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa ada rasa hormat
dan kasih sayang, hubungan orang tua dan anak muda bisa terjadi kurang
harmonis. Dalam kontek lebih luas tentu dalam kehidupan sosial. Anda mungkin
sudah mulai merasakan budaya yang seperti ini mulai hilang di Tengah-tengah
masyarakat.
Apakah pola hubungan orang tua dan anak
atau orang lebih muda memang demikian?. Saya menemukan sesuatu yang sangat
indah dalam Al-Qur’an. Pola hubungan yang mungkin belum terlihat populer yaitu
pola saling menghormati, bukan sebatas menyayangi. Sebab kata “menyayangi”
sebenarnya bukan sebatas pola top down, tapi juga dari bawah ke atas. Anak-anak
wajib menyayangi orang tua mereka. Begitu juga sebaliknya. Itu sebabnya dalam
doa untuk orang tua penekanannya pada “kasih-sayang”. Untuk anak dan orang tua.
Sedangkan pola “penghormatan” adalah pola hubungan
sosial berkaitan pada pendekatan prestasi. Ada seorang dosen mendapat jenjang
karir lalu kita memanggil nya professor. Ada teman mu sepermainan, guyonan
bareng, tapi kemudian ia berprestasi menjadi pejabat, lalu memanggilnya dengan
sebutan: bupati, camat, sekcam dan sejenisnya. Agak risih sebenarnya, tapi itu
harus dilakukan pada saat yang tepat. Umpamanya saat teman mu di kantor, anda
harus memanggilnya dengan sebutan jabatanya agar teman mu tidak kehilangan
kewibawaan di depan karyawan-karyawannya. Tapi, saat ngopi bareng bisa di
format ulang. Malah kadang teman mu risih jika disebut jabatannya: “Sudah,
panggil Saja Paijo”.
Itulah manusia saat sebagai zoon
politicon harus menerapkan pola madaniyun sebagai makhluk yang bertamadun.
Anda pada saat tertentu dan pada forum tertentu sangat membutuhkan
kalimat-kalimat pujian sebagai bagian prestise dan sekaligus prestasi di depan
forum yang terhormat. Jika tidak, anda dicap sebagai orang barbar dan telah
kehilangan sebagai insan madaniyu bitab’i.
Nabi kadang gitu juga. Saat dilihat orang
banyak dan depan para pemimpin non-muslim, ia menerima sanjungan dan
penghormatan. Sebab ia berkaitan dengan prestasi dan prestise. Tapi saat dengan
para sahabat duduk-duduk bareng, ia pun merasa risih ketika dipanggil dengan
gelar dan sejenisnya. Itu sebabnya ada hadist sanjungan dan hadist tidak mau
disanjung. Dalam kontek sosial hal tersebut sudah ma’lum adanya.
Al-Qur’an mendeskripsikan penghormatan
seperti tidak lazim dalam memberi contoh, yaitu memberi bentuk penghormatan
dengan pola sujud. Ketika Nabi Yusuf bermimpi ada bulan, matahari dan 11
bintang sujud, ayah nya sudah tahu. Itu mimpi
keberuntungan. Itu sebabnya iya mengatakan: “jangan kau ceritakan kepada
saudara-saudaramu”.
Perjalanan waktu cukup panjang. Nabi yusuf
kecil yang dibuang kemudian hari menjadi perdana menteri. Saat terjadi paceklik
panjang, kekeringan terjadi dimana-mana dan panen gagal maka munculah kelaparan.
Kondisi ini yang kemudian mempertemukan orang tua dan saudara-saudara nabi yusuf.
Saat mereka datang ke istana dan bertemu dengan nabi yusuf, mereka sujud kepada
nya sebagai bentuk penghormatan.
Memang penghormatan model sujud “agak-agak
mirip” ritual atau ibadah. Sebab dalam al-qur’an ada anjuran untuk sujud, yaitu
sujud menyembah. Sedangkan keluarga yusuf melakukan sujud sebagai bentuk
penghormatan atas prestasi nya. Dari sini kita bisa belajar atau mengambil
pelajaran, jika ada bentuk penghormatan yang mirip-mirip ibadah jangan langsung
men-justise perbuatan tersebut bid’ah, syirik dan sejenisnya karena
menyerupai ritual sholat. Anda harus membedakan antara “penghormatan” dan “ibadah”.
Penghormatan dalil kuli nya dari al-qur’an, sedangkan kreasinya lahir dari
masyarakat bisa berbeda-beda. Sedangkan ibadah yang wajib sudah ada regulasi
nya dalam al-qur’an, hadist dan ijtihad para ulama. Klir.
Ada penghormatan datang karena ada kesamaan
“level”. Maksud nya sama-sama sebagai makhluk Allah, yaitu terjadi kisah Adam,
Malaikat dan Iblis. Kasus nya sama, yaitu persoalan prestasi. Ketika Tuhan melakukan
uji komptensi untuk menjadi khalifah di dunia, dari segala aspek penilaian
hanya adam yang mempunyai kriteria. Meskipun malaikat dan iblis ada semacam “nggrundel”
dan melakukan interupsi. Tapi analisis rasional Tuhan sangat makjleb. Adam
terbaik dari yang ada. Ahsanitaqwiem. Pada dirinya ada kecerdasan dan
dorongan inovasi untuk membuat peradaban di dunia. Kelebihan yang jelas tidak
dipunyai oleh malaikat dan iblis.
Atas segala prestasi dan kelebihan Adam,
Allah memerintah malaikat dan iblis untuk “sujud” sebagai wujud “penghormatan”
atas prestasi yang sangat prestisius yang diraih oleh adam. Malaikat menerima,
sedangkan iblis mennolak sujud.
Apa dampaknya? Jelas, Allah telah mem-vonis
status iblis sebagai makhluk celaka sepanjang hayat.
Dari sini penulis bisa belajar bahwa memberi
penghormatan seseorang melepaskan status dari status umur. Ada anak muda lebih
berprestasi pantas dihormati oleh orang-orang tua yang secara kualitas prestasi
di bawah nya. Ada orang tua lebih berprestasi maka perlu dihormati ada dua hal:
tua dan prestasi.
Sedangkan format menghormati terserah
kesepakatan masyarakat. Sepanjang tidak melanggar syariat tidak apa-apa. Ukurannya
sederhana yang melanggar syariat “penghormatan yang mengandung unsur sesembahan”.
Itu tidak boleh. Sedangkan kalau sebatas “mirip-mirip” seperti orang ruku’ atau
sujud seperti praktek di keraton-keraton atau kerajaan adalah bagian dari
bentuk keperagaman cara menghormati orang sebagaimana orang arab yang
menghormati dengan sujud atau memegang jenggot.
Meskipun anda sangat ingin mempraktekan
al-qur’an secara kaffah, tapi saya harap anda tidak perlu sujud ketika bertemu
di depan lurah atau kepala desa atau pun bupati. Cukup membungkukan sedikit
tubuh anda. Atau jabatan tangan dengan sedikit membungkuk. Atau saking akrabnya
dengan memeluk tubuhnya. Menurutku tak apa-apa. Yang bermasalah malah saat anda
sujud. Meskipun Al-Qur’an telah mencontohkan. Saya khawatir ketika anda sujud
semua pegawai kantor bubar semua. Hari berikutnya anda viral di Tik Tok.
Penulis : Imam Ghozali
ISKANDAR,S.Ag
Sangat menginspirasi agar bisa diterapkan jangan sampai hilang di muka bumi apalagi tanah Melayu yang identik dengan agama
Muhammad Aufa Muis
Terimakasih atas ilmunya Pak Waket
Imam Hakim
Isuk2 baru terbaca ini setelah satu malam bacaan segar ini nginep dan tilem...bacaannya serasa ringan, segar, namun sangat bermakna berhujjah mendalam; yo yo pancen urip iku (hidup) dengan keluesan...Trims Yai nasehat yang diformat dengan tdk menasehati...
Admin
Semoga harapan pak guru iskandar,S.Ag terwujud, amin. sama-sama pak dosen muhammad aufa muis. Ketua Senat, ah, saya jadi malu....hehehe
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875