
Selesai acara di Hotel Virtue Haris
Harmoni, saya rencana langsung pulang. Mba Fitri bagian pembelian tiket
menelpon bahwa pesawat terbang berangkat jam 17.00. Padahal, saya ingin terbang
ke Pekanbaru jam 11,00 atau jam 12.00. Jadi,
perkiraan sampai Bandara Sultan Syarif Qasim jam 14.00. Masih ada waktu ke Kabupaten
Kepulauan Meranti Melalui Laut. Naik Kapal
Kapal Kayu Jelatik. Mirip Kapal Titanic. Berangkat jam 16.00. Jarak antara Bandara
dan pelabuhan sungai duku tidak jauh. Tapi kendaraan kota Pekanbaru sudah
padat. Kurang lebih memakan waktu 20 menit naik taksi, sudah sampai Pelabuhan.
Kata mba fitri tidak bisa. Sebab pesan nya
mendadak. Jika ingin cepat terbang, langsung pesan ke Bandara. Pikir-pikir,
akhirnya saya memutuskan pulang sore hari. Sambil duduk samtai, ngopi dan
menulis catatan harian di Bandara. Cukup nikmat. Apalagi Pelayanan Kafe cantik-cantik
dan ramah-ramah. Gara-gara mereka, saya jadi ingat istri di rumah. Saya jadi
berkhayal, “bisakah istri ku seramah pelayan kafe? Saya tersenyum sendiri
jadinya atas pertanyaan ini. Senyum dengan seribu tanda tanya.
Sekitar jam 18.30 pesawat pesawat hampir
landing di bandara sultan syarif qasim. Entah mengapa, tiba-tiba gagal. Pesawat
pelan-pelan naik lagi. Tidak jadi mendarat. Semua cemas. Tapi tidak ada yang
berani bertanya kepada awak kabin. Sebelah kanan saya seorang pemuda etnis
cina. Suka bergurau sepanjang perjalanan. Tapi kini berubah menjadi tegang.
Sebelah kiri sama, etnis cina. Seorang ibu sudah tua berbadan kurus. Rambutnya
sudah putih. Tapi seleranya masih muda. Saya lihat seperti bermain chip. Saya
heran juga, yang lain ketakutan terhadap situasi tersebut, dia tetap tenang.
Mungkin karena pengaruh permainan tersebut, atau sudah mempunyai ilmu
“sumeleh”, pasrah kepada Sang Pencipta, atau karena pengaruh umur yang sudah
merasa tua.
Alhamdulillah gangguan teknis tidak lama.
Pesawat bisa mendarat dengan baik. Wajah para penumpang sumringah. Pikiran
negatif hilang. Tapi sebagian penumpang sedikit trauma atas kejadian tersebut.
Apalagi saya, yang pernah mengalami kecelakaan darat sampai masuk rumah sakit.
Kejadian ini mengingat persistiwa tersebut. Semoga tidak terjadi lagi di masa
mendatang.
Dalam perjalanan, Mas Taufik, Sekertaris
Umum MUI Kab. Kepulauan Meranti menelpon. Isinya agar bersedia mengikuti
seminar pendidikan di Hotel Evo kota Pekanbaru. Saya tersenyum, ternyata memang
tidak boleh cepat-cepat pulang dulu ke Meranti. Harus ikut acara seminar selama
dua hari; sabtu-minggu. Mas hamdani yang seharusnya ikut acara ini tiba-tiba
menelpon tidak bisa. Katanya sedang sibuk mendampingi bupati.
Hotel Evo berhadapan dengan toko buku
Gramedia. Di seberang jalan. Di sela-sela kegiatan,saya pergi kesana dan membeli
buku-buku karangan Ichiro Kishimi & Fumitake Koga, Eric Barker Dan Dr.
Mardani.
Ada satu buku yang cukup mencuri perhatian.
Judul nya" Barking Up The Wrong Tree". Terjemahnya" Mendaki
Tangga Yang Salah". Penulis nya Eric Barker.
Judulnya sangat provokatif,sama
provokatif isi nya. Penulis memberi fakta bahwa orang-orang hebat di AS bukan
orang yang cerdas-cerdas banget. Universitas terhebat di sana hanya sebatas
menyediakan tenaga tenaga administrasi di perkantoran dan perusahaan. Justru
para pengusaha yang sukses lahir dari proses pendidikan yang kurang baik jika tidak
mau dianggap gagal.
Begitu juga dalam dunia politik, para
intelektual tidak bisa menembus sebagai pejabat tertinggi di pemerintahan.
Kadang malah orang-orang bermasalah dalam kehidupan bisa meniti karir sangat
bergengsi.
Saya tentu tidak serta merta mengamini
fakta fakta yang ditulis dalam Buku Eric Barker. Tapi penulis artikel ini tidak
bisa menyalahkan teori nya. Kita bisa melihat orang-orang yang sukses di bidang
politik dan bisnis adalah orang-orang yang biasa-biasa saja kualitas
pendidikannya. Bahkan kadang saya tertawa sendiri saat para pejabat tampil di
forum umum dan punya reputasi tinggi. Ngomong nya kadang "belepotan".
Tapi orang-orang yang model demikian mempunyai kemampuan mengendalikan dan
mengatur sistem bisnis, politik dan kebijakan-kebijakan strategis.
Mengapa demikian?
Saya melihat ada faktor keberanian yang
melimpah. Keberanian memutuskan persoalan dengan cepat. Keberanian menerima
resiko. Keberanian untuk terus belajar dari pengalaman. Dan terpenting juga,
keberanian memutuskan bahwa Tuhan satu-satunya tempat bersandar.
Ada seorang teman yang tidak mau
melanjutkan kuliah. Dia merasa tidak ada kemampuan. Apalagi saudara-saudaranya
cukup banyak. Dia mengalah agar adik-adiknya bisa mendapatkan pendidikan. lalu
memutuskan untuk jualan ala kadarnya. Anggap saja jualan marbatak. terlihat
remeh dan dipandang sebelah mata. Tapi dia enjoy. Prinsip nya sangat sederhana,
“yang penting halal”. Pagi jam 08.00 buka lapak nya. tutup jam 17.30. itu yang
dilakukan setiap hari.
Sekitar 10 tahun berjalan, saya bertemu
dengannya. Kami mengobrol sebagai seorang teman, tentang kabar dan bisnisnya. Dia
menceritakan telah memberangkatkan haji ibu nya, istri dan saudara-saudaranya
sudah dihajikan. Lebih hebat lagi, dia sudah membuatkan rumah untuk orang tua
nya. ketika saya tanya harganya, sekitar 250 juta.
Dulu ada seorang teman laki-laki yang
sangat takut dengan perempuan. Jika untuk ukuran, temanku culun, lucu, kurus,
lugu, dan terlihat tidak punya nafsu. Wajar, jika teman-teman perempuan lokal
nya selalu mengejek dengan penuh semangat.
Namun siapa sangka, saat sudah berpisah
beberapa tahun dan sama-sama sudah mempunyai istri. Teman ku tadi malah sudah
mempunyai dua istri, berani berpoligami. Ketika ditanya apa resep nya, jawabnya
simpel, “nikah”. Ketika ditanya apa tidak takut dicerai atau minimal terkena
bentak istri nya, dia pun menjawab simpel,”gitu aja kok repot”.
Saya tersenyum. padahal sang pemilik
kalimat “begitu saja kok repot”, yaitu Gus Dur pun tidak melakukan poligami. Tapi
temanku telah menjadikan kalimat tersebut sebagai jimat. Ia telah belajar
men-syaraih makna keberanian dan sikap tegas memtuskan sesuatu dengan tetap bersikap
sumeleh dan memasrahkan diri atas segala keputusan yang diambil. Kelihatanya terdengar
lucu. Tapi berhasil. Dia benar-benar merumuskan kehidupan ini dengan cara yang
sederhana, pasti dan terukur.
Saya tentu saja tidak mengajak kepada
pembaca untuk sama-sama berpoligami. Jika toh ada terinspirasi, anggap saja itu
bagian dari jalan anda menelusuri takdir hidup anda sendiri. Penulis artikel
ini hanya ingin melihat saku kehidupan kita yang sering disebut kaum
intelektual. Sayang nya sebutan yang sakral tersebut terasa hambar. Tumpukan buku,
makalah, artikel hanya sederetan administrasi yang mati. Kita semangat membuat
dan menyelesaikan nya. Tapi ia akan masuk rak dan tidak lagi dipikirkan apa
manfaat untuk perubahan sebuah peradaban masa depan yang lebih baik.
Sekali lagi, saya kagum dengan teman saya
yang jualan ala kadar di pinggir jalan. Tapi saat ini dia hadir memberi manfaat
untuk orang tua, istri, anak dan saudara-saudaranya. Saya kagum teman saya yang
bisa menundukan keras nya batu karang kemarahan istri nya dengan berpoligami
dan hidup rukun di antara mereka.
Saya, anda dan kita bisa jadi sudah punya
lapak intelektual. Semua dituntut untuk berani mengabdi menuangkan ide-ide nya
dalam rangka membangun kehidupan keagamaan, kemanusiaan dan peradaban serta
keadaban yang lebih baik. Semua berawal dari keberanian. Berani untuk terus
berkarya dan terus menebarkan kebaikan. Tidak ada karya yang sempurna. Ia hadir
seperti semangkok Sop Daging Sapi. Semua boleh berkomentar tentang rasa; pedas,
asin, kecut dan sedap. Biarkan saja. sebab komentar pelanggan adalah ilmu yang
maha agung untuk menuju kesempurnaan yang lebih baik.
Penulis : Imam Ghozali
Bayu
Maaf pak Yai, tpi menurut saya barking up the wrong tree artinya menggonggong ke pohon yg salah
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879