Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Penjual Martabak, Poligami dan Keberanian kaum Intelektual



Minggu , 20 Agustus 2023



Telah dibaca :  639

Selesai acara di Hotel Virtue Haris Harmoni, saya rencana langsung pulang. Mba Fitri bagian pembelian tiket menelpon bahwa pesawat terbang berangkat jam 17.00. Padahal, saya ingin terbang ke Pekanbaru  jam 11,00 atau jam 12.00. Jadi, perkiraan sampai Bandara Sultan Syarif Qasim jam 14.00. Masih ada waktu ke Kabupaten Kepulauan Meranti Melalui Laut.  Naik Kapal Kapal Kayu Jelatik. Mirip Kapal Titanic. Berangkat jam 16.00. Jarak antara Bandara dan pelabuhan sungai duku tidak jauh. Tapi kendaraan kota Pekanbaru sudah padat. Kurang lebih memakan waktu 20 menit naik taksi, sudah sampai Pelabuhan.

Kata mba fitri tidak bisa. Sebab pesan nya mendadak. Jika ingin cepat terbang, langsung pesan ke Bandara. Pikir-pikir, akhirnya saya memutuskan pulang sore hari. Sambil duduk samtai, ngopi dan menulis catatan harian di Bandara. Cukup nikmat. Apalagi Pelayanan Kafe cantik-cantik dan ramah-ramah. Gara-gara mereka, saya jadi ingat istri di rumah. Saya jadi berkhayal, “bisakah istri ku seramah pelayan kafe? Saya tersenyum sendiri jadinya atas pertanyaan ini. Senyum dengan seribu tanda tanya.

Sekitar jam 18.30 pesawat pesawat hampir landing di bandara sultan syarif qasim. Entah mengapa, tiba-tiba gagal. Pesawat pelan-pelan naik lagi. Tidak jadi mendarat. Semua cemas. Tapi tidak ada yang berani bertanya kepada awak kabin. Sebelah kanan saya seorang pemuda etnis cina. Suka bergurau sepanjang perjalanan. Tapi kini berubah menjadi tegang. Sebelah kiri sama, etnis cina. Seorang ibu sudah tua berbadan kurus. Rambutnya sudah putih. Tapi seleranya masih muda. Saya lihat seperti bermain chip. Saya heran juga, yang lain ketakutan terhadap situasi tersebut, dia tetap tenang. Mungkin karena pengaruh permainan tersebut, atau sudah mempunyai ilmu “sumeleh”, pasrah kepada Sang Pencipta, atau karena pengaruh umur yang sudah merasa tua.

Alhamdulillah gangguan teknis tidak lama. Pesawat bisa mendarat dengan baik. Wajah para penumpang sumringah. Pikiran negatif hilang. Tapi sebagian penumpang sedikit trauma atas kejadian tersebut. Apalagi saya, yang pernah mengalami kecelakaan darat sampai masuk rumah sakit. Kejadian ini mengingat persistiwa tersebut. Semoga tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Dalam perjalanan, Mas Taufik, Sekertaris Umum MUI Kab. Kepulauan Meranti menelpon. Isinya agar bersedia mengikuti seminar pendidikan di Hotel Evo kota Pekanbaru. Saya tersenyum, ternyata memang tidak boleh cepat-cepat pulang dulu ke Meranti. Harus ikut acara seminar selama dua hari; sabtu-minggu. Mas hamdani yang seharusnya ikut acara ini tiba-tiba menelpon tidak bisa. Katanya sedang sibuk mendampingi bupati.

Hotel Evo berhadapan dengan toko buku Gramedia. Di seberang jalan. Di sela-sela kegiatan,saya pergi kesana dan membeli buku-buku karangan Ichiro Kishimi & Fumitake Koga, Eric Barker Dan Dr. Mardani.

Ada satu buku yang cukup mencuri perhatian. Judul nya" Barking Up The Wrong Tree". Terjemahnya" Mendaki Tangga Yang Salah". Penulis nya Eric Barker.

Judulnya sangat provokatif,sama provokatif isi nya. Penulis memberi fakta bahwa orang-orang hebat di AS bukan orang yang cerdas-cerdas banget. Universitas terhebat di sana hanya sebatas menyediakan tenaga tenaga administrasi di perkantoran dan perusahaan. Justru para pengusaha yang sukses lahir dari proses pendidikan yang kurang baik jika tidak mau dianggap gagal.

Begitu juga dalam dunia politik, para intelektual tidak bisa menembus sebagai pejabat tertinggi di pemerintahan. Kadang malah orang-orang bermasalah dalam kehidupan bisa meniti karir sangat bergengsi.

Saya tentu tidak serta merta mengamini fakta fakta yang ditulis dalam Buku Eric Barker. Tapi penulis artikel ini tidak bisa menyalahkan teori nya. Kita bisa melihat orang-orang yang sukses di bidang politik dan bisnis adalah orang-orang yang biasa-biasa saja kualitas pendidikannya. Bahkan kadang saya tertawa sendiri saat para pejabat tampil di forum umum dan punya reputasi tinggi. Ngomong nya kadang "belepotan". Tapi orang-orang yang model demikian mempunyai kemampuan mengendalikan dan mengatur sistem bisnis, politik dan kebijakan-kebijakan strategis.

Mengapa demikian?

Saya melihat ada faktor keberanian yang melimpah. Keberanian memutuskan persoalan dengan cepat. Keberanian menerima resiko. Keberanian untuk terus belajar dari pengalaman. Dan terpenting juga, keberanian memutuskan bahwa Tuhan satu-satunya tempat bersandar.

Ada seorang teman yang tidak mau melanjutkan kuliah. Dia merasa tidak ada kemampuan. Apalagi saudara-saudaranya cukup banyak. Dia mengalah agar adik-adiknya bisa mendapatkan pendidikan. lalu memutuskan untuk jualan ala kadarnya. Anggap saja jualan marbatak. terlihat remeh dan dipandang sebelah mata. Tapi dia enjoy. Prinsip nya sangat sederhana, “yang penting halal”. Pagi jam 08.00 buka lapak nya. tutup jam 17.30. itu yang dilakukan setiap hari.

Sekitar 10 tahun berjalan, saya bertemu dengannya. Kami mengobrol sebagai seorang teman, tentang kabar dan bisnisnya. Dia menceritakan telah memberangkatkan haji ibu nya, istri dan saudara-saudaranya sudah dihajikan. Lebih hebat lagi, dia sudah membuatkan rumah untuk orang tua nya. ketika saya tanya harganya, sekitar 250 juta.

Dulu ada seorang teman laki-laki yang sangat takut dengan perempuan. Jika untuk ukuran, temanku culun, lucu, kurus, lugu, dan terlihat tidak punya nafsu. Wajar, jika teman-teman perempuan lokal nya selalu mengejek dengan penuh semangat.

Namun siapa sangka, saat sudah berpisah beberapa tahun dan sama-sama sudah mempunyai istri. Teman ku tadi malah sudah mempunyai dua istri, berani berpoligami. Ketika ditanya apa resep nya, jawabnya simpel, “nikah”. Ketika ditanya apa tidak takut dicerai atau minimal terkena bentak istri nya, dia pun menjawab simpel,”gitu aja kok repot”.

Saya tersenyum. padahal sang pemilik kalimat “begitu saja kok repot”, yaitu Gus Dur pun tidak melakukan poligami. Tapi temanku telah menjadikan kalimat tersebut sebagai jimat. Ia telah belajar men-syaraih makna keberanian dan sikap tegas  memtuskan sesuatu dengan tetap bersikap sumeleh dan memasrahkan diri atas segala keputusan yang diambil. Kelihatanya terdengar lucu. Tapi berhasil. Dia benar-benar merumuskan kehidupan ini dengan cara yang sederhana, pasti dan terukur.

Saya tentu saja tidak mengajak kepada pembaca untuk sama-sama berpoligami. Jika toh ada terinspirasi, anggap saja itu bagian dari jalan anda menelusuri takdir hidup anda sendiri. Penulis artikel ini hanya ingin melihat saku kehidupan kita yang sering disebut kaum intelektual. Sayang nya sebutan yang sakral tersebut terasa hambar. Tumpukan buku, makalah, artikel hanya sederetan administrasi yang mati. Kita semangat membuat dan menyelesaikan nya. Tapi ia akan masuk rak dan tidak lagi dipikirkan apa manfaat untuk perubahan sebuah peradaban masa depan yang lebih baik.

Sekali lagi, saya kagum dengan teman saya yang jualan ala kadar di pinggir jalan. Tapi saat ini dia hadir memberi manfaat untuk orang tua, istri, anak dan saudara-saudaranya. Saya kagum teman saya yang bisa menundukan keras nya batu karang kemarahan istri nya dengan berpoligami dan hidup rukun di antara mereka.

Saya, anda dan kita bisa jadi sudah punya lapak intelektual. Semua dituntut untuk berani mengabdi menuangkan ide-ide nya dalam rangka membangun kehidupan keagamaan, kemanusiaan dan peradaban serta keadaban yang lebih baik. Semua berawal dari keberanian. Berani untuk terus berkarya dan terus menebarkan kebaikan. Tidak ada karya yang sempurna. Ia hadir seperti semangkok Sop Daging Sapi. Semua boleh berkomentar tentang rasa; pedas, asin, kecut dan sedap. Biarkan saja. sebab komentar pelanggan adalah ilmu yang maha agung untuk menuju kesempurnaan yang lebih baik. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Bayu

Maaf pak Yai, tpi menurut saya barking up the wrong tree artinya menggonggong ke pohon yg salah

   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879