Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Perempuan Dari Habis “Gelap”, Seharusnya “Terang”



Selasa , 22 April 2025



Telah dibaca :  839

Buku Kartini berjudul “habis gelap terbitlah terang” sangat menginspirasi kaum perempuan tentang kesetaraan gender. Sebenarnya banyak kaum perempuan yang mempunyai prestasi sangat besar pada masa itu. Namun promosi namanya yang sangat masif telah mampu menyadarkan kaum perempuan untuk melepaskan diri dari cengkraman kegelapan budaya menuju kepada derajat kemulyaan.

Seorang kartini yang telah mendapatkan pendidikan dari tiga kutub yang sangat mempengaruhinya.

Pertama,tradisi “Perempuan Pingit” pada masa nya yang hanya dipersiapkan oleh keluarga-keluarga masyarakat saat itu sebagai Ibu Rumah Tangga. Saat itu seolah-olah perempuan ditakdir sebagai kelompok manusia kelas dua. Ia diikat oleh aturan tradisi untuk senantiasa hidup berada di lingkungan yang sangat terbatas. Dan memang demikian kondisi perempuan saat itu dan jauh sebelumnya. Apalagi jika jauh lagi meneropong kehidupan pada masa jahiliyah di daerah Arab Saudi. Bahkan bisa dikatan hampir semua tradisi setiap bangsa di seluruh dunia saat itu sangat diskriminasi terhadap kedudukan kaum perempuan.

Kedua, tradisi keilmuan Islam tradisional yang berfikiran terbuka ia dapat dari Syeikh Sholeh Darat Semarang. Melalui Pendidikan ulama klasik tersebut, seorang kartini yang sebelumnya hidup dalam suasana kratonik yang diikat oleh kehidupan tradisi yang sangat ketat mulai terpengaruh tentang makna status manusia dihadapan Tuhan, yaitu pada takwa nya. dari sini antara laki-laki dan perempuan sama, yaitu sama-sama mempunyai potensi untuk menjadi orang yang mulia di hadapan Allah SWT.

Ketiga, sebagai seorang anak bupati yang saat itu mendapatkan akses pendidikan di dunia barat (Negeri Belanda) telah membuka alam pikiran. Saat ia berada di negeri tersebut, dengan mata dan kepala sendiri menyaksikan kaum perempuan sangat semangat belajar dan memperbaiki kualitas diri dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kondisi tersebut menurutnya merupakan bentuk dari semangat ajaran-ajaran Islam yang hidup di negara yang bukan Islam. Pesan takwa sebagai wujud kesetaraan gender dalam dunia pendidikan telah menginspirasi kartini muda saat itu untuk mewujudkan cita-cita besarnya, yaitu: membangun kaum perempuan agar bisa memberi konstribusi positif untuk bangsa dan negara. dari sini kemudian muncul istilah “Emansipasi Wanita”.


Kini kaum perempuan mempunyai kesetaraan hak dan kewajiban dalam kehidupan sosial dalam beragam aspek. Meskipun tetap harus menyadari kodratnya. Sebab Allah menciptakan kaum perempuan berbeda dengan laki-laki. Ia diciptakan oleh Allah dengan fisik yang sangat spesial dan sifat-sifat yang unik menyebabkan eksistensi nya harus dijaga kemuliaannya. Sebab saat  kaum perempuan kehilangan kemuliaannya, maka hilang juga keistimewaan suatu bangsa. Dalam konteks kemanusiaan dan keagamaan, kaum perempuan sebenarnya menjadi indikator tertinggi kemuliaan suatu bangsa. Semakin anggung kaum perempuan, semakin terjaga kaum perempuan maka semakin mulia suatu bangsa.

Pembelajaran kondisi sosial masyarakat Bangsa Arab pada masa jahiliyah, indikator yang sangat dominan disebut zaman kejahilan karena status perempuan yang tidak dihargai sama sekali. Islam datang merubah secara step by step dengan mengangkat kaum perempuan pada pembatasan jumlah perkawinan. laki-laki hanya boleh menikah 4 perempuan (sebelumnya tidak ada batasan). Islam juga mulai memperhatikan nasib kaum perempuan pada hak-hak nya mendapatkan warisan. Selain itu, dalam konteks sosial nabi sering melibatkan kaum perempuan. Dari sini ajaran Islam secara pelan-pelan menempatkan kaum perempuan sejajar kemuliaannya dengan kaum laki-laki.


Kini status kaum perempuan semakin terang. Hak-hak dan kewajibannya di ruang publik telah sama. Meskipun dalam diskursus hukum fiqh masih ada beberapa perdebatan, tapi sisi politis terus menerobos ruang-ruang publik membela status Perempuan untuk terus berkiprah dalam segala aspek kehidupan seperti: pendidikan, manager, politik, dan pejabat negara.

Tata nilai tersebut sebenarnya sudah sangat baik. Tapi, ujian-ujian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicita-citakan oleh kartini saat ini tentu sangat mengagetkan. Kemajuan tersebut bukan hanya mengangkat derajat kaum perempuan di level “ahsanitaqwim”, tapi juga harus terjun bebas pada level “asfalasafilien”.

Sebagaimana penulis katakan di atas bahwa fisik kaum perempuan “unik dan sangat spesial”, tidak bisa digunakan di seluruh kegiatan public. Ini berbeda dengan kaum laki-laki yang (mohon maaf) seandainya jungkir-balik pun kaum laki-laki tidak begitu menjadi persoalan. Sifat maskulin pada dirinya bisa tercipta dari kondisi seperti apapun dirinya, dari terpuruk karena sifat dan perilakunya bisa berubah menjadi seorang pahlawan. Sejarah dan film-film telah menceritakan bagaimana seorang preman pembunuh berdarah dingin berubah menjadi seorang pahlawan dan pemimpin negara.

Berbeda dengan kaum perempuan, ia memang diciptakan dengan kodrat kesucian dan keanggunan. Ia laksana bunga. Dan bunga memang harus selalu mengeluarkan aroma harum dan menyegarkan. Jika itu hilang, maka itu tanda akan kematianya. Itu sebabnya dalam rangka untuk menciptakan keharuman kaum perempuan hingga ia sampai pada nenek-nenek, salah satu yang harus dijaga selama hidupnya adalah integritas diri yang dalam Islam sering disebut akhlak al-karimah. Hanya itu, aroma kaum perempuan akan terus harum meskipun ia telah meninggal dunia.

Jika Kartini masih hidup saat sekarang ini mungkin kaget. Kaum perempuan yang diperjuangkan untuk mendapatkan martabat yang agung mulai dirusak oleh mereka sendiri. Tentu tidak semua benar. Sebagian telah melakukan hal yang demikian. Paling tidak apabila melihat di Media Sosial betapa kaum perempuan telah kehilangan integritas diri pada inner body nya. Mereka tidak malu-malu membudayakan tradisi jahiliyah yang telah diberantas oleh nabi Muhammad saw pada 14 abad yang lalu. Kini bangkit kembali.

Apakah kaum perempuan sedang menggali lubang keterbelakangan peradabannya sendiri. Tentu tidak bisa dijawab dengan kata “iya”. Banyak faktor. Pandangan ku bisa saja salah. Tapi platform media sosial yang sangat masif berisi aktivitas kaum perempuan yang sangat memprihatinkan, sungguh sangat miris sekali. ia sebagai penjaga moralitas di unit terkecil sekarang ini sedang berlenggak-lenggok menghancurkan moralitas tersebut dengan terlihat tidak merasa bersalah.

Sungguh menyedihkan, dari kegegalapan menuju terang, seharusnya saat sekarang ini kaum perempuan terus bersinar. Tapi saya tidak tahu, kabut gelap, mendung dan petir telah membuatku semakin takut akan datang kondisi kegelapan di masa mendatang. Semoga ketakutanku tidak terjadi.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872