
Buku Kartini berjudul “habis gelap
terbitlah terang” sangat menginspirasi kaum perempuan tentang kesetaraan
gender. Sebenarnya banyak kaum perempuan yang mempunyai prestasi sangat besar
pada masa itu. Namun promosi namanya yang sangat masif telah mampu menyadarkan kaum perempuan
untuk melepaskan diri dari cengkraman kegelapan budaya menuju kepada derajat
kemulyaan.
Seorang kartini yang telah mendapatkan pendidikan
dari tiga kutub yang sangat mempengaruhinya.
Pertama,tradisi “Perempuan Pingit” pada masa nya yang hanya
dipersiapkan oleh keluarga-keluarga masyarakat saat itu sebagai Ibu Rumah
Tangga. Saat itu seolah-olah perempuan ditakdir sebagai kelompok manusia kelas
dua. Ia diikat oleh aturan tradisi untuk senantiasa hidup berada di lingkungan
yang sangat terbatas. Dan memang demikian kondisi perempuan saat itu dan jauh
sebelumnya. Apalagi jika jauh lagi meneropong kehidupan pada masa jahiliyah di
daerah Arab Saudi. Bahkan bisa dikatan hampir semua tradisi setiap bangsa di seluruh
dunia saat itu sangat diskriminasi terhadap kedudukan kaum perempuan.
Kedua, tradisi keilmuan Islam tradisional
yang berfikiran terbuka ia dapat dari Syeikh Sholeh Darat Semarang. Melalui Pendidikan
ulama klasik tersebut, seorang kartini yang sebelumnya hidup dalam suasana
kratonik yang diikat oleh kehidupan tradisi yang sangat ketat mulai terpengaruh
tentang makna status manusia dihadapan Tuhan, yaitu pada takwa nya. dari sini
antara laki-laki dan perempuan sama, yaitu sama-sama mempunyai potensi untuk
menjadi orang yang mulia di hadapan Allah SWT.
Ketiga, sebagai seorang anak bupati yang saat itu mendapatkan akses pendidikan di dunia barat (Negeri Belanda) telah membuka alam pikiran. Saat ia berada di negeri tersebut, dengan mata dan kepala sendiri menyaksikan kaum perempuan sangat semangat belajar dan memperbaiki kualitas diri dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kondisi tersebut menurutnya merupakan bentuk dari semangat ajaran-ajaran Islam yang hidup di negara yang bukan Islam. Pesan takwa sebagai wujud kesetaraan gender dalam dunia pendidikan telah menginspirasi kartini muda saat itu untuk mewujudkan cita-cita besarnya, yaitu: membangun kaum perempuan agar bisa memberi konstribusi positif untuk bangsa dan negara. dari sini kemudian muncul istilah “Emansipasi Wanita”.

Kini kaum perempuan mempunyai kesetaraan
hak dan kewajiban dalam kehidupan sosial dalam beragam aspek. Meskipun tetap
harus menyadari kodratnya. Sebab Allah menciptakan kaum perempuan berbeda
dengan laki-laki. Ia diciptakan oleh Allah dengan fisik yang sangat spesial dan
sifat-sifat yang unik menyebabkan eksistensi nya harus dijaga kemuliaannya. Sebab
saat kaum perempuan kehilangan
kemuliaannya, maka hilang juga keistimewaan suatu bangsa. Dalam konteks
kemanusiaan dan keagamaan, kaum perempuan sebenarnya menjadi indikator tertinggi
kemuliaan suatu bangsa. Semakin anggung kaum perempuan, semakin terjaga kaum perempuan
maka semakin mulia suatu bangsa.
Pembelajaran kondisi sosial masyarakat Bangsa Arab pada masa jahiliyah, indikator yang sangat dominan disebut zaman kejahilan karena status perempuan yang tidak dihargai sama sekali. Islam datang merubah secara step by step dengan mengangkat kaum perempuan pada pembatasan jumlah perkawinan. laki-laki hanya boleh menikah 4 perempuan (sebelumnya tidak ada batasan). Islam juga mulai memperhatikan nasib kaum perempuan pada hak-hak nya mendapatkan warisan. Selain itu, dalam konteks sosial nabi sering melibatkan kaum perempuan. Dari sini ajaran Islam secara pelan-pelan menempatkan kaum perempuan sejajar kemuliaannya dengan kaum laki-laki.

Kini status kaum perempuan semakin terang. Hak-hak
dan kewajibannya di ruang publik telah sama. Meskipun dalam diskursus hukum
fiqh masih ada beberapa perdebatan, tapi sisi politis terus menerobos
ruang-ruang publik membela status Perempuan untuk terus berkiprah dalam segala
aspek kehidupan seperti: pendidikan, manager, politik, dan pejabat negara.
Tata nilai tersebut sebenarnya sudah sangat
baik. Tapi, ujian-ujian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dicita-citakan oleh kartini saat ini tentu sangat mengagetkan. Kemajuan tersebut
bukan hanya mengangkat derajat kaum perempuan di level “ahsanitaqwim”,
tapi juga harus terjun bebas pada level “asfalasafilien”.
Sebagaimana penulis katakan di atas bahwa
fisik kaum perempuan “unik dan sangat spesial”, tidak bisa digunakan di seluruh
kegiatan public. Ini berbeda dengan kaum laki-laki yang (mohon maaf) seandainya
jungkir-balik pun kaum laki-laki tidak begitu menjadi persoalan. Sifat maskulin
pada dirinya bisa tercipta dari kondisi seperti apapun dirinya, dari terpuruk
karena sifat dan perilakunya bisa berubah menjadi seorang pahlawan. Sejarah dan
film-film telah menceritakan bagaimana seorang preman pembunuh berdarah dingin
berubah menjadi seorang pahlawan dan pemimpin negara.
Berbeda dengan kaum perempuan, ia memang diciptakan
dengan kodrat kesucian dan keanggunan. Ia laksana bunga. Dan bunga memang harus
selalu mengeluarkan aroma harum dan menyegarkan. Jika itu hilang, maka itu
tanda akan kematianya. Itu sebabnya dalam rangka untuk menciptakan keharuman
kaum perempuan hingga ia sampai pada nenek-nenek, salah satu yang harus dijaga
selama hidupnya adalah integritas diri yang dalam Islam sering disebut akhlak
al-karimah. Hanya itu, aroma kaum perempuan akan terus harum meskipun ia telah
meninggal dunia.
Jika Kartini masih hidup saat sekarang ini
mungkin kaget. Kaum perempuan yang diperjuangkan untuk mendapatkan martabat
yang agung mulai dirusak oleh mereka sendiri. Tentu tidak semua benar. Sebagian
telah melakukan hal yang demikian. Paling tidak apabila melihat di Media Sosial
betapa kaum perempuan telah kehilangan integritas diri pada inner body
nya. Mereka tidak malu-malu membudayakan tradisi jahiliyah yang telah diberantas
oleh nabi Muhammad saw pada 14 abad yang lalu. Kini bangkit kembali.
Apakah kaum perempuan sedang menggali
lubang keterbelakangan peradabannya sendiri. Tentu tidak bisa dijawab dengan
kata “iya”. Banyak faktor. Pandangan ku bisa saja salah. Tapi platform media
sosial yang sangat masif berisi aktivitas kaum perempuan yang sangat memprihatinkan,
sungguh sangat miris sekali. ia sebagai penjaga moralitas di unit terkecil
sekarang ini sedang berlenggak-lenggok menghancurkan moralitas tersebut
dengan terlihat tidak merasa bersalah.
Sungguh menyedihkan, dari kegegalapan menuju
terang, seharusnya saat sekarang ini kaum perempuan terus bersinar. Tapi saya
tidak tahu, kabut gelap, mendung dan petir telah membuatku semakin takut akan
datang kondisi kegelapan di masa mendatang. Semoga ketakutanku tidak terjadi.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872