
Allah s.w.t menyebut dunia ini dengan
beragam sebutan, kadang menyebut dunia dengan istilah perhiasan dunia, kadang
juga dunia sebagai tempat sendau gurau dan permainan semata. Dunia juga
digambarkan sebagai air hujan yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, lalu menjadi
kering karena diterbangkan oleh angin. Semua tamsil pada muara sama
yaitu perhiasan dunia bersifat fana. Hal ini karena definisi dunia itu
sendiri yang berasal dari bahasa Arab. “daana” yang berarti dekat,
sementara, dan terbatas. Sedangkan lawan dari “daana” adalah Akhirat
yang mempunyai arti masa depan atau kekal. Penggunaan kedua kata dalam
kehidupan sehari-hari dan dalam Kitab Suci menggunakan kata dunia dan akherat,
dua kehidupan yang bertolak belakang. Satu sementara, satu lagi kekal abadi.
Allah menggunakan dunia dengan tamsil
“perhiasan” karena alam dunia diciptakan oleh Allah untuk manusia yang saat di
dunia mempunyai beragam rasa beragam kenikmatan. Alam pikiran dan panca indera
diciptakan oleh Allah agar bisa merangsang apa yang disuka dalam pikiran dan
apa yang disuka dalam panca indera. Sedangkan pada alam selanjutnya, sudah ada
spesialisasi jalur kenikmatan dan penderitaan. Alam selanjutnya tidak bisa
bertemu, keduanya sudah mempunyai jalan sendiri-sendiri. Beda dengan dunia,
manusia bisa merasakan keduanya dalam waktu yang bersamaan atau beriringan. Hari
ini menderita, besok bisa bahagia. Begitu juga sebaliknya.
Dunia menjadi ladang kemerdekaan manusia. Terserah,
mau jungkir balik mencari perhiasan itu hak setiap manusia. Tuhan hanya memberi
rambu-rambu; mana yang boleh dan tidak boleh. Namun pada diri manusia ada dua
kekuatan yang sangat kontras yaitu nafsu mutmainah dan nafsu syayiah.
Nafsu mutmainah senantiasa memergunakan perhiasan dunia untuk kebaikan,
sedangkan nafsu syayiah menggunakan perhiasan dunia untuk menuruti
angkara murka.
Kita mempunyai beragam perhiasan; ada
istri, anak, harta, dan pangkat. Sebagai watak manusia yang selalu ingin lebih
banyak dan selalu ingin merasa hal-hal yang baru akan terus memburu kenikmatan
yang lain dan ironisnya dengan cara yang tidak benar. Tidak peduli apakah orang
yang telah mengerti ilmu ataupun belum. Agamis atau tidak agamis. Semua manusia
sama saat melihat perhiasan yang menyilaukan mata. Setiap manusia mempunyai
potensi terperosok menuruti nafsu angkara murka untuk melampiaskan segala
keinginan dunia. Padahal kadang itu merusak. Tapi nafsu sudah tidak
memperdulikan lagi. Kenikmatan dunia sering melupakan siapapun dan apapun
kedudukan di masyarakat. Sebab kedudukan itu sendiri juga perhiasan. Maka saat
dia bersandar pada kedudkan, ketokohan dan ketenaran, berarti dia sedang bersandar pada nafsu dia sendiri. Akibatnya,
orang tersebut mudah terperosok pada perhiasan-perhiasan lainnya.
Kita kadang ingin tertawa atas kekonyolan
kita. Betapa tidak lucu. Segala sesuatu yang sudah dibangun sedemikian
membutuhkan waktu yang lama, harus dihancurkan oleh hal-hal yang remeh temeh. Karier,
pangkat, kedudukan, reputasi, prestasi atau prestise merintis dari nol
tiba-tiba harus digadaikan oleh kenikmatan sementara. Ibarat kemarau satu
tahun, hilang oleh hujan satu hari. Namun itu fakta. Kita melihat sekitar kita
atau malah diri kita sendiri yang kadang berperilaku lucu atas apa yang disebut
kenikmatan dan penderitaan. Kita gampang terlalu silau oleh gemerlapan dunia,
sehingga kita lupa bahwa kita punya pikiran dan hati. Tapi hancur gara-gara
menuruti nafsu. Ketika sudah hancur, baru sadar bahwa semua yang dilakukan
hanya sebatas kenikmatan sementara.
Itu sebabnya, kita harus memahami tamsil
kehidupan ini seperti hujan yang menumbuhkan pepohonan. Kita bisa melihat
betapa bahagia nya saat anda atau kita berjalan-jalan melihat hasil kerja keras kita; kebun yang ratusan
hektar, perusahaan mulai dari kecil sampai yang besar, dan pangkat sampai pada
tingkat paripurna. Namun semua akan dihembus oleh angin. Semua hancur dan
bercerai-berai.
Kita harus merenung akan diri kita dan akan
kemana perjalanan hidup kita. Tuhan tidak melarang membangun segala kenikmatan
di dunia sampai puncak tertinggi. Sebab kenyataannya setiap manusia mempunyai
perhiasan yang berbeda-beda ukurannya. Namun Tuhan mengajarkan bahwa perhiasan
yang dibangun di dunia sebaiknya dipertahankan sampai di akherat nanti. Prestasi
kita di dunia seharusnya bersambung untuk bisa mengantarkan prestasi yang lebih
besar di akherat nanti. bagaimana caranya? Yaitu dengan senantiasa untuk
beribadah, beramal dan berkarya semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah,
sehingga semua ibadah dan karya kebaikan di desain dengan cara-cara perintah Allah.
Jika ini yang dilakukan, maka karier kita dan seluruh asesoris yang menempel
pada diri kita menjadi investasi di akherat.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3587
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895