Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Perhiasan Dunia; Antara Nikmat dan Ujian



Senin , 13 Maret 2023



Telah dibaca :  250

Allah s.w.t menyebut dunia ini dengan beragam sebutan, kadang menyebut dunia dengan istilah perhiasan dunia, kadang juga dunia sebagai tempat sendau gurau dan permainan semata. Dunia juga digambarkan sebagai air hujan yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, lalu menjadi kering karena diterbangkan oleh angin. Semua tamsil pada muara sama yaitu perhiasan dunia bersifat fana. Hal ini karena definisi dunia itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab. “daana” yang berarti dekat, sementara, dan terbatas. Sedangkan lawan dari “daana” adalah Akhirat yang mempunyai arti masa depan atau kekal. Penggunaan kedua kata dalam kehidupan sehari-hari dan dalam Kitab Suci menggunakan kata dunia dan akherat, dua kehidupan yang bertolak belakang. Satu sementara, satu lagi kekal abadi.

Allah menggunakan dunia dengan tamsil “perhiasan” karena alam dunia diciptakan oleh Allah untuk manusia yang saat di dunia mempunyai beragam rasa beragam kenikmatan. Alam pikiran dan panca indera diciptakan oleh Allah agar bisa merangsang apa yang disuka dalam pikiran dan apa yang disuka dalam panca indera. Sedangkan pada alam selanjutnya, sudah ada spesialisasi jalur kenikmatan dan penderitaan. Alam selanjutnya tidak bisa bertemu, keduanya sudah mempunyai jalan sendiri-sendiri. Beda dengan dunia, manusia bisa merasakan keduanya dalam waktu yang bersamaan atau beriringan. Hari ini menderita, besok bisa bahagia. Begitu juga sebaliknya.

Dunia menjadi ladang kemerdekaan manusia. Terserah, mau jungkir balik mencari perhiasan itu hak setiap manusia. Tuhan hanya memberi rambu-rambu; mana yang boleh dan tidak boleh. Namun pada diri manusia ada dua kekuatan yang sangat kontras yaitu nafsu mutmainah dan nafsu syayiah. Nafsu mutmainah senantiasa  memergunakan perhiasan dunia untuk kebaikan, sedangkan nafsu syayiah menggunakan perhiasan dunia untuk menuruti angkara murka.

Kita mempunyai beragam perhiasan; ada istri, anak, harta, dan pangkat. Sebagai watak manusia yang selalu ingin lebih banyak dan selalu ingin merasa hal-hal yang baru akan terus memburu kenikmatan yang lain dan ironisnya dengan cara yang tidak benar. Tidak peduli apakah orang yang telah mengerti ilmu ataupun belum. Agamis atau tidak agamis. Semua manusia sama saat melihat perhiasan yang menyilaukan mata. Setiap manusia mempunyai potensi terperosok menuruti nafsu angkara murka untuk melampiaskan segala keinginan dunia. Padahal kadang itu merusak. Tapi nafsu sudah tidak memperdulikan lagi. Kenikmatan dunia sering melupakan siapapun dan apapun kedudukan di masyarakat. Sebab kedudukan itu sendiri juga perhiasan. Maka saat dia bersandar pada kedudkan, ketokohan dan ketenaran, berarti  dia sedang bersandar pada nafsu dia sendiri. Akibatnya, orang tersebut mudah terperosok pada perhiasan-perhiasan lainnya.

Kita kadang ingin tertawa atas kekonyolan kita. Betapa tidak lucu. Segala sesuatu yang sudah dibangun sedemikian membutuhkan waktu yang lama, harus dihancurkan oleh hal-hal yang remeh temeh. Karier, pangkat, kedudukan, reputasi, prestasi atau prestise merintis dari nol tiba-tiba harus digadaikan oleh kenikmatan sementara. Ibarat kemarau satu tahun, hilang oleh hujan satu hari. Namun itu fakta. Kita melihat sekitar kita atau malah diri kita sendiri yang kadang berperilaku lucu atas apa yang disebut kenikmatan dan penderitaan. Kita gampang terlalu silau oleh gemerlapan dunia, sehingga kita lupa bahwa kita punya pikiran dan hati. Tapi hancur gara-gara menuruti nafsu. Ketika sudah hancur, baru sadar bahwa semua yang dilakukan hanya sebatas kenikmatan sementara.

Itu sebabnya, kita harus memahami tamsil kehidupan ini seperti hujan yang menumbuhkan pepohonan. Kita bisa melihat betapa bahagia nya saat anda atau kita berjalan-jalan melihat  hasil kerja keras kita; kebun yang ratusan hektar, perusahaan mulai dari kecil sampai yang besar, dan pangkat sampai pada tingkat paripurna. Namun semua akan dihembus oleh angin. Semua hancur dan bercerai-berai.

Kita harus merenung akan diri kita dan akan kemana perjalanan hidup kita. Tuhan tidak melarang membangun segala kenikmatan di dunia sampai puncak tertinggi. Sebab kenyataannya setiap manusia mempunyai perhiasan yang berbeda-beda ukurannya. Namun Tuhan mengajarkan bahwa perhiasan yang dibangun di dunia sebaiknya dipertahankan sampai di akherat nanti. Prestasi kita di dunia seharusnya bersambung untuk bisa mengantarkan prestasi yang lebih besar di akherat nanti. bagaimana caranya? Yaitu dengan senantiasa untuk beribadah, beramal dan berkarya semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah, sehingga semua ibadah dan karya kebaikan di desain dengan cara-cara perintah Allah. Jika ini yang dilakukan, maka karier kita dan seluruh asesoris yang menempel pada diri kita menjadi investasi di akherat.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895