Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Persoalan Rumah Makan dan Penjual Ta’jil di Pinggir Jalan



Senin , 03 Maret 2025



Telah dibaca :  775

Dulu, ujian orang berpuasa karena tidak ada makanan di pinggir-pinggir jalan. Saya ingat waktu kecil dulu, jika sudah jam 15.30 biasanya jalan-jalan di pinggir Rel Kereta Api. Duduk-duduk sambil melihat kereta api lewat. Jarak nya sekitar 30 menit jika jalan kaki. Nggolet maghrib. Lumayan jauh. Biasanya melewati perkebunan tetangga. Jika ada jambu biji atau mangga jatuh karena dimakan kampret (kelelawar), dicuci. Lalu di masukan dalam saku celana. Jadi sepanjang jalan menuju Rel Kereta Api, pikiran sudah seperti sniper dan memburu pohon-pohon buah milik tetangga.

Kapan makan nya? Setelah duduk-duduk di Rel Kereta Api, kami pulang sama-sama. Belum sampai di rumah sudah adzan. Kami pun mengambil buah yang ada di saku celana dan langsung dimakan (brakoti, istilah Jawa. Makan buah langsung di mulut tanpa dikupas lebih dulu).

Sekarang, kalau ada anak-anak seperti ku dulu, orang tua pasti marah. Dianggap tidak higeinis, brangsongan, nggragas, tidak pernah diajari hidup dengan pola makan “empat sehat lima sempurna” (dulu, jangan kan 5 sempurna, jangan 4 sehat, kalau ada 1 sehat saja sudah untung).

Tapi hebatnya, meskipun masih anak-anak, kami tidak berani “mokel” atau membatalkan puasa. Meskipun kadang terasas sangat lapar dan perut harus diganjal dengan batu. Dulu kata orang tua, jika lapar perut diganjal dengan batu jadi sembuh laparnya. Saya percaya saja waktu itu. Orang tua dulu ngomong tidak pake dalil, anak-anak nya nurut. Sekarang sudah kumplit dalilnya, malah kadang susah nurut. Ternyata ada yang lebih magis dari sebatas dalil, yaitu suri tauladan.

Sekarang semakin kesini, makanan semakin terlihat kesana banget. Semakin puasa kesini, tapi di sebelah sana banyak makanan. Bahkan di bulan ramadhan ini sudah mahfum jika ada istilah Pasar Kuliner Ta’jil. Sepanjang jalan, berjejer, terlihat guyup-rukun (entah hati apa guyup apa tidak, terkadang ada juga yang sebelah laris, sebelahnya main HP terus). Hampir semua kebutuhan berbuka puasa ada. mulai dari sayur-mayur, lauk-pauk, kueh sampai beragam es yang membuat kerongkongan bertambah kering.

Selain pasar kuliner ta’jil, ada juga rumah-rumah makan. Saya kadang keliling naik honda. Lihat-lihat warung makan. Ada pemilik yang menutup satu bulan penuh selama bulan ramadhan. Ada juga sebagian menggunakan kesempatan bulan ramadhan untuk mendapatkan keberuntungan. Tentu rumah makan atau warung-warung makan tidak seramai pada bulan-bulan biasa selain ramadhan.

Apakah ada persoalan? Tidak ada. Saya kira iman-iman orang Islam sudah hebat-hebat. mereka tidak terprovokasi oleh makanan yang ada di warung makan. Jika niatnya dari awal puasa, niscaya tetap menyelesaikan ibadah puasa. Tapi kalau dari awal niat puasanya seperti listrik 5 watt, jebol juga di tengah jalan. Semakin besar godaan, sebenarnya semakin baik juga untuk menguji imunitas keimanan kita. Kata nabi, keimanan dilihat dari kadar godaannya, semakin besar godaan semakin kuat berarti semakin hebat iman seseorang. Itu yang disebut jihadul akbar.

Saya melihat fenomena kuliner dadakan di bulan ramadhan merupakan bagian dari jiwa kemandirian masyarakat untuk memperoleh keberkahan rezeki dari hasil jerih payah sendiri. Anda yang pernah menjadi pedagang tentu sangat merasakan betapa nikmatnya bisa menghasilkan uang dari hasil jual-beli. Dan jual-beli merupakan bisnis yang telah dilakukan oleh para nabi selain mengembala kambing.

Sebagian orang yang mempunyai semangat keimanan dan amaliah tinggi mungkin agak sedikit risih melihat orang jual beli. Kalau bisa “off” sepanjang Ramadhan. Namun siapa yang bisa menanggung kebutuhan hidup mereka selama bulan ramadhan? Pemerintah Prabowo-Gibran? Gubernur? Walikota? Bupati? Anggota Dewan? Mereka sekarang memikirkan masalah masing-masing. Mereka tidak sempat memikirkan kebutuhan masyarakat berupa uang untuk beli beras, beli kueh, baju lebaran dan lain-lain. Siapa yang mampu menanggung kebutuhan masyarakat satu bulan dari sabang  sampai merauke? Wong makan gratis saja masih milih-milih sekolah. Belum semua sekolah. Itu realita bahwa masyarakat hari ini harus bisa mandiri dan mampu berdikari memenuhi kebutuhan dengan kerja keras dan halal.

Beberapa hari lalu saya tanya kepada para penjual ta’jil jika barang dagangannya tidak habis. Mereka menjawab sebagian di sedekahkan ke masjid-masjid dan mushola-mushola. Jadi, ada orientasi ibadah di sana. Tidak melulu bisnis. Hal-hal yang seperti ini jarang kita pikirkan. Sering kita memikirkan terlalu tekstual dan hanya satu dimensi semangat keagamaan tanpa memikiran maqasid-maqasid agama mereka dalam berbisnis. Bisa jadi menurut kita jelek, tapi menurut Allah baik. Atau sebaliknya. Kita memang hanya bisa melihat dari satu sudut pandang yang terkadang juga mempunyai intrepretasi yang masih bisa diperdebatkan. Apalagi ketika menyangkut persoalan kebutuhan hidup, jelas semakin luas interprestasinya.

Secara pribadi tentu saja harus tahu diri. Ngono ya ngono, nanging yo ojo ngono. Kalau makan di siang hari pada bulan ramadhan jangan sampai “ngedeng” atau mempertontonkan kepada orang lain. Agak sedikit punya rasa malu. Silahkan makan di tempat tertutup jika tidak bisa silahkan atur caranya agar tidak terkesan “Nantang Tuhan” bagi seorang muslim dan tidak terkesan “ngenyek” jika yang tidak puasa merupakan non-muslim. Mari kita sama-sama menjaga keagungan ramadhan dengan tetap beraktivitas mencari rezeki Allah dengan menjaga kehormatan bulan yang mulia ini dengan batas-batas kepantasan. Batas kepantasan ini pertimbangan antara lain nilai-nilai kebaikan yang dijunjung tinggi di daerah tersebut. Dalam hal ini saya kira sudah mahfum bersama-sama.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872