
Dulu, ujian orang berpuasa karena tidak ada
makanan di pinggir-pinggir jalan. Saya ingat waktu kecil dulu, jika sudah jam
15.30 biasanya jalan-jalan di pinggir Rel Kereta Api. Duduk-duduk sambil
melihat kereta api lewat. Jarak nya sekitar 30 menit jika jalan kaki. Nggolet
maghrib. Lumayan jauh. Biasanya melewati perkebunan tetangga. Jika ada jambu biji
atau mangga jatuh karena dimakan kampret (kelelawar), dicuci. Lalu di
masukan dalam saku celana. Jadi sepanjang jalan menuju Rel Kereta Api, pikiran
sudah seperti sniper dan memburu pohon-pohon buah milik tetangga.
Kapan makan nya? Setelah duduk-duduk di Rel
Kereta Api, kami pulang sama-sama. Belum sampai di rumah sudah adzan. Kami pun
mengambil buah yang ada di saku celana dan langsung dimakan (brakoti,
istilah Jawa. Makan buah langsung di mulut tanpa dikupas lebih dulu).
Sekarang, kalau ada anak-anak seperti ku
dulu, orang tua pasti marah. Dianggap tidak higeinis, brangsongan, nggragas,
tidak pernah diajari hidup dengan pola makan “empat sehat lima sempurna”
(dulu, jangan kan 5 sempurna, jangan 4 sehat, kalau ada 1 sehat saja sudah
untung).
Tapi hebatnya, meskipun masih anak-anak,
kami tidak berani “mokel” atau membatalkan puasa. Meskipun kadang
terasas sangat lapar dan perut harus diganjal dengan batu. Dulu kata orang tua,
jika lapar perut diganjal dengan batu jadi sembuh laparnya. Saya percaya saja
waktu itu. Orang tua dulu ngomong tidak pake dalil, anak-anak nya nurut. Sekarang
sudah kumplit dalilnya, malah kadang susah nurut. Ternyata ada yang lebih magis
dari sebatas dalil, yaitu suri tauladan.
Sekarang semakin kesini, makanan semakin
terlihat kesana banget. Semakin puasa kesini, tapi di sebelah sana banyak
makanan. Bahkan di bulan ramadhan ini sudah mahfum jika ada istilah Pasar
Kuliner Ta’jil. Sepanjang jalan, berjejer, terlihat guyup-rukun (entah hati apa
guyup apa tidak, terkadang ada juga yang sebelah laris, sebelahnya main HP
terus). Hampir semua kebutuhan berbuka puasa ada. mulai dari sayur-mayur,
lauk-pauk, kueh sampai beragam es yang membuat kerongkongan bertambah kering.
Selain pasar kuliner ta’jil, ada juga
rumah-rumah makan. Saya kadang keliling naik honda. Lihat-lihat warung makan. Ada
pemilik yang menutup satu bulan penuh selama bulan ramadhan. Ada juga sebagian
menggunakan kesempatan bulan ramadhan untuk mendapatkan keberuntungan. Tentu rumah
makan atau warung-warung makan tidak seramai pada bulan-bulan biasa selain ramadhan.
Apakah ada persoalan? Tidak ada. Saya kira
iman-iman orang Islam sudah hebat-hebat. mereka tidak terprovokasi oleh makanan
yang ada di warung makan. Jika niatnya dari awal puasa, niscaya tetap
menyelesaikan ibadah puasa. Tapi kalau dari awal niat puasanya seperti listrik 5
watt, jebol juga di tengah jalan. Semakin besar godaan, sebenarnya semakin baik
juga untuk menguji imunitas keimanan kita. Kata nabi, keimanan dilihat dari
kadar godaannya, semakin besar godaan semakin kuat berarti semakin hebat iman
seseorang. Itu yang disebut jihadul akbar.
Saya melihat fenomena kuliner dadakan di
bulan ramadhan merupakan bagian dari jiwa kemandirian masyarakat untuk
memperoleh keberkahan rezeki dari hasil jerih payah sendiri. Anda yang pernah
menjadi pedagang tentu sangat merasakan betapa nikmatnya bisa menghasilkan uang
dari hasil jual-beli. Dan jual-beli merupakan bisnis yang telah dilakukan oleh
para nabi selain mengembala kambing.
Sebagian orang yang mempunyai semangat
keimanan dan amaliah tinggi mungkin agak sedikit risih melihat orang jual beli.
Kalau bisa “off” sepanjang Ramadhan. Namun siapa yang bisa menanggung kebutuhan
hidup mereka selama bulan ramadhan? Pemerintah Prabowo-Gibran? Gubernur? Walikota?
Bupati? Anggota Dewan? Mereka sekarang memikirkan masalah masing-masing. Mereka
tidak sempat memikirkan kebutuhan masyarakat berupa uang untuk beli beras, beli
kueh, baju lebaran dan lain-lain. Siapa yang mampu menanggung kebutuhan
masyarakat satu bulan dari sabang sampai
merauke? Wong makan gratis saja masih milih-milih sekolah. Belum semua sekolah.
Itu realita bahwa masyarakat hari ini harus bisa mandiri dan mampu berdikari memenuhi
kebutuhan dengan kerja keras dan halal.
Beberapa hari lalu saya tanya kepada para
penjual ta’jil jika barang dagangannya tidak habis. Mereka menjawab sebagian di
sedekahkan ke masjid-masjid dan mushola-mushola. Jadi, ada orientasi ibadah di
sana. Tidak melulu bisnis. Hal-hal yang seperti ini jarang kita pikirkan. Sering
kita memikirkan terlalu tekstual dan hanya satu dimensi semangat keagamaan
tanpa memikiran maqasid-maqasid agama mereka dalam berbisnis. Bisa jadi
menurut kita jelek, tapi menurut Allah baik. Atau sebaliknya. Kita memang hanya
bisa melihat dari satu sudut pandang yang terkadang juga mempunyai intrepretasi
yang masih bisa diperdebatkan. Apalagi ketika menyangkut persoalan kebutuhan
hidup, jelas semakin luas interprestasinya.
Secara pribadi tentu saja harus tahu diri. Ngono
ya ngono, nanging yo ojo ngono. Kalau makan di siang hari pada bulan ramadhan
jangan sampai “ngedeng” atau mempertontonkan kepada orang lain. Agak
sedikit punya rasa malu. Silahkan makan di tempat tertutup jika tidak bisa
silahkan atur caranya agar tidak terkesan “Nantang Tuhan” bagi seorang muslim
dan tidak terkesan “ngenyek” jika yang tidak puasa merupakan non-muslim.
Mari kita sama-sama menjaga keagungan ramadhan dengan tetap beraktivitas
mencari rezeki Allah dengan menjaga kehormatan bulan yang mulia ini dengan
batas-batas kepantasan. Batas kepantasan ini pertimbangan antara lain
nilai-nilai kebaikan yang dijunjung tinggi di daerah tersebut. Dalam hal ini
saya kira sudah mahfum bersama-sama.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872