Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Personal Branding dari STAIN ke IAIN



Senin , 26 Mei 2025



Telah dibaca :  797

Hari ini kami bersama Asesor: Prof. Nurhidayah, Ph.D dari UIN Syarif Hidayatulah Jakarta dan Dr. Budi Prijanto dari Universitas Gunadarma. Sahabat-sahabat ku, ada Mas Jarir dan Mas Chanif, semua kajur serta prodi dan unit hadir. Kebetulan foto ini ada beberapa dosen-dosen muda yang hebat-hebat. Ada Pak Muhammad Al-Mansur, Pak Rino Riyaldi, dan Firdaus. Di pundak mereka dan teman-temannya, transformasi STAIN Bengkalis menjadi IAIN Datuk Laksemana, ada tanggungjawab yang sangat besar. Tanggungjawab terhadap cita-cita para pendahulunya, dan tanggungjawab terhadap masa depan institusinya. Mereka mempunyai tugas untuk membangun personal branding dan institusi branding agar bisa memberkahi alam semesta dengan  nilai-nilai cinta kepada seluruh umat manusia.

Makna personal branding berkaitan dengan kualitas diri seseorang baik intelektual, sikap, dan perbuatan serta cara pandang hidup nya. Tugas-tugas sebagai seorang intelektual, dosen harus belajar untuk mengenal diri sebagai garda terdepan dalam membumikan nilai-nilai intelektual dalam kehidupan sehari-hari. Ia benar-benar laksana "perpustakaan berjalan" dalam menjawab berbagai persoalan.

Pada tataran intelektual, dosen harus mengembangkan diri kualitas diri pada semangat untuk selalu menambah ilmu pengetahuan, keahlian, dan adanya keterbukaan untuk terus belajar. Semakin tinggi kualitas semangat belajar seseorang, maka semakin muncul saripati kebaikan-kebaikan berupa ruh-ruh hikmah. Ia tidak hanya mampu melahirkan alumni, juga mampu meneruskan estafet intelektual yang hidup dan membumi. Maka ketika para dosen mempunyai kedalaman tinggi pada intelektualnya akan melahirkan penerus-penerus yang kemudian hari juga menjadi intelektual. Sehingga terjadi kesinambungan intelektual tetap hidup di perguruan tinggi.

Pada tataran sikap dan perbuatan, seorang ilmuwan senantiasa menjaga diri terhadap keselarasan antara ucapan dan perbuatan. Pada titik ini merupakan suatu kesulitan yang sangat besar untuk merealisasikan kesingkronan antara ucapan dan perbuatan serta kesingkronan ilmu pengetahuan yang ada pada diri seseorang. Wajar, jika sebagian para pembawa obor ilmu pengetahuan telah memadamkan cahaya tersebut oleh sikap dan perbuatan yang tidak terpuji. Hal yang sangat disayangkan. Semoga kita terhindar dari hal-hal tersebut.

Pada tataran cara pandang hidup, seorang dosen harus mempunyai jiwa dan pikiran yang “mendep” laksana seperti air laut yang maha luas. Semakin dalam air laut, maka gelombang terlihat tenang. Dari kedalaman tersebut terdapat kekayaan yang sangat memberi manfaat kepada umat manusia dan alam semesta.

Seorang dosen memang harus sudah selesai dengan dirinya sendiri. Idealnya begitu. Penempaan diri pada tradisi keilmuan setiap hari. Ia terlibat pada beragam kajian dan beragam ajaran-ajaran kehidupan. Penyerapan nilai-nilai tersebut tidak hanya pada aspek intelektual, tapi juga “pengendapan” nilai-nilai positif pada pikiran dan hati. Sehingga ia mampu melihat segala fenomena hidup dengan pandangan yang bijaksana, senang, tenang dan solutif.

Pandangan sederhana personal branding tersebut sebenarnya tetesan pengamalan dari ajaran Islam yaitu akhlak al-karimah. Pada wilayah ini, penekanan perubahan pribadi seorang dosen selain ditekankan pada kualitas ilmu pengetahuan dan penelitian, sikap, perbuatan, dan cara pandang hidup, juga keyakinan yang mendalam terhadap ajaran-ajaran Islam sebagai puncak kebenaran. Itu sebabnya muara pada personal branding mengacu kepada perbaikan moralitas yang agung pada masing-masing pribadi dosen.

Berkahnya dari personal branding yaitu meningkatnya institusi branding. Ungkapan hadist Nabi “rumah ku adalah surga ku”, merupakan efek dari keberhasilan dari setiap individu yang berkualitas dan berdampak meluas kepada orang disekitarnya. Tanpa adanya kualitas individual, maka institusi branding akan melambat.

Beberapa contoh perguruan tinggi yang telah mapan personal branding seperti mahasiswa Al-Azhar Mesir. Ia mampu melahirkan para ilmuwan dan ulama. Ada perguruan tinggi umum melahirkan personal branding pada bidang teknologi di perguruan tinggi Indonesia cukup banyak melahirkan ahli-ahli teknologi. Ada personal branding dari lembaga-lembaga agama seperti pesantren-pesantren tradisional yang melahirkan puluhan ribu ulama dan para pendakwah seperti Gus Qayum dan Gus Baha.

Walhasil, personal branding merupakan kebutuhan mendasar sebagai perambah jalan fastabiqul khairat pada lembaga-lembaga pendidikan sebagai penyelamat peradaban manusia. Lembaga-lembaga tersebut harus bisa menjadi madu yang memberi kesehatan internal dan juga eksternal. Itu yang disebut dengan lembaga sebagai penebar rahmat kepada seluruh umat manusia.

Tentu saja ujian cukup besar terjadi nya transformasi dari STAIN Bengkalis menuju IAIN Datuk Laksemana. Masih banyak sekali keterbatasan. Kadang juga harus menggunakan pola “alon-alon asal kelakon”. Itu bukan sifat apatis dan masa bodoh atau pemalas, tetapi konsistensi terhadap perubahan secara terus-menerus penuh dengan perhitungan sehingga tidak menimbulkan gejolak yang tidak diinginkan. Sebab di dalamnya banyak beragam faktor SDM yang telah membantu mewujudkan perubahan tersebut.

Perubahan bisa juga menggunakan istilah reformasi, evolusi atau evolusi dipercepat. Mungkin istilah tersebut lebih terkesan modern dan mengena pada sistem institusi. Tapi ia terkesan kering pada nilai-nilai spiritualnya. Akibatnya bisa jadi perubahan tidak menyelesaikan masalah, malah justru menimbulkan masalah baru. Sebab perubahan yang diharapkan pada perguruan tinggi yaitu perubahan setiap individu pada lahir dan batin nya, bukan sebatas intelektual dan keahliannya.

Lagi-lagi pada perubahan tersebut seorang dosen dan kita semua harus terus belajar memperbaiki diri. Semakin baik memperbaiki diri, maka kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) semakin baik. Dan itu harus dimulai dari sekarang. Sebab kehidupan hakikatnya sekarang ini



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872