
Beberapa waktu lalu saat memasuki
masa tenang, para petugas bawaslu melakukan bersih-bersih gambar calon legislatif
dan eksekutif. Pas saat jalan-jalan di pagi hari, istriku melihat mereka
melaksanakan tugasnya. Istriku bertanya tentang harga baleho para calon
pemimpin dan wakil rakyat, saya bilang” Satu baleho besar, kayu dan upah
pemasangannya sekitar 1 sampai 2 juta”. Istriku kaget. “Mending untuk beli
beras, 1 juta bisa untuk 6 bulan” katanya bergurau. Jika saya tambah lagi
cerita baleho, satu kabupaten ada 30 titik dengan ukuran sama, berarti sudah 60
juta. Jika memasang jumlah sama di 6 kabupaten, maka sudah menghabiskan satu
jenis baleho sebanyak 360 juta. Istriku pasti terbengong-bengong, sambil
berkhayal ingin beli mobil fortuner atau pejero sport jika mempunyai duit
sebanyak itu.
Matematika sosial politik memang
berbeda dengan matematika ibu-ibu rumah tangga. Bagi orang yang sudah
berkeluarga dan tidak pernah bersentuhan dengan politik praktis, berfikirnya
malah kadang lebih praktis. Suami bekerja, dapat duit Rp. 100.000,00 satu hari.
Maka sudah ada perinciaanya, dia bekerja dia dapat duit dia juga jadi akuntan. Duit
sebanyak itu untuk apa? Rp.15.000,00 untuk sarapan di pelabuhan, Rp.15.000,00
untuk jajan anak, Rp. 50.000,00 untuk istri, dan Rp.20.000,00 untuk cadangan kebutuhan
mendadak dan ditaruh di dompet lusuh atau peci warna hitam.
Orang-orang yang terjun dalam
politik praktis malah sering tidak berfikir secara praktis. Mereka kadang
bingung menentukan calon dan nomor urut. Bahkan saking tidak praktisnya, hanya
gara-gara nomor urut legislatif harus menghabiskan mingguan bahkan bulanan. Itupun,
penomoran caleg bisa berubah pada last minut pada penetapan DPT (Daftar
Peserta Tetap). Nomor urut menjadi terlihat sakral. Bahkan nomor urut
seolah-olah menjadi simbol stratifikasi sosial. Semakin tinggi nomor urut,
semakin menunjukan tingginya status sosial, pemilik modal dan peluang menang. Padahal
belum tentu. Banyak juga nomor urut bagus, nasibnya sial. Anggota legislatif katakana
jumlah nya cuma lima, diperebutkan 25 orang. Berarti ada 20 yang masuk kotak. Dari
jumlah 20 itu, ada nomor urut pertama dan buncit. Begitu 5 orang yang jadi
anggota DPRD, ada nomor baik ada juga nomor paling buncit.
Orang-orang yang terjun dalam
politik praktis itu bermacam-macam; ada pragmatis, oportunis dan idealis. Kita tidak
bisa memukul secara rata bahwa mereka hanya sebatas orang-orang pragmatis dan
oportunis. Tidak bisa meng-general seperti itu. Penulis melihat beberapa orang
baik kepadaku. Mereka masuk calon anggota dewan benar-benar mempunyai
integritas dan intelektualitas yang sangat baik. penilaianku tentu berdasarkan
dari seberapa lama kami telah berkumpul dan telah terekam track record
nya. Mereka sudah berfikir lagi pada persoalan penumpukan kekayaan, tapi sudah
masuk pada level “anfa’ahum linnas”. Saya melihat mereka telah selesai
dengan dirinya sendiri, lalu dia pun melangkah lebih luas agar memberi kemanfaatan
kepada orang lain, bangsa, negara dan agama.
Memang di era demokrasi, banyak para
caleg yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Mereka masuk caleg bukan
dengan gagasan yang membumi, tapi semata-mata ingin merubah nasib dirinya
sendiri, terutama kemakmuran dunia dan kewibawaan di masyarakat. Akibatnya ketika
mereka jadi, tapi akal pikiran dan hati belum beres, maka sering terjadi yang
kita lihat sekarang ini yaitu para pejabat publik yang tidak bisa menjadi
pejabat publik. Dia masih terlalu tinggi keakuaannya, terlalu egois atas
kekuasaannya, sehingga sudah lagi memperdulikan perbuatan-perbuatan yang justru
merendahkan dirinya sendiri.
Kini mereka telah melalui proses
panjang. Hari ini adalah hasil dari proses tersebut. Pasti ada wajah-wajah
bahagia dan sedih. Itu manusiawi. Mereka telah berijtihad yang terbaik menurut
mereka. Begitu juga pemilihnya. Tapi lagi-lagi, orang beriman harus menyakini
bahwa Allah mempunyai otoritas absolut untuk menentukan mana yang pantas
untuk menjadi pemimpin dengan segala rahasia yang kita tidak tahu saat ini,
tapi akan dibuka di masa mendatang. Rahasia atau hikmah bisa berupa kebaikan
dan keburukan. Tapi bagi Allah sebenarnya semua baik, karena memang Allah
menciptakan surga dan neraka sebenarnya untuk kebaikan manusia. Pada tataran
ini, presepsi dan cara mengambil sisi pelajaran tersebut menjadi sangat
menentukan arti dari hikmah yang diberikan oleh-Nya.
Kebagiaan sang pemenang belum tentu
suatu keberkahan. Tangisan yang belum menang belum tentu suatu musibah. Tapi,
takdir Allah pasti yang terbaik bagi kita semuanya. Maka, berlapang dada
menjalankan proses serta menerima proses keputusan tersebut merupakan bagian
dari kemenangan yang sering dilupakan oleh para konstestan. Maka, belajar
menerima takdir dari setiap proses keputusan pesta demokrasi, adalah proses
kematangan berpolitik dan kematangan tauhid kepada-Nya.
Ya Allah, limpahkan kepada kami para
pemimpin yang membawa bumi Indonesia semakin berkah dan mendapatkan limpahan
rahmat-Mu.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876