Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pesta Demokrasi, Pilpres dan Takdir



Rabu , 14 Februari 2024



Telah dibaca :  534

Beberapa waktu lalu saat memasuki masa tenang, para petugas bawaslu melakukan bersih-bersih gambar calon legislatif dan eksekutif. Pas saat jalan-jalan di pagi hari, istriku melihat mereka melaksanakan tugasnya. Istriku bertanya tentang harga baleho para calon pemimpin dan wakil rakyat, saya bilang” Satu baleho besar, kayu dan upah pemasangannya sekitar 1 sampai 2 juta”. Istriku kaget. “Mending untuk beli beras, 1 juta bisa untuk 6 bulan” katanya bergurau. Jika saya tambah lagi cerita baleho, satu kabupaten ada 30 titik dengan ukuran sama, berarti sudah 60 juta. Jika memasang jumlah sama di 6 kabupaten, maka sudah menghabiskan satu jenis baleho sebanyak 360 juta. Istriku pasti terbengong-bengong, sambil berkhayal ingin beli mobil fortuner atau pejero sport jika mempunyai duit sebanyak itu.

Matematika sosial politik memang berbeda dengan matematika ibu-ibu rumah tangga. Bagi orang yang sudah berkeluarga dan tidak pernah bersentuhan dengan politik praktis, berfikirnya malah kadang lebih praktis. Suami bekerja, dapat duit Rp. 100.000,00 satu hari. Maka sudah ada perinciaanya, dia bekerja dia dapat duit dia juga jadi akuntan. Duit sebanyak itu untuk apa? Rp.15.000,00 untuk sarapan di pelabuhan, Rp.15.000,00 untuk jajan anak, Rp. 50.000,00 untuk istri, dan Rp.20.000,00 untuk cadangan kebutuhan mendadak dan ditaruh di dompet lusuh atau peci warna hitam.

Orang-orang yang terjun dalam politik praktis malah sering tidak berfikir secara praktis. Mereka kadang bingung menentukan calon dan nomor urut. Bahkan saking tidak praktisnya, hanya gara-gara nomor urut legislatif harus menghabiskan mingguan bahkan bulanan. Itupun, penomoran caleg bisa berubah pada last minut pada penetapan DPT (Daftar Peserta Tetap). Nomor urut menjadi terlihat sakral. Bahkan nomor urut seolah-olah menjadi simbol stratifikasi sosial. Semakin tinggi nomor urut, semakin menunjukan tingginya status sosial, pemilik modal dan peluang menang. Padahal belum tentu. Banyak juga nomor urut bagus, nasibnya sial. Anggota legislatif katakana jumlah nya cuma lima, diperebutkan 25 orang. Berarti ada 20 yang masuk kotak. Dari jumlah 20 itu, ada nomor urut pertama dan buncit. Begitu 5 orang yang jadi anggota DPRD, ada nomor baik ada juga nomor paling buncit.

Orang-orang yang terjun dalam politik praktis itu bermacam-macam; ada pragmatis, oportunis dan idealis. Kita tidak bisa memukul secara rata bahwa mereka hanya sebatas orang-orang pragmatis dan oportunis. Tidak bisa meng-general seperti itu. Penulis melihat beberapa orang baik kepadaku. Mereka masuk calon anggota dewan benar-benar mempunyai integritas dan intelektualitas yang sangat baik. penilaianku tentu berdasarkan dari seberapa lama kami telah berkumpul dan telah terekam track record nya. Mereka sudah berfikir lagi pada persoalan penumpukan kekayaan, tapi sudah masuk pada level “anfa’ahum linnas”. Saya melihat mereka telah selesai dengan dirinya sendiri, lalu dia pun melangkah lebih luas agar memberi kemanfaatan kepada orang lain, bangsa, negara dan agama.

Memang di era demokrasi, banyak para caleg yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Mereka masuk caleg bukan dengan gagasan yang membumi, tapi semata-mata ingin merubah nasib dirinya sendiri, terutama kemakmuran dunia dan kewibawaan di masyarakat. Akibatnya ketika mereka jadi, tapi akal pikiran dan hati belum beres, maka sering terjadi yang kita lihat sekarang ini yaitu para pejabat publik yang tidak bisa menjadi pejabat publik. Dia masih terlalu tinggi keakuaannya, terlalu egois atas kekuasaannya, sehingga sudah lagi memperdulikan perbuatan-perbuatan yang justru merendahkan dirinya sendiri.

Kini mereka telah melalui proses panjang. Hari ini adalah hasil dari proses tersebut. Pasti ada wajah-wajah bahagia dan sedih. Itu manusiawi. Mereka telah berijtihad yang terbaik menurut mereka. Begitu juga pemilihnya. Tapi lagi-lagi, orang beriman harus menyakini bahwa Allah mempunyai otoritas absolut untuk menentukan mana yang pantas untuk menjadi pemimpin dengan segala rahasia yang kita tidak tahu saat ini, tapi akan dibuka di masa mendatang. Rahasia atau hikmah bisa berupa kebaikan dan keburukan. Tapi bagi Allah sebenarnya semua baik, karena memang Allah menciptakan surga dan neraka sebenarnya untuk kebaikan manusia. Pada tataran ini, presepsi dan cara mengambil sisi pelajaran tersebut menjadi sangat menentukan arti dari hikmah yang diberikan oleh-Nya.

Kebagiaan sang pemenang belum tentu suatu keberkahan. Tangisan yang belum menang belum tentu suatu musibah. Tapi, takdir Allah pasti yang terbaik bagi kita semuanya. Maka, berlapang dada menjalankan proses serta menerima proses keputusan tersebut merupakan bagian dari kemenangan yang sering dilupakan oleh para konstestan. Maka, belajar menerima takdir dari setiap proses keputusan pesta demokrasi, adalah proses kematangan berpolitik dan kematangan tauhid kepada-Nya.

Ya Allah, limpahkan kepada kami para pemimpin yang membawa bumi Indonesia semakin berkah dan mendapatkan limpahan rahmat-Mu.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876