
Hari ini (Rabu, 24 April 2024) Prabowo
menyampaikan pidato perdana pasca penetapan sebagai presiden terpilih oleh KPU
RI. Sebelumnya saya menduga-duga pidatonya seperti hari-hari sebelumnya yang
kurang tertata dan terlihat emosional. Namun kali ini dugaan saya meleset. Pidatonya
cukup tersusun rapi, runtut meskipun ada beberapa bagian yang tidak begitu
tersusun secara sistematis. Tapi secara umum pidatonya sudah cukup baik dan
untuk sementara ini ia mampu mematahkan citra sebagai seseorang yang emosional
sebagaimana pada pemilu-pemilu sebelumnya.
Penampilan Prabowo yang tenang dan mampu
menyampaikan pidato perdana cukup memberi apresiasi positif bagi sebagian
pendukungnya. Semua ini tidak terlepas dari kedekatan dia dengan Jokowi dan
konsultan politiknya tentang pentingnya perubahan citra pribadinya sebagai
presiden yang secara terang-terangan akan meneruskan program-program yang telah
dilaksanakan oleh pasangan Jokowi-Ma’ruf. Tentu saja perubahan kesantunan dan
ketenangan pada pidato pertama belum tentu akan mencerminkan perubahan secara
total, tapi paling tidak Prabowo benar-benar ini merubah diri sendiri menjadi
orang yang lebih baik. sebab suatu cita-cita besar visi-misi nya juga harus
didukung pada kemampuan diri dalam menghadapi persoalan-persoalan yang
membutuhkan jiwa dan pikiran yang tenang serta hati yang lapang dada.
Penulis telah mencatat beberapa point
penting pada pidato perdanya, yaitu: pertama, Prabowo mengakui bahwa pesta
demokrasi pilpres 2024 penuh dinamika yang terkadang terjadi gesekan yang
sangat tajam. Menurutnya, proses tersebut merupakan jalan bagi masyarakat untuk
mengetahui dan menjadi referensi program-program capres-cawapres yang ditawarkan
kepada masyarakat. itu sebab, perdebatan hal yang sangat sulit dihindari,
bahkan terkadang naluri dan dasar-dasar nafsu manusia yang baik dan tidak baik
pun keluar dalam merespon berbagai persoalan. Semua itu tentu harus diakhiri
ketika kontestasi berakhir. Kedua, Prabowo mengatakan bahwa terpilih pasangan
Prabowo-Gibran merupakan kemenangan bersama. Salah satu kata kunci setiap
pidato, ia sering mengatakan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut ia akan
merangkul seluruh komponen untuk mencapai cita-cita besar nya. Salah satu
bentuk keseriusan dia mengajak semua komponen untuk sama-sama mewujudkan
cita-citanya. Tentu saja memang tidak semua bisa masuk pada sistem
pemerintahannya, pasti ada oposisi yang mempunyai tugas mengontrol jalanya
pemerintahan Prabowo-Gibran. Kedua kutub yang berbeda ini adalah komponen yang
harus ada dalam sistem pemerintah yang sehat dan menjalankan tugas nya
masing-masing. Ketiga, Prabowo mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak
antara lain kepada pasangan Anies-Muhaimain dan Ganjar-Mahfud, aparat keamanan,
penyelanggara pemilu dan seluruh yang terkait dengan pemilu termasuk partai
politik. ucapan terima kasih yang cukup menarik bagi penulis saat Prabowo
menyebut presiden Joko Widodo. Dari sini, penulis melihat bahwa sosok Prabowo
benar-benar sedang mempraktekan ilmu “mikul duwur mendem jero”. Bagi Prabowo,
Jokowi selain sebagai presiden juga sebagai mentor politiknya yang mampu
mengantarkan dirinya sebagai presiden. Tentu fakta ini tidak bisa dilupakan
oleh Prabowo. Realita sejarah, sudah beberapa kali dia mengikuti kontestasi pilpres
selalu kalah oleh pesaingnya. Namun saat dia bersama Jokowi, cita-cita menjadi
kepala negara bisa diwujudkan. Wajar, jika ucapan terima kasih kepadanya hal
yang sangat spesialis sekali pada pidato perdananya. Keempat, Prabowo
mengungkapkan tekad yang kuat saat memimpin nanti yaitu mewujudkan masyarakat
adil dan makmur sebagaimana yang diamanahkan dalam UUD 1945. Cita-cita yang
masih bersifat “glondongan” dan perlu didiskripsikan secara jelas dalam
rangka mengurai persoalan-persoalan yang mendasar terjadi pada masyarakat Indonesia
seperti kemiskinan, pengangguran, rendahnya pendidikan, kenakalan remaja, dan
persoalan health mental (kesehatan mental) yang terus meningkat di
kalangan penduduk produktif.
Pidato perdana Prabowo memang penuh makna. Ia
bukan sebatas “pepesan kosong”, ia adalah gambaran grand desain
masa depan Indonesia dalam menghadapi Indonesia emas 1945. Tentu saja
mewujudkan suatu cita-cita besarnya tidak seperti membalik telapak tangan. Di
belakang pasangan Prabowo-Gibran ada presiden dan mantan presiden; Jokowi dan SBY.
Modal sosial yang besar ini sangat bagi tim transisi Prabowo-Gibran menyusun kabinet
solid dan kerangka kerja jelas lima tahun ke depan.
Namun kadang-kadang pikiran nakal saya pun
muncul, jangan-jangan pemerintahan Prabowo-Gibran hanya berjalan tiga tahun
yang berjalan secara efektif, dan sisanya masing-masing sibuk lagi persoalan
pilpres. Sehingga sisa dua tahun sudah tidak produktif lagi, dan sibuk saling”sikut-sikutan”
tak kunjung selesai. Semoga saja ini tidak terjadi pada pasangan Prabowo-Gibran.
Sebagai penutup saya mengucapkan selamat
atas penetapan pasangan Prabowo-Gibran sebagai presiden-wakil presiden 2024-2029
oleh KPU. Semoga amanah dan membawa perubahan bangsa dan negara Indonesia semakin
lebih baik lagi.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876