
Jam 07.17 saya menulis artikel dengan judul
“pilihan dan takdir tuhan”. Saya tidak menulis kalimat yang provokatif seperti
“jangan kau gadaikan daerahmu gara-gara serangan fajar”, atau begini”pilihlah yang track record nya
bersih” dan sejenisnya. Dalam era demokrasi saya benar-benar kesulitan melihat
indikator-indikator kebaikan dari setiap kontestan. Saya tidak bisa melihat
secara jernih kebaikan semua kontestan melakukan aksi sosial gratis, pengobatan
gratis, pasar gratis dan operasional maha besar biaya nya benar-benar tulus ikhlas
sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Saya benar-benar tidak bisa melihat
semua itu. Karenanya, saya pun harus mengambil posisi hati untuk ber-husnudzon
bahwa “semua kontestan” adalah orang-orang terpilih dan terbaik. Tidak ada
orang sebaik mereka pada musim pilkada saat sekarang ini. Tidak ada konglomerat
sekalipun yang berani buat acara semeriah seperti mereka.
Para calon kepala daerah bukan malaikat
yang bebas dari dosa. Calon kepala daerah juga bukan agen sosial yang kelebihan
duit lalu jalan kesana kemari mengeluarkan biaya, menyapa dengan senyum setiap
orang yang lewat, dan dokumentasi tertata dengan baik tangan-tangan mereka
membagi sekadar bantuan berupa kebutuhan pokok dan uang ala kadar nya.
Para calon kepala daerah harus mempunyai
modal untuk bisa membentuk tim dan menyapa para konstituen atau masyarakat
bawah yang sering diidentikan sebagai kelompok yang akan “dientaskan”
kemiskinannya. Padahal kadang para konstestan tidak menyadari terkadang mereka
jauh lebih miskin daripada masyarakat yang dibantunya.
Saya dan juga anda yang kadang mulut dan
tulisannya mencaci maki tim lain terkadang tidak menyadari seperti sedang
“menepuk air di baskom yang air nya menciprat diri sendiri”. Seperti kata
pepatah “semut di kejauhan nampak, gajah dipelupuk mata tidak nampak”. Jika
kita sebagai pendukung “gratisan” mungkin tidak melihat semua itu. Jika anda
pendukung murni tidak akan melihat betapa kompleknya persoalan politik di
internal mereka. Saya dan anda mungkin hanya melihat lapisan paling luar
seperti melihat “rembulan dari bumi”, terlihat halus dan mempesona. Politik
tidaklah demikian. Ada kamus wajib yang tidak boleh dilupakan oleh para
kontestan yaitu “market branding”. Seperti iklan rokok antara iklan dan rokok
nya tidak nyambung sama sekali dengan yang sedang diiklankan. Tapi alam bawah
sadar kita sudah kena. Kita akan membeli rokok bukan semata-mata rasanya, tapi
karena branding rokok yang menyebabkan kita tertarik untuk membelinya. Rasa lahir
karena korban branding yang terus-menerus dijejali oleh promosi yang setiap
detik muncul di media-media.
Politik bukan haram dan halal atau sholeh
dan salah. Jago kita halal, jago lain haram. Jago kita sholeh, jago lain salah.
Semua teori politik “baik”, karena memang makna politik itu baik yaitu
peradaban. Baik kamus Yunani, latin ataupun Arab. Meskipun terkadan dinisbatkan
pada Angkatan perang seperti kata “siyasah” dalam mata kuliah fiqh siyasah.
Jika dua kata diambil: satu politik punya arti peradaban. Satu lagi politik
punya arti Angkatan Perang. Maka kesimpulannya sederhanya yaitu untuk mencapai
peradaban harus melalui pintu perang. Jadi negara-negara yang melakukan
peperangan hingga kini bukan sedang membunuh manusia, tapi sedang menghancurkan
peradaban yang dianggap jelek menuju peradaban yang dianggap baik di masa
depan. Itu sebabnya sifat politik subyektif. Beragam tafsir.
Kenapa Aisyah menyerang Ali Bin Abi Thalib yang
dikenal dalam perang jamal. Ribuan orang meninggal dunia dalam perang tersebut.
apakah kita meragukan kebaikan dua orang tersebut? tidak. Tidak sama sekali.
ini adalah persoalan prinsip yang berbeda. Ada prinsip-prinsip pemerintahan
yang belum ada titik temu yang menyebabkan mertua dan mantu terlibat dalam
peperangan.
Kenapa Muawiyah menyerang Ali bin Abi
Thalib yang keduanya adalah penulis wahyu Al-Qur’an. Kedua nya adalah sahabat
nabi yang sangat dicintai karena jasa-jasanya. Lagi-lagi, kontestasi politik
bukan persoalan linearitas seperti 1+1=2.
Laksana seluruh tinta untuk menulisnya akan kering.
Ada kamus sendiri yang ilmu pengetahuan
tidak mampu menjangkau menterjemahkan denyut nadi dari segala dinamika yang
bergerak di sum-sum paling dalam pada aliran-aliran netron dan proton
politik. Saya dan anda hanya bisa melihat kulit dan pori-porinya dengan warna
yang beragam. Itupun masih bisa dikamulfase dengan program “peng-glowing-an”
yang semakin canggih saat sekarang ini.
Walhasil karena kita sama-sama baru melihat
kulit dari pesta demokrasi, kiranya kita tidak perlu terlalu dalam membahas “isi
hati” dari setiap calon dengan terlalu serius memposisikan terbaik dan yang
lain sebagai sumber masalah. Mari kita laksanakan pesta demokrasi terbaik
menurut masing-masing kontestan. Bagaimana pun kita sebagai orang yang
mempercayai akan qadha dan qadhar harus menerima keputusan hasil akhir dari
proses pemilihan saat sekarang ini. Tentu saja karena demokrasi, maka proses
harus terus dikawal sebagai wujud kepedulian ikhtiar kita untuk mencari
pemimpin terbaik dari yang ada. Jika hasil akhir sudah ada dan terpilih seorang
pemimpin, maka itulah takdir Tuhan terbaik. Bagi yang terpilih untuk mewujudkan
program-programnya, bagi yang tidak terpilih karena ia telah mengorbankan segala
sesuatu kebaikan. Saya kira niat kita jauh lebih baik dari pada hasil akhir
dari pilkada. Jika hasil belum memuaskan, setidaknya telah mempersembahkan niat
terbaik di sisi Allah SWT.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872