Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Pilihan dan Takdir Tuhan



Rabu , 27 November 2024



Telah dibaca :  523

Jam 07.17 saya menulis artikel dengan judul “pilihan dan takdir tuhan”. Saya tidak menulis kalimat yang provokatif seperti “jangan kau gadaikan daerahmu gara-gara serangan fajar”,  atau begini”pilihlah yang track record nya bersih” dan sejenisnya. Dalam era demokrasi saya benar-benar kesulitan melihat indikator-indikator kebaikan dari setiap kontestan. Saya tidak bisa melihat secara jernih kebaikan semua kontestan melakukan aksi sosial gratis, pengobatan gratis, pasar gratis dan operasional maha besar biaya nya benar-benar tulus ikhlas sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat. Saya benar-benar tidak bisa melihat semua itu. Karenanya, saya pun harus mengambil posisi hati untuk ber-husnudzon bahwa “semua kontestan” adalah orang-orang terpilih dan terbaik. Tidak ada orang sebaik mereka pada musim pilkada saat sekarang ini. Tidak ada konglomerat sekalipun yang berani buat acara semeriah seperti mereka.

Para calon kepala daerah bukan malaikat yang bebas dari dosa. Calon kepala daerah juga bukan agen sosial yang kelebihan duit lalu jalan kesana kemari mengeluarkan biaya, menyapa dengan senyum setiap orang yang lewat, dan dokumentasi tertata dengan baik tangan-tangan mereka membagi sekadar bantuan berupa kebutuhan pokok dan uang ala kadar nya.

Para calon kepala daerah harus mempunyai modal untuk bisa membentuk tim dan menyapa para konstituen atau masyarakat bawah yang sering diidentikan sebagai kelompok yang akan “dientaskan” kemiskinannya. Padahal kadang para konstestan tidak menyadari terkadang mereka jauh lebih miskin daripada masyarakat yang dibantunya.

Saya dan juga anda yang kadang mulut dan tulisannya mencaci maki tim lain terkadang tidak menyadari seperti sedang “menepuk air di baskom yang air nya menciprat diri sendiri”. Seperti kata pepatah “semut di kejauhan nampak, gajah dipelupuk mata tidak nampak”. Jika kita sebagai pendukung “gratisan” mungkin tidak melihat semua itu. Jika anda pendukung murni tidak akan melihat betapa kompleknya persoalan politik di internal mereka. Saya dan anda mungkin hanya melihat lapisan paling luar seperti melihat “rembulan dari bumi”, terlihat halus dan mempesona. Politik tidaklah demikian. Ada kamus wajib yang tidak boleh dilupakan oleh para kontestan yaitu “market branding”. Seperti iklan rokok antara iklan dan rokok nya tidak nyambung sama sekali dengan yang sedang diiklankan. Tapi alam bawah sadar kita sudah kena. Kita akan membeli rokok bukan semata-mata rasanya, tapi karena branding rokok yang menyebabkan kita tertarik untuk membelinya. Rasa lahir karena korban branding yang terus-menerus dijejali oleh promosi yang setiap detik muncul di media-media.

Politik bukan haram dan halal atau sholeh dan salah. Jago kita halal, jago lain haram. Jago kita sholeh, jago lain salah. Semua teori politik “baik”, karena memang makna politik itu baik yaitu peradaban. Baik kamus Yunani, latin ataupun Arab. Meskipun terkadan dinisbatkan pada Angkatan perang seperti kata “siyasah” dalam mata kuliah fiqh siyasah. Jika dua kata diambil: satu politik punya arti peradaban. Satu lagi politik punya arti Angkatan Perang. Maka kesimpulannya sederhanya yaitu untuk mencapai peradaban harus melalui pintu perang. Jadi negara-negara yang melakukan peperangan hingga kini bukan sedang membunuh manusia, tapi sedang menghancurkan peradaban yang dianggap jelek menuju peradaban yang dianggap baik di masa depan. Itu sebabnya sifat politik subyektif. Beragam tafsir.

Kenapa Aisyah menyerang Ali Bin Abi Thalib yang dikenal dalam perang jamal. Ribuan orang meninggal dunia dalam perang tersebut. apakah kita meragukan kebaikan dua orang tersebut? tidak. Tidak sama sekali. ini adalah persoalan prinsip yang berbeda. Ada prinsip-prinsip pemerintahan yang belum ada titik temu yang menyebabkan mertua dan mantu terlibat dalam peperangan.

Kenapa Muawiyah menyerang Ali bin Abi Thalib yang keduanya adalah penulis wahyu Al-Qur’an. Kedua nya adalah sahabat nabi yang sangat dicintai karena jasa-jasanya. Lagi-lagi, kontestasi politik bukan persoalan linearitas seperti 1+1=2.  Laksana seluruh tinta untuk menulisnya akan kering.

Ada kamus sendiri yang ilmu pengetahuan tidak mampu menjangkau menterjemahkan denyut nadi dari segala dinamika yang bergerak di sum-sum paling dalam pada aliran-aliran netron dan proton politik. Saya dan anda hanya bisa melihat kulit dan pori-porinya dengan warna yang beragam. Itupun masih bisa dikamulfase dengan program “peng-glowing-an” yang semakin canggih saat sekarang ini.

Walhasil karena kita sama-sama baru melihat kulit dari pesta demokrasi, kiranya kita tidak perlu terlalu dalam membahas “isi hati” dari setiap calon dengan terlalu serius memposisikan terbaik dan yang lain sebagai sumber masalah. Mari kita laksanakan pesta demokrasi terbaik menurut masing-masing kontestan. Bagaimana pun kita sebagai orang yang mempercayai akan qadha dan qadhar harus menerima keputusan hasil akhir dari proses pemilihan saat sekarang ini. Tentu saja karena demokrasi, maka proses harus terus dikawal sebagai wujud kepedulian ikhtiar kita untuk mencari pemimpin terbaik dari yang ada. Jika hasil akhir sudah ada dan terpilih seorang pemimpin, maka itulah takdir Tuhan terbaik. Bagi yang terpilih untuk mewujudkan program-programnya, bagi yang tidak terpilih karena ia telah mengorbankan segala sesuatu kebaikan. Saya kira niat kita jauh lebih baik dari pada hasil akhir dari pilkada. Jika hasil belum memuaskan, setidaknya telah mempersembahkan niat terbaik di sisi Allah SWT.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872