
Supaya terlihat sibuk, hari-hari menjelang
wisuda saya mondar-mandir. Sebentar-sebentar ke lokasi wisuda. Sebentar-sebentar
ke Gedung Perpustakaan baru. Sebentar-sebentar ke ruangan jurusan syariat dan
ekonomi Islam menemani dosen-dosen HKI yang hebat-hebat. Sebentar-sebentar HP
berdering, telpon, serius, kadang tertawa seperti tim sukses bupati. Sebentar-sebentar
melototi Laptop menyelesaikan tugas penelitian. Sebentar-sebentar datang
mahasiswa minta tanda tangan yang kadang dia belum tanda tangan saya pula yang
disuruh tanda tangan dulu. Sungguh, sebentar-sebentar kadang kelaku mereka bikin
emosi. Tapi dipikir-pikir buat apa emosi. Emosi salah, tidak emosi juga salah. Mendingan
tidak emosi, supaya awet muda.
Meskipun sebentar-sebentar saya bisa menyelesaikan laporan penelitian. Dummy sudah selesai, draf artikel sudah selesai. dan beberapa waktu lalu saya pun sudah mengirim draf buku yang insya Allah tidak lama lagi keluar ISBN-nya. Masih ada dua draff buku yang belum selesai. Insya Allah pertengahan desember selesai. Insya Allah juga desember terbit jurnal. Jadi sudah ada tiga jurnal terbit. Tidak perlu serius. Pakai metode sebentar-sebentar saja.

Kapan saya sarapan dan makan?. Tidak perlu
pusing. Saya punya teman namanya Haji Muhlas. Sebentar-sebentar ngajak sarapan.
Kadang Dr. Nasrun yang ngajak sarapan. Jika dia sebentar-bentar nelpon, saya
mikir positif saja: “pasti ngajak ngopi di temani rokok merk samsudin. Siang tidak
perlu beli nasi. Lagi musim seminar. Sebentar-bentar mahasiswa ngantar kueh. Sore
tidak perlu lagi beli nasi, jika Dr.Chanif nelpon berarti ngajak makan. Apalagi
satu mingguan lebih, di depan ruangan ku prodi PAI mempersiapkan borang
akreditasi. Targetnya unggul. Pagi sampai malam kerjanya makan terus. Mahasiswa
PAI masak di ruangan ku. Saya tugasnya makan, selesai makan tidur.
Apakah orang-orang baik yang sering saya
temui bagian dari makna agama atau makna kemanusiaan? Apakah antara agama dan
kemanusiaan dipisahkan atau digabung. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas hadir
saat saya memberi sambutan seminar di acara PMI yang diadakan oleh mahasiswa STAIN
Bengkalis.
Saat saya melihat pesertana ada dari
mahasiswa ada dari siswa Tingkat SLTA. Sebelah kiri Tengah saya lihat siswa
berwajah tionghoa. Berwajah putih cantik. Tidak memakai jilbab. Biasanya jika
mualaf memakai jilbab. Mungkin dia masih non-muslim. Saya jadi ingat saat itu
dawuh Almahfurllah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Gus Dur mengatakan bahwa perhatian
masyarakat terhadap kita bukan karena agama nya, tapi pada sikap
kemanusiaannya. Jika anda merasa sakit karena penyakit atau karena disakiti
orang berarti anda manusia. Jika anda merasa sedih melihat orang sakit dan anda
mempunyai kepedulian untuk membantu nya berarti anda telah memanusiakan
manusia. Kita boleh saja bertitel ahli agama, tapi persyaratan sebagai ‘abidin
bukan wujud kemulyaan manusia dalam pandangan Allah. Bahkan Allah telah
menjustifikasi dengan status sebagai “pendusta” jika belum mampu memanusiakan
manusia. Standar umum dalam al-qur’an “tidak menyakiti orang lain melalui
ucapan (yadu’ul yatim), “empati kepada sesama manusia” (yahuddu ‘ala to’a
mil miskin) dan tidak merasa diri superior, melihat orang lain berada di bawah standarnya
(yuro) dan lupa tidak mengenal hakikat diri sendiri sebagai manusia yang
dhaif (sahun),
Standar dimensi kehidupan sosial memang ada empat dasar nilai kebaikan dan kebalikan dari nilai-nilai tersebut. pertama, yadu’ul yatim sebenarnya wujud kemampuan komunikasi. Semakin baik kemampuannya maka semakin bijak dalam menyelesaikan masalah. Saya terkadang kagum melihat sabda nabi. Ketika ia bertemu dengan para pencari ilmu, ia mengatakan bahwa amalan terbaik adalah belajar dan memperdalam ilmu pengetahuan. Jika bertemu para pedagang, nabi mengatakan” amalan terbaik adalah menjadi pedagang yang jujur”, ketika nabi bertemu anak muda yang selalu menjaga orang tua nya, nabi mengatakan amalan terbaik yaitu birrul walidain, bahkan ketika bertemu orang miskin sekalipun nabi masih bisa memilih kalimat yang sangat sangat membahagiakan hatinya” besok di hari kiamat saya berkumpul dengan orang-orang miskin”. Sungguh sebuah ucapan yang mampu menjadi penyejuk bagi setiap orang yang ia temui. Semua oang pun mencintainya, termasuk musuh-musuhnya.

Kedua, yahuddu ‘ala to’am al-miskin
adalah dasar ajaran kehidupan sosial. Ia menjadi perekat sangat kuat. Anda akan
dikenang sebagai ahli kebaikan saat anda sendiri telah lupa amalan tersebut. Jika
anda seorang peneliti akan menemukan sangat banyak pesan-pesan kemanusiaan
dalam al-qur’an dan al-hadist. Bahkan dalam kitab durrotunasihin disisipkan
kisah seorang perempuan pendosa. Saat ia meninggal dunia, ada seorang ulama
bermimpi ia dalam singgasana surga. Setelah ditelusuri, ia pernah berbuat baik
yaitu memberi minum kepada anjing yang sedang kehausan. Jadi disini letak kemanusiaan. Disini Allah
mengajarkan bahwa agama tanpa kemanusiaan menjadi laknat, dan kemanusiaan tanpa
agama akan tersesat.
Ketiga sahun adalah fenomena manusia
yang tidak menyadari tentang dirinya, darimana dan akan kembali kemana. Ketidaktahuan
terhadap dasar kehidupan tersebut akan merembet kepada ketidakpedulian terhadap
hal-hal yang bersifat urgen apalagi yang biasa-biasa saja. Kaum materialisme
dia hanya melihat satu sisi kehidupan. gemerlap dunia adalah hasil karya nya. Ideologinya
dan kesuksesannya. Dunia seindah ini karena ajaran nya. Tapi satu sisi ada
kelemahan. Mereka berharap ingin hidup seribu tahun dan terus melakukan penelitan
agar tetap remaja, muda dan terus merasakan kejayaan di dunia. Mereka tetap melawan
realita diri yang semakin menua. Semakin berusaha, semakin gelisah. Hati kosong,
gersang dan terus gelisah sepanjang hayat. Hal ini disebabkan karena dirinya
telah melupakan hakikat kehidupan sebenarnya.
Keempat ada yuro yaitu suatu
dorongan jiwa yang mempunyai kepercayaan sangat tinggi sehingga melihat
sekitarnya seperti debu-debu yang menempel di ban honda. Dalam Al-Qur’an digambarkan
Kaum Yahudi dan Iblis. Kedua golongan tersebut merasa sempurna dari segala
aspek. Kehebatan seperti apapun mereka ada batas-batas ketentuan yang tidak
bisa dihindarinya. Ada Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Samuel dan
nabi-nabi yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an telah dihina oleh bangsa yahudi
karena kesombongannya. Namun hukum Allah tetap berlaku, mereka hancur dan
tenggelam dalam perut bumi.
Walhasil, manusia sebagai makhluk Allah
memang harus mengenal asal kata nya yaitu al-insan, al-basyar, an-nas, dan
bani adam. Istilah-istilah yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang
mempunyai dua komposisi dhohir dan batin, jasad dan jiwa, lembut dan punya
perasaan halus dan hidup dalam kebersamaan. Jika hilang salah satu unsur
tersebut, maka tidak sempurna disebut sebagai manusia.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Merasakan sebagai manusia , zahir dan batin, emosi dosa, seperti santai ternyata sempurna
Admin
seperti permen nano-nano pak dosen, hehehe
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3565
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2946
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875