Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

PMI DAN WNI



Jumat , 22 November 2024



Telah dibaca :  565

Supaya terlihat sibuk, hari-hari menjelang wisuda saya mondar-mandir. Sebentar-sebentar ke lokasi wisuda. Sebentar-sebentar ke Gedung Perpustakaan baru. Sebentar-sebentar ke ruangan jurusan syariat dan ekonomi Islam menemani dosen-dosen HKI yang hebat-hebat. Sebentar-sebentar HP berdering, telpon, serius, kadang tertawa seperti tim sukses bupati. Sebentar-sebentar melototi Laptop menyelesaikan tugas penelitian. Sebentar-sebentar datang mahasiswa minta tanda tangan yang kadang dia belum tanda tangan saya pula yang disuruh tanda tangan dulu. Sungguh, sebentar-sebentar kadang kelaku mereka bikin emosi. Tapi dipikir-pikir buat apa emosi. Emosi salah, tidak emosi juga salah. Mendingan tidak emosi, supaya awet muda.

Meskipun sebentar-sebentar saya bisa menyelesaikan laporan penelitian. Dummy sudah selesai, draf artikel sudah selesai. dan beberapa waktu lalu saya pun sudah mengirim draf buku yang insya Allah tidak lama lagi keluar ISBN-nya. Masih ada dua draff buku yang belum selesai. Insya Allah pertengahan desember selesai. Insya Allah juga desember terbit jurnal. Jadi sudah ada tiga jurnal terbit. Tidak perlu serius. Pakai metode sebentar-sebentar saja.


Kapan saya sarapan dan makan?. Tidak perlu pusing. Saya punya teman namanya Haji Muhlas. Sebentar-sebentar ngajak sarapan. Kadang Dr. Nasrun yang ngajak sarapan. Jika dia sebentar-bentar nelpon, saya mikir positif saja: “pasti ngajak ngopi di temani rokok merk samsudin. Siang tidak perlu beli nasi. Lagi musim seminar. Sebentar-bentar mahasiswa ngantar kueh. Sore tidak perlu lagi beli nasi, jika Dr.Chanif nelpon berarti ngajak makan. Apalagi satu mingguan lebih, di depan ruangan ku prodi PAI mempersiapkan borang akreditasi. Targetnya unggul. Pagi sampai malam kerjanya makan terus. Mahasiswa PAI masak di ruangan ku. Saya tugasnya makan, selesai makan tidur.

Apakah orang-orang baik yang sering saya temui bagian dari makna agama atau makna kemanusiaan? Apakah antara agama dan kemanusiaan dipisahkan atau digabung. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas hadir saat saya memberi sambutan seminar di acara PMI yang diadakan oleh mahasiswa STAIN Bengkalis.

Saat saya melihat pesertana ada dari mahasiswa ada dari siswa Tingkat SLTA. Sebelah kiri Tengah saya lihat siswa berwajah tionghoa. Berwajah putih cantik. Tidak memakai jilbab. Biasanya jika mualaf memakai jilbab. Mungkin dia masih non-muslim. Saya jadi ingat saat itu dawuh Almahfurllah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Gus Dur mengatakan bahwa perhatian masyarakat terhadap kita bukan karena agama nya, tapi pada sikap kemanusiaannya. Jika anda merasa sakit karena penyakit atau karena disakiti orang berarti anda manusia. Jika anda merasa sedih melihat orang sakit dan anda mempunyai kepedulian untuk membantu nya berarti anda telah memanusiakan manusia. Kita boleh saja bertitel ahli agama, tapi persyaratan sebagai ‘abidin bukan wujud kemulyaan manusia dalam pandangan Allah. Bahkan Allah telah menjustifikasi dengan status sebagai “pendusta” jika belum mampu memanusiakan manusia. Standar umum dalam al-qur’an “tidak menyakiti orang lain melalui ucapan (yadu’ul yatim), “empati kepada sesama manusia” (yahuddu ‘ala to’a mil miskin) dan tidak merasa diri superior,  melihat orang lain berada di bawah standarnya (yuro) dan lupa tidak mengenal hakikat diri sendiri sebagai manusia yang dhaif (sahun),

Standar dimensi kehidupan sosial memang ada empat dasar nilai kebaikan dan kebalikan dari nilai-nilai tersebut. pertama, yadu’ul yatim sebenarnya wujud kemampuan komunikasi. Semakin baik kemampuannya maka semakin bijak dalam menyelesaikan masalah. Saya terkadang kagum melihat sabda nabi. Ketika ia bertemu dengan para pencari ilmu, ia mengatakan bahwa amalan terbaik adalah belajar dan memperdalam ilmu pengetahuan. Jika bertemu para pedagang, nabi mengatakan” amalan terbaik adalah menjadi pedagang yang jujur”, ketika nabi bertemu anak muda yang selalu menjaga orang tua nya, nabi mengatakan amalan terbaik yaitu birrul walidain, bahkan ketika bertemu orang miskin sekalipun nabi masih bisa memilih kalimat yang sangat sangat membahagiakan hatinya” besok di hari kiamat saya berkumpul dengan orang-orang miskin”. Sungguh sebuah ucapan yang mampu menjadi penyejuk bagi setiap orang yang ia temui. Semua oang pun mencintainya, termasuk musuh-musuhnya.


Kedua, yahuddu ‘ala to’am al-miskin adalah dasar ajaran kehidupan sosial. Ia menjadi perekat sangat kuat. Anda akan dikenang sebagai ahli kebaikan saat anda sendiri telah lupa amalan tersebut. Jika anda seorang peneliti akan menemukan sangat banyak pesan-pesan kemanusiaan dalam al-qur’an dan al-hadist. Bahkan dalam kitab durrotunasihin disisipkan kisah seorang perempuan pendosa. Saat ia meninggal dunia, ada seorang ulama bermimpi ia dalam singgasana surga. Setelah ditelusuri, ia pernah berbuat baik yaitu memberi minum kepada anjing yang sedang kehausan.  Jadi disini letak kemanusiaan. Disini Allah mengajarkan bahwa agama tanpa kemanusiaan menjadi laknat, dan kemanusiaan tanpa agama akan tersesat.

Ketiga sahun adalah fenomena manusia yang tidak menyadari tentang dirinya, darimana dan akan kembali kemana. Ketidaktahuan terhadap dasar kehidupan tersebut akan merembet kepada ketidakpedulian terhadap hal-hal yang bersifat urgen apalagi yang biasa-biasa saja. Kaum materialisme dia hanya melihat satu sisi kehidupan. gemerlap dunia adalah hasil karya nya. Ideologinya dan kesuksesannya. Dunia seindah ini karena ajaran nya. Tapi satu sisi ada kelemahan. Mereka berharap ingin hidup seribu tahun dan terus melakukan penelitan agar tetap remaja, muda dan terus merasakan kejayaan di dunia. Mereka tetap melawan realita diri yang semakin menua. Semakin berusaha, semakin gelisah. Hati kosong, gersang dan terus gelisah sepanjang hayat. Hal ini disebabkan karena dirinya telah melupakan hakikat kehidupan sebenarnya.

Keempat ada yuro yaitu suatu dorongan jiwa yang mempunyai kepercayaan sangat tinggi sehingga melihat sekitarnya seperti debu-debu yang menempel di ban honda. Dalam Al-Qur’an digambarkan Kaum Yahudi dan Iblis. Kedua golongan tersebut merasa sempurna dari segala aspek. Kehebatan seperti apapun mereka ada batas-batas ketentuan yang tidak bisa dihindarinya. Ada Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Samuel dan nabi-nabi yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an telah dihina oleh bangsa yahudi karena kesombongannya. Namun hukum Allah tetap berlaku, mereka hancur dan tenggelam dalam perut bumi.

Walhasil, manusia sebagai makhluk Allah memang harus mengenal asal kata nya yaitu al-insan, al-basyar, an-nas, dan bani adam. Istilah-istilah yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mempunyai dua komposisi dhohir dan batin, jasad dan jiwa, lembut dan punya perasaan halus dan hidup dalam kebersamaan. Jika hilang salah satu unsur tersebut, maka tidak sempurna disebut sebagai manusia. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Merasakan sebagai manusia , zahir dan batin, emosi dosa, seperti santai ternyata sempurna

Admin

seperti permen nano-nano pak dosen, hehehe

Avatar

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13555


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875